SELAMAT DATANG

Saudaraku, selamat datang di blog GITA PUJA. Saudaraku, berbagi ilmu pengetahuan, wawasan, dan apa pun yang kita miliki merupakan ibadah. Senyampang masih dapat kita lakukan, mengapa tidak segera kita lakukan? Ayo segera berbagilah kepada kami dan kawan-kawan lainnya dengan cara memberi masukan, komentar, kritik, saran, catatan, dan apa pun tentang blog ini demi kebaikan kita bersama membangun peradaban bangsa dan negara di dunia. Selamat membaca, selamat menikmati sajian dalam blog ini, dan selamat berapresiasi. Salam takzim kami. Beres! Sehat! Sukses! Yes!

Senin, 31 Agustus 2015

AJA CIDRA MUNDHAK CILAKA


AJA CIDRA MUNDHAK CILAKA
 
Ungkapan dari peribahasa Jawa di atas bermakna:
janganlah berbuat dusta nanti mendapat malapetaka
karena dustamu itu dapat membuat orang lain celaka,
mendapatkan musibah, serta lagi pula ia tidak percaya
dari semua apa yang telah engkau sampaikan padanya.

Oleh karena itu berhati-hatilah engkau dalam bertutur kata
sekali engkau berdusta, ingkar janji, curang, fatal akibatnya
orang lain tidak akan percaya kepadamu selama-selamanya
sungguhlah bernasib tragis bilamana sudah tidak dipercaya
mereka tak akan memedulikanmu, apalagi menghormatinya.

Janganlah mengingkari janji dan berbuat dusta pada sesama
sekalinya berbuat dusta, ingkar, curang, akan mendapat celaka
sebab masyarakat tidak lagi menghargaimu dan mengucilkannya
dari pergaulan masyarakat sehingga di mana-mana tidak diterima
sebagai seorang teman, sahabat, handaitolan yang dapat dipercaya.

Jadilah seseorang yang senantisa dapat menepati kesanggupan
baik yang masih dalam niat di hati maupun yang telah diucapkan
kepada siapa saja, yang berarti janjinya tersebut telah disaksikan
sebab janji itu seperti hutang yang harus dibayarkan, diselesaikan
entah kapan waktunya serta berapa lamanya, bukanlah persoalan
asal engkau tetap jujur serta norma-norma juga tetap diperhatikan
sesuai dengan kemampuan yang engkau miliki serta kesanggupan
telah dia sampaikan, memegang teguh janji sebagai keparibadian
kau akan tetap disegani, dihormati, dan dipercaya dalam pergaulan.

Bekasi, 31 Agustus 2015


AJA CEDHAK KEBO GUPAK




AJA CEDHAK KEBO GUPAK

Ungkapan di atas secara harfiah bermakna:
janganlah dekat dengan kerbau yang ternoda
oleh pelbagai kotoran, lusuh, tak sedap di mata
karena dapat menimbulkan pelbagai malapetaka.

Hidup di dunia ini hendaklah penuh kewaspadaan
dalam memilih sahabat, teman, kawan, handaitolan
tidak sembarangan orang dapat kita jadikan teman
apalagi mereka berperilaku menyimpang peraturan
seperti suka judi, mencuri, dan juga main perempuan
apalagi suka minum, mabuk, narkoba jadi kecanduan
serta segala perbuatan yang mengarah pada kejahatan
hal-hal yang demikian itulah harap engkau diperhatikan
agar jalan hidupmu tidak menemui pelbagai hambatan
sebab dapat saja engkau akan mudah terlibat perbuatan
ikut-ikutan menyimpang dari norma adat dan keagamaan
berusahalah menjauh dari mereka yang penuh gelepotan
perbuatan kilaf, bengis, penuh dosa, dan segala kesalahan
supaya engkau senantiasa dapat lancar sampai ke tujuan.

Adapun mereka yang berbudi pekerti baik, santun, dan mulia
seperti taat beribadah melaksanakan tuntunan dari agamanya
tentulah dapat engkau jadikan sahabat dalam suka dan duka
sahabat demikian tahu akan kekurangan dan kelebihan kita
dia hadir tidak hanya dalam keadaan suka riang bergembira
tetapi juga hadir selalu menemani dalam keadaan duka lara
meskipun dalam keadaan sakit, menderita, susah, nestapa
dia akan tetap setia selalu menemani serta menghiburnya
oleh karena saling percaya dan penuh belas kasih sesama
sehingga saling membuat rasa senang, puas, dan bahagia.

