SELAMAT DATANG

Saudaraku, selamat datang di blog GITA PUJA. Saudaraku, berbagi ilmu pengetahuan, wawasan, dan apa pun yang kita miliki merupakan ibadah. Senyampang masih dapat kita lakukan, mengapa tidak segera kita lakukan? Ayo segera berbagilah kepada kami dan kawan-kawan lainnya dengan cara memberi masukan, komentar, kritik, saran, catatan, dan apa pun tentang blog ini demi kebaikan kita bersama membangun peradaban bangsa dan negara di dunia. Selamat membaca, selamat menikmati sajian dalam blog ini, dan selamat berapresiasi. Salam takzim kami. Beres! Sehat! Sukses! Yes!

Sabtu, 04 Juni 2016

MERAIH CITA-CITA MULIA



MERAIH CITA-CITA MULIA
Puji Santosa, Bekasi

1. Pengantar
            Bapak, Ibu, dan Saudara para warga Paguyuban Ngesti Tunggal, siswa-siswa Sang Guru Sejati yang senantiasa setiap hari melaksanakan kesanggupan besar trisila: sadar, percaya, dan taat kepada Tuhan Yang Maha Esa.
            Setiap manusia tentu mempunyai cita-cita yang luhur dan mulia, sukses hidup di dunia dan sukses pula hidup di akhirat, bahagia di dunia dan bahagia juga di akhirat. Bilamana manusia tidak mempunyai cita-cita hidup yang luhur dan mulia seperti itu, boleh dikatakan manusia tersebut sebagai sampah bangsa atau sampah masyarakat. Sebagai warga Pangestu, siswa-siswa Sang Guru Sejati yang senantiasa taat akan sabda-sabda-Nya, tentu tidak ingin menjadi sampah masyarakat atau sampah bangsa. Oleh sebab hidup kita di dunia ini bertujuan mengemban karsa Tuhan, membabarkan cinta kasih kepada sesama, dan melaksanakan perbuatan baik dan mulia yang membawa pada kesejahteraan bagi segenap umat di dunia, memayu hayuning bawana, maka tentunya wajib mempunyai cita-cita yang luhur dan mulia seperti makna yang tersirat dalam lambang organisasi Pengestu, kuntum bunga Mawar dan kuntum bunga Kemboja. Setangkai bunga Mawar berwarna merah jambu yang berduri melambangkan tugas ke luar, cita-cita duniawi, sebagai kusuma bangsa, berwatak kesatria; dan sekuntum bunga Kemboja berwarna putih bersih dengan warna kuning keemasan pada tepinya melambangkan tugas ke dalam, berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan menaati semua perintah dan menjauhi semua larangan-Nya. Sementara itu, dasar lambang organisasi Pangestu berwarna ungu berarti bangun, maksudnya agar hati setiap manusia, warga Pangestu, sadar akan tugas ke luar dan ke dalam.
            Saudara Kelana menjelaskan bahwa “Para siswa harus mempunyai cita-cita yang tinggi untuk dicapai di dalam masyarakat. Di samping itu, para siswa harus pula mengejar cita-cita jiwa ialah kebahagiaan yang sejati, yakni bertunggal dengan Suksma Sejati. Cita-cita yang pertama harus dicapai di luar, di dunia besar dengan mengejar cita-cita untuk menjadi kusuma bangsa, sedangkan cita-cita yang kedua harus dicari ke dalam, di dunia kecil dengan mengejar kesucian jiwa” (Ulasan Kang Kelana, 2015:164). Dengan demikian, cita-cita mulia setinggi langit yang hendak kita raih, yang hendak kita gapai, yang hendak kita kejar, itu ada dua hal, yaitu: (1) di dalam masyarakat untuk menjadi kusuma bangsa, tugas ke luar sebagai perwujudan merekahnya bunga mawar yang indah, baunya harum semerbak mewangi; dan (2) cita-cita jiwa ialah kebahagiaan hidup yang sejati, yakni hidup bertunggal dengan Suksma Sejati, tugas ke dalam sebagai perwujudan untuk memekarkan kuntum bunga kemboja yang suci abadi. Cita-cita mulia ke luar dan ke dalam itu harus dapat seiring sejalan, selaras dan harmonis, hingga akhir hayat nanti.

2. Cita-cita Sebagai Kusuma Bangsa
            Dalam pertemuan pendahuluan antara Saudara Kelana dengan keenam saudaranya, yaitu Sasangka, Sarjana, Sujana, Sudibya, Wijaya, dan Suteja, sebelum memulai olah rasa Kang Kelana bertanya kepada keenam saudaranya tersebut: apakah cita-citamu mengenai negaramu? Keenam saudara Kelana itu memberi jawaban yang berbeda-beda, tetapi bilamana keenam jawaban itu disatukan merupakan perwujudan satu kesatuan cita-cita mulia bangsa Indonesia untuk dapat mencapai puncak kejayaan dunia. Jawaban keenam saudara Kelana tersebut sebagai berikut.
            Saudara Sasangka: “Cita-citaku ialah supaya bangsaku sama berbakti dan sadar akan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa, agar negara menjadi bahagia, tenteram, makmur, dan adil.”
            Saudara Sarjana: “Saya ingin melihat bangsaku kaya akan ilmu pengetahuan, karena ilmu pengetahuan dan kepandaian adalah pangkal kemajuan. Bangsa yang bodoh akan tetap berada di dalam kegelapan dan kesengsaraan.”
            Saudara Sujana: “Untukku, bangsaku harus waspada dalam menghadapi bangsa lain. Riwayat bangsa kita ini cukup menunjukkan bahwa kita tidak boleh lebih percaya kepada bangsa lain daripada kepada bangsa sendiri. Sekalipun bangsa kita ini terdiri dari beraneka suku, tetapi hubungan antara suku bangsa yang satu dan yang lain adalah lebih dekat daripada dengan bangsa lain.”
            Saudara Sudibya: “Bagiku yang penting ialah kesentosaan. Kita harus berani menyusun suatu kekuatan yang bulat. Ah, kalau kekuatan sudah tercapai, mudah untuk mengejar cita-cita.”
            Saudara Wijaya: “Negara yang ditakuti oleh negara tetangganya dapat memberikan hidup yang tenang bagi penduduknya. Negara yang kuat dapat memimpin negara-negara lain untuk menyusun kebahagiaan hidup di seluruh dunia. Negara yang jaya menjadi pelindung bagi negara yang lemah. Itulah cita-citaku.”
            Saudara Suteja: “Impianku ialah supaya negaraku kelak dihormati di seluruh dunia supaya bangsaku diterima sebagai sahabat kehormatan di semua negara. Supaya tiap bangsa, apabila mengucapkan nama negaraku, dihinggapi rasa hormat dan setia kawan. Semoga Tuhan Yang Maha Esa mewujudkan cita-citaku ini. Amin.”
            Berdasarkan pertanyaan Kang Kelana dan jawaban keenam kesatria pengiring dan pengawal negara kesatuan Republik Indonesia itu kemudian saya gubah dalam bentuk puisi berjudul “Cita-Citaku” sebagai berikut.
           
CITA-CITAKU

            Cita-citaku agar menjadi bangsa mulia
            hendaklah bangsaku berusaha supaya
            selalu sadar berbakti, beriman, bertakwa
            akan tuntunan dan pencerahan Yang Maha Esa
            berjalan di Jalan Kebenaran ialah Jalan Utama
            berdasarkan pada petunjuk agama yang dipercaya
            supaya bangsaku hidupnya sejahtera dan mulia
            mendapat keadilan, ketenteraman, dan berbahagia
            serta jaya dan masyhur ke seluruh penjuru dunia.
           
Cita-citaku agar menjadi bangsa cendekiawan
            hendaklah bangsaku maju tetap mengusahakan
            senantiasa kaya akan pelbagai ilmu pengetahuan
            oleh karena dengan ilmu menjadi pangkal kemajuan
            oleh sebab bodoh dan dungu membuat kesengsaraan
            hidup menjadi tersesat-sesat berada dalam kegelapan,
            dengan ilmu lahir dan batin jalan hidup jadi tercerahkan.

            Cita-citaku agar menjadi bangsa bijak berwibawa
            hendaklah bangsaku senantiasa harus waspada
            berhati-hati, cermat, teliti, meski tidak harus curiga
            kepada siapa saja, terlebih itu kepada lain bangsa
            tidak boleh begitu saja kita ini mudahnya percaya
            berkenan menyerahkan apa-apa, segala yang ada
            kepada mereka, ternyata dia melakukan tipu daya
            ingatlah, riwayat menunjukkan lengah dan terlena
            akan menjadi malapetaka, hancur sudah negara.

            Cita-citaku agar menjadi bangsa teguh sentosa
            hendaklah bangsaku dapat merapat tampil ke muka
            senantiasa dalam persatuan dan kesatuan bangsa
            sehingga menjadi bangsa yang kokoh penuh daya
            mampu menjalin persaudaraan di antara kita semua
            membulatkan kekuatan meraih cita-cita nan mulia
            mencapai Indonesia Raya, jaya selama-lamanya.

            Cita-citaku agar menjadi bangsa unggul dan jaya
            hendaklah bangsaku maju meningkat kualitasnya,
            senantiasa brilian, bernas, andal, dan juga prima
            mampu dapat menjadi pelindung atas rakyat jelata
            mampu memberi rasa aman, damai, dan sejahtera
            mampu dapat memimpin bangsa-bangsa di dunia
            memayu hayuning bawana menjadi teladan utama.

            Cita-citaku agar menjadi bangsa yang selalu dihormati
            hendaklah bangsaku maju tampil sebagai pemberani
            menegakkan keadilan dan kebenaran di muka bumi
            melawan segala tindak angkara murka dan korupsi
            dengan jujur, tegas, bijaksana, adil sesama insani
            hingga setiap orang yang ada di penjuru dunia ini
            ketika mereka mengucapkan nama Indonesia
            akan dihinggapi rasa hormat, segan, dan setia
            merasa bangga menjadi bagian dari hidupnya.
           
