SELAMAT DATANG

Saudaraku, selamat datang di blog GITA PUJA. Saudaraku, berbagi ilmu pengetahuan, wawasan, dan apa pun yang kita miliki merupakan ibadah. Senyampang masih dapat kita lakukan, mengapa tidak segera kita lakukan? Ayo segera berbagilah kepada kami dan kawan-kawan lainnya dengan cara memberi masukan, komentar, kritik, saran, catatan, dan apa pun tentang blog ini demi kebaikan kita bersama membangun peradaban bangsa dan negara di dunia. Selamat membaca, selamat menikmati sajian dalam blog ini, dan selamat berapresiasi. Salam takzim kami. Beres! Sehat! Sukses! Yes!

Minggu, 13 April 2014

JATI DIRI SEMAR




JATI DIRI SEMAR

Hari-hari dia tiada samar
meski selalu ada gempar
hujan badai dan halilintar
kejahatan suka menampar
membuat hidup bergelepar.


Mengapa dan haruskah Semar
merelakan turun dari dhampar
padahal rakyatnya telah pintar
pemimpin muda perlu dihantar
agar kelak rakyat tidak terlantar.


Saatnya Semar mbabar jati diri
dari dewata yang selalu disegani
menjadi seorang pemimpin negeri
di mana-mana senantiasa dihormati
seluruh rakyat negeri ikut menikmati
apa saja yang telah diberikan diamini


Semar tiada lagi membutuhkan takhta
sudah waktunya memberi singgasana
membuka jalan bagi pemimpin muda
menjadikan tampuk pimpinan negara
satria utama mengemban tugas mulia
membangun nusa, bangsa, dan agama
rakyatnya hidup sejahtera dan bahagia
dan negara masyhur ke seluruh dunia.


Inilah jati diri Semar yang sesungguhnya
menjadi pamong para satria sang perwira
dia menjadi lebih mulia sebagai paranpara
dengan arif bijaksana selalu memberi fatwa
lemah lembut tutur kata dan budi bahasanya
memberi apa saja demi kesejahteraan dunia
siapa pun akan segan dan hormat kepadanya
karena jati diri Semar telah berbadan Weda.


Bekasi, 13 April 2014




Rabu, 02 April 2014

SANG PARAMARTHA


Menyelami puisi-puisi di dalam antologi ini bagaikan diajak pesiar secara spiritual di tengah gelombang kehidupan manusia. Membayangkan puisi-puisi ini, paling tidak, seperti undhak-undhakan Candi Borobudur (kamadhatu, rupadhatu, arupadhatu). Di dalam antologi ini penyair membagi puisi-puisinya menjadi 4 bagian: “Mustika Dwipa”, “Sang Pencerah”, “Oh Dunia”, dan “Sang Nabi”. Memang tidak seperti pembagian di Candi Borobudur, tetapi pembagian di dalam antologi ini paling tidak mengingatkan kita bahwa Puji Santosa memang berusaha ingin membagi ‘ajarannya’ sesuai dengan konteksnya (ketika puisi-puisinya sampai di hadapan kita).
[Drs. Dhanu Priyo Brabowo, M.Hum.
Penerima Hadiah Sastra Rancage 2014
Peneliti Utama Bidang Sastra
Balai Bahasa Yogyakarta]


Judul antologi ini, Sang Paramartha, serta-merta menggiring pembaca ke arah berbagai ajaran, panduan, atau pedoman nilai untuk mencapai kesempurnaan dalam hidup di dunia dan di akhirat. Persoalannya adalah, mengapa penyair begitu terobsesi menawarkan ajaran-ajaran kesempurnaan melalui sastra? Apakah sastra itu? Mengapa seorang Puji Santosa, peneliti sastra senior dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa yang telah banyak menerbitkan kajian-kajian sastra, “turun gunung” dengan segudang ajarannya? Mengapa Sang Paramartha ini lahir di tahun politik 2014, tepat sebelum gonjang-ganjing suksesi kepemimpinan nasional bangsa Indonesia? Apa sajakah bekal yang diperlukan pembaca menikmati panorama puisi-puisi Puji Santosa?
 [Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum.
Dosen dan Pakar Ilmu Kritik Sastra
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta]


