SELAMAT DATANG

Saudaraku, selamat datang di blog GITA PUJA. Saudaraku, berbagi ilmu pengetahuan, wawasan, dan apa pun yang kita miliki merupakan ibadah. Senyampang masih dapat kita lakukan, mengapa tidak segera kita lakukan? Ayo segera berbagilah kepada kami dan kawan-kawan lainnya dengan cara memberi masukan, komentar, kritik, saran, catatan, dan apa pun tentang blog ini demi kebaikan kita bersama membangun peradaban bangsa dan negara di dunia. Selamat membaca, selamat menikmati sajian dalam blog ini, dan selamat berapresiasi. Salam takzim kami. Beres! Sehat! Sukses! Yes!

Saturday, 7 January 2017

BALADA NABI NUH AS




BALADA NABI NUH AS

Nuh seorang utusan Tuhan
beberapa kitab meriwayatkan
terukir pada Alkitab dan Alquran
bencana air bah menandai zaman
dengan bahtera, Nuh terselamatkan.

Di tengah kaum Bani Rasib
Nuh diutus memperbaiki nasib
agar hidup kaumnya jadi tertib
namun, mereka suka menyalib
semua ajaran Nuh dianggap aib.

Nuh tiada menyerah
tetap sampaikan risalah
tiada henti dia berdakwah
meski disambut dengan pongah
Nuh tetap tunjukkan jalan termudah
agar mereka dapat kembali kepada Allah

Bani Rasib penyembah berhala
sungguh mereka itu kaum celaka
telinga dan mata sudah tuli dan buta
tidak kenal beda fatamorgana dan nyata
bahkan menganggap Nuh sebagai orang gila
ketika Nuh dan umatnya menyiapkan bahtera.

Akhirnya, datang musibah
bencana banjir besar air bah
gemuruh air bah melimpah
gemuruh dunia membuncah
tunggang langgang gelisah
pohon bangunan roboh pecah
batu gunung bungkah merekah
kaum kalah menyerah pasrah.

Oooh kaum Nuh.

Bekasi, 5 September 2013

Friday, 6 January 2017

BALADA NABI IDRIS AS




BALADA NABI IDRIS AS

Idris seorang nabi
berderjat amat tinggi
sungguh dia mencintai
datangnya kebenaran Ilahi.

Idris sangat suka
belajar apa saja
ilmu sebagai harta
menjadi martabat mulia.

Idris amat perkasa
Singa segala singa
di tengah kaumnya
Bani Kabil pendusta.

Nabi Idris bermartabat mulia
jujur menjadi kemudi utama
sabar perilaku sehari-harinya
syukur bertawakal jadi harta.

Tulus ikhlas menjadi senjata
sadar dan bakti selalu terjaga
iman menjadi tiang agama
takwa jadi pedoman hidupnya.

Nabi Idris selalu mengajarkan
kesabaran yang disertai iman
akan membawa kemenangan
hingga sampai di akhir zaman.

Sesungguhnya orang yang berbahagia
adalah orang yang senantiasa waspada
mengharapkan syafaat dari Yang Maha Esa
dengan amal mulia disertai bakti salehnya.

Bilamana engkau memohon sesuatu
sertakanlah ketulus-ikhlasan niatmu
demikian pula untuk ibadah puasamu
dan juga ibadah sholat setiap harimu.

Janganlah engkau bersumpah palsu
dan jangan menutup-nutupi sumpah palsumu
agar supaya engkau tidak ikut berdosa selalu.

Taatlah engkau kepada rajamu
dan tunduklah kepada pembesarmu
serta penuhilah selalu mulutmu
dengan ucapan puji syukur pada Tuhanmu.

Janganlah iri dan dengki
kepada sesama insani
oleh karena iri dan dengki
menyebabkan penyakit hati.

Barang siapa melampaui kesederhanaan
tidak sesuatu pun akan dapat memuaskan.

Tanpa membagi-bagikan nikmat yang diperolehnya,
seseorang tidak pandai bersyukur kepada Yang Esa
atas nikmat-nikmat karunia yang diperolehnya.

