SELAMAT DATANG

Saudaraku, selamat datang di blog GITA PUJA. Saudaraku, berbagi ilmu pengetahuan, wawasan, dan apa pun yang kita miliki merupakan ibadah. Senyampang masih dapat kita lakukan, mengapa tidak segera kita lakukan? Ayo segera berbagilah kepada kami dan kawan-kawan lainnya dengan cara memberi masukan, komentar, kritik, saran, catatan, dan apa pun tentang blog ini demi kebaikan kita bersama membangun peradaban bangsa dan negara di dunia. Selamat membaca, selamat menikmati sajian dalam blog ini, dan selamat berapresiasi. Salam takzim kami. Beres! Sehat! Sukses! Yes!

Monday, 2 February 2015

CEGAH DHAHAR LAN GULING




CEGAH DHAHAR LAN GULING

Secara harfiah, cegah dhahar lan guling, bermakna:
mengurangi makan dan tidur, melakukan tapa brata.

Makan, minum, tidur, dan syahwat ialah kenikmatan.
Bilamana kenikmatan dunia terus-menerus dibiarkan,
mengakibatkan dirimu lupa akan tugas dan kewajiban.
Sebab itu perlu sekali mengurangi segala kenikmatan.

Jikalau ingin mendekatkan diri pada Yang Maha Esa
lebih mulia dengan dilambari melakukan tapa brata,
agar menjadikan sempurna kewajiban tiga perkara:
syahadat, melakukan panembah, dan berbudi darma.

Disebut tapa brata ialah mengurangi atau membatasi
makan, minum, tidur, dan juga syahwat nafsu hewani
yang menuju pada semua perbuatan yang tidak terpuji
sehingga angan-angan dan nafsunya dapat terkendali.

Sebab janganlah kenyang, tetapi jangan pula kelaparan.
Jangan kebanyakan berjaga, tetapi jangan pula ketiduran.
Janganlah mengumbar nafsu, tetapi nafsumu dikendalikan.
Upayakan sedang, jangan berlebihan atau umbar-umbaran.

Sekalipun orang berusaha mengekang hawa nafsunya,
supaya menjadi baik dan mau taat pada karsa jiwanya,
jikalau masih mengumbar makan, minum, dan tidurnya,
berarti niat menakhlukkan nafsumu, belumlah terlaksana.

Caramu bertapa brata upayakanlah dengan seperlunya,
jangan dipaksa sehingga dapat merusakan badan raga,
aturlah dari sedikit demi sedikit sehingga menjadi biasa,
agar badan tetap kuat, sehat, mampu menjalankan karsa.
 
Sesungguhnya pelaksanaan brata yang masih dipaksa
oleh pelbagai aturan yang ada itu belumlah sempurna.
Brata yang sempurna ialah keluar dari kesucian hatinya,
tidak karena pamrih akan barang-barang dunia yang fana,
tidak pula karena ingin disanjung puja, dianggapnya dewa,
tetapi hanya sarana menakhlukkan nafsu angkara murka
supaya tercapailah tujuan hidup yang senyata-nyatanya
dapat pulang kembali ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa.
 
Bekasi, 2 Februari 2015

No comments:

Post a Comment