SELAMAT DATANG

Saudaraku, selamat datang di blog GITA PUJA. Saudaraku, berbagi ilmu pengetahuan, wawasan, dan apa pun yang kita miliki merupakan ibadah. Senyampang masih dapat kita lakukan, mengapa tidak segera kita lakukan? Ayo segera berbagilah kepada kami dan kawan-kawan lainnya dengan cara memberi masukan, komentar, kritik, saran, catatan, dan apa pun tentang blog ini demi kebaikan kita bersama membangun peradaban bangsa dan negara di dunia. Selamat membaca, selamat menikmati sajian dalam blog ini, dan selamat berapresiasi. Salam takzim kami. Beres! Sehat! Sukses! Yes!

Kamis, 12 Maret 2015

BUKU SAKU PANEMBAH DAN PANGESTI


BUKU SAKU
PANEMBAH DAN PENGESTI

Puji Santosa, Bakasi

1. Pengantar
Kongres ke XVII Paguyuban Ngesti Tunggal yang akan diadakan pada tanggal 22—24 Mei 2015 di Hotel Lorin Solo, rencananya dipersiapkan penerbitan kembali 10 buku wajib dalam tiga bundel, yaitu Bundel I berisi: (1) Sabda Pratama, (2) Sasangka Jati, dan (3) Sabda Khusus; Bundel II berisi: (1) Olah Rasa di Dalam Rasa, (2) Taman Kemuliaan Abadi, dan (3) Riwayat Hidup Bapak Paranpara Pangestu R. Soenarto Mertowardojo; Bundel III berisi: (1) Arsip Sarjana Budi Santosa, (2) Ulasan Kang Kelana, (3) Olah Rasa, dan (4) Wahyu Sasangka Jati. Rencananya setiap Cabang, seluruhnya kurang lebih 200 cabang, mendapatkan jatah 30 bundel buku wajib (10 Bundel I, 10 Bundel II, dan 10 Bundel III), sisanya diperjualbelikan kepada warga yang berminat memiliki buku wajib. Tentunya seluruh warga Paguyuban Ngesti Tunggal diharapkan telah membaca dan memahami kesepuluh buku wajib tersebut, syukur-syukur dapat memiliki 10 buku wajib tersebut, lalu membacanya, memahaminya, dan mengerti, kemudian melaksanakan apa yang menjadi amanat dari kesepuluh buku wajib tersebut, dengan disertai mendekat kepada Sang Guru Sejati, Sang Suksma Sejati yang diteruskan kepada Suksma Kawekas.
Selain kesepuluh buku wajib itu, tentunya yang tidak kalah pentingnya untuk dimiliki, lalu dibaca, dipahami, dihafalkan, dan dilaksanakan atas kandungan amanat buku tersebut, sebagai sarana mendekat kepada Sang Guru Sejati, adalah Buku Saku: Panembah dan Pengesti. Mengapa dinamakan buku saku? Buku Saku: Panembah dan Pengesti berukuran kecil (10 x 15 Cm) dan tipis (59 halaman), terbitan 2012, dalam Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia. Tentunya buku yang demikian ukurannya, kecil dan tipis, pas atau sesuai dengan ukuran saku baju pada umumnya sehingga buku tersebut dapat dimasukkan ke dalam saku, terasa ringan atau tidak memberati, dan dapat dibawa ke mana mana, bilamana bepergian meninggalkan rumah. Sewaktu-waktu ada keperluan di perjalanan atau di tempat lain, dan kita tidak hafal seluruh isi Pangesti, padahal kita memerlukannya, tentu kita dapat mengeluarkan buku tersebut dari dalam saku, kemudian membuka dan membacanya sesuai dengan keperluan saat itu. Sementara bagi mereka yang bajunya tidak ada sakunya, Buku Saku Panembah dan Pengesti tersebut dapat saja dimasukkan ke dalam tas atau tempat lain yang memudahkan kita dapat membawanya ke mana-mana, ya membawa ke mana-mana, dalam bepergian meninggalkan rumah.

2. Isi Buku Saku Panembah dan Pangesti
Berdasarkan Daftar Isi Buku Saku Panembah dan Pengesti (terbitan 2012) memuat 25 butir pokok tuntunan dan pepadang Suksma Sejati, terdiri atas 5 butir pokok tuntunan dan pepadang yang berkaitan dengan Panembah, berisi: (1) Paugeran Tuhan Kepada Hamba, (2) Bersuci, (3) Panembah, (4) Intisari Panembah, dan (5) Panembah Anak-Anak; 17 butir pokok tuntunan dan pepadang yang berkaitan dengan Pangesti, berisi: (1) Pangesti I: Mohon Pepadang, (2) Pangesti II: Mohon Tuntunan, (3) Pangesti III: Mohon Kekuatan Menerima Keadilan Tuhan, (4) Pangesti IV: Mohon Daya Kekuatan, (5) Pangesti V: Memohon Sih untuk Para Putra, (6) Pangesti Kesejahteraan: Kesejahteraan Keluarga, (7) Pangesti Kesejahteraan Negara: Negara Republik Indonesia, (8) Pangesti Mohon Kesembuhan, (9) Pangesti Sembuh-Kembali, (10) Pangesti Kembali Bertunggal, (11) Pangesti Mohon Jodoh, (12) Pangesti untuk Melaksanakan Kewajiban Suci, (13) Pangesti Selama Mengandung, (14) Pangesti untuk Melaksanakan Kewajiban Siswa Utama, (15) Pangesti Mohon Menjadi Siswa Purnama, (16) Pangesti untuk Melaksanakan Kewajiban Siswa Purnama, dan (17) Pangesti untuk Membina Putra: Pamiwahan Putra; dan 3 butir pokok tuntunan dan pepadang yang berkaitan dengan tali sadar atas jatidiri kita sebagai warga Pangestu, siswa Sang Guru Sejati, berisi (1) Prasetia Suci, (2) Dasa Sila, dan (3) tembang Memanising Hastha Sila: Sekar Dhandhanggula Eling-Eling. Dengan demikian, isi atau kandungan Buku Saku Panembah dan Pengesti dapat dikelompokkan atau diklasifikasikan atas tiga hal, yaitu: (1) berkaitan dengan Tuntunan Panembah, (2) berkaitan dengan Tuntunan Pangesti, dan (3) berkaitan dengan Tuntunan Tali Sadar sebagai warga Pangestu, siswa Sang Guru Sejati.