Sajak-sajak Puji Santosa yang terpumpun dalam antologi Sang Paramatha merupakan kumpulan sajak yang mengambil sumber dari kearifan ajaran moral dalam spiritualisme Jawa sebagaimana dijelaskan Yoseph Yapi Taum dan Dhanu Priyo Prabowo dalam tanggapan mereka untuk antologi ini. Sebagai pembaca non-Jawa, kesan pertama yang muncul setelah membaca antologi puisi Puji Santosa adalah sajak-sajak ini memiliki khalayak andaian (ostensible audience) dan khalayak sasaran (intended audience) pembaca Jawa yang memahami ajaran sinkretisme seperti Kejawen. Ajaran-ajaran Kejawen yang sangat kental menjadi isi sebagian besar sajak yang berjumlah sebanyak 93 sajak dalam antologi ini.
[Dr. Sastri Sunarti Sweeney, M.Hum.
Peneliti Sastra pada Badan Bahasa,
Redaktur Horision Online]



Selasa, 18 Maret 2014

LORONG SURGAWI



LORONG SURGAWI

Berjalan menyusuri lorong pagi yang sepi
embun menetes dari langit setia menemani
angin semilir menyusup di antara celah ragawi
membuat suasana menjadi sunyi meninggi
di lorong ujung jalan, telah ada yang menanti:

"Selamat pagi Malaikat Penjaga Surgawi",
sapaku kepada yang telah lama menanti.
"Sekiranya mohon diizinkan, ya Utusan Abadi,
perkenankan hamba masuk ke Istana Ilahi,
bertahun yang lalu Adam dan Hawa mendiami,
kami anak cucu Adam dan Hawa rindu sekali
rindu.... sungguh-sungguh rindu ingin kembali,
ya... ya.. kembali menikmati suasana Surgawi.

betapa bahagianya tinggal di Surgawi
tiada terik matahari dan hujan badai
tiada bencana dan malapetaka tsunami
tiada sengsara akibat korupsi anak negeri
tiada resah harga bawang melambung tinggi
tiada gelisah harga daging memakan hati
tiada tenggelam dunia yang berubah berganti
semua.., ya semua penuh kasih sayang sejati
betapa penuh rasa damai di hati sanubari
sejahtera, tenteram, bahagia kekal abadi

Wahai Malaikat Suci abadi penjaga Surgawi
ya..., kabulkan doa dan permohonan kami
Engkaulah Rasul Abadi..., Sang Nur Ilahi,
Penuntun, dan Guru Hamba yang Sejati,

hamba tidak ingin kembali ke dunia lagi."

Bekasi, 15 Maret 2013







Minggu, 09 Maret 2014

JIWA MERANA DI KAFIRUNA


JIWA MERANA DI KAFIRUNA
 
Alkisah, sesambat jiwa mengembara
jiwa manusia belum kembali ke surga
diliputi kegelapan, merana di kafiruna
oleh karena lupa kepada Allah Ta’ala
juga lupa kepada Guru Sejati abadinya
sebab dibelenggu kecintaan pada dunia
cintanya pada harta, tahta, dan wanita,
juga kekasih, tiada dapat dilepaskannya.

Wahai, saudara-saudaraku semua saja
dengarkanlah alkisahku cerita orang tua
betapa sesambat dan tangisnya mengiba
jiwa manusia tersesat di alam kafiruna
merana karena dia mendapatkan pidana.

Menerima pelbagai cobaan dan hukuman
sebab hidupnya di dunia penuh kejahatan
tiada kenal belas kasih pada sesama insan
selalu saja dia melanggar pantangan Tuhan
lupa akan kesanggupan suci yang diemban.