Semoga saja berkenan, Tuhan Yang Mahakuasa
            senantiasa melimpahkan kasih, anugerah, karunia
            tuntunan, pencerahan, daya kekuatan lahir batin, juga
            perlindungan pada kita supaya terwujud cita-cita mulia
            Indonesia mencapai puncak kejayaan dunia selamanya.

            (Sumber: Ulasan Kang Kelana, 1990:3—4)

            Sejak 2004 saya mengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Pemerintahan Abdi Negara (STIPAN) Jakarta, menjadi narasumber di pelbagai pelatihan dan penyuluhan penulisan kreatif dan penulisan karya tulis ilmiah di pelbagai kota di Indonesia, serta memberi kuliah umum di beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Hampir setiap angkatan di STIPAN saya diberi jam mengajar mahasiswa baru pada jurusan ilmu pemerintahan atau jurusan ilmu politik, satu kelas sampai tiga kelas. Pada awal perkuliahan kepada mahasiswa baru itu saya selalu menanyakan: Nama, asal daerah, tujuan, dan cita-cita mulianya. Jawaban mereka secara umum bercita-cita menjadi pejabat negara, ada yang bercita-cita menjadi camat, menjadi bupati, menjadi walikota, menjadi gubernur, atau menjadi kepala dinas. Setelah beberapa mahasiswa menyampaikan cita-citanya seperti di atas, barulah saya tayangkan dan bacakan puisi “Cita-citaku” yang bersumber dari buku Ulasan Kang Kelana tersebut.
            Demikian juga ketika saya menjadi narasumber di pelbagai pelatihan dan penyuluhan penulisan kreatif dan penulisan karya tulis ilmiah di pelbagai kota di Indonesia (pesertanya siswa SD, SLTP, SLTA, para guru SD, SLTP, dan SLTA, serta para peneliti), memberi kuliah umum di beberapa perguruan tinggi di Indonesia (pesertanya mahasiswa S-1, S-2, dan dosen), puisi “Cita-citaku” itu selalu saya tayangkan dan bacakan. Selain penyebaran Ajaran Sang Guru Sejati secara inkonvensional, penayangan dan pembacaan puisi “Cita-Citaku” tersebut juga bertujuan untuk memotivasi dan menginspirasi para mahasiswa dan peserta kegiatan pelatihan tersebut agar tidak sekadar bercita-cita meraih pangkat, jabatan, kedudukan, profesi, atau lainnya yang hanya bagi kepentingan dirinya sendiri, tetapi sadarlah akan cita-cita mulia bangsa Indonesia. Oleh karena itu, para siswa dan mahasiswa sebagai tunas harapan bangsa semoga dapat memiliki watak budi luhur keenam kesatria (Sasangka, Sarjana, Sujana, Sudibya, Wijaya, Suteja) yang menjadi kusuma bangsa. Sementara itu, bagi para guru, dosen, dan peneliti yang telah memahami makna puisi “Cita-citaku” yang sebenarnya itu dapat disebarluaskan dan diharapkan dapat mendorong para peserta didiknya untuk meraih mewujudkan cita-cita mulia tersebut.
            Sebagai warga Paguyuban Ngesti Tunggal tentunya sadar bahwa cita-cita mulia sebagai kusuma bangsa itu tidak harus menjadi pejabat negara, tidak harus berpangkat tinggi, tidak harus dengan gelar kebangsawanan, tidak harus menjadi konglomerat, dan juga tidak harus dengan sederet gelar akademik, tetapi cukup menjadi insan yang berguna dan dapat mensejahterakan umat di dunia. Namun, bilamana semuanya itu dapat diraihnya di dunia, atau hanya sebagian saja, ya boleh, dan dapat lebih bersyukur lagi kepada Sang Guru Sejati. Sebagai orang tua ketika mangesti memohonkan sih untuk para putra-putri kita, tidak menyebut kelak putra-putri kita sebagai pejabat negara, berpangkat tinggi, bergelar bangsawan atau bergelar akademik, dan juga tidak sebagai konglomerat, tetapi “Semoga anak-anak hamba semua menjadi umat yang mursid, kaya akan keahlian dan kepandaian, luhur budinya, luhur derajatnya, dan mulia hidupnya karena sih anugerah Tuhan.” (Pangesti V).
            Demikian halnya ketika Bapak, Ibu, dan Saudara sepenyiswaan setiap mangesti kesejahteraan negara selalu selaras dengan cita-cita keenam kesatria tersebut. Mari kita perhatikan tiga alinea Pangesti Kesejahteraan Negara berikut.
Duh, Tuhan, hamba mohon semoga Tuan berkenan memberi pepadang dan tuntunan kepada bangsa kami, agar bangsa kami berjalan di jalan benar ialah jalan utama yang berakhir dalam kesejahteraan, ketenteraman, dan kemuliaan abadi.
Duh, Tuhan, hamba mohon, semoga Tuan berkenan menurunkan sih anugerah kepada bangsa kami agar bangsa kami menjadi bangsa yang luhur budinya, luhur derajatnya, dan mulia hidupnya.
Duh, Tuhan, hamba mohon semoga Tuan berkenan melimpahkan berkah serta lindungan kepada negara kami Republik In­donesia, agar negara kami segera aman, tenteram, subur, makmur, sejahtera, menjadi negara yang sentosa, jaya, dan masyhur di dunia.” (Pangesti Kesejahteraan Negara).
Hal itu tentu perlu disadari akan tanggapan Saudara Kelana: “Adik-adikku. Saya merasa terharu mendengar cita-citamu sekalian. Itulah semua cita-cita yang luhur. Memang sudah seharusnya bahwa tiap pemuda menumbuhkan dan mengejar cita-cita yang setinggi langit. Saya bersyukur kepada Sang Suksma Sejati bahwa saya bertemu dengan adik-adik sekalian, dan mengenal cita-cita adik.
            Pemuda itu harapan bangsa. Pemuda tanpa cita-cita luhur bagi negaranya adalah sampah bangsa. Setiap pemuda harus ingin menjadi kusuma bangsa. Untuk menjadi kusuma bangsa tidak cukup kita mempunyai cita-cita yang tinggi saja. Perlu ada cara pelaksanaan yang tertentu dalam mengejar cita-cita itu yang membikin manusia menjadi kusuma bangsa. Pelaksanaan yang tertentu itu ialah garis-garis yang telah disabdakan oleh Sang Suksma Sejati.” (Ulasan Kang Kelana, 2015:2—4). Dengan demikian, meraih cita-cita mulia sebagai kusuma bangsa, termasuk cita-cita mengejar kesucian jiwa untuk bertunggal dengan Suksma Sejati, tidak cukup hanya diangan-angankan, tidak cukup hanya diucapkan, dan tidak cukup hanya berhenti pada niat dan pengharapan. Untuk meraih cita-cita mulia tersebut perlu laku, perlu disertai dengan pelaksanaan dan pengorbanan. Kang Kelana menekankan: “Perlu ada cara pelaksanaan yang tertentu dalam mengejar cita-cita itu yang membikin manusia menjadi kusuma bangsa. Pelaksanaan yang tertentu itu ialah garis-garis yang telah disabdakan oleh Sang Suksma Sejati.
            Garis-garis yang telah disabdakan oleh Sang Suksma Sejati untuk dapat meraih cita-cita mulia itu sudah jelas ialah senantiasa berjalan di Jalan Rahayu, berwatak Hasta Sila, dan mengindari Paliwara. Cara untuk dapat meraih cita-cita mulia itu juga sudah ditunjukkan oleh Sang Guru Sejati dalam bab Sabar: “Semua perkara yang sukar dan gawat akan menjadi mudah hanya dengan kesabaran, karena kesabaran itulah yang menjadi jalan untuk meraih apa yang engkau cita-citakan. Jadi, sabar itu bukan niat yang hanya berhenti pada pengharapan atau perkataan, tetapi bertindak sesuai dengan kemampuan secara teratur dan teliti, hingga tercapai apa yang menjadi cita-citanya.” (Sasangka Jati, 2015:15).
            Dalam meraih cita-cita mulia itu pula Bapak Pangrasa berpesan kepada putranya, Prabawa, demikian: “Oleh karena itu, Prabawa, aku berpesan kepadamu, jika engkau mempunyai cita-cita apa saja, jangan takut pada sukarnya laku yang merupakan syarat atau penebus untuk mencapai cita-cita itu. Sebab, jika engkau hanya berani pada yang mudah dan takut pada yang sukar (sulit), apa yang engkau cita-citakan tidak akan tercapai.
            Petani dapat menuai padi setelah bermandi keringat, membajak dan menggaru sawahnya, menyebar benih, selanjutnya menjaga agar benih yang telah disebar itu selamat, tidak mengeluh dan tidak susah apabila kehujanan dan kepanasan, dengan sabar menantikan padi menguning. Hasil pengorbanannya adalah panen padi yang bermanfaat.” (Olah Rasa di Dalam Rasa, 2015: 22).
            Cita-cita mulia harus senantiasa diperjuangkan dengan segala pengorbanannya, tidak mengeluh, tidak mengaduh, tidak menyalahkan orang lain dan keadaan, seperti perjuangan petani mengolah sawah ladangnya hingga memanen padi yang bermanfaat bagi khalayak, yakni dilakukan dengan penuh kesabaran hingga meraih cita-cita mulia tersebut. Arsip Sarjana Budi Santosa butir 33 (2015:25) menyatakan bahwa “Kemajuan kesiswaan hanya dapat dicapai dengan 99% transpirasi (keringat, jerih payah) dan 1% inspirasi (sih anugerah Suksma Sejati). Tetapi 1% inspirasi itulah yang mutlak, yang datangnya setelah ada 99% transpirasi.