Bekasi, 2 September 2013

Thursday, 5 January 2017

BALADA NABI SIS AS


BALADA NABI SIS AS
               
Setelah kematian Habil, tentunya
Adam kepada Kain sangatlah murka
rasa kecewa menyertai juga duka cita
berhari-hari dan berbulan-bulan lamanya
tapi tak lama kemudian Adam pun berputra
seorang wanita cantik jelita diberi nama Azura
dan seorang lelaki gagah nan tampan Sis namanya.

Kedua anak kembar Adam itu sebagai karunia
sebab Tuhan melimpahkan karunia tak terhingga
Azura yang cantik jelita memiliki perilaku mulia
Sis yang gagah dan tampan serta cerdas cendekia
senantiasa menunjukkan perilaku saleh nan mulia
berbakti pada orang tua dan juga kepada Yang Esa
beriman dengan teguh tidak tergoyahkan siapa juga
bertakwa dengan sepenuh jiwa raga selalu siap sedia
menerima sabda-sabda Yang Esa dalam lubuk hatinya
dan ditulis menjadi lima puluh sahifah yang rapi tertata.

Ketika Sis dilahirkan, Adam sudah berusia senja
Adam sengaja memilih Sis sebagai pewaris aulia
sebab Sis memiliki pelbagai kelebihan secara nyata
dari segi keilmuan dan kecerdasan, mumpunilah dia
ketakwaan dan keimanan tidak perlu diragukan juga
kepatuhan kepada orang tua dan Tuhan selalu terjaga
oleh karena itu pada Sis, Adam sepenuh jiwa percaya
dan mengajarkan semua ilmu pengetahuan miliknya:

Janganlah engkau merasa tenang hidup di dunia fana,
oleh karena aku merasa tenang ketika hidup di surga
bersifat abadi, sebab termakan bujukan setan penggoda
aku dan ibumu dikeluarkan oleh-Nya, dan turun ke dunia.

Janganlah engkau bertindak menurut nafsu angkara setan
oleh karenanya aku bertindak menurut nafsu angkara setan
sehingga aku memakan buah terlarang dari pohon kehidupan
lalu kemudian, aku menjadi menyesal atas semua perbuatan.

Setiap perbuatan yang akan engkau lakukan,
hendaklah terlebih dahulu engkau renungkan
akibat yang akan ditimbulkan pada kemudian,
seandainya akibat suatu perkara aku merenungkan,
tentu aku tidak akan tertimpa musibah memalukan.


Ketika akan sesuatu hatimu merasakan kegamangan
usahakanlah sedapat mungkin untuk meninggalkan
karena ketika aku hendak memakan buah kehidupan
hatiku merasa gamang, tetapi aku tidak menghiraukan
hingga akhirnya aku benar-benar menemui penyesalan.

Hendaklah bermusyawarah mengenai suatu perkara,
karena seandainya aku bermusyawarah dengan mereka,
para malaikat, tentu aku tidak akan tertimpa malapetaka.

Ketika Adam meninggal dunia
empat ratus tahun Sis telah berusia.
Sis telah diwasiati oleh orang tuanya
memerangi kaum Kain, saudaranya,
dia telah berperilaku angkara murka
perang pertama yang terjadi di dunia
Kain pun bertekuk lutut, antara mereka
Sis memperoleh kemenangan di medan laga
juga Sis memimpin anak cucu Adam di dunia
dengan peraturan dan hukum Yang Maha Esa
serta membawa persatuan di antara mereka
hingga hidup menjadi bermakna dan bahagia.

