SELAMAT DATANG

Saudaraku, selamat datang di blog GITA PUJA. Saudaraku, berbagi ilmu pengetahuan, wawasan, dan apa pun yang kita miliki merupakan ibadah. Senyampang masih dapat kita lakukan, mengapa tidak segera kita lakukan? Ayo segera berbagilah kepada kami dan kawan-kawan lainnya dengan cara memberi masukan, komentar, kritik, saran, catatan, dan apa pun tentang blog ini demi kebaikan kita bersama membangun peradaban bangsa dan negara di dunia. Selamat membaca, selamat menikmati sajian dalam blog ini, dan selamat berapresiasi. Salam takzim kami. Beres! Sehat! Sukses! Yes!

Thursday, 23 September 2010

Guru


GURU

Guru, tiada henti senantiasa memberi:
ilmu, kasih, bimbingan, dan perlindungan diri
juga memancarkan pencerahan hati
sebagai bekal hidup di kemudian hari.

Guru, menjadi teladan utama dan dipatuhi
senantiasa dijunjung tinggi dan disegani
sebagai tanda murid yang berbakti
melanggar nasihat guru jangan sampai
melawan guru jangan berani-berani
tetaplah berlaku santun dan menghormati.

Guru sudarma adalah orang tua
menjadi lantaran kita terlahir ke dunia
mereka berdua tentu sangatlah berjasa
penuh kasih memelihara dan menjaga
sejak dari kandungan hingga dewasa
sepantasnyalah kita hormat kepadanya
tidak melawan perbuatan dan tutur kata.

Guru wadag secara jelas kasat mata
mengajar ilmu di bangku sekolahan kita
dari TK, SD, SLTP, hingga SLTA
termasuk dosen dan profesor akademika,
guru kursus dan guru olahraga
juga guru spiritual dan guru agama,
mereka disebut orang tua kedua
mengajar, mendidik, dan mengasuh kita
membimbing menuju perbuatan utama.

Memilih guru wadag perlulah hati-hati
di luar bangku sekolahan formal apalagi
di antara mereka banyak yang mengaku-aku diri
belum sempurna ilmunya sudah berani-berani
mendirikan perguruan ilmu kesempurnaan jati
padahal bekal ilmunya baru sedikit sekali
akunya sudah tinggi seolah melebihi Ilahi
hanya kedok untuk mencari nafkah diri
ujungnya tipu muslihat dan suka membohongi
guru wadag demikian hendaknya disingkiri.

Manusia yang benar nyata
luhur budi pekertinya
mumpuni terhadap hukum yang ada
baik tata aturan hukum negara,
hukum agama, hukum semesta,
maupun hukum Tuhan yang Mahakuasa,
senantiasa dia berjalan di jalan utama
serta telah meninggalkan keramaian dunia,
sepi pamrih harta, tahta, dan asmara
berbadan sehat, santun, dan penuh susila
berwatak mulia dan tata lakunya bersahaja
tidak berganti nama dan tidak ingin dipuja-puja
guru wadag demikian wajib dipilih dan diguruinya.

Guru wisesa terwujud sebagai penguasa
mereka diberi tugas mengurusi negara
dari kepala desa, camat, bupati atau walikota,
gubernur, para menteri, hingga ke presidennya
membangun bangsa dan negara bersama-sama
menegakkan keadilan dan kebenaran dengan bijaksana
menuju kemakmuran, kesejahteraan, dan kemasyhuran dunia
hukum negara dan tata aturan yang ada wajib dipatuhinya.

Guru gaib banyak jumlahnya,
tetapi tidak kasat mata
hanya diketahui sarana cipta
atau laku samadi meraga suksma
hendaknya harap berhati-hati jua
haruslah senantiasa sadar dan waspada
jangan sampai terjerumus ke alam dewata
apalagi masuk ke dalam api neraka.

Guru Sejati senantiasa menghidupi
menunjukkan, menuntun, dan melindungi
serta memberi pencerahan dan mengasihi
bagi siswa-siswa yang senantiasa berbakti.
Guru Sejati juga mengadili
mereka yang culas dan dengki
mereka yang tamak, loba, dan iri hati
mereka yang angkara murka dan penuh ambisi
mereka yang sirik tidak terampuni
pintu surga sudah tidak terbuka lagi.

Siapa sebenarnya Guru Sejati
ialah Nur Ilahi, Rasul Sejati,
Cahaya yang terpuji,
Sang Sabda yang bersifat kekal abadi,
Penuntun dan Guru Dunia-Akhirat nanti,
Dzatnya meresap meliputi seluruh jagat raya ini,
bersinggasana di pusat hati sanubari insani,
menghantarkan kita kembali bertunggal dengan Ilahi.

Bekasi, 23 September 2010

No comments:

Post a Comment