3. Pengalaman Meraih APU
            Pada awalnya cita-cita hidup saya, seperti umumnya orang yang belum mengenal Ajaran Sang Guru Sejati, menjadi seorang dokter hewan sekaligus seorang penyair. Hal ini dipicu oleh keadaan sewaktu sekolah menengah atas ketika itu: (1) kakak tempat pengengeran saya beternak ayam dan bebek yang setiap harinya saya membantu memeliharanya; (2) kakak nomor tujuh bersekolah di Sekolah Menengah Peternakan di Malang, setelah lulus pekerjaannya membikin sapi bunting; (3) anak gadis tempat penjual makanan ternak langganan saya itu akan melanjutkan ke kedokteran hewan selepas SMA; dan (4) penyair dan dokter hewan yang saya kagumi ketika itu adalah Taufiq Ismail. Betapa menyenangkan ketika SMA itu masuk jurusan IPA dan dapat melakukan penelitian pratikum biologi di laboratorium sekolah. Melalui penelitian biologi di laboratorium sekolah itulah selama duduk di bangku SMA tiga kali mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah Remaja yang diadakan oleh LIPI, dengan objek penelitian cacing tanah, bentis atau pace, dan lindung atau belut. Hasil ketiga lomba KTI remaja tersebut hanya mendapat selembar kertas ucapan terima kasih dari Panitia.
              Selain senang melakukan penelitian biologi, sewaktu duduk di bangku SMA itu saya juga menyenangi pelajaran sastra dan teater. Kegiatan ekstrakurikuler sewaktu SMA yang saya ikuti di sekolah adalah kesenian dan bermain teater, karena pada waktu itu ditunjuk sebagai pengurus OSIS, menjadi Koordinator Kesenian sekaligus seksi Drama dan Puisi. Beberapa kali bermain teater, baik pentas di sekolah, di luar sekolah, siaran di radio swasta dan RRI Madiun, maupun pentas di kampung halaman ketika peringatan tujuh belas agustusan yang tergabung dalam Karang Taruna Desa Banjarejo. Kemampuan menulis sudah mulai diasah ketika duduk di bangku SMA tersebut, seperti menulis puisi, menulis cerita anak, menulis naskah drama, dan menulis cerpen remaja. Sudah beberapa kali cerpen remaja dan cerita anak yang saya tulis ketika duduk di bangku SMA itu dimuat majalah berbahasa Jawa, Jaya Baya. Betapa senangnya ketika mendapat kiriman wisel dari kantor pos yang berisi honorarium hasil tulisan yang dimuat dalam majalah Jaya Baya tersebut. Dari honorarium tulisan itu dapat mentraktir teman-teman satu kelas berupa es serut kelapa muda, masing-masing satu gelas.
            Untuk mewujudkan cita-cita menjadi dokter hewan, selepas SMA mengikuti tes masuk ke perguruan tinggi, Perintis I, pilihan pertama Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dan pilihan kedua Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Surabaya. Oleh karena didorong keinginan mewujudkan cita-cita menjadi dokter hewan itu sampai-sampai mengikuti tes tiga tahun berturut-turut, hasilnya kandas di jalan, gagal alias tidak diterima. Pupus sudah cita-cita saya menjadi dokter hewan. Namun, sesungguhnya pada awal kelulusan SMA itu selain mengikuti tes Perintis I, saya juga mengikuti tes Perintis III di Universitas Sebelas Maret Surakarta, mengambil jurusan Sastra Indonesia. Alhamdulillah diterima dan menjadi mahasiswa Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Sebelas Maret. Pada tahun-tahun pertama perkuliahan di Fakultas Sastra itu hasilnya tidak menggembirakan karena masih diliputi keinginan menjadi dokter hewan. Akan tetapi, pada semester enam saya berhasil memperoleh rangking pertama, nilai tertinggi satu jurusan, dan diusulkan mendapat beasiswa langka dan kering dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
             Setelah lulus sarjana S-1 tentu berusaha mencari kerja dan mengajukan lamaran pekerjaan ke pelbagai instansi, termasuk ke LIPI, Kementerian Pariwisata, dan beberapa perguruan tinggi. Setiap mendapatkan jawaban ditolak atas lamaran pekerjaan itu menjadi stres, ada-ada saja penyakit datang mengganggunya. Namun, tidak begitu lama mendapat pekerjaan diterima sebagai dosen honorer IKIP PGRI Madiun, dan sekalian diminta untuk tes ke Kopertis VIII Jawa Timur di Surabaya. Meski tes di Kopertis VIII tidak diterima, saya justru diangkat sebagai dosen Yayasan dan sekretaris Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, IKIP PGRI Madiun. Hanya dua tahun saya bertahan menjadi dosen IKIP PGRI Madiun, lalu pindah ke Jakarta diangkat sebagai pegawai negeri sipil yang ditempatkan di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
              Sebelum hijrah ke Jakarta, saya telah mengikuti ceramah penerangan Ajaran Sang Guru Sejati dan dilantik menjadi warga Pangestu di Cabang Madiun. Baru beberapa bulan menjadi warga Pangestu sudah diberi tugas mengikuti penataran kader siswa purnama wilayah Jawa bagian selatan di Surakarta. Sehabis mengikuti penataran kader siswa purnama tersebut diberi tugas membantu Korda Jawa Timur III Wilayah Madiun, Bapak Banoe Salim, dan berhasil mendirikan Ranting Rahayu. Tidak begitu lama menjadi warga Pangestu Cabang Madiun, saya harus hijrah ke Jakarta karena mendapat pekerjaan sebagai pegawai negeri sipil di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa tersebut. Di Jakarta pada awalnya saya bergabung di Ranting II Menteng, Cabang Jakarta I, lalu pindah ke Ranting Rawamangun dan Ranting Cipinang. Setelah domisili tempat tinggal pindah ke Bekasi, tersingkir dari kota Jakarta, sekarang ikut Ranting Bekasi, menjalani hidup sebagai warga biasa.
            Setelah pupus harapan cita-cita menjadi dokter hewan, kemudian menjalani hidup sebagai pegawai negeri sipil, tentu cita-cita mulia itu pun berubah sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Setelah tiga tahun menjalani hidup sebagai pegawai negeri sipil, dari kantor ada penawaran jabatan fungsional peneliti, tentu saja kesempatan itu tidak disia-siakan. Setahun kemudian, 1992, saya benar-benar menduduki jabatan fungsional peneliti bidang bahasa dan sastra dengan pangkat golongan III-a/Asisten Peneliti, sebagai peneliti pertama. Sejak diangkat sebagai peneliti pertama jabatan fungsional peneliti itu, tentu saja saya bercita-cita meraih jabatan fungsional peneliti tertinggi dengan pangkat golongan IV-e/Ahli Peneliti Utama (disingkat APU).
            Pada tahun itu juga saya mendapat pasangan hidup yang sama-sama warga Pangestu dari kota Serang, Banten. Setahun kemudian lahirlah anak kami yang pertama, seorang anak laki-laki, yang kami beri nama Abhiseka Pambudi Utomo, kalau disingkat APU. Enam belas bulan kemudian lahirlah anak kami yang kedua, seorang anak perempuan, yang kami beri nama Adzwayasantika Pambudi Ulia, juga kalau disingkat APU. Hal ini karena saya terobsesi cita-cita mulia meraih APU (Ahli Peneliti Utama) sehingga kedua anak kami itu diberi nama APU. Seperti yang diamanatkan oleh Kang Kelana bahwa “Untuk menjadi kusuma bangsa tidak cukup kita mempunyai cita-cita yang tinggi saja. Perlu ada cara pelaksanaan yang tertentu dalam mengejar cita-cita itu yang membikin manusia menjadi kusuma bangsa.” (Ulasan Kang Kelana, 2015:4).
            Untuk mewujudkan cita-cita mulia tersebut tentu saja saya tidak hanya duduk bertopang dagu, bermalas-malas, melamun, dan diam tidak berbuat apa-apa, tetapi berusaha sekuat kemampuan mengerahkan segala daya upaya memenuhi syarat kenaikan jenjang jabatan fungsional peneliti, seperti melaksanakan penelitian, mengikuti pelatihan-pelatihan yang berkaitan dengan penelitian, menulis artikel ilmiah untuk jurnal/majalah ilmiah, bunga rampai, seminar, kongres, dan prosiding, juga menulis buku ilmiah, buku pelajaran sekolah, buku acuan perguruan tinggi, buku cerita anak, serta meningkatkan pendidikan formal ke jenjang S-2. Awalnya lancar-lancar saja menapaki jenjang tangga jabatan fungsional peneliti itu, yaitu pada tahun 1996 berhasil saya meraih jenjang Ajun Peneliti Muda/pangkat golongan III-c, berarti dapat melompati satu tangga III-b, kemudian November 1998 saya pun meraih jenjang Ajun Peneliti Madya/pangkat golongan III-d.
             Cukup lama berhenti pada jenjang Ajun Peneliti Madya dengan pangkat golongan III-d, hampir sepuluh tahun lamanya harus sabar menjalaninya. Hal ini disebabkan oleh persyaratan mendapat beasiswa mengikuti pendidikan formal S-2 di Universitas Indonesia yang diharuskan berhenti sementara jabatan fungsional penelitinya. Begitu lulus magister humaniora, tentu segera mengaktifkan kembali jabatan fungsional peneliti tersebut dan mengajukan kenaikan pangkat berikutnya. Akan tetapi, berkas pengajuan pangkat peneliti tersebut hampir lima tahun lamanya tidak diproses, dan berhenti di Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tentu saja sebagai manusia biasa ada rasa cemas, gelisah, resah, kecewa, dan hampir putus asa, terbayang cita-cita kandas di jenjang Ajun Peneliti Madya/pangkat golongan III-d, sebab ada persyaratan harus naik pangkat paling lama empat tahun (peraturan LIPI tahun 2006 diubah paling lama lima tahun), kalau tidak dapat memenuhi syarat naik pangkat akan berhenti selamanya dari jabatan fungsional peneliti. Padahal sudah lebih empat tahun aktif kembali jabatan fungsional peneliti III-d itu setelah selesai mengikuti pendidikan magister humaniora, berkas belum juga diproses, tidak ada kabar beritanya.
            Tampaknya, Sang Guru Sejati tidak sampai hati pada calon siswanya yang tengah dikepung pelbagai masalah yang merundungnya. Ibarat “kinepung wakul binaya mangap” (‘terkepung rapat oleh buaya-buaya yang menganga mulutnya’ = terkepung rapat oleh musuh, Olah Rasa di Dalam Rasa, 2013:70), seperti: (1) digagalkan pimpinan untuk melanjutkan studi S-3, padahal tes ujian masuk program doktor itu sudah diterima, tidak disetujui pemberian beasiswa; (2) diberhentikan dari jabatan Pelaksana Tugas Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, ditarik kembali ke Jakarta dan tidak diberi job pekerjaan; (3) berkas ajuan pangkat jabatan fungsional peneliti yang sudah hampir lima tahun tidak ada kabar beritanya; dan (4) terancam pula diberhentikan selamanya dari jabatan fungsional peneliti karena tidak memenuhi syarat angka kredit peneliti. Dalam keadaan seperti itu tentu saja upaya mendekat dan berlindung di bawah pengayoman Sang Guru Sejati semakin ditingkatkan transpirasi­nya. Artinya, seiring tetap memohon sih anugerah Sang Guru Sejati, saya tidak akan menyerah pada keadaan yang ada, tetap bersemangat, tetap berjuang, dan tetap berusaha bekerja keras untuk dapat lepas bebas dari pelbagai masalah yang merundung kehidupan tersebut.
            Beberapa tahun kemudian, angin surga tampaknya datang bertiup membawa perubahan ke arah yang lebih baik pada perjalanan hidup kami. Angin surga itu berwujud: (1) Peraturan LIPI tahun 2006 tentang pemutihan jabatan fungsional peneliti, terselamatkan dari ancaman diberhentikan dari jabatan fungsional peneliti; (2) pergantian pejabat di Balitbang Kemdikbud yang mengurusi jabatan fungsional peneliti, sehingga berkas penelitian yang saya ajukan beberapa tahun lalu dapat diproses lebih lanjut ke LIPI; (3) hasil penilaian LIPI atas berkas penelitian yang saya ajukan itu tidak hanya memenuhi syarat naik ke jenjang Peneliti Madya/pangkat golongan IV-a, tetapi dapat meloncat dua jenjang ke Peneliti Madya/pangkat golongan IV-c; (4) mendapat dana hibah insentif penelitian ke Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur, dari Kementerian Riset dan Teknologi; dan (5) dua orang Ahli Peneliti Utama (APU) Pusat Bahasa memasuki usia pensiun, 65 tahun, sehingga saya menggantikan jabatan yang ditinggalkan mereka sebagai Koordinator Jabatan Fungsional Peneliti (KJFP). Selain diangkat sebagai KJFP, sejak 2009 saya juga dipercaya pimpinan sebagai Ketua Tim Penilai Peneliti Unit-Kerja (TP2U) di lingkungan Pusat Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
            Meskipun duduk sebagai Ketua TP2U, sesungguhnya usia saya ketika itu adalah yang paling muda di antara 9 anggota TP2U lainnya, ada yang sama dengan 3 anggota TP2U yang pangkat golongan jabatan fungsionalnya Peneliti Madya IV-c, dan anggota TP2U lainnya masih Peneliti Madya IV-a dan IV-b. Oleh karena itu, agar tidak menimbulkan gejolak dan iri dari sesama anggota TP2U, Kepala Personalia Tata Usaha Pusat Bahasa ketika itu menyarankan pada saya untuk segera mengajukan ke jenjang pangkat Peneliti Utama IV-d. Saran itu pun tentu segera saya laksanakan karena persyaratan untuk naik ke jenjang jabatan fungsional itu sudah saya miliki, prosesnya pun lancar, dan pada tahun 2010 saya berhasil menduduki jabatan fungsional Peneliti Utama IV-d dengan mendapat Surat Keputusan sebagai Peneliti Utama Bidang Sastra dari Presiden Republik Indonesia, Dr. H. Soesilo Bambang Yudhoyono.
            Selama dua tahun, 2010 sampai Maret 2012, pangkat golongan Peneliti Utama IV-d yang saya emban adalah satu-satunya yang ada tertinggi di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Namun, terhitung sejak 1 Maret 2012, salah seorang anggota TP2U Badan Bahasa berhasil meraih jabatan fungsional yang melompat dari Peneliti Madya IV-c ke Peneliti Utama IV-e Bidang Bahasa, dalam usia 63 tahun. Tidak begitu lama kemudian, hanya terpaut empat bulan, terhitung sejak 1 Juli 2012, saya pun berhasil menyusul meraih jabatan fungsional Peneliti Utama IV-e Bidang Sastra, dalam usia 51 tahun. Sebelum ada perubahan Peraturan LIPI tahun 2006, seseorang yang menyandang jabatan fungsional Peneliti Utama IV-e disebut sebagai Ahli Peneliti Utama, disingkat APU, dan singkatan itu sebagai gelar akademik yang dapat ditempelkan pada akhir nama yang bersangkutan, misalnya Drs. Puji Santosa, M.Hum., APU.
Setelah kolega saya Peneliti Utama IV-e Bidang Bahasa itu pensiun per 1 Juni 2014, karena sudah berusia 65 tahun, praktis sejak saat itu sampai sekarang (2016 ketika pengalaman ini ditulis), saya satu-satunya peneliti utama (APU) di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, karena peneliti yang lainnya baru sampai pada jenjang Peneliti Madya IV-c. Berkat atas jabatan fungsional Peneliti Utama itu pada tahun 2011 saya mendapatkan dana insentif penelitian dari Kementerian Riset dan Teknologi, untuk penelitian “Manusia, Puisi, dan Kesadaran Lingkungan”. Pada tahun itu juga saya mendapat hadiah dari Pengurus Pusat Pangestu pergi mengunjungi Singapura yang terkenal dengan kesadarannya menjaga lingkungan hidup. Setahun kemudian, 2012, saya masih mendapat dana insentif penelitian dari Kementerian Riset dan Teknologi, untuk penelitian masalah “Promosi Kepariwisataan Indonesia”. Tentu bukan karena kebetulan Pengurus Pusat Pangestu pada tahun 2011 dan 2012 memberi hadiah pada saya untuk dapat berkunjung ke Singapura yang terkenal dengan kesadaran lingkungan hidupnya, dan ke Bali yang terkenal masalah objek-objek kepariwisataannya di Indonesia dengan penelitian “Manusia, Puisi, dan Kesadaran Lingkungan” dan “Promosi Kepariwisataan Indonesia” yang tengah saya kerjakan. “Ketahuilah bahwa tidak ada kejadian yang tanpa sebab” (Olah Rasa di Dalam Rasa, 2013:2). Semuanya tentu sudah diatur oleh Sang Guru Sejati dengan segala keagungan, kekuasaan, kebijaksanaan, dan keadilan-Nya.
Bukan hanya itu saja yang saya dapat dari berkah menjadi APU, melainkan juga dapat: (1) diangkat sebagai Ketua TP2U dan Koordinator Jabatan Fungsional Peneliti di lingkungan Badan Bahasa; (2) menjadi anggota TP2I Balitbang Kemdikbud; (3) tunjangan fungsional yang setara dengan tunjangan struktural pejabat eselon I (Kepala Badan, Direktur Jenderal, Deputi LIPI, Sekretaris Daerah Provinsi); (4) mengunjungi daerah atau kota-kota di Indonesia untuk penelitian, menjadi narasumber pelatihan-pelatihan, memberi kuliah umum, pembinaan kader peneliti, mengikuti seminar, berperan dalam pertemuan ilmiah, pemakalah kongres bahasa, pembicara kongres kebudayaan, narasumber bedah buku, dan pertemuan forum peneliti; (5) menjadi mitra bestari beberapa jurnal ilmiah; (6) merenovasi rumah; (7) membiayai dua anak kuliah di Bandung dan Yogyakarta; dan (8) tentu saja kesejahteran hidup pun meningkat.
            Atas keberhasilan meraih APU itu, saya adalah orang keempat yang berhasil meraih jabatan fungsional Peneliti Utama IV-e dari lembaga tempat kami bekerja, tentu saja bersujud syukur ke hadirat Sang Guru Sejati atas sih anugerah, tuntunan, pepadang, daya kekuatan lahir batin, dan perlindungan-Nya. Perjuangan meraih cita-cita mulia sebagai APU selama 20 tahun, sejak pertama kali diangkat sebagai peneliti pertama, 1992, sampai memperoleh APU, 2012, dengan segala suka duka dan pengorbanan, niscaya tidaklah sia-sia, ternyata Sang Guru Sejati mengizinkan saya menyandang jabatan APU tersebut. Semoga amanah yang dititipkan Sang Guru Sejati pada diri saya ini menjadi berkah, berguna bagi nusa, bangsa, dan kesejahteraan dunia. Meskipun saya belum sampai meraih jenjang Profesor Riset, karena kendala aturan baru sejak 2009 harus berpendidikan S-3 atau doktor, tidak menghambat rasa syukur atas sih anugerah, tuntunan, pepadang, dan perlindungan Sang Guru Sejati tersebut.