3. Tuntunan Panembah
Mari bersama-sama kita cermati isi Buku Saku Panembah dan Pengesti. Pokok tuntunan dan pepadang pertama berkaitan dengan Tuntunan Panembah. Menurut buku Ulasan Kang Kelana (1990: 174) “Penembah adalah tanda bakti dari umat manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa, merupakan talinya eling atau sadar, dan mewujudkan ketaatan kita terhadap Suksma Sejati”. Jadi, pemahaman Panembah dalam arti di sini sangat luas, yaitu segala perbuatan apa saja asal itu merupakan tanda bakti kita, untuk memperkuat eling dan melaksanakan ketaatan kita terhadap Suksma Sejati, dapat digolongkan dalam panembah. Ibadah dalam arti luas termasuk dalam panembah.
Akan tetapi, lima butir tuntunan dan pepadang yang termuat dalam Buku Saku Panembah dan Pengesti bagian pertama ini merupakan arti Panembah secara khusus, yaitu menyediakan waktu dan tempat tertentu untuk semata-mata menjalankan ibadah sampai khusuk. Kekhusukannya itulah yang sangat perlu, bukan waktu, tempat, jumlah, dan lamanya manembah. Dengan manembah yang ditentukan tempat dan waktunya kita dapat meneliti: apakah kita benar-benar dapat manembah dengan heneng hening awas eling, secara khusuk? Oleh karena itu, nilai dari tuntunan dan pepadang pada bagian pertama Buku Saku Panembah dan Pengesti adalah prioritas utama, sangat penting, urgen, vital, sesuai dengan kebutuhan kita, dan perlu dilaksanakan dalam setiap harinya sehingga menjadi ujung tombak penyiswaan kita kepada Sang Guru Sejati.
Dalam Sasangka Jati, Hasta Sila, Bab Sadar (2014:8), disabdakan bahwa “Adapun sadar akan Tripurusa itu hendaklah diusahakan setiap hari menjadi kebiasaan, ibarat orang lapar, yang ingatnya akan makanan tanpa perlu diperintah luamah. Jadi, sekalipun sedang berjalan, duduk menganggur, selagi bekerja, tidur, dan pada saat apa saja hendaklah selalu sadar kepada Tuhan Yang Maha Esa (Suksma Kawekas – Suksma Sejati – Roh Suci).”
Untuk sampai ke sadar yang kekal (abadi) itu sarananya tiada lain kita telah dapat menaati segala petunjuk dari Suksma Sejati dalam hal panembah. Artinya, kita telah membiasakan diri hidup dalam panembah, yaitu kita sudah senantiasa mencapai tataran penembah yang heneng hening awas eling, sehingga kita dapat memperluas panembah kita pada waktu apa saja, baik sewaktu berjalan-jalan, bercakap-cakap, makan, tidur, bekerja, maupun sewaktu duduk merenung, serta kemudian semua perbuatan kita akan lambat laun meningkat ke nilai Panembah.
Namun demikian, kita harus berhati-hati (weweka) melalui Jalan Kesiswaan dari permulaan (calon calonnya siswa) sampai ke tingkat siswa (jiwa dewasa), hingga sampai jiwa luhur (menjadi Guru dan Guru Agung). Kita tidak boleh terburu-buru, tergesa-gesa, segera sampai ke tataran jiwa luhur. Sebab, dalam perjalanan menuju jiwa luhur itu banyak rintangan, godaan, cobaan, dan bahaya yang mengepung kita, kinepung wakul binaya mangap (terkepung rapat oleh buaya-buaya yang menganga mulutnya = terkupung rapat oleh musuh). Akan tetapi, sama sekali tidak ada salahnya apabila kita sewaktu-waktu sadar pada Suksma Sejati, lalu mendekat kepada-Nya, tanpa dipengaruhi oleh waktu, tempat, dan keadaan kita sendiri: apakah kita sedang di rumah, di perjalalan, di tempat pekerjaan, di restoran (di kantin), di tempat objek wisata, ketika sedang makan, minum, tidur, bercakap-cakap, duduk termenung, dan sebagainya. Kesempatan ingat dan sadar akan Suksma Sejati jangan sampai kita biarkan berlalu begitu saja. Dalam keadaan seperti itu, saat-saat yang sangat berharga, orang Barat mengatakan “time is money” (waktu adalah uang), kita sebagai siswa Sang Guru Sejati harus menyatakan bahwa waktu adalah untuk dapat mendekat sadar kepada Suksma Sejati, tiada waktu sedetik pun melupakan Sang Penuntun dan Guru Jagat Raya ini, sebab Suksma Sejati tidak terikat oleh ruang dan waktu.
Dalam buku Ulasan Kang Kelana (1990:114) dinyatakan bahwa Panembah itu harus dilaksanakan secara teratur sebagai usaha yang nyata untuk mendekat kepada Suksma Sejati. Sebab Panembah merupakan tali sadar akan Suksma Sejati. Bilamana dalam panembah setiap kali mendekat kepada Suksma Sejati, kita akan menerima tambahan pepadang, dan pepadang itu akan menjelma menjadi kebijaksanaan.
Panembah mempunyai tiga daya guna (Ulasan Kang Kelana, 1990:115—116), yaitu:
1)            Dalam Panembah kita melatih merendahkan diri terhadap Suksma Sejati. Kita menundukkan diri sampai “Aku” kita seolah-olah menyentuh lantai, dan lenyap sama sekali. Soal ini diperlukan sekali karena di dalam kehidupan sehari-hari “Aku” kita ini senantiasa membubung tinggi. Apabila “Akunya” bersimaharajarela, manusia lalu mudah tersinggung, toleransi kurang untuk menerima kekecewaan-kekecewaan. Dalam hidup sehari-hari manusia harus pandai menundukkan “Akunya” karena hidup itu saling bergotong royong, samad-sinamadan. “Akunya” harus pandai untuk menyesuaikan diri dengan keadaan.
2)            Dalam Panembah kita sering melihat ke dalam sehingga menjadi biasa berbagaul dan mengenal pikiran, perasaan, dan keinginan (kemauan) kita sendiri. Lambat laun kita tahu benar seluk-beluk akan diri kita sendiri, dan ini memudahkan kita untuk memperbaikinya menurut Tuntunan Suksma Sejati. Kepercayaan kita merupakan saluran yang kuat bagi mengalirnya Sih Suksma Sejati yang sangat kita perlukan guna perbaikan jiwa. Artinya dapat menjadi saluran peningkatan jiwa manusia, dari tataran jiwa muda, jiwa dewasa, hingga ke tataran jiwa luhur.
3)            Dalam Panembah kita menjurus ke dalam diri sendiri dan memutuskan hubungan dengan dunia luar. Ini perlu sekali untuk lambat laun mengurangi tali rasa yang mengikat kita dengan dunia raya. Hidup di dunia dengan bermacam-macam tugas dan kesenangan membawa adanya daya tarik ke luar dari diri pribadi menuju ke dunia besar. Daya tarik ke luar itu perlu untuk mengejar cita-cita kita di dunia ini, tetapi merupakan penghalang dalam usaha kita mendekat kepada Suksma Sejati.
Panembah adalah usaha yang berdaya guna untuk mengadakan keseimbangan antara tugas ke luar dan ke dalam. Dengan keseimbangan ini menjadi kuat dan sehat, serta panembah memberikan sumbangan yang besar sekali bagi kesehatan dan kekuatan jiwa, maka panembah perlu dijalankan oleh setiap siswa dari Sang Suksma Sejati secara teratur dan tekun.
            Ketika kita masih berada pada tataran bawah, calonnya calon siswa, untuk dapat senantiasa sadar akan Suksma Sejati sewaktu-waktu, setiap saat,  tentunya sukar sekali. Akan tetapi, dengan kehadiran Buku Saku Panembah dan Pengesti sangat amat membantu sebagai sarana untuk melatih sadar kita kepada-Nya. Sebab tidak semua hafal isi teks masing-masing butir tuntunan dan pepadang Suksma Sejati tersebut. Apabila sewaktu-waktu kita menghadapi masalah, yang ringan hingga yang krusial berat, tentu kita ingin mendekat kepada Suksma Sejati. Dengan adanya Buku Saku Panembah dan Pengesti itulah membantu kita menguraikan masalah, sekalipun ada bagian yang tidak hafal akan Panembah dan Pangesti, kita dapat membuka Buku Saku Panembah dan Pengesti yang kita bawa ke mana-mana itu, dan lalu membacanya sesuai dengan keperluan saat itu.

