SELAMAT DATANG

Saudaraku, selamat datang di blog GITA PUJA. Saudaraku, berbagi ilmu pengetahuan, wawasan, dan apa pun yang kita miliki merupakan ibadah. Senyampang masih dapat kita lakukan, mengapa tidak segera kita lakukan? Ayo segera berbagilah kepada kami dan kawan-kawan lainnya dengan cara memberi masukan, komentar, kritik, saran, catatan, dan apa pun tentang blog ini demi kebaikan kita bersama membangun peradaban bangsa dan negara di dunia. Selamat membaca, selamat menikmati sajian dalam blog ini, dan selamat berapresiasi. Salam takzim kami. Beres! Sehat! Sukses! Yes!

Friday, 21 February 2014

MENARA BABEL


MENARA BABEL
 
Sebermula,
bangsa-bangsa di seluruh dunia
hanya mempunyai satu bahasa
dengan memakai kata-kata yang sama
logat dan ucapannya pun tiada berbeda.

Pada suatu ketika
masih di zaman dahulu kala
anak cucu Adam mulai mengembara
sampailah mereka di sebuah dataran Babilonia,
mereka berhenti, istirahat, lulu menetap di sana.

Pemimpin kafilah berkata kepada yang lainnya,
"Ayolah kita bersama-sama membuat batu bata,
mengeringkan, lalu membakar hingga membara,
agar dapat dipakai membangun rumah dan kota."
Ajakan pemimpin kafilah itu disetujui semuanya.

Demikianlah mereka dan kini mempunyai batu bata
membangun rumah dengan ter sebagai perekatnya.
"Mari kita mendirikan kota dengan sebuah menara,
dengan puncaknya sampai menjulang ke angkasa,
supaya negeri kita jadi masyhur ke seluruh dunia.”

Oleh karena itu, turunlah Tuhan untuk melihat kota
dan juga menara yang didirikan manusia di dunia.
Lalu bersabdalah Tuhan: "Mere­ka ini satu bangsa
dengan satu logat, ucapan, dan bahasa yang sama,
dan ini baru permulaan dari rencana-rencana mereka.
Tak lama lagi mereka akan sanggup melakukan apa saja.
Sebaiknya Kami turun dan mengacaukan bahasa mereka
supaya mereka tidak lagi mengerti bahasa satu sama lainnya."

Sejak saat itu, Tuhan berkenan mencerai-beraikan mereka,
kemudian, anak cucu Adam berpencaran ke seluruh dunia,
mengais rezeki, belajar, dan bekerja dengan bahasa berbeda
satu tempat dengan satu tempat lainnya saling tak mengenalnya,
hanya satu yang mereka sisakan, yakni satu bahasa kesadaran jiwa:
sebagai hamba haruslah berbakti, beriman, dan bertakwa kepada-Nya
agar perjalanan dari pondok dunia ke akhirat dapat selamat sejahtera.

 
Jakarta, 21 Februari 2014

No comments:

Post a Comment