4. Penutup
            Cita-cita mulia sebagai perwujudan tugas suci ke luar sebagai kusuma bangsa dan tugas suci ke dalam dapat bertunggal dengan Suksma Sejati harus diusahakan berdampingan dan dalam keadaan harmoni. Bunga mawar yang begitu indah menawan harum semerbak mewangi selalu mempunyai duri. Hal itu berarti cita-cita keduniawian bagaimanapun indah dan harumnya, selalu mengandung hal-hal yang mengecewakan. Namun, apa pun yang terjadi itu sudah sesuai dengan Karsa Tuhan Yang Maha Esa, bahwa yang membawa ukuran dan timbangan itu Sang Suksma Sejati.
            Seseorang yang menjadi kusuma bangsa pasti mempunyai sifat yang cacat, bagaimanapun cemerlang bintang nasibnya. Sebaliknya, cita-cita nan suci bersih murni yang harus dicapai ke dalam jiwa kita sendiri, tidak akan mengecewakan. Seseorang yang mencapai tingkatan jiwa yang setinggi-tingginya, berarti pula ia mencapai kebahagiaan yang kekal abadi, ia mencapai nasib baik yang tidak akan berubah lagi dan tidak akan tergoncang lagi oleh keadaan apa pun di dunia ini.” (Ulasan Kang Kelana, 2015: 164—165).
            Dalam hal meraih cita-cita mulia ini sekali lagi Kang Kelana menyampaikan pesannya: “Silakan untuk menempatkan cita-citamu setinggi langit di antara bintang-bintang yang memenuhi angkasa raya. Tiap manusia wajib mempunyai cita-cita yang luhur, yang dikejar dengan sekuat tenaga. Siapa yang tidak mempunayi cita-cita, menunjukkan jiwa yang lumpuh dan karenanya tergolong sampah bangsa, kata Pakde Narto.
            Menurut pengalamanku, semua cita-cita di dunia ini baik untuk dikejar dan dicapai secara memuaskan. Akan tetapi, kepuasan memperoleh cita-cita itu tidak abadi dan kekal adanya. Pasti kemudian muncul hal-hal yang mengecewakan. Menurut keyakinan dan pengalaman, cita-cita yang tidak membosankan dan memberikan kepuasan yang tidak akan luntur adalah cita-cita dan pelaksanaan untuk bertunggal dengan Sang Suksma Sejati.” (Ulasan Kang Kelana, 2015: 168—169).
            Satuhu.
    