4. Tuntunan Pangesti
Bagian kedua dari Buku Saku Panembah dan Pengesti adalah hal-hal yang berkaitan dengan Pangesti. Tercatat sebanyak 17 Pangesti dalam Buku Saku Panembah dan Pengesti, yang diterbitkan oleh Pengurus Pusat Paguyuban Ngesti Tunggal (2012), untuk memenuhi kebutuhan hidup kita sehari-hari. Pangesti-pangesti lain di luar yang terdapat dalam Buku Saku Panembah dan Pengesti terbitan Pengurus Pusat Pangestu ini tentunya masih ada, dan itu menjadi catatan-catatan tersendiri dari beberapa siswa yang dekat dengan Pakde Narto semasa hidup beliau di dunia. Bahkan, kadang-kadang catatan Pangesti yang di luar Buku Saku Panembah dan Pengesti terbitan Pengurus Pusat Pangestu tersebut dimuat dalam majalah Dwija Wara.
Bapak Pangrasa dalam buku Olah Rasa di Dalam Rasa (2013:133—134) menyatakan “Engkau harus mengerti bahwa Pangesti I sampai IV dan lain-lainnya itu bukan doa, rapal, mantra, juga bukan guna-guna, yang konon berisi daya kekuasaan, salah kalau begitu anggapanmu. Lagi pula, jangan hanya dianggap seperti formulir permohonan.
Mengertilah, pangesti-pangesti yang kuberikan kepada engkau sekalian itu pemberian Sang Guru sejati sebagai tali penghubung antara hamba dan Tuhan, siswa dan Sang Guru Sejati. Maka, jika pangesti dilaksanakan hingga meresap dan menembus ke rahsa jati ialah pusat hati sanubari, pangesti itu lalu menjadi wadah yang menampung menetesnya air suci, yaitu sih Sang Guru Sejati. Adapun terbabarnya sih itu luas sekali cakupannya.
Namun, pangesti yang hanya diucapkan dalam batin atau di bibir, tidak didasari kepercayaan dan kesucian pangesti, akan tetap menjadi kata-kata yang dihapalkan, artinya tidak berdaya apa-apa bagi orang yang mengucapkan pangesti dengan cara seperti itu.”
Pangesti-pangesti yang diberikan oleh Sang Guru Sejati itu dapat dipilah menjadi dua hal, yaitu (1) pangesti untuk keperluan diri pribadi, dan (2) pangesti untuk keperluan di luar diri pribadinya. Pangesti yang ditujukan kepada orang lain di luar diri pribadinya tersebut dapat ditujukan kepada perorangan atau kelompok masyarakat, artinya dapat ditujukan lebih dari seorang, baik yang masih ada di alam sejati, yang ada di dalam kandungan ibu, yang sudah terlahir di dunia, yang sedang sakit, maupun yang sudah meninggal dunia. Pangesti yang ditujukan kepada orang di luar pribadinya itu dapat saja ditujukan kepada orang-orang yang berada di dekatnya, baik dekat secara fisik maupun dekat dalam hal hubungan kekeluargaan, persaudaraan, dan pertemanan, seperti anak, istri/suami, orang tua, saudara, kakek, nenek, paman, tante, cucu, para leluhur, teman sekerja, tetangga, dan saudara sesiswa. Dapat saja pangesti itu ditujukan kepada orang-orang yang jauh dari kita, bahkan tidak dikenal, tentu dibolehkan pangesti untuk mereka yang jauh dan tidak dikenal tersebut, misalnya mereka yang tengah dilanda bencana, atau dapat juga roh (jiwa manusia) yang belum kembali ke alam sejati. Pangesti pemberian Sang Guru Sejati ini pun dapat ditujukan untuk Kesejahteraan dan Keselamatan Keluarga, untuk Kesejahteraan dan Keselamatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta untuk Kesejahteraan dan Keselamatan seluruh umat di dunia, yang berarti ikut memayu hayuning bawana. Sesungguhnya, betapa luas dan mendalam cakupan, manfaat, dan khasiat dari  pangesti-pangesti pemberian Sang Guru Sejati. Bersyukur dan berbahagialah kita menemukan dan mendapat ajaran benar dari Sang Guru Sejati.
Mari kita bersama-sama merenungkan lebih lanjut tentang Pangesti.
Apabila kita melaksanakan pangesti secara sungguh-sungguh, terlebih pangesti yang ditujukan kepada orang lain di luar diri kita, sebenarnya hal itu sekaligus kita melaksanakan Jalan Rahayu atau Panca Dharma Bakti. Memulai pangesti tentu seyogyanya didahului dengan Paugeran Tuhan kepada hamba dan Intisari Panembah sebagai dasar atau fondasi kepercayaan yang benar. Baru pendahuluan pangesti saja sudah dua Jalan Rahayu, Paugeran dan Panembah, dapat kita lalui. Tiga Jalan Rahayu lainnya, Budi Darma, Mengekang Hawa Nafsu, dan Budi Luhur, akan kita lalui dengan benar-benar melaksanakan pangesti yang ditujukan kepada orang atau masyarakat lainnya tersebut. 
Dalam Sasangka Jati, Jalan Rahayu, Bab 3 Budi Darma (2014:123), tidak ada keharusan seseorang itu berbudi darma berwujud harta benda, seperti uang atau barang, tetapi dapat juga berwujud tenaga, pikiran, nasihat, pengetahuan, dan tentunya juga dapat berwujud pangesti. Melaksanakan pangesti untuk orang atau masayarakat di luar dirinya tentu sudah berbudi darma waktu, kemampuan, dan pengetahuan yang dimilikinya guna membabarkan kasih sayang kepada sesama. Sabdanya dalam Sasangka Jati itu dinyatakan sebagai berikut.
“Ketahuilah, sesungguhnya orang fakir dan miskin pun dapat berbuat darma. Jadi, bukan orang yang kaya akan harta saja yang dapat berbuat darma, melainkan semua golongan hamba dapat juga berbuat darma atau memberi kebaikan. Adapun siapa yang wajib menerima pertolongan, juga tidak dibatasi, yakni siapa saja dan pada waktu apa saja dalam keadaan yang perlu ditolong, hendaklah diberi pertolongan apabila engkau mampu, lebih-lebih yang berkenaan dengan kebutuhan orang banyak (keperluan umum). Pertolongan itu harus berwujud apa, itupun tidak dibatasi, sesuai dengan kebutuhan yang perlu mendapat pertolongan, misalnya perlu makan, maka diberi makanan; perlu pakaian, maka diberi pakaian; perlu penginapan, maka diberi penginapan; perlu petunjuk baik, maka diberi petunjuk rahayu, perlu pengetahuan, maka diberi ilmu, demikian selanjutnya”.
Pengorbanan seseorang akan waktu, kemampuan, dan pengetahuannya dalam melaksanakan pangesti, dengan ikhlas ditujukan kepada orang lain atau kelompok masyarakat, itu juga termasuk salah satu cara mengekang hawa nafsu agar tidak adigang adigung adiguna. Setidaknya ada tiga kali Sang Guru Sejati menyebut watak adigang adigung adiguna yang harus disingkiri oleh para siswa.
Pertama, dalam Sasangka Jati, Jalan Rahayu, Bab 4 Mengekang Hawa Nafsu (2014:129—130) disabdakan “Engkau telah mengerti bahwa jasmanimu menjadi tempat nafsu luamah yang inginnya mengumbar makan, minum, tidur, syahwat, dan lain sebagainya sebangsa kenikmatan dunia. Padahal, jika keinginan nafsu luamah itu hanya selalu dituruti (diumbar) segala permintaannya, akan menguatkan tindakan ke aneka rupa perbuatan yang menuntun ke kerusakan, yaitu akan melalui jalan iblis, yang menuntun ke jurang kesesatan, seperti: dengki, iri hati, pelit, panas hati, suka mencampuri urusan orang lain, suka bertengkar, suka akan sanjungan dan kemasyhuran, yang akan mendatangkan watak: adigang adigung adiguna, dan sebagainya yang merusak tujuannya hingga akhirnya lalu lupa.”
Kedua, dalam Sasangka Jati, Sangkan Paran, Bab 2 Sebab-sebab yang Menyebabkan Sukarnya Kematian, Subbab 1 Jangan Menyembah kepada Selain Allah (2014:160) disabdakan “Masih ada satu hal lagi yang digunakan untuk menyaring kesucian syahadatmu, yaitu menyingkirlah dari semua watak yang menuntun ke adigang adigung adiguna atau suka disanjung-sanjung, dan suka dipuji-puji serta suka masyhur, pongah, angkuh, dan sebagainya”.
Ketiga, dalam Olah Rasa di Dalam Rasa, Bab XXVI Bermacam-macam Godaan yang Dapat Menggagalkan Laku Para Siswa (2013:68) dinyatakan bahwa “Oleh sebab itu, ia lalu adigang adigung adiguna, akhirnya siswa lalu berwatak: sombong, angkuh, takabur, suka pamer, pantang merendah harus unggul, meninggalkan jalan keutamaan karena lalu lupa kepada Tripurusa, artinya meninggalkan jalan kesiswaan. Jika demikian halnya, siswa lalu merosot jiwanya”.
Apa dan bagaimana sesungguhnya watak: adigang adigung adiguna itu sehingga dapat merusak tujuan kita kembali ke asal dan tujuan hidup yang sejati, melupakan Tripurusa, memerosotkan derajat kesiswaan kita, dan menjadi sebab sukarnya kematian atau tidak menyelamatkan perjalanan sampai jalan Asal dan Tujuan (Sangkan Paran)? Secara lugas terjemahan dari kata adigang adalah bersifat menonjolkan kekuasaan dan kekuatan; adigung adalah bersifat menonjolkan keluhuran, keturunan, dan kebangsawanan; dan adiguna adalah bersifat menonjolkan kepandaian. Puisi obsesi berikut sekiranya dapat lebih menjelaskan apa dan bagaimana yang disebut dengan adigang adigung adiguna.