“Tolong..., tolong...,” sesambatnya mengiba,
“aduh..., aduh..., panas...., panas luar biasa
di mana gerangan tempat berteduh, di mana
aduh....., caping atau payung aku tidak bawa
lapar, haus, kenapa aku jadi lapar dan dahaga.

Siapa berkenan memberi pinjaman, tolong
jika ada sepatu anti panas dan juga tudung
syukur juga ada makan agar saya kenyang
terlebih akan kesukaan saya bakso malang
sekalian minumnya es campur bengkoang.”

Perut keroncongan menahan lapar terlalu lama
tenggorokan jadi serak kering menahan dahaga
tetapi, tidak ada yang mau memberi kepadanya
napas terengah-engah dan lelah tidak bertenaga
ke mana-mana arah senantiasa ada gelap gulita.

Sesambat dan raungan tangisnya mengiba-iba
tetapi, tidak ada seorang pun mau menolongnya
terduduk di hamparan padang penuh batu bata
rasa sedih duka lara sengsara menghinggapinya,
bahkan kini berganti menggigil seluruh badannya.

“Aduh..., aduh..., mengapa begitu dingin sekali
padahal bongkahan es dan salju tak ada di sini
selimut tebal penahan dingin siapa mau memberi
aduh.... dingin sekali, aduh.... sakit kalau begini
aduh.... mengapa begini, di mana sekarang ini.”

Tempat dan arah hendak mau ke mana melaju
dia sama sekali tak tahu ke mana harus menuju
kedudukan dan jabatannya dahulu tak membantu
apalagi mengandalkan harta dan kekayaan dahulu
hanya menjadi bertambah beban derita semua itu.

Hujan lebat dan badai topan pun datang menerjang
baju basah kuyup, tidak ada yang memberi payung
mau handukan dan ganti kain baju ataupun sarung
sekarang sudah tidak ada lagi yang mau menolong
apalagi sang juwita sudah menjadi miliki seseorang

“Oh..., Ratna Dewi Supiyah, kekasihku yang tercinta
wahai juwitaku, di manakah engkau sekarang berada
kasihanilah daku, kakandamu ini yang kini menderita
tega-teganya kau bermain asmara di hadapan kanda
mengapa kau diam dan acuh saja ketika kutegur sapa
siapa lagi yang wajib menolong, kecuali engkau juwita,
kakanda sunggguh di sini amat menderita dan merana.

Oh....., itu juga anakku yang gagah, si Bagus Amarah
mengapa engkau setiap hari selalu saja marah-marah
mengapa pula engkau kini tidak suka tinggal di rumah
apa karena juga kini isterimu sudah tidak lagi serumah
aduh..., kenapa rumah tanggamu menjadi pecah-belah
padahal harapanku kau jadi keluarga sakinah mawadah

Lha....., itu anakkku si Nini Mutmainah yang cantik jelita
mengapa pula kau kini berada di dalam tahanan kapeka
padahal engkau itu kan sudah menjabat sebagai walikota
bukankah semua fasilitas sudah disediakan oleh negara
oleh sebab itu engkau jangan serakah akan harta benda
kalau semua proyek engkau korupsi, ya begitulah jadinya.

Nah.., ini juga anakku Bambang Lauamah yang perkasa
mengapa engkau suka hidup berpesta ria dan foya-foya
juga senang mabuk-mabuk dan kecanduan akan narkoba
engkau habiskan hartamu di tempat kasino dan dadu juga
padahal engkau itu sudah dipehaka dari tempatmu bekerja
kalau begitu terus, lalu anak isterimu kau beri makan apa?