Sabtu, 19 Maret 2016

MEMAHAMI MAKNA HARI BUDI DARMA DAN PENDIDIKAN




MEMAHAMI MAKNA HARI BUDI DARMA DAN PENDIDIKAN

(Puji Santosa, Bekasi)

1. Pengantar
Pupuh pertama tembang Dhandhanggula, bait kesembilan, Serat Warisan Langgeng karya Bapak Paranpara Pangestu, R. Soenarto Mertowardojo, berbunyi sebagai berikut.
Lamun sira amaguru kaki
amiliha sujanma kang nyata
ingkang luhur bebudene
kang lebda marang hukum
ngger-anggering praja lan Widhi
dadalan Kasunyatan
miwah kang wus mungkur
pamurih marang kadonyan
badan saras susila ambeg utami
solah bawa prasaja.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Wahai anak-anakku, apabila engkau berguru menuntut ilmu
pilihlah manusia yang benar-benar senyatanya
yang berbudi pekerti luhur
yang mumpuni terhadap hukum:
tata aturan undang-undang negara dan juga hukum Tuhan
yang berjalan di Kesunyatanan
serta mereka yang telah meninggalkan
pamrih terhadap barang-barang keduniawian
badan sehat, santun, susila, dan berwatak mulia
tata perilakunya pun bersahaja.

(Warisan Langgeng, pupuh Dhandhanggula, pada 9)

            Demikianlah Bapak, Ibu, dan Saudara warga Paguyuban Ngesti Tunggal, siswa-siswi Sang Guru Sejati yang senantiasa berbakti dan berbudi, petikan bait kesembilan, pupuh Dhandhanggula, Serat Warisan Langeng karya Bapak Paranpara Pangestu, Raden Soenarto Mertowardojo, mengawali olah rasa melalui majalah Dwija Wara edisi bulan ini, tentang upaya meneladan, mengikuti jejak Bapak Paranpara Pangestu: R. Soenarto Mertowardojo, berkaitan dengan makna peringatan hari “Budi Darma dan Pendidikan” setiap tahun kita peringati pada tanggal 21 April.
            Arsip Sarjana Budi Santosa (2015:84—86) butir 121—123 menyatakan: “Oleh karena Bapak Pangrasa melaksanakan sendiri pelajarannya dan mengakhiri pelaksanaannya hingga bertunggal dengan Suksma Sejati, maka riwayat hidup Bapak Pangrasa dari hari ke hari merupakan teladan bagi mereka yang menuju ke akhiran pula.
            Bapak Pangrasa mendidik diri pribadi sambil menuntun orang lain. Sebab itu soal pendidikan adalah perlu sekali diketahui, dan meliputi riwayat manusia dari permulaan ia dilepaskan sebagai Roh Suci masuk ke dalam kandungan ibu sampai kembalinya Roh Suci bertunggal dengan Suksma Sejati.
            Antara dua soal itu terdapat beberapa kali Roh Suci memakai badan jasmani kasar, hidup di dalam dunia ini, dan beberapa kali mempergunakan badan jasmani halus dalam alam kafiruna. Di mana saja, pada saat apa saja, dalam alam apa saja, ia memerlukan tuntunan. Tiap alam dan tiap tingkatan dalam satu alam membutuhkan cara pendidikan tersendiri. Terutama di dalam dunia pada badan jasmani kasar itu terdapat berbagai tingkatan dalam kehidupan manusia. Dalam tingkatan-tingkatan permulaan manusia memerlukan orang lain yang mendidiknya. Pada akhirnya ia tidak membutuhkan lagi perantaraan manusia, melainkan ia menerima tuntunan langsung dari Suksma Sejati.
            Soalnya di dalam pendidikan ialah supaya yang dididik melalui semua tingkatan itu dengan baik dan jangan macet dalam salah satu tingkatan. Yang mendidik harus menyadari pula bahwa yang dididik harus memasuki tingkatan di mana ia harus mendidik diri pribadi. Ini berarti bahwa yang mendidik semula harus siap-siap untuk mengundurkan diri dan tidak akan diperlukan lagi sebagai pendidik.
            Oleh karena pelajaran dari Suksma Sejati yang diterima oleh Bapak Pangrasa merupakan tuntunan dan pengolahan hati dan angan-angan yang ditujukan kepada Tripurusa, maka pelajaran dari Suksma Sejati merupakan pula pedoman pendidikan yang membawa manusia kepada kesempurnaan hidup, yakni bertunggal dengan Suksma Sejati.”
            Apa yang disampaikan dalam Arsip Sarjana Budi Santosa itu menandakan betapa pentingnya peran pendidikan, siswa, guru yang mendidik dengan segenap upaya budi darmanya, dan pelajaran Suksma Sejati sebagai pedoman pendidikan yang membawa manusia kepada kesempurnaan hidup, yakni bertunggal dengan Suksma Sejati. Berkaitan dengan hal itu, sekiranya perlu renungan dalam memahami makna hari budi darma dan pendidikan yang setiap tahun kita peringati sebagai hari kelahiran Pakde Narto.

2. Hari Budi Darma dan Pendidikan
Mengapa kita perlu sekali meneladani, mengikuti jejak keberhasilan Bapak Paranpara Pangestu, R. Soenarto Mertowardojo, bertunggal dengan Guru Sejati, Sang Suksma Sejati, Penuntun, Panutan, Guru Dunia dan Akhirat, Nur Muhammad, Sang Kristus, Sang Sabda, Cahaya yang sangat amat Terpuji?
            Sebagaimana telah kita ketahui melalui buku Riwayat Hidup Bapak Paranpara Pangestu R. Soenarto Merrtowardojo yang dicatat, dihimpun, dan disusun oleh Bapak R. Rahardjo, bahwa Pakde Narto dilahirkan di desa Simo, Kawedanan Simo, Kabupaten Boyolali, Karesidenan Surakarta, pada  hari Jumat Pahing, 10 Besar 1828 tahun Jawa, atau tanggal 21 April 1899 tahun Masehi. Tanggal 10 Besar, atau 10 Zulhijah, bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha, Hari Raya Korban, maknanya bagi kita bukan sekadar berkorban akan harta benda dan binatang peliharaan: kambing, domba, sapi, onta, melainkan juga korban rasa dan perasaan, bilamana perlu juga korban jiwa dan raga. Sementara itu, tangal 21 April bertepatan dengan hari lahir pahlawan emansipasi wanita, R.A. Kartini; maknanya bagi kita Pakde Narto merupakan pahlawan pembebas belenggu ikatan duniawi, pembebas tinimbal lahir, pembebas dari api neraka, dan membawa kita memasuki Taman Kemuliaan Abadi yang penuh kasih sayang, tenteram, damai, tenang, sejahtera, dan bahagia abadi.
            Selanjutnya, untuk menghormati, menghargai, dan menjunjung tinggi jasa beliau, Pengurus Pusat Pangestu menetapkan Instruksi Pendidikan Nomor 5/Sek-II/60, tertanggal 26 Maret 1960, bahwa setiap tanggal 21 April diperingati sebagai “Hari Budi Darma dan Pendidikan”, sebagai penghormatan atas kelahiran dan kehadiran manusia terpilih yang pantas menjadi suri teladan kita semua. Jadi, hari lahir Bapak R. Soenarto Mertowardojo (Pakde Narto) di lingkungan Pangestu disebut ”Hari Budi Darma dan Pendidikan”. Oleh karena seluruh hidup Pakde Narto dibudidarmakan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia serta dunia seisinya (Memayu Hayuning Bawana). Segala perilaku, tutur kata beliau senantiasa mengandung suri teladan dan pendidikan bagi kita semua untuk dapat mengikuti jejak Pakde Narto.
            Sesuai dengan makna hari dan tanggal kelahiran beliau bahwa seluruh kehidupan Pakde Narto ternyata dikorbankan atau dibudidarmakan untuk mendidik seluruh umat di jagat raya ini untuk mencapai kemuliaan dan kesejahteraan abadi, di dunia hingga di akhirat. Dalam upaya mendidik umat yang berdasarkan pada Ajaran Sang Guru Sejati itu Pakde Narto rela berkorban rasa dan perasaan (cemoohan, hinaan, aniaya, dan fitnahan), pikiran, tenaga, dan juga harta, serta tentu saja jiwa dan raga beliau pun rela berkorban untuk kita semua. Pak Mantri dalam buku Olah Rasa mengatakan sebagai berikut.
“Apakah nanti Bapak menjadi muda lagi, rambutnya hitam, gagah, dan sehat?” tanya Saudara Pangaribawa.
Jawab Saudara Kamayan: “Ha ha ha. Tidak demikian halnya. Usia tetap usia dengan segala pembawaannya. Tetapi untuk menerima Wahyu Sasangka Jati semua sel-sel dari jaringan tubuh harus diganti dengan yang baru. Sel-sel yang dulu dibuang dengan segenap karmanya, sel-sel yang baru ditumbuhkan yang selaras dengan tugas sebagai perantara pepadang. Maka dari itu Bapak senantiasa menderita sakit. Itulah proses pergantian pakaian. Penyakit yang datang bergilir ganti merupakan ujian pula. Tiap tubuh ingin mengaso, ingin melepaskan lelah, ingin merasa enak juga dalam menunaikan tugas. Tetapi karena selalu merasa sakit, tidak pernah badan Bapak dapat melepaskan lelah. Ini godaan dari dalam. Godaan dari luar, dari orang-orang, enteng bila dibandingkan dengan godaan ini. En toh, Bapak selalu riang gembira dalam penderitaan sakit sambil menunaikan tugas kian-kemari.” (Soemantri, 1990:13 dalam buku Olah Rasa)