ADIGANG ADIGUNG ADIGUNA


Adigang watak congkak mengandalkan                     
kedudukan, pangkat, derajat, dan jabatan
seperti halnya kijang menjangan
mengandalkan akan kegesitan
melompat-lompat penuh keyakinan
dan kemampuan diri yang berlebihan
hingga melupakan kewaspadaan
tidak lagi memperhitungkan
kiri kanan, belakang, dan depan
harimau siap menerkam dan menelan
ketika kijang menjangan dalam kelengahan.


Adigung watak takabur mengandalkan
derajat dari silsilah keturunan
si konglomerat atau si hartawan
ataupun darah biru bangsawan,
seperti halnya gajah ya si liman
selalu saja membanggakan
kebesaran dan kekuatan
menganggap tidak satu pun
binatang mampu mengalahkan
hingga gajah lupa ada sengatan
seekor semut masuk ke telinga kanan
menggigit tajam mencekam sungguhan
hingga gajah berang kesakitan
bahkan membawa kehancuran
gajah pun menemui ajal kematian.

Adiguna watak sombong mengandalkan
kecerdikan, kepandaian, dan kepintaran
terhadap orang lain suka meremehkan
karena kemampuan ilmu dan ucapan
senantiasa dia menjadi pedoman
hingga membuat dia lupa daratan
seperti halnya seekor ular beracun
bisa racun menjadi andalan
sekali sembur membuat kematian,
tapi si ular sungguh lupa beneran
ada penawar racun menyembuhkan
orang menjadi kebal dan tidak mempan.