Berteman dengan penjual minyak wangi, ikutan wangi pula,
berteman dengan pandai besi kita juga ikut terkena abunya,
jadi engkau mau memilih yang mana, harus penuh bijaksana
supaya engkau di kemudian hari tidak menyesal dan kecewa.

Bekasi, 31 Agustus 2015


Sabtu, 29 Agustus 2015

CAKRAMANGGILINGAN




CAKRAMANGGILINGAN

Cakra sepadan dengan cakram, artinya: roda
manggilingan berasal dari kata giling, bermakna
berputar dengan menggerus tiada henti-hentinya;
suatu gambaran berputarnya roda dari masa ke masa.

Dalam khazanah dunia pewayangan Jawa
cakramanggilingan merupakan suatu sejanta
andalan milik Sri Kresna yang disebut kalacakra
kala artinya masa atau waktu, dan cakra artinya roda,
kalacakra, cakramanggilingan, esensinya: perputaran masa.
 
Ibaratnya dunia itu sepertilah roda
tentulah berputar putarlah jalannya
terus berubah berganti setiap masa
tiada tentu nanti bagaimana jadinya
dulu bermegah-megah, riang gembira,
mendapat jabatan dan sangat berkuasa
kini keadaan susah, sakit, dan menderita
dilengserkan dari jabatan, entah karena apa
tiada job lagi dan hanya sebagai karyawan biasa
meski telah bersusah payah meraih gelar akademika

Demi masa
sesungguhnya merugilah manusia
kecuali mereka yang beriman dan bertakwa
mengerjakan kebajikan serta hal-hal yang utama
memperjuangkan kebenaran dengan sabar narima
didasari dengan watak jujur, rela, dan berbudi mulia.

O.... cakramanggilingan, ya roda dunia.... ya roda dunia
selalu berputar, kadang di bawah, tidak hanya di atas saja
oleh karenanya sadarlah wahai manusia akan tugas mulia
yang tengah engkau emban untuk menjadi kalifah di dunia.

Bekasi, 29 Agustus 2015




Kamis, 09 Juli 2015

ZAMAN KALABENDU




ZAMAN KALABENDU

Zaman kalabendu disebut juga zaman kalatidha
suatu zaman penuh angkara murka dan durjana
suatu zaman penuh kutukan yang porak poranda
serba tidak jelas, banyak manusia berbuat dosa
dunia rusak, kacau-balau, dan banyak huru-hara
fitnah, teror, juga bencana terjadi di mana-mana
begitu peliknya, hampir setiap orang menjadi gila.
Derajat suatu negara terlihat suram, tidak berwibawa
kosong, sepi, suwung, sunya ruri, tak ada tanda-tanda
kegairahan negara serta bangsa bangkit kembali jaya
meskipun penguasanya adalah raja berperilaku utama,
perdana menterinya orang yang memiliki kelebihan juga,
para menteri dan aparat pegawainya tampak baik-baik saja,
tetap tidak dapat menolak hadirnya zaman kutukan bencana
oleh karena semua tampaknya sudah sebagai karma bangsa.

Betapa rusak pelaksanaan undang-undang hukum tata negara,
masyarakat dan rakyat banyak melanggar tata aturan yang ada,
baik penguasa maupun rakyat juga ikut serta berpesta paliwara
mereka tidak ada lagi yang patuh pada aturan negara yang ada,
mereka begitu amat suka bisa berbuat dengan sekehendaknya
menyimpang ke kiri serta melanggar dari aturan hukum negara.

Sudah tidak ada lagi suri teladan, contoh, dari pemimpin negara,
para aparatnya, penguasa pemerintahan, berbuat semena-mena
rakyat yang menjadi korban, menderita lara, dan hidup sengsara
tampaknya mereka sama saja perbuatannya, telah bejat moralnya,
korupsi di mana-mana, berebut kekuasaan, berebut harta tahta,
dia merasa benar sendiri, penindasan pada rakyat tiada hentinya,
mereka berbuat asusila, berderajat tercela, rendah, dan hina dina.