3. Pengorbanan Luar Biasa
            Pengorbanan Pakde Narto itu seolah-olah sudah dipersiapkan jauh hari sebelum beliau  menerima turunnya wahyu Pepadang dan Tuntunan Suksma Sejati, 14 Februari 1932. Pakde Narto merupakan putera keenam dari delapan bersaudara, dari keluarga Bapak R. Soemowardojo, seorang juru tulis Kawedanan dan terakhir memangku jabatan mantri penjual, pada usia tujuh tahun harus berpisah dengan orang tuanya untuk mengikuti pendidikan formal di kota Boyolali, karena di Simo ketika itu belum ada sekolah. Pakde Narto dikirim orang tuanya mengikuti pendidikan (sekolah) dari Simo ke Boyolali itu tidak kos, tidak sewa kamar, dan tidak kontrak, tetapi ikut pamannya R. Djojosugito, seorang agen polisi di Boyolali. Meskipun Pakde Narto dapat masuk ke sekolah “Jawa” (Inslandse School), dan pada malam hari dapat pergi kursus bahasa Belanda pada seorang pensiunan sersan KNIL, Van de Waal, perlakuan keluarga Djojosugito terhadap Pakde Narto tidak ubahnya sebagai seorang pembantu rumah tangga (pelayan), segala pekerjaan kasar seorang pelayan telah beliau rasakan dan alami dalam usia semuda itu. Ini merupakan budi darma yang luar biasa dari seorang anak yang patuh pada orang tuanya demi untuk memperoleh pendidikan.
            Pada suatu hari, datanglah Bapak Soemowardojo, yakni ayahanda Pakde Narto, menjenguk keadaan puteranya yang dititipkan kepada adiknya itu. Begitu melihat dengan mata kepalanya sendiri keadaan dan perlakuan keluarga Djojosugito kepada anaknya, Bapak Soemowardojo tidak sampai hati dan tidak rela atas pengorbanan puteranya yang masih sekecil itu sudah harus menderita sedemikian rupa, menjadi pelayan rumah tangga, mengerjakan segala pekerjaan kasar yang belum waktunya dia dikerjakan. Oleh karena itu, kedatangan beliau Bapak Soemowardojo di tempat adiknya itu hendak memindahkan Pakde Narto kepada kakaknya yang lain, yakni R. Soemodipoetro yang menjabat sebagai Kepala Penjara Boyolali. Namun, di tempat baru itu pun Pakde Narto tidak tahan lama, tidak kerasan, enggak betah ah, gitu hlo, karena pelayan keluarga Soemodipoetro sangat suka menggoda dan mengganggu Pakde Narto dengan segala kejahilannya. Dan tindak kejahilan atau usil si pelayan itu sudah kelewatan terhadap Pakde Narto. Oleh karena itu, ketika ayahanda Soemowardojo datang menjenguknya, segeralah Pakde Narto menghadap ayahandanya untuk mohon dibawa serta pulang kembali ke desa Simo.
            Tidak berapa lama tinggal di Simo, Pakde Narto kembali dititipkan kepada Budenya dari jalur sang ibu, seorang janda Patih (Wakil Bupati) di Salatiga, bertempat tinggal di kampung Karanganyar, bernama Mertohardjo. Meskipun Pakde Narto dapat mengikuti pendidikan di sekolah partikelir, pada pengèngèran yang ketiga ini terjadilah suatu peristiwa yang dapat dibilang spetakuler (menarik perhatian), yaitu: (1) keberanian Pakde Narto untuk menegur mbakyu “S” yang mengambil buah kelapa milik Wak Mertohardjo yang sedang pergi dan menjualnya untuk keperluan diri sendiri, dan (2) keberanian Pakde Narto untuk meninggalkan Salatiga, pulang ke Simo, tanpa bekal apa pun dalam usia delapan tahun. Akibat keberanian menegur mbakyu “S” itu Pakde Narto mendapat perlakuan aniaya dan siksaan fisik sehingga badan terasa sakit, akhirnya ia menangis, kemudian lari ke luar rumah meninggalkan kampung Karanganyar, dengan maksud hendak kembali ke desa Simo, walaupun tidak tahu arah ke mana jalan pulang kembali ke desa Simo, Boyolali itu.
            Berkat sih anugerah Sang Guru Sejati, meskipun belum dikenal ketika itu, maksud pulang ke desa Simo yang berjarak kurang lebih 40 km itu dapat kesampaian juga oleh anak yang baru berumur delapan tahun. Coba bayangkan hal ini, Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Di tengah perjalanan ketika perut lapar memuncak, Pakde Narto berhasil menemukan uang satu Sen, kemudian dibelikan nangka sebagai pengganjal perut yang keroncongan. Setelah masalah perut teratasi, pada malam hari ketika ia tersesat di tengah perjalanan, hati terasa sedih dan gundah, serta menangislah ia. Tidak berapa lama kemudian, datanglah pertolongan Sang Guru Sejati dengan melalui perantaraan seorang perempuan penjual yang membawa keranjang atau bakul kosong di punggungnya. Setelah perempuan itu bertanya kepada Pakde Narto, tidak ada jawaban, karena masih menangis, dengan cekatan tanpa membuang waktu, perempuan penjual itu memasukkan Pakde Narto ke dalam keranjang kosongnya, lalu dibawalah Pakde Narto ke tempat Pak Lurah di desa setempat tersebut.
            Di tempat Pak Lurah itu Pakde Narto dihormati dengan panggilan “Gus”, karena Pak Lurah adalah mantan bawahan Wak Patih Mertohardjo, kemudian Pakde Narto juga dijamu dengan makanan yang enak-enak, diperkenankan tidur semalam di rumah Pak Lurah, dan selanjutnya pada esok harinya digendong di punggung dari desa tersebut sampai ke desa Simo oleh anak buah Pak Lurah. Sebab pada waktu itu belum banyak kendaraan. Hal ini jelas merupakan buah dari rasa bakti, taat, dan kepercayaan Pakde Narto yang bulat dan teguh kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keberaniannya menegakkan hukum, keadilan, dan kebenaran. Jadi, pengorbanan Pakde Narto dalam berupaya mencari pendidikan tersebut sangat luar biasa, dan itu semua harus dijalaninya sebagai syarat penebusan laku yang harus ditempuh.