(Sang Paramartha, 2014:3—4)

Dengan melakukan pangesti yang ditujukan kepada orang atau masyarakat di luar dirinya, tentulah lambat laun dapat menyingkir dari watak adigang adigung adiguna tersebut. Apalah gunanya mengandalkan kedudukan, pangkat, derajat, jabatan, dan kekuasaan di dunia ini? Apa pula artinya kita harus mengandalkan keluhuran keturunan, kebangsawanan, dan kekonglomeratan sehingga membeda-bedakan perlakuan kita terhadap sesama? Apa juga maknanya kita harus mengandalkan kepandaian dan kepintaran sehingga menganggap orang lain itu semua bodoh, pandir, stupid, dan bego? Itu semua hanyalah pinjaman sementara, suatu saat harus kita dikembalikan, dicabut akan hak dan wewenangnya.
Wujud kasih sayang kepada sesama agar sejahtera, tenteram, dan bahagia di dalam pangesti kita yang ditujukan kepada orang lain itu juga sebagian dari watak budi luhur. Jadi, tidak ada hal yang sia-sia, terbuang percuma, meskipun hanya dapat mangestikan untuk orang lain atau masyarakat di luar diri kita. Lebih utama lagi, apabila mangestikan orang di luar diri kita, sebenarnya kita juga ikut terangkat, ikut terentas, ikut di dalam merasakan kesejahteraan, ketenteraman, dan kebahagiaan orang lain yang kita mangestikan tersebut.
Manfaat atau khasiat pangesti itu apabila dipanjatkan dengan didasari kepercayaan dan kesucian hati, khasiatnya sungguh besar sekali, amat luas cakupan dan khasiatnya. Dalam buku Olah Rasa di Dalam Rasa (2013:130—131) Bapak Pangrasa menyatakan bahwa “Mengertilah putraku bahwa getaran yang tergelar di dunia ini tidak dapat ditolak dengan peranti apa pun. Segala getaran akan menyingkir, artinya tidak dapat mengguncangkan ketenteraman dan mengotori kesucian batin jika ditolak dengan keteguhan hati. Adapun hati dapat teguh jika berisi percaya bahwa hati yang suci itu singgasana Tuhan. Oleh karena itu, Prabawa, pesanku kepadamu, juga kepada putra-putraku sekalian, jika angan-anganmu sedang bergerak oleh pengaruh getaran dari luar, mengenai apa saja, dan bergerak karena dibangunkan oleh nafsu yang tertuju ke perbuatan yang menyalahi keutamaan dan kesusilaan, pada saat itu juga pejamkanlah mata dengan menahan napas sebentar, lalu ucapkan Pangesti Nomor 2”.
Pangesti Nomor 2, Mohon Tuntunan, selain berkhasiat untuk menolak getaran yang berasal dari luar, juga dapat dipanjatkan ketika hendak tidur (Sabda Khusus Peringatan Nomor 6 Alinea 7). “Seyogianya jika engkau berbaring hendak tidur harus pasrah kepada-Ku dan jangan berniat bangun lagi” (2014:27). Lalu oleh juru mengeti, Goenawan, diberi catatan kaki: “Para siswa hendahlah menaatinya. Adapun caranya: tidur selonjor, lebih baik membujur ke utara, kedua tangan bersidekap di dada, di atas jantung, telapak tangan kanan terletak di atas tangan kiri, dengan mengucapkan pangesti di dalam batin demikian: “Duh Suksma Sejati, Penuntun serta Guru hamba yang sejati, hamba mohon semoga hamba dituntun berjalan di jalan benar ialah jalan utama yang berakhir di kesejahteraan dan ketenteraman abadi ialah di hadirat Tuhan sejati. Satuhu.” Kemudian berzikir menurut keluar masuknya napas dengan tenang “Hu.... Allah” (“Hu” napas masuk, “Allah” napas keluar, hingga sampai masuk alam tidur)”.
Selanjutnya, Bapak Pangrasa, dalam buku Olah Rasa di Dalam Rasa (2013:131) menjelaskan kepada para putra-putranya tentang Pangesti Nomor 4: Mohon Daya Kekuatan, demikian jelasnya.  “Kecuali itu, Prabawa, supaya hatimu tetap suci dan kuat, tidak akan tertembus oleh getaran berkilaunya betis kuning dan godaan yang lain, setiap matahari terbit dan terbenam, setelah manembah kepada Tuhan, ucapkanlah Pangesti Nomor 4 (Memohon sih Sang Guru Sejati). Jika pangestimu kaulakukan dengan sungguh-sungguh, yaitu dapat masuk hingga menyentuh sampai di pusat sanubari, dengan didasari percaya, engkau akan dapat menyingkir dari berbagai macam godaan, dan engkau akan dapat melaksanakan kewajiban lahir batin dengan sempurna karena sih, tuntunan, pepadang, dan lindungan Sang Guru Sejati.”
Selain berkhasiat menghalau segala getaran yang berasal dari dunia besar, termasuk pelbagai godaan, baik goda kasar, goda halus, maupun goda gawat, Pangesti juga dapat membuat seseorang menjadi mursid, kaya akan keahlian dan kepandaian, luhur budinya, luhur derajatnya, serta mulia hidupnya (lihat Pangesti Nomor 5). Salah satu khasiat Pengesti untuk menjadi seorang yang mursid, melalui percakapan Sri Rejeki dan Jatmika, dalam buku Taman Kemuliaan Abadi (1999:36—37) dinyatakan: “Mas, Mas, sekarang Kanda kok menjadi siswa yang mursid, padahal dulu – ya minta maaflah – dengan saya ibarat setali tiga uang, sama-sama bodohnya. Di mana Kanda belajar? Apa sekarang ada fakultas mursid? Mbok saya dimaksukkan, saya ingin ikut kuliah jurusan kemursidan, biar tidak keterlanjuran bodoh, melongo saja seperti kerbau.”
Saudara Jatmika dengan tersenyum menanggapi pertanyaan istrinya: “Jeng Sri, sampai sekarang di seluruh dunia belum ada fakultas mursid, juga belum ada sekolah yang mengajarkan supaya orang menjadi cekatan, tangkas, dan terampil. Adapun saya mendapat berkah menjadi agak mursid setelah saya sering menghadap Bapak, sebab saya lalu mengetahui, sumbernya kemursidan berada di dalam rahsa jati, di pusat hati sanubari yang suci. Bagaimana caranya agar Diajeng dapat dialiri air kemursidan, menurut Bapak adalah sebagai berikut.
Setiap waktu ketika sedang senggang, ibaratnya setiap detik, panjatkanlah Pangesti Nomor 1, selanjutnya perasaanmu hendaklah dipenuhi dengan rasa mendekat kepada Sang Sasangka Jati ialah Sang Guru Sejati. Jika rasa mendekat kepada Sang Pepadang tersebut sudah tertanam atau menggores di dalam batinmu, engkau akan disinari kebijaksanaan Sang Guru Sejati, akhirnya engkau menjadi siswa yang mursid. Ketahuilah, Jeng, bahwa Rahsa Jati adalah sumber kebijaksanaan, ketenteraman, kebahagiaan, dan kemuliaan. Rahsa Jati adalah gapura Taman Kemuliaan Abadi.”
Dari kedua puluh lima butir pokok tuntunan dan pepadang Suksma Sejati tentang Pangesti yang terkandung dalam Buku Saku Panembah dan Pengesti niscaya, tentu, pasti sudah memenuhi kebutuhan hidup kita sehari-hari dari pondok dunia sampai ke istana akhirat. Apakah dengan kehadiran Buku Saku Panembah dan Pengesti masih ada sesuatu yang dirasakan kurang dalam memenuhi kebutuhan hidup Bapak/Ibu/Saudara warga Paguyuban Ngesti Tunggal? Dalam beberapa kali olah rasa saya masih mendengar pertanyaan dan pengalaman dari warga Pangestu yang masih menginginkan permohonan atau pangesti di luar yang ada pada Buku Saku Panembah dan Pengesti, misalnya menginginkan anaknya menjadi pejabat negara, bahkan menjadi presiden, kalau nanti meninggal di tempat yang enak atau meninggal bersama-sama suami isteri, tidak ingin menjadi lantaran pedang pengadilan Tuhan, segera mendapatkan rezeki yang halal dan melimpah, serta segera terentas dari semua penderitaan hidup. Permohonan atau Pangesti yang demikian itu tidak ada salahnya bilamana permohonan benar-benar ditujukan kepada Suksma Sejati. Akan tetapi, terkabul atau tidaknya permohonan kita, tentunya sangat bergantung pada pelbagai faktor yang ada, misalnya keseriusan permohonan, saldo dosa, hukum angger-angger langgeng, dan dispensasi dari Sang Guru Sejati. Sang Guru Sejati tidak dapat kita dikte untuk mengabulkan permohonan atau pangesti kita. Sebab yang punya ukuran atau timbangan adalah Sang Suksma Sejati, kita sebagai hamba hanya melaksanakan dan memohon, terus dan terus memohon, dikabulkan atau tidaknya ya terserah atas kebijaksanaan, keadilan, kekuasaan, dan kasih sayang Sang Guru Sejati. Sang Guru Sejati mengingatkan (Sabda Khusus Peringatan Nomor 15 Alines 11) bahwa “Sejatinya Pangesti dan rasa bakti itu tidak ditujukan pada barang yang berwujud. Segala perwujudan itu hanyalah bayangan-Ku yang dapat sirna” (2014:82).

