SELAMAT DATANG

Saudaraku, selamat datang di blog GITA PUJA. Saudaraku, berbagi ilmu pengetahuan, wawasan, dan apa pun yang kita miliki merupakan ibadah. Senyampang masih dapat kita lakukan, mengapa tidak segera kita lakukan? Ayo segera berbagilah kepada kami dan kawan-kawan lainnya dengan cara memberi masukan, komentar, kritik, saran, catatan, dan apa pun tentang blog ini demi kebaikan kita bersama membangun peradaban bangsa dan negara di dunia. Selamat membaca, selamat menikmati sajian dalam blog ini, dan selamat berapresiasi. Salam takzim kami. Beres! Sehat! Sukses! Yes!

Monday, 9 February 2015

NGUPAYA SUGIH ING SAJRONING PANARIMA




NGUPAYA SUGIH ING SAJRONING PANARIMA

Makna sesungguhnya dari tawakal atau narima
banyak mengarah ke ketenteraman hati manusia
bukannya orang yang malas atau enggan bekerja
melainkan orang menerima apa saja bagiannya.

Jadi, apa saja yang sudah ada di tangannya,
hendaklah dikerjakan dengan senang hati jua,
tidak tamak, tidak serakah, dan juga tidak loba,
artinya tidak bertindak di luar kemampuannya.

Oleh karena itu, narima yang sesungguhnya:
tidak menginginkan milik orang di luar dirinya,
tidak dengki pada orang yang lebih darinya,
tidak iri akan keberuntungan orang lainnya,
tetapi orang yang narima itu senantiasa:
tawakal dan bersyukur atas karunia-Nya.

Watak tawakal atau narima adalah suatu harta
yang tiada dapat habis-habisnya sepanjang masa,
oleh karena itu barang siapa yang ingin kaya raya,
upayakanlah di dalam watak tawakal menerima.
Orang yang sudah dapat tawakal menerima
tentulah beruntung di dalam segala hidupnya
oleh sebab dia unggul dan senantiasa jaya
atas berubah bergantinya keadaan dunia.

Ketahuilah wahai engkau semua
bahwa kehidupan di dunia yang fana
merupakan suatu roda perputaran masa
atau cakramanggilingan istilah lainnya
yang setiap saat berubah berganti tentunya:
apabila engkau tetap dalam tawakal menerima
dengan apa pun yang telah dianugerahkan-Nya
engkau senantiasa menjadi orang yang paling kaya
di antara para umat manusia yang berada di dunia.

Apabila keinginanmu tidak terpenuhi juga
tetaplah engkau dalam tawakal menerima,
dengan apa yang telah engkau memilikinya,
sebab sekalipun tidak terpenuhi semuanya,
bukankah sebagian sudah engkau milikinya?
Hanya watak tawakal menerimalah, niscaya
yang dapat menutun hatimu menjadi cerah ceria.
Hanya watak tawakal menerimalah, semestinya
mengandung rasa tenang, tenteram, dan bahagia.

Hanya watak tawakal narimalah, seharusnya
engkau semua sudah tidak akan merasa:
terombang-ambing oleh perputaran dunia,
timbul-tenggelamnya bahtera kehidupan fana,
dan berbagai penderitaan hidup sengsara papa
yang senantiasa engkau alami dalam setiap harinya.

Bekasi, 9 Februari 2015

No comments:

Post a Comment