4. Upaya Berpendidikan
            Tidak begitu lama Pakde Narto tinggal kembali bersama orang tunya di desa Simo. Demi memikirkan pendidikan anaknya, Ibunda Pakde Narto membawa dirinya ke Solo dengan harapan dapat sekolah di Solo. Keluarga yang dituju ketika itu sedang pergi jauh dan tidak mungkin ditunggu. Sang Ibunda Pakde Narto itu tidak putus harapan, segeralah Sang Ibunda itupun membawa Pakde Narto ke berbagai rumah kenalannya di Solo. Namun, nasib memang belum berpihak, tidak satu pun kenalan Sang Ibu ini berkenan menerima Pakde Narto dengan alasan tanggungan mereka sendiri sudah berat. Sudah barang tentu dengan perasaan kecewa, karena usaha menyekolahkan, mencarikan pendidikan bagi anaknya itu gagal. Ibunda Pakde Narto itu kemudian membawa kembali sang anak itu ke desa Simo, Boyolali.
            Orang tua Pakde Narto dalam mengupayakan pendidikan anaknya tidak pernah mengenal putus asa. Agar anaknya dapat sekolah lagi, karena di Simo pada waktu itu belum ada sekolahan, Pakde Narto dibawalah oleh ayahandanya pergi ke desa Tekaran, Kabupaten Wonogiri, untuk kemudian dititipkan kepada Pak Wirjosoemardjo, seorang pembantu mantri penjual, mantan bawahan ayahandanya. Di sini Pakde Narto dapat sekolah sore, karena tidak diterima di sekolah pagi, dan tetap duduk di kelas satu sehingga mahir benar di kelas satu itu, di kota Wonogiri yang berjarak 8 km. Waktu tempuh dari tempat tinggalnya ke sekolahan, pulang pergi selama 4 jam, berjalan tanpa alas kaki, melalui hutan dan jalan terjal, di bawah terik panas matahari setiap harinya. Tentu waktu belajar Pakde Narto habis di tengah perjalanan. Melihat kondisi seperti itu Ibunda Pakde Narto tidak sampai hati, dan kemudian diajaknya Pakde Narto ke tempat kakaknya, Ismail, di Magelang, yang tengah menjabat sebagai pegawai kas negeri kota Magelang.
            Mengikuti kakaknya, Ismail, di Magelang ini Pakde Narto dapat diterima di sekolah pagi Tweede Inlandse School, tetapi masih tetap kelas satu. Nasib pun masih tetap tidak berubah seperti yang sudah-sudah. Tidak begitu lama Pakde Narto tinggal di Magelang, karena kakaknya Ismail dipindah tugaskan ke Mojokerto dan Pakde Narto tidak dibawanya serta ke Mojokerto, tetapi dititipkan kepada sang mertua kakaknya itu di Desa Kledung, Purworejo, bernama Sastrodihardjo. Meskipun Pakde Narto dapat sekolah di kota Purworejo yang berjarak 6 km dari Desa Kledung, nasibnya semakin sengsara dan mengibakan hati, tidak ubahnya seperti budak. Semua pengorbanan yang dilakukan oleh Pakde Narto bagi keluarga Sastrodihardjo ini tidak dihargai, bahkan difinah mencuri kain dan didukunkan oleh Bu Sastro yang kurang waras tersebut. Tentu saja Pakde Narto protes atas tuduhan yang tidak benar ini. Dalam usia Pakde Narto yang masih anak-anak itu sudah ada keberanian untuk menghadap Tuhan mohon Pengadilan! Namun, di mana Tuhan bertakhta, bagaimana caranya menghadap Tuhan, dan bagaimana cara mohon pengadilan Tuhan? Tentu anak seusia sembilan tahun itu tidaklah faham, bahkan orang yang sudah berusia lanjut pun belum tentu tahu akan hal itu.
            Ada peristiwa yang spektakuler lagi dalam pengèngèran Pakde Narto yang keenam ini, yaitu cara menghadap Tuhan mohon pengadilan oleh anak yang baru berusia sembilan tahun. Dengan kepercayaan yang bulat (orang yang mempunyai kepercayaan bulat (murni), tidak lagi dihinggapi rasa was-was, ragu-ragu, takut, gentar, atau cemas (Sabda Khusus Peringatan Nomor 2 alinea 10) sehingga pagi-pagi hari Pakde Narto menerjunkan diri ke dalam sumur. Meskipun terjun bebas ke dalam sumur, ini bukan untuk bunuh diri, gitu lho, melainkan sebagai jalan mohon akan pengadilan Tuhan, yang hanya dapat dipahami oleh seorang anak. Walaupun Pakde Narto ketika itu terjun bebas ke dalam sumur, ia tidak meninggal karena ada pertolongan Sang Guru Sejati melalui para tetangga keluarga Sastrodihardjo yang mengentaskannya dari dalam sumur.
            Beberapa bulan kemudian, setelah Pakde Narto duduk di kelas dua, ia mendengar kabar bahwa kanda Kusno datang ke Purworejo, maka segeralah ia menghadap kanda Kusno untuk menyatakan keinginanya turut serta beliau. Setelah kanda Kusno menikah dan bertempat tinggal di Bruno, Wonosobo, Pakde Narto diperkenakan turut serta beliau. Di kota Wonosobo itu Pakde Narto memasuki kelas tiga (dahulu sekolah dasar hanya sampai pada kelas empat). Namun, tinggal bersama kanda Kusno tidak begitu lama karena Sang Ibu menginginkan Pakde Narto dapat sekolah di HIS (Hollands Inlandse School) yang baru ada dibuka di kota Solo. Oleh sebab mereka yang tamatan HIS banyak yang menjadi “priyayi”, atau pegawai pemerintahan Hindia Belanda. Namun, Pakde Narto tidak diterima di HIS itu karena tes bahasa Belanda-nya tidak lulus, terpaksa masuk sekolah partikelir Hollands Inlandse Middagcursus, diterima di kelas 2, dan di Solo itu Pakde Narto ikut keluarga Suwandi, seorang mantri polisi.
            Ketika kanda Ismonah pindah ke Solo, karena kakak iparnya (suami kanda Ismonah) bernama Poerwokosastro dipindahakan sebagai pembantu jurutulis Camat Laweyan, di Solo, dan pada waktu itu bertempat tinggal di kampung Notokusuman, atas saran ibundanya, Pakde Narto mengikuti kakaknya saja. Pada waktu mengikuti keluarga Poerwokosastro ini ada kejadian spektakuler lagi, yaiku peristiwa di sebuah jembatan rel kereta api yang panjang antara jurusan Stasiun Kedungbanteng dan stasiun Jebres, Solo. Ketika sedang berada di jempatan rel kereta api itu, sekonyong-konyong datang kereta api dari depan menuju ke arah dirinya. Pakde Narto mau balik jelas tidak mungkin karena akan segera tersusul oleh kecepatan kereta api itu. Demikian juga, Pakde Narto mau melanjutkan terus perjalannya juga tidak mungkin karena juga akan digilas oleh kereta api itu. Sementara banyak orang yang bekerja di sawah dekat jembatan rel kereta api itu yang berteriak-teriak memperingatkan Pakde Narto akan bahaya maut yang mengancam. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Atas pertolongan Sang Guru Sejati, Pakde Narto selamat dengan cara menggantung berpegangan erat-erat pada pilar (tiang) jembatan sebelah kiri. Suara gemuruh kereta api yang menakutkan itu pun segera berlalu menggetarkan seluruh tubuhnya. Pakde Narto selamat dan dapat meneruskan perjalannya ke stasiun Kedungbanteng.
            Kemudian pengorbanan Pakde Narto masih dilanjutkan kepada keluarga Raden Mas Panji Waneng, yang sedang sakit ingatan, namun Pakde Narto tetap tabah menghadapinya. Demikian juga pada pangerean berikutnya pada keluarga Sastrodihardjo yang merupakan famili dari Pak Suwandi di Solo. Dan pada pangegeran yang terakhir, dan terlama kepada keluarga Joedosoebroto yang menjadi jaksa kepala di Solo, hingga Pakde Narto dewasa, mendapat pekerjaan magang di kejaksaan, dan menikah dengan nona Soemini (Bude Narto) putri pamannya Pak Amir, dari Kedungjati, Semarang.

5. Upaya Mendidik Umat
            Penderitaan demi penderitaan, pengorbanan demi pengobanan, dan semua budi darma Pakde Narto itu tumanjane (ditujukan hanya semata) untuk mendidik, mengolah, mencerdaskan, memartabatkan, dan memuliakan seluruh umat, segala bangsa di dunia ini, agar mencapai derajat budi luhur, yakni derajat kesejahteraan, ketenteraman, kemulian, dan kebahagiaan hidup abadi di dunia hingga di akhirat, mencapai kesunyataan jati, bertunggal dengan Tuhan Sejati di Taman Kemuliaan Abadi. Hasilnya kini dapat kita nikmati dan kita rasakan betapa jerih payah Pakde Narto tersebut sangat membahagiakan kita semua. Tentu, sudah sepantasanyalah kita meneladan kemuliaan dan keluhuran budi Pakde Narto.
            Sejak menerima wahyu pepadang dan tuntunan Suksma Sejati, Pakde Narto terus menerus berupaya tiada henti menyediakan kancah bagi Suksma Sejati yang hendak turun ke dunia melalui perantaraan wadak Pakde Narto. Hal ini secara jelas disampaikan Kang Kelana dalam Ulasan Kang Kelana (2015:103): ”Dan ini jasanya Pakde Narto. Sekalipun Pakde Narto tidak pernah mengingat jasa-jasanya diri pribadi, kita siswa-siswa dari Suksma Sejati harus menyadari akan hal ini sepanjang hidup.
            Sebagian besar dari anggota Pangestu tidak menyadari, bagaimana pentingnya zaman ini, di mana seorang siswa, yakni Pakde Narto, senantiasa bahkan terus-menerus menjadi perantara pepadang dari Suksma Sejati. Untuk selalu siap guna dipakai sebagai perantara pepadang, siswa yang bersangkutan harus berkorban tanpa putus-putusnya. Pengorbanan ini oleh Pakde Narto ditujukan untuk membuka hati yang masih tertutup dan menembus hati yang berlapis keragu-raguan. Acapkali Pakde Narto dipakai sebagai perantara pepadang, tiap kali itu Sang Suksma Sejati berkunjung ke dunia. Siapakah di antara kita menyatakan hal itu?”
            Sebagai kancah turunnya wahyu pepadang dan tuntunan Suksma Sejati, berarti pula Pakde Narto menerima secara langsung pendidikan dari Suksma Sejati secara terus-menerus melalui sabda-sabda-Nya sebagai Ilmu Sejati. Begitu Pakde Narto menerima Ilmu Sejati itu dari Suksma Sejati, beliau tidak hanya tinggal diam untuk dinikmati diri sendiri, tetapi berawal dari dua orang pembantu utama yang menyokong kegiatan ini, yaitu Bapak R.T. Hardjoprakoso dan Bapak R. Trihardono Soemodihardjo, menyebarluaskan dan menyeratakan Ajaran Sang Guru Sejati itu kepada seluruh umat.
            Sebagaimana telah diutarakan pada awal olah rasa pagi ini dalam tembang Warisan Langgeng tersebut bahwa Pakde Narto adalah citra manusia pilihan, yakni manusia yang telah mencapai kesunyataan sejati, manusia yang benar-benar senyatanya telah mencapai derajat budi luhur, mumpuni terhadap hukum atau tata aturan negara dan juga hukum Tuhan, senantiasa berjalan di jalan kesunyataan, beliau secara nyata telah meninggalkan keramaian barang-barang duniawi, tetap sehat walafiat, penuh kesantunan atau ketatasusilaan, berwatak utama, dan berperilaku sahaja. Candra dari Pakde Narto yang telah mencapai kesunyataan jati itu dalam tembang Dhandhanggula bait 4, 5, 6, Serat Warisan Langgeng sebagai berikut.
Wruhanira janma kang wus manjing
wiwaraning Pura Pamudharan
rasa bagya ing batine
ayem tentrem budyayu
Ujwalane pasemon kengis
sunaring tyas kawuryan
ngumala ngunguwung
pangucap weh sreping liyan
mungkur marang krameyan mung mamalad sih
sinhing Suksma Kawekas.

