SELAMAT DATANG

Saudaraku, selamat datang di blog GITA PUJA. Saudaraku, berbagi ilmu pengetahuan, wawasan, dan apa pun yang kita miliki merupakan ibadah. Senyampang masih dapat kita lakukan, mengapa tidak segera kita lakukan? Ayo segera berbagilah kepada kami dan kawan-kawan lainnya dengan cara memberi masukan, komentar, kritik, saran, catatan, dan apa pun tentang blog ini demi kebaikan kita bersama membangun peradaban bangsa dan negara di dunia. Selamat membaca, selamat menikmati sajian dalam blog ini, dan selamat berapresiasi. Salam takzim kami. Beres! Sehat! Sukses! Yes!

Saturday, 1 February 2014

BIMA MANUNGGAL


BIMA MANUNGGAL

Bima bersama saudara Pandawa
berguru kepada Begawan Dorna
di Sokalima, negeri Hastinapura
sejak anak-anak hingga dewasa.

Bima memohon kepada Guru Dorna
adakah sejatinya ilmu sempurna
agar hidup manusia bahagia
di dunia dan di akhirat nantinya.

Sang Pendeta pun memberikan
beberapa petunjuk sebagai wejangan
agar Bima mampu mendapatkan
dan menemukan ilmu kesempurnaan.

Pendeta Dorna menyuruh Bima
untuk mencari dan menemukan
wit gung susuhing tapa angin
berada di Gunung Candramuka.
 
Tanpa menunggu komando lagi,
berangkatlah Bima untuk mencari
apa yang diamanatkan gurunadi
wit gung susuhing tapa angin tadi.

Di Gunung Candramuka
Bima bertemu dua raksasa
Rukmuka dan Rukmakala
wajah seram siap memangsa.

Setelah terjadi perselisihan,
duel pun tidak terhindarkan.
Tanpa banyak perlawanan,
raksasa menemui ajal kematian.

Dua raksasa sirna berganti rupa
jadi Dewa Bayu dan Dewa Indra,
dan Bima pun hormat kepadanya.
Kedua dewa mengatakan bahwa
wit gung susuhing tapak angin nyata
tidak ada di Gunung Candramuka,
Bima harus kembali ke Sokalima
kepada Pendeta Dorna meminta
penjelasan yang sebenar-benarnya
wit gung susuhing tapak angin di mana.

Sesampainya di padepokan Sokalima
Sang Pendeta Dorna tidak lagi meminta
wit gung susuhing tapak angin kepada Bima
tapi meminta dicarikan tirta pawitra sari saja
di dasar samudera minangkalbu berada
yang tidak jauh-jauh tempatnya dari Bima.

Bima pun segera berangkat mencari
dan menemukan tirta pawitra sari
di dasar samudera minangkalbu
tempatnya di mana samudera itu,
sesungguhnya Bima juga tidak tahu.

Sesampainya di tepi suatu samudera,
was khawatir ragu-ragu menghinggapinya.
Akan tetapi, hal itu hanyalah sesaat saja,
tekad Bima bulat dan penuh percaya,
diserahkan kepada Tuhan semuanya,
tanpa pikir panjang pertimbangan apa-apa,
Bima langsung terjun ke suatu samudera.

Bima tergulung ombak ke tengah samudera,
tiba-tiba muncul ular naga berkepala tiga,
lalu Bima berperang dengan ular naga,
akhirnya ular naga mati, musnah seketika,
di tengah alunan ombak manembahlah Bima
sampai heneng hening, antara ada dan tiada.

Makna ular naga berkepala tiga
lambang angan-angan manusia
yang sejatinya bersifat tiga juga,
yaitu Pangerti, Nalar, dan Cipta,
disebut Kemayan, Prabawa, dan Pangaribawa.
Mati atau musnahnya ular naga berkepala