Bekasi, 1 Januari 2017

Sarasehan Bahasa dan Sastra



SARASEHAN BAHASA DAN SASTRA MEMANTAPKAN IDENTITAS KEINDONESIAAN

Lukman Juhara

Palangkaraya-Kamis, 29 Desember 2016. Balai Bahasa Kalimantan Tengah menggelar Sarasehan Bahasa dan Sastra dengan tema “Bahasa dan Sastra Memantapkan Identitas Keindonesiaan”. Kegiatan yang digelar di Gedung Palampang Tarung Jalan Tjilik Riwut Km 5,5 ini diikuti lebih dari 80 perserta. Mereka adalah para peminat bahasa dan sastra, guru, dosen, seniman, dan mahasiswa. Walau dalam suasana libur semester dan akhir tahun, antusiasme peserta tetap tampak geliatnya.
Ketua Panitia, R. Hery Budhiono, M.A., menyatakan bahwa Sarasehan Kebahasaan dan Kesastraan ini bagian dari upaya memantapkan identitas keindonesia.
 

“Di tengah-tengah isu kebhinnekaan yang terusik oleh berbagai perbedaan pola pikir dan keyakinan, kita berusaha menyatukan keindonesian kita. Bahasa dan sastra Indonesia kita yakini senantiasa akan terus menjadi perekat persatuan di tengah keberagaman yang akan terus ada selama NKRI masih tegak berdiri,” katanya saat memberikan laporan.
Sejalan dengan hal itu, Kepala Balai Bahasa Kalimantan Tengah, Drs. Haruddin, M.Hum., menyatakan bahwa bahasa Indonesia harus selalu kita junjung, bukan kita jinjing. Kita menjunjung bahasa Indonesia berarti menempatkan bahasa Indonesia pada posisi yang terhormat dan tertinggi.
“Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sudah membulatkan tekad kita untuk menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Mengutamakan bahasa Indonesia bukan berarti mengenyampinga bahasa daerah dan bahasa asing. Bahasa daerah tetap kita lestarikan karena bahasa daerah yang jumlahnya lebih dari 750 adalah kekayaan budaya yang merupakan identitas nasional dan juga berkontribusi bagi perkembangan bahasa Indonsia. Pun bahasa asing juga perlu kita kuasai sebagai bagian dari upaya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi,” katanya saat membuka sarasehan.
“Sungguh sangat disayangkan jika masih ada di antara kita yang meremehkan bahasa Indonesia. Para peneliti asing saja meyakini bahwa bangsa ini sangat besar dan kaya akan budaya dan sumber daya alam. Segala sesuatu tentang dunia bisa terwakili apa yang ada di Indonesia. Nah, tanpa belajar bahasa Indonesia, mereka tak bisa belajar tentang Indonesia. Mereka juga yakin jika bahasa Indonesia benar-benar dijunjung oleh bangsa ini, niscaya 35 tahun yang akan datang Indonesia akan menjadi salah satu dari 15 bangsa besar di dunia,” katanya mendapat perhatian hadirin.
Selanjutnya, tampil sebagai narasumber dalam sesi sarasehan yang pertama adalah Prof. Kumpiady Widen, M.A., Ph. D. Dalam paparannya ia mengemukakan pentingnya partisipasi banyak pihak untuk memperkuat identitas melalui bahasa dan sastra. Sekolah, sangar seni, museum, dan media massa harus berperan aktif mengangkat bahasa dan sastra agar lebih dikenal dan dicintai publik. Begitu pula institusi seperti Balai Bahasa, Dinas Pariwisata, perguruan tinggi, dan seluruh elemen harus turut berkiprah aktif dan bekerja nyata untuk memperkuat identitas nasional di tengah arus globalisasi yang kian menderas dengan segala persaingan di berbagai bidang.
“Kita sudah memiliki identitas nasional dan identitas etnik. Modal dasar ini yang harus diperkuat dan dipertahankan agar kita tidak kehilangan ciri keindonesian,” kata Guru Besar Ilmu Antropologi sekaligus Dekan FISIP Universitas Palangka Raya ini.
Sementara itu, narasumber kedua, Drs. Puji Santosa, M.Hum., mempresentasikan butir-butir makalahnya yang berjudul “Keberagaman Sastra di Indonesia dalam Membangun Keindonesiaan”. Menurutnya, keanekaan sastra di negeri ini tidak melemahkan semangat untuk membangun keindonesiaan yang lebih tinggi, lebih baik, lebih beradab, dan lebih bermartabat.
“Bangsa kita sangat multimajemuk dan multiultural. Sangat kaya dengan keberagaman inilah yang justru menjadi kekuatan untuk terus menginspirasi bagi terbangunnya keindonesiaan yang utuh,” kata peneliti senior Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa ini.