Banyak rakyat sedih, duka lara, menderita, hidup papa nestapa,
kelaparan di mana-mana, bencana wabah penyakit merajalela,
banyak kesukaran hidup, terasa hidup hina dina, tiada berharga
betapa amat suram tanda-tanda kehidupan masa depan bangsa
betapa amat gelap jalan mencapai puncak kejayaan jagat raya,
hidup tak menentu, tiada gairah menjalankan sisa hidup di dunia.

Berbeda-beda, berjenis-jenis, beragam-ragam angkara murka
merajalela di seluruh dunia hingga mereka banyak bertipu daya
banyak berita bohong, kabar angin, sulit dipercaya kebenarannya
banyak orang yang munafik, penuh fitnahan, dan hanya pura-pura,
padahal itu hanya bermaksud mencari keuntungan diri pribadinya.

Banyak orang yang berjiwa baik, cerdas cendekia, dan bijaksana,
justru kalah dengan mereka yang culas, kerdil, dan jahat angkara
orang-orang bijak bestari justru tersisihkan oleh hiruk-pikuk dunia
berada di belakang, tenggelam oleh ramai suasana fatamorgana,
hingga suatu saat lahirlah kesatria utama pembebas malapetaka,
berganti zaman kalabendu, lalu ke zaman kalasakti adiyatiutama.

Bekasi, 9 Juli 2015





Senin, 06 Juli 2015

URIP IKU URUP, MUNG MAMPIR NGOMBE, SADERMA NGLAKONI




URIP IKU URUP,
MUNG MAMPIR NGOMBE,
SADERMA NGLAKONI

Hidup itu sesungguhnya menyala, tetap membara,
hanya singgah sebentar minum, melepas dahaga,
kemudian melanjutkan perjalanan dari pondok dunia
menuju ke istana keabadian, juga sekadar pelaksana
sebagai kalifah di bumi mengemban amanah mulia
membabarkan cinta kasih dan berbagi pada sesama.

Orang hidup harus mimiliki semangat yang membara
agar dapat memperoleh sesuatu yang amat berharga
sesuatu yang amat berharga itu berupa cita-cita mulia
sebagai kesatria utama atau menjadi kusuma bangsa
berguna bagi masyarakat, negara, bangsa, dan agama
jikalau kemudian kembali ke haribaan Yang Maha Esa
tentunya dapat kembali bertunggal dengan-Nya di surga.

Seberapa lama dia mengemban amanah mulia di dunia
hal itu tentunya tidak lama, rata-rata hanya 65 tahun saja
oleh karena itu, ibaratnya hanya singgah melepas dahaga
kemudian melanjutkan perjalanan lagi menuju ke asal mula
senyampang masih berkesempatan menunaikan tugas mulia
manfaatkan waktu sebaik-baiknya agar hidup tidak sia-sia
ukirlah prestasimu dengan bekerja, berkarya, serta berdoa
sebagai warisan pada anak cucumu kelak kemudian harinya.

Sadarlah bahwa hidup di dunia ini hanya sekadar pelaksana
ialah pelaksana amanah mulia sebagai kalifah di jagat raya
sudah ditentukan tugas mulia setiap manusia dapat berbeda
ada kalanya menjadi brahmana, kesatria, waisia, dan sudra
artinya: ada yang bertugas sebagai pemuka bidang agama,
kenegaraan, militer, pendidikan, pertanian, dan sebagainya
meski hanya sekadar pelaksana tidak boleh kita seenaknya
tetap tanggung jawab atas amanah yang dipercayakannya.

Bekasi, 6 Juli 2015


Minggu, 05 Juli 2015

MEMAYU HAYUNING BAWANA


MEMAYU HAYUNING BAWANA

Falsafah budaya: memayu hayuning bawana bermakna
berusaha menjadikan selamat, sejahtera, bahagia dunia
baik dunia besar maupun dunia kecil, ada pada manusia
dengan berkepribadian mulia, memiliki budi pekerti mulia
artinya, selalu berusaha dapat membahagiakan sesama.