5. Tuntunan Tali Sadar
            Bagian ketiga dari Buku Saku Panembah dan Pengesti adalah tuntunan tali sadar sebagai warga Pangestu dan siswa Sang Guru Sejati, yaitu (1) Prasetia Suci, (2) Dasa Sila, dan (3) Manisnya Hasta Sila. Dengan Prasetia Suci mengingatkan kita pada saat pelantikan menjadi warga Paguyuban Ngesti Tunggal. Tentu bapak ibu masih ingat betul, bahwa yang pertama kali dibaca atau diucapkannya dihadapan sidang majelis pertemuan olah rasa, pada saat pelantikan warga baru, adalah Paugeran Tuhan kepada hamba, setelah itu mengucapkan Prasetia Suci, dan Dasa Sila, baru setelah selesai olah rasa dinyanyikan lagu Manisnya Hasta Sila. Pelantikan menjadi warga Paguyuban Ngesti Tunggal, dalam organisasi lain lebih dikenal dengan istilah baiat, yaitu pengucapan sumpah setia kepada imam, dan imam kita hanya Suksma Sejati, Sang Guru Sejati, Guru Dunia dan Akhirat yang menunjukkan Jalan Benar ialah Jalan Utama, Jalan yang berakhir dalam kesejahteraan dan ketenteraman abadi, yakni di hadirat Tuhan Yang Maha Esa, di Taman Kemuliaan Abadi. Jadi, pengucapan Paugeran Tuhan kepada hamba, Prasetia Suci, dan Dasa Sila dalam peristiwa pelan­tikan warga Paguyuban Ngesti Tunggal itu adalah menjadi kredo, ikrar, sumpah setia, yakni pernyataan kepercayaan (keyakinan) dan sekaligus menjadi dasar tuntunan hidup sepanjang hayat, dari pondok dunia hingga sampai ke istana akhirat. Agar kita senantiasa sadar akan kedudukan sebagai warga Pangestu yang berusaha menyiswa kepada Sang Guru Sejati dengan bertekun setiap harinya melaksanakan semua sabda Suksma Sejati yang terukir dalam pustaka suci Sasangka Jati, mengalihkan titik berat kesadaran ke alam sejati ialah kepada Tripurusa, dan melaksanakan Dasa Sila ialah pedoman para warga Paguyuban Ngesti Tunggal, kehadiran tuntunan tali sadar dalam Buku Saku Panembah dan Pengesti tentu menjadi sangat bermakna.

6. Penutup
            Sebagai penutup Olah Rasa kita pada hari ini, perlu saya kutipkan Sabda Khusus Peringatan Nomor 19 alinea 8 dan 9, yang tetap masih ada kaitannya dengan masalah Panembah dan Pangesti, sebagai berikut.
            “Sesungguhpun Aku telah memberi wejangan dan ajaran yang juga telah diperingati, tetapi jika tidak engkau perasakan dan tidak dibabarkan dalam tindakan (laku), berarti engkau tidak ingin menerima atau memetik keadaan yang engkau cita-citakan. Oleh karena itu, jangan hanya mempunyai pengharapan. Jika demikian, keliru. Yang penting, bertindaklah dengan menetapi semua petunjuk-Ku.”
            “Tentunya di antara para siswa ada yang bertanya: Bagaimana dapat meringankan semua penderitaan dan terkabul apa yang dicita-citakan? Jika para siswa ingin lepas dari penderitaan dan terkabul apa yang dicita-citakan, seperti yang telah aku perintahkan, hendaklah membuang rasa waswas dan pasrahlah kepada-Ku. Aku yang akan menuntun, menolong, dan menyelamatkan lakumu”.

            Satuhu. 