Mengapa saudaraku Kamayan, Prabawa, Pangaribawa
membiarkan begitu saja anak-anak dan istriku berkelana
mencari kesenangan, menurutkan gejolak nafsu angkara
sudahkah engkau tidak lagi belas kasihan kepada mereka
tidakkah engkau berkenan menegur dan mengingatkannya
lihat apa yang terjadi pada anak-anak dan isteriku, Saudara
isteriku yang tengah jatuh cinta itu disiksa suami barunya
anak-anakku tidak seorang pun menjadi kusuma bangsa
mereka lupa menjaga harkat martabat nama baik orang tua.

Aduh...., aduh...., bagaimana ya keadaan akan diriku ini
sekarang ini terpisah jauh dari anak cucu dan juga isteri
para saudara, ayah-ibu, dan handaitolan pun menjauhi
aduh...., mereka tidak lagi menaruh peduli sama sekali
setiap orang kudekati senantiasa berusaha menyingkiri
lalu aku harus berbuat bagaimana lagi, oh.... sial sekali.

Aduh.., aduh.., ke mana saja aku harus pergi
tidak ada tempat untuk dapat beristirahat lagi
ke mana-mana juga jauh, harus berjalan kaki
tak ada kendaraan yang dapat saya tumpangi
di mana-mana gelap gulita, menakutkan sekali
aduh..., aduh... kenapa bulu tengkukku berdiri?”

Di mana-mana tampak kosong, sunyi dan sepi
tidak terlihat ada setitik cahaya pun menerangi
tapi cuaca panas terasa amat mencekam sekali
berubah menjadi dingin membeku, silih berganti
lama bertahun, bahkan berabad-abad merana ini.

Akhirnya, dengan termangu-mangu dia berhenti
nelangsa, merasa prihatin, semua dosa disesali
dan lalu, dia sadar serta ingat bakti kepada Ilahi
juga sadar akan Penuntun yang jadi Guru Sejati
seketika juga byar, tampak terang sinar mentari.

Sirna sudah semua derita seperti yang dicerita
lalu “cenger”, seketika dia lahir kembali di dunia
dengan atas kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa
turun Roh Suci sebagai jiwa sejatinya manusia
sampai pada waktu yang ditentukan oleh-Nya.

Hidupnya di dunia seperti zaman dahulu juga
menerima segala derita akibat perbuatannya
memetik buah dari hasil tanaman dahulu kala
merasakan lagi senang, susah, papa sengsara
hidup terus berputar seperti perputaran jantera.

Hidup periode ini harus berusaha sekuat tenaga
untuk senantiasa dapat berjalan di Jalan Utama
ialah Jalan yang berakhir di dalam hidup bahagia,
tenang, tenteram, damai, dan penuh kasih semata
bersama Tuhan Yang Maha Esa di Taman Surga.

Bekasi, 9 Maret 2014



Sabtu, 08 Maret 2014

MAWAR KAMBOJA



MAWAR KAMBOJA

Bilamana insan mencari hidup bahagia
Bukan berarti melalaikan cita-cita mulia
Bukan berarti tidak boleh akan kaya harta
Bukan juga mengabaikan tahta dan wanita
Melainkan bagaimana cara dicapai semua
Agar benar-benar bahagia dan sempurna.

Laksana bunga mawar dan bunga kamboja
Bersatu padu dalam rangkaian jalinan cinta
Bunga mawar sarana meraih cita-cita dunia
Mengukir prestasi sebagai kusuma bangsa
Bunga kamboja sarana meraih cita-cita mulia
Hidup rukun damai, bahagia kembali ke surga.

Bunga mawar nan jelita betapa mempesona
Barangsiapa memandang akan terpikat olehnya
Tetapi, duri tajam mawar dapat membuat luka
Perlu hati-hati dan jangan tinggalkan waspada
Meski betapa harum menjadi kusuma bangsa
Masih ada juga melekat sifat-sifat yang tercela.
 