Keselamatan akan dunia dapat diusahakan dengan cara
selalu menjaga keselarasan dan keseimbangan semesta,
tidak merusak atau menghancurkan lingkungan hidupnya
tidak merusak adat, tata cara, cita-cita, serta nilai budaya
dan tidak berbuat semena-mena pada apa dan siapa saja.

Kesejahteraan akan dunia dapat diusahakan dengan cara
selalu menghormati dan menghargai hak hidup siapa saja
tidak melanggar hukum pemerintahan negara dan agama
tidak merampas hak hidup, hak milik, atau hak-hak lainnya
tidak serakah, angkara murka, dan berbudi pekerti durjana
tetapi dapat berbagi kasih, ilmu atau harta kepada sesama.

Kebahagian akan dunia itu dapat diusahakan dengan cara
setiap insan selalu dapat berwatak utama delapan perkara
tiga perkara berkaitan dengan sadar, iman, dan juga takwa
artinya setiap insan berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa
lima perkara berkaitan dengan jujur, sabar, narima, rela, juga
budi luhur, berarti setiap insan dapat berperilaku mulia utama
berjalan di Jalan Benar ialah Jalan Utama yang berakhir pada
kesejahteraan, ketenteraman, dan kemulian abadi selamanya.

Setiap insan berbudi pekerti mulia, darmanya kepada dunia
dapat membuat sejahteranya dunia secara senyata-nyatanya
berdasarkan pada kasih sayang, keadilan, kebijakan, dan juga
pengorbanan suci memberi tuntunan, pencerahan, juga serta
memberi suri teladan dengan tindakan benar nyata, supaya
umat manusia hidup rukun damai, saling memedulikan, susila,
tertib, berbakti kepada Tuhan yang dapat menjadikan tertata,
tenang, tenteram, damai, sejahtera, dan bahagia selamanya.

Bekasi, 5 Juli 2015





Jumat, 03 Juli 2015

SINAMUN ING SAMUDANA, SESADONE INGADU MANIS MANUHORA




SINAMUN ING SAMUDANA
SESADONE INGADU MANIS MANUHORA
 
Falsafah budaya Jawa: sinamun ing samudana,
sesadone ingadu manis manuhora, bermakna
dibungkus dengan pasemon, simbolik, metafora,
disampaikan secara manis penuh kata-kata mutiara
serta masalahnya dihadapi dengan wajah cerah ceria.

Begitulah, cara berpikir dan bersikap orang Jawa
pada umumnya tidak disampaikan secara terbuka
tetapi cenderung bersifat simbolis, penuh metafora,
bahkan selalu menunjukkan kearifan yang luar biasa
sehingga siapa saja yang mendengar atau membaca
akan selalu dituntut untuk mengerti dan memahaminya
apa saja yang ada dibalik sesuatu yang disampaikannya.

Bilamana seseorang menghadapi masalah kehidupan,
kendatipun masalahnya pelik, rumit untuk dipecahkan,
senantiasa berusaha menghadapi dengan senyuman
kepada siapa saja tidak akan ditunjukkan berlawanan
meskipun sesungguhnya merupakan musuh bebuyutan
tetapi, diusahakan tampaklah harmonis menyenangkan
hingga lawan takhluk, bertekuk lutut menyerah bongkokan.

Penolakan terhadap sesuatu masalah yang dihadapi
tidak harus dikatakan dengan kata “tidak”, akan tetapi
cukup dengan senyuman dan petuah untuk berhati-hati
agar dalam menentukan pilihan benar-benar dimengerti
perihal resiko pilihannya apakah untung ataukah merugi
bilamana sudah mantap akan pilihannya, harap diyakini
namun, bila hal itu tidak sesuai, ya hanya andum basuki.

Permintaan terhadap suatu hal yang dirasa amat suka
seseorang itu tidak menyampaikannya secara terbuka,
tetapi melalui kata-kata sindiran, kiasan, atau metafora
agar apa yang disampaikannya itu bukan semata-mata
tampak atas dorongan keinginan nafsu serakah belaka
atau sekadar memohon belas kasihan kepada mereka
melainkan sesuatu permintaan wajar atau baisa saja,
selain itu, apabila permintaannya ditolak oleh mereka
sudan barang tentu harus siap merasa tidak kecewa.

Jakarta, 3 Juli 2015