Kamis, 26 Februari 2015

KRITIK SASTRA TEMPATAN: KERANGKA PENGGALIAN DAN PENGKAJIAN TEORI DAN KRITIK SASTRA PRODUKSI DALAM NEGERI


Judul Buku   : Kritik Sastra Tempatan 
Penulis         : Puji Santosa dan Djamari 
Penerbit       : Elmatera, Yogyakarta 
Tahun            : 2014 
Halaman      : xii + 236 
Ukuran Buku : 14,5 x 21 Cm 
Harga : Rp50.000,00

KATA PENGANTAR PENERBIT

Studi kesusastraan adalah upaya manusia untuk dapat memahami, mengerti, dan memperjelas tentang kesusastraan. Salah satu cara untuk dapat memahami, mengerti, dan memperjelas kesusastraan adalah dengan cara membaca, mempelajarinya, dan mendengarkan penjelasan-penjelasan tentang kesusastraan yang disampaikan oleh guru sastra, dosen sastra, dan atau pakar kesusastraan sebagai narasumber. Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh seseorang untuk dapat melakukan studi sastra adalah melalui: (1) jalur pendidikan nonformal dan informal di masyarakat, seperti belajar secara otodidak di masyarakat, mengikuti diskusi, saresehan, seminar, ceramah sastra, kursus-kursus penulisan sastra, dan pentas-pentas sastra yang dilakukan oleh komunitas sastra, dan (2) jalur pendidikan formal, yaitu melalui bangku-bangku sekolah, dari sekolah dasar hingga sekolah menengah, bahkan kalau perlu mengikuti perkulihan di perguruan tinggi.
Buku Kritik Sastra Tempatan yang ditulis oleh Puji Santosa dan Djamari ini diterbitkan sebagai upaya memahamkan dan menerang-jelaskan ihwal kritik sastra tempatan yang digali dan dikaji dari khazanah sastra daerah (lokal), Melayu (negeri serumpun), dan nasional (Indonesia). Dalam penelitian sastra tempatan ini mereka berdua menggali pemahaman teori dan kritik sastra tempatan dari tiga pakar sastra dan budaya dari Jawa Timur, yaitu Prof. Dr. Setya Yuwana Sudikan, M.A. (Guru besar Universitas Negeri Surabaya), Prof. Dr. Henricus Supriyanto, M.Hum. (Guru besar Universitas PGRI Adi Buana Surabaya dan Begawan Sastra dari Padepokan Seni Sastra Tan Tular Malang), dan Dr. Sunu Catur Budiono, M.A. (pakar sastra dan sosial budaya Universitas PGRI Adi Buana Surabaya). Hal ini kami sadari bahwa selama abad XX hingga kini, terutama memasuki awal 1980-an, Indonesia diserbu arus global paradigma teori dan kritik sastra Barat yang datang secara beruntun. Hadirnya buku ini merupakan alternatif menuju teori dan kritik sastra produksi dalam negeri.
Semoga penerbitan buku ini dapat menambah khazanah publikasi hasil penelitian dan kritik sastra di Indonesia. Penerbit Elmatera Publishing dengan bangga menyajikan penerbitan buku ini sebagai sumbangsih kami kepada masyarakat dan bangsa Indonesia. Selamat membaca dan mengapresiasi sajian penerbitan kami ini.

                                                                                                Penerbit Elmatera


PENGANTAR PENYUNTING AHLI 

Laju perkembangan karya sastra yang pesat di Indonesia tidak diikuti oleh lajunya pertumbuhan kritik sastra. Sepeninggal H.B. Jassin dan Subagio Sastrowardojo seolah-olah kritik sastra di Indonesia hanya jalan di tempat, tidak tampak ada penerus yang secara rutin menggeluti dunia kritik sastra. Keprihatinan itu dirasakan terutama oleh para akademisi dan juga kalangan pencinta sastra di Indonesia.
            Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa selama abad XX hingga kini, terutama memasuki awal 1980-an, Indonesia diserbu arus global paradigma teori dan kritik sastra Barat yang datang secara beruntun. Para akademisi berkenalan dengan New Criticism, Kritik Merlyn, Nouvelle Critique, Post Structuralism, Kritik Marxis, Kritik Psikoanalisis, Kritik Linguistik dan Stilistik, Kritik Formalisme, Kritik Mitepoik/Kritik Arketipe, Kritik Eksistensialisme, Kritik Feminisme, practical criticism, academic literary history, literary appreciation and interpretation, literary theory, kritik pragmatik, kritik ekspresif, kritik objektif, kritik mimetik, dan sejumlah istilah kritik sastra yang lain. Membanjirnya paradigma teori dan kritik sastra Barat itu tidak sepenuhnya dipahami oleh khalayak ramai, bahkan kaum intelektual di luar kampus lebih banyak mengalami kebingungan daripada kejelasan. Hal itu disadari bahwa pada umumnya sarjana sastra di Indonesia tidak begitu mengenal latar belakang pemikiran dan filsafat yang mendasari semua teori dan kritik sastra itu. Jadi, arus global paradigma kritik sastra itu patut dicermati secara saksama.
            Atas dasar pemahaman di atas, seharusnya pengamat, pengajar, dan peneliti sastra di berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian tertantang untuk menggali lebih jauh arus global paradigma, baik baru maupun lama, kritik sastra itu dari waktu ke waktu. Artinya, tidak harus meninggalkan paradigma yang lama, tetapi yang baru pun perlu disongsong, digali, dikaji, dan ditelaah lebih lanjut. Para pakar sastra seyogianya menjelaskan bagaimana seharusnya paradigma kritik sastra itu dipahami, kemudian diaplikasikan dalam karya sastra di Indonesia: dalam genre puisi, prosa, dan drama, baik sastra tulis maupun sastra lisan.
Hadirnya buku Kritik Sastra Tempatan ini merupakan hasil penelitian sastra yang ditulis oleh Puji Santosa dan Djamari sebagai kerangka penggalian dan pengkajian teori dan kritik sastra produksi dalam negeri, menjadi salah satu alternatif menangkal teori dan kritik sastra dari Barat. Buku hasil penelitian ini mengungkapkan masalah pelbagai ancangan teori dan kritik sastra tempatan yang dapat digali dan dikaji dari khazanah sastra daerah (lokal), Melayu (negeri serumpun), dan Nasional (Indonesia). Penelitian ini juga mendalami dan menggali pokok-pokok pemikiran teori dan kritik sastra tempatan dari tiga narasumber pakar sastra dan budaya dari Jawa Timur, yaitu Prof. Dr. Setya Yuwana Sudikan, M.A. (Guru besar Universitas Negeri Surabaya), Prof. Dr. Henricus Supriyanto, M.Hum. (Guru besar Universitas PGRI Adi Buana Surabaya dan Begawan Sastra dari Padepokan Seni Sastra Tan Tular Malang), dan Dr. Sunu Catur Budiono, M.A. (pakar sastra dan sosial budaya Universitas PGRI Adi Buana Surabaya).
Beberapa teori dan krtik sastra tempatan yang dibicarakan dalam buku ini antara lain, kritik sastra wangsalan, kritik sastra dwitunggal, kritik sastra tritunggal, kritik sastra caturtunggal, kritik sastra pancatunggal, kritik sastra hasthatunggal, kritik sastra dasatunggal, kritik sastra bangesgresem (banyol, nges, greget, sem), kritik sastra kasunyatan, dan kritik sastra kontekstual. Oleh karena itu, saya bangga menjadi penyunting ahli buku ini, baik dari sisi teknis bahasa maupun dari isi kajian yang mendalam tentang betapa pentingnya peran teori dan kritik sastra tempatan dalam pengembangan sastra di Indonesia. Hasil penelitian Saudara Puji Santosa dan Djamari ini mampu membuka cakrawala betapa luas dan mendalamnya penggalian dan pengkajian teori dan kritik sastra tempatan yang berangkat dari khazanah sastra daerah (lokal), Melayu (negeri serumpun), Nasional (Indonesia), baik sastra tulis maupun sastra lisan.