Cita-cita yang luhur, mulia, suci, dan murni
Haruslah dicapai ke dalam jiwa kita sendiri
Berarti tak akan mengecewakan semua insani
Seperti halnya bunga kamboja yang benar suci
Menggapai cita-cita mulia kembali kepada Ilahi
Tenang dan tenteram di Taman Kemuliaan Abadi.

Bekasi, 8 Maret 2014







Jumat, 07 Maret 2014

CEMPAKA MULIA


CEMPAKA MULIA

Konon, dahulu cerita orang tua
asal bunga cempaka dari India
lalu menyebar ke seluruh dunia
tak terkecuali sampai di Indonesia
dengan berbagai macam jenisnya
seperti kantil, tulip, dan kenanga
warnanya putih, kuning, merah jingga
cempaka yang berwarna ungu ada juga
bau harumnya menebar ke mana-mana
siapa saja terpikat eloknya cempaka
terlebih jatuh hati pada cempaka mulia.
 
Sungguh, betapa bahagianya hamba
mendapatkan bunga cempaka mulia
yang tersandung secara tidak sengaja
ketika hamba belum ketujuh kalinya
dilahirkan kembali di dunia yang fana
semerbak harum mewangi ke semua
penjuru di tempat keberadaan hamba,
rasanya tenteram, aman, dan bahagia.

Meski belum sebakul cempaka mulia
ditemukan dalam perjalanan di dunia
itu pertanda betapa mulianya hamba
menerima sih anugerah tidak terkira
dari penguasa jagat raya, Allah Ta’ala
buah pelaksanaan bakti, iman, dan takwa
setiap hari menjadi kesanggupan hamba
berusaha dilaksanakan secara sempurna
disertai mencuci bersih seluruh jiwa raga
dengan air sari watak utama panca sila,
sunggguh jujur, sabar, narima, dan rela
ditopang dengan watak utama budi mulia
bahagia lahir batin di dunia dan di surga
tenang, tenteram, dan damai selamanya.

Bekasi, 7 Maret 2014







Minggu, 02 Maret 2014

PANCADARMA UTAMA


PANCADARMA UTAMA

Apa makna pancadarma utama?
Lima perbuatan utama manusia
mendarmabaktikan daya upayanya
menuju dalam kesejahteraan dunia
lahir batin hidup bahagia dan mulia.

Partama suka berdaya upaya tresna
berusaha dapat kasih kepada sesama
atas dasar rasa suci, luhur, dan susila
kepada siapa saja tidak berbeda-beda
berbagi suka cita pada yang menderita
agar mereka dapat merasakan bahagia.
 
Kedua suka berdaya upaya pawong mitra
berusaha dapat bermitra kepada siapa saja
semua manusia hidup di dunia bersaudara
tak perlu bermusuhan satu dengan lainnya
anggaplah mereka menjadi satu keluarga
saling asah, asih, asuh, dan bekerja sama.

Ketiga suka berdaya upaya gambira parisuka
berusaha dapat membuat sesama bergembira
dengan cara mengibur mereka yang berduka
menghilangkan sedih, lara, dan papa sengsara
membangkitkan semangat bekerja dan berdoa
kembali bergairah menggapai hidup bahagia.

Keempat suka berdaya upaya eling waspada
berusaha senantiasa dapat sadar dan waspada
sadar untuk berbakti pada Tuhan Yang Maha Esa
waspada akan segala bahaya gangguan dewata
tetaplah selalu berbakti, beriman, dan bertakwa
hidup di dunia dan di akhirat bermartabat mulia.

Kelima suka berdaya upaya bagya mulya
berusaha dapat membahagiakan sesama
memberi obor bagi mereka yang kegelapan
memberi minum bagi mereka yang kehausan
memberi makan bagi mereka yang kelaparan
memberi payung bagi mereka yang kehujanan
memberi krudung bagi mereka yang kepanasan
memberi pertolongan mereka yang membutuhkan
agar dapat mengenyam kebahagiaan dan kemuliaan.

Bekasi, 2 Maret 2014