Menanggapi berbagai komentar dan pertanyaan peserta yang mengkhawatirkan eksistensi bahasa Indonesia di tengah derasnya pengaruh bahasa asing yang melanda, pria yang pernah menjabat Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah 2006—2008 ini mengajak agar semua pihak mempelajari bahasa Indonesia dengan serius.
“Gunakan bahasa Indonesia dengan baik, benar, dan santun. Kita punya dasar yang kuat. Sumpah Pemuda 1928, UUD 1945, dan UU No. 24 Tahun 2009 telah menempatkan bahasa Indonesia sebagai posisi tertinggi. Oleh karena itu, kita harus terus membangun keindonesiaan ini selama NKRI masih tegak berdiri,” tandasnya mantap di hadapan hadirin siang tadi.
Menariknya, dalam sesi tanya jawab Puji Santosa menyempatkan untuk berbagi karya-karyanya berupa buku-buku tentang bahasa dan dan sastra.
“Beberapa buku tulisan karya saya ini saya bawa khusus untuk para peserta saresahan yang berpartisipasi dengan memberikan pertanyaan atau tanggapan,” katanya tersenyum dan mendapat aplaus yang meriah. (L.J)




Wednesday, 4 January 2017

BALADA KAIN DAN HABIL

BALADA KAIN DAN HABIL

Selang tidak beberapa lama
Adam dan Hawa hidup di dunia
lahirlah seorang putra pertama
oleh mereka, Kain diberi nama
kelak dia setelah jadi dewasa
petani menjadi pencahariannya.

Lalu, lahirlah anak kedua mereka
juga seorang putra yang mulia
Habil sebagai tanda nama
kelak dia setelah jadi dewasa
berpencaharian ternak domba
sehari-harinya menjadi gembala.

Kain dan Habil secara nyata
menjadi anak-anak pertama
setelah Adam dan Hawa
terusir dari Taman Surga
dan harus hidup menderita
dengan pengembaraan di dunia
sesungguhnya mengemban karsa
membabarkan cinta kasih sesama.

Suatu ketika di hari yang telah ditentukan
Kain dan Habil mempersembahkan korban
bagi keduanya korban menjadi kebiasaan
sebagai tanda terima kasih kepada Tuhan.
Habil mengorbankan domba tambun rupawan,
sementara Kain, ala kadarnya yang dikorbankan
Habil pun berdoa dengan sepenuh keimanan
sementara Kain, beberapa kata yang diucapkan
terasa hambar dan hanya ada di permukaan
karena di dalam hati Kain itu tiada beriman
berdoa seolah jadi paksaan yang diwajibkan
oleh karenanya Tuhan pun membedakan
korban persembahan Habil diterima Tuhan
dan korban persembahan Kain dikembalikan.

Menyadari korban persembahannya dikembalikan,
Kain jadi temperamen, pemarah, dan bernafsu setan
setiap waktu dan setiap saat terus-menerus memikirkan
bagaimana cara melampiaskan apa yang menjadi kekesalan.

Akhirnya, Habil digelandang Kain ke ladang pembantaian
tanpa ampun lagi, sesampai di ladang Habil dibunuh Kain
begitu mayat Habil tergeletak di atas rerumputan
dan darahnya pun membasahi beberapa tanaman,
Kain terkejut, bingung, dan bercampur penyesalan
darah Habil yang melekat di tangan cepat dibersihkan
cepat-cepat Kain pergi dari tempat yang mengerikan
tiada berani kembali pulang ke Bapa di Taman Eden
sekalipun Adam dan Hawa tetap menantikan
Kain terus dan terus berjalan tanpa tujuan
menyusuri bumi pengembaraan
membawa serta beban penderitaaan
dijumpainya bencana dan kesengsaraan
di sepanjang pengembaraan dan zaman.

Bekasi, 10 Mei 2013