Drs. Dhanu Priyo Prabowo, M.Hum.
                                                                                    Peneliti Utama Bidang Sastra


KATA PENGANTAR PENULIS 


Sebagai salah satu upaya dalam pengembangan tradisi penelitian dan penulisan kritik sastra di Indonesia, kami hadir menyajikan sebuah buku tentang Kritik Sastra Tempatan. Dalam buku yang sederhani ini kami berusaha mengungkapkan pelbagai upaya alternatif ancangan kritik sastra tempatan sebagai kerangka penggalian dan pengkajian teori dan kritik sastra produksi dalam negeri. Buku hasil penelitian ini mengungkapkan masalah pelbagai ancangan teori dan kritik sastra tempatan yang dapat digali dan dikaji dari khazanah sastra daerah (lokal), Melayu (negeri serumpun), dan Nasional (Indonesia). Penelitian ini juga mendalami dan menggali pokok-pokok pemikiran teori dan kritik sastra tempatan dari tiga narasumber pakar sastra dan budaya dari Jawa Timur, yaitu Prof. Dr. Setya Yuwana Sudikan, M.A. (Guru besar Universitas Negeri Surabaya), Prof. Dr. Henricus Supriyanto, M.Hum. (Guru besar Universitas PGRI Adi Buana Surabaya dan Begawan Sastra dari Padepokan Seni Sastra Tan Tular Malang), dan Dr. Sunu Catur Budiono, M.A. (pakar sastra dan sosial budaya Universitas PGRI Adi Buana Surabaya).
Pelbagai teori dan krtik sastra tempatan yang dibicarakan dalam buku ini antara lain, kritik sastra wangsalan, kritik sastra dwitunggal, kritik sastra tritunggal, kritik sastra caturtunggal, kritik sastra pancatunggal, kritik sastra hasthatunggal, kritik sastra dasatunggal, kritik sastra bangesgresem (banyol, nges, greget, sem), kritik sastra kasunyatan, dan kritik sastra kontekstual. Maksud penyajian beberapa alternatif ancangan teori dan kritik sastra di atas bahwa penggalian dan pengkajian teori dan kritik sastra tempatan itu harus berangkat dari khazanah teks sastra yang ada secara otonom, baik yang berasal dari sastra daerah (lokal) dengan bahasa daerah (lokal) setempat atau yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, sastra Melayu (negeri serumpun), maupun sastra nasional (Indonesia), juga baik sastra tulis maupun sastra lisan.
Akhirnya, selamat membaca dan mengapresiasi hasil penelitian sederhana ini. Tidak ada gading yang tidak retak. Apabila ada kekurangan, salah dan kilaf, mohon koreksian, kritik, dan saran perbaikan atas buku ini. Salam dan doa.

Jakarta, 1 September 2014
Penulis


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR PENERBIT ........................................................................................ iii
PENGANTAR PENYUNTING AHLI .................................................................................... v
KATA PENGANTAR PENULIS............................................................................................ ix
DAFTAR ISI .......................................................................................................................... xi

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................... ...... 1

BAB II PELBAGAI ANCANGAN KRITIK SASTRA TEMPATAN .................................. 13
2.1 Pengantar ....................................................................................................................... 13
2.2 Kritik Sastra Wangsalan ................................................................................................. 14
2.3 Kritik Sastra Dwitunggal ................................................................................................. 24
2.4 Kritik Sastra Tritunggal ................................................................................................... 42
2.5 Kritik Sastra Caturtunggal ........................................................................................ ...... 60
2.6 Kritik Sastra Pancatunggal ............................................................................................. 64
2.7 Kritik Sastra Hasthatunggal ............................................................................................ 67
2.8 Kritik Sastra Dasatunggal ............................................................................................... 78

BAB III KRITIK SASTRA BANGESGRESEM .................................................................. 89
3.1 Pengantar ....................................................................................................................... 89
3.2 Kaidah Kritik Sastra Bangesgresem .............................................................................. 91
3.3 Wayang dalam Satra Indonesia ..................................................................................... 98
3.4 Kritik Bangesgresem Novel ABMA dan KOK ................................................................ 101
3.5 Banyol dalam Pengisahan Novel ABMA dan KOK ........................................................ 112
3.6 Nges dalam Penokohan Novel ABMA dan KOK ........................................................... 126
3.7 Greget dalam Penceritaan Novel ABMA dan KOK ....................................................... 139
3.8 Sem Sebagai Kepekaan Erotik Novel ABMA dan KOK ................................................ 145
3.9 Simpulan ......................................................................................................................... 151

BAB IV KRITIK SASTRA KASUNYATAN ................................................................ ...... 153
4.1 Pengantar ....................................................................................................................... 153
4.2 Kewadakan Tembang .................................................................................................... 157
4.3 Fungsi dan Makna Pupuh Tembang .............................................................................. 164
4.4 Kaidah Kritik Sastra Kasunyatan .................................................................................... 168
4.5 Simpulan ......................................................................................................................... 177

BAB V KRITIK SASTRA KONTEKSTUAL ...................................................................... 179
5.1 Pengantar ....................................................................................................................... 179
5.2 Kerangka Teori Sastra Kontekstual ................................................................................ 180
5.3 Metode dan Teknik Sastra Kontekstual ......................................................................... 182
5.4 Konteks Kesejarahan Sunan Kalidjaga .......................................................................... 184
5.5 Konteks Nilai Keedipenian Tembang “Ilir-Ilir” ................................................................. 187
5.6 Konteks Nilai Keadilihungan Tembang “Ilir-Ilir” .............................................................. 191
5.7 Konteks Pembentukan Pekerti Bangsa ......................................................................... 196
5.8 Simpulan ......................................................................................................................... 199

BAB VI PENUTUP .............................................................................................................. 201

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................... 203
INDEKS ......................................................................................................................... ...... 211
BIODATA PENULIS                         219