            Dene kang wus malbeng jroning Puri
Pamudharan ingkang sanyatanya
sirna rasa-pangrasane
mati kalawan hidup
rasa bungah-susah sirnating
ruwat sagung panandhang
tatali wus putus
kang nangsaya batinira
tarlen saking megat katresnan-nireki
marang kang para cidra.

            Pangrasane pan wus dadi siji
lan sagung ingkang sipat gesang
anglimputi sakabehe
welas asih satuhu
marang kabeh kang sipat urip
adil apara marta
ambeg budi luhur
sasat sarira Suksmana
wudhar saking ngger-angger tumimbal lahir
winahyu mardhikeng rat.

            Terjemahan dalam bahasa Indonesia sebagai berikut.

Ketahuilah Saudara bahwa manusia yang sudah masuk
ke pintu gerbang Istana Pamudharan
rasa bahagia di dalam batinnya
tenang, tenteram, berbudi mulia
wajahnya bersinar dapat diibaratkan
bersinarnya hati tersingkap
bagai intan permata yang mempelangi
ucapan mampu memberi ketenteram orang lain
meninggalkan dunia keramaian, hanya semata memohon sih
Kasih Tuhan Yang Maha Esa.

Adapun manusia yang telah masuk di dalam Istana
Pamudharan yang sebenar-benarnya
sirna rasa-perasaannya
ihwal mati dengan hidup
rasa senang-susah pun sirna
terbebas lepas dari semua penderitaan
tali-tali pun telah putus
yang mengikat batinmu itu
tiada lain dari usaha memisahkan kecintaanmu
terhadap semua yang dusta, silap pesona dunia.

Rasa-perasaanya sebab telah menjadi satu
dengan sumua yang bersifat hidup
meliputi keseluruhannya
kasih sayang yang sesungguhnya
terhadap semua yang bersifat hidup
adil merata keseluruh yang bersifat hidup
berwatak budi luhur
seakan-akan berbadan ke-Tuhan-an
bebas lepas dari hukum terlahir kembali
memperoleh wahyu kemerdekaan (terbebas dari hidup kembali di) dunia.

6. Berderajat Budi Luhur
            Lebih lanjut Bapak R. Soenarto Mertowardojo, yang menjadi teladan kita itu dalam buku Bawa Raos Ing Salebeting Raos menjelaskan bahwa keadaan orang telah sampai pada kasunyatan jati atau berderajat budi luhur adalah sebagai berikut:
(1)               tingkah lakunya bersahaja dan menyenangkan;
(2)               sikapnya terhadap siapa pun ramah dan bersahabat;
(3)               tindak tanduknya tertib dan susila;
(4)               berbicara sedikit dan sabar tutur katanya;
(5)               sopan satun jika berbicara, dan tangannya tidak bergapaian;
(6)               roman mukanya terang dan ramah, tetapi menimbulkan rasa segan;
(7)               matanya tajam dan bersinar;
(8)               pakaiannya bersahaja;
(9)               hidupnya sederhana, berbudi luhur;
(10)          kesabarannya laksana samudera raya;
(11)          pemaaf, adil, dan paramarta;
(12)          belas kasih, sayang, dan cinta kepada sesama hidup;
(13)          menetapi kewajiban hidup dengan tata susila;
(14)          menghormati dan meluhurkan semua agama;
(15)          setia kepada undang-undang dan peraturan negara;
(16)          tidak membeda-bedakan derajat, golongan, bangsa, pria wanita, tua muda;
(17)          semunya diperlakukan sama, tanpa mengabaikan tata krama;
(18)          tidak meninggalkan tata cara hidup bermasyarakat;
(19)          saling melindungi, saling menjaga dengan sopan santun;
(20)       tidak berganti nama, tidak memakai gelar yang direka atau dibuat muluk-muluk agar terkenal dan disanjung puja di dunia; dan
(21)      tidak menyombongkan akan kepandaian, kewaspadaan, serta kekuasaan meskipun ketiganya itu telah dimilikinya.

            Tentang rasa dan perasaannya, lebih lanjut Pakde Narto dalam bukunya Bawa Raos Ing Salebeting Raos menjelaskan keadaan perasaan batin seseorang yang telah mencapai kasunyatan itu alah sebagai berikut.
            “Sesungguhnya, rasa-perasaan batin (hati) tidak dapat diterangkan dengan perkataan sebab luasnya tidak terbayangkan, bak samudera tak bertepi; samudera yang tidak berombak mengadakan alun, yaitu: cipta, nalar, dan angan-angannya tidak bekerja sehingga mengadakan rekaan, gambaran, dan bayang-bayangan yang menimbulkan rasa: senang, susah, waswas khawatir, ragu-ragu, murka, syak wasangka, iri hati, gentar ngeri, papa sengsara, hina luhur, masyhur, celaka untung, mudah sukar, dan sebagainya.
            Indahnya rasa-perasaan melebihi keindahan alam yang tergelar ini. Andaikan bebauan, ia adalah rajanya harum yang merebak mewangi. Andaikan rasa manis, ia adalah rajanya manis yang legit wangi. Andaikan kejelitaan seorang putri, kejelitaannya adalah ratunya para bidadari. Andaikan intan permata, ia adalah mustika intan yang edipeni (indah permai). Andaikan cahaya, kemilaunya cahaya melebihi terangya sinar rembulan. Andaikan air, ia adalah mata air yang jernih suci murni.
            Adapun rasa-perasaan yang dapat saya terangkan dengan kata-kata, yang senyata-nyatanya dirasakan adalah: tenang, tenteram, damai, puas, heneng-hening-eling, nikmat bermanfaat, bahagia, mulia, bijaksana, tetap berasa bertunggal dengan Suksma, Sejatinya Hidup, yang menghidupi segenap sifat hidup. Oleh karena itu, ia berasa bertunggal dengan segenap yang bersifat hidup, meresap ke segenap wujud yang ada, yaitu meresap ke keadaan yang tergelar di dunia ini, tidak dibatasi oleh waktu dan ruang (tempat), jauh dan dekat, sempit dan sesak.
            Demikian keadaan orang yang sudah sampai pada (mencapai) kesempur­naan bertunggal (kasunyatan jati) yang dapat saya terangkan sekadarnya. Adapun darmanya kepada dunia adalah: (1) memayu-hayuning bahawa kang sanyata (membuat sejahtera dunia dengan nyata) yang didasarkan pada kasih sayang, penuh cinta, dan keadilan yang disertai dengan pengorbanan; (2) memberi tuntutan dan suri teladan dengan tindakan yang nyata agar umat manusia hidup rukun, damai, saling pengertian, tertib, susila, berbakti kepada Tuhan sehingga dunia ini menjadi teratur, tenang, damai, tenteram, bahagia, dan sejahtera.”
            (Mertowardojo, 1960:34—36)
Demikianlah kompas yang dapat menjadi panduan untuk meneladan keluhuran dan kemulian budi Bapak Paranpara Pangestu, Raden Soenarto Mertowardojo, yang telah sampai pada kesunyataan sejati atau berderajat budi luhur.

7. Penutup
Sudah banyak umat manusia yang kini terbuka mata hati dan pikirannya menerima Ajaran Sang Guru Sejati ini. Turunnya Pepadang dan Tuntunan Suksma Sejati melalui perantaraan Pakde Narto pada tanggal 14 Februari 1932 merupakan tonggak lembaran sejarah baru keimanan umat manusia. Sabda-Sabda Suksma Sejati yang kini diabadikan menjadi buku Sabda Pratama, Sasangka Jati, Sabda Khusus (dan ada beberapa catatan khusus yang tidak dibukukan oleh Pengurus Pusat Pangestu) yang kemudian dijelaskan oleh Pakde Narto sendiri melalui buku Bawa Raos Ing Salebeting Raos, Taman Kamulyan Langgeng, Warisan Langgeng, Sosotyo Rinontje, dan buku-buku Pangesti, serta dijelaskan oleh Bapak Soemantri Hardjoprakosa melalui buku Olah Rasa, Arsip Sardjana Budi Santosa, Ulasan Kang Kelana, dan Wahyu Sasangka Jati, serta juga buku susunan Bapak R. Rahardjo Riwayat Hidup Bapak Paranpara Pangestu R. Soenarto Merrtowardojo menjadi acuan, pedoman, atau panduan mendidik diri sendiri, mendidik keluarga, dan mendidik seluruh umat yang membutuhkan tuntunan dan pepadang Suksma Sejati mencapai derajat budi luhur.
Hanya Pakde Narto yang telah melewati jenjang golongan kesiswaan, dari: (1) siswa pratama, (2) siswa utama, hingga (3) siswa purnama. Hanya Pakde Narto pula yang telah melewati jenjang derajat kesiswaan, dari: (1) calon siswa, (2) siswa, (3) Guru, hingga (4) Guru Agung. Pakde Narto pulalah yang telah melewati jenjang derajat kejiwaan, dari: (1) jiwa muda, (2) jiwa dewasa, hingga (3) jiwa luhur. Oleh karena itu, teladan Pakde Narto yang mengor­bankan atau membudidarmakan seluruh kehidupannya bagi pendidikan untuk dapat ke­mu­liaan, keluhuran, dan juga kesejahteraan umat tidaklah sia-sia. Kita sedapat mungkin, sekuat kemampuan, dan sebisa mungkin meneladani semua kearifan, keluhuran, dan kemuliaan Pakde Narto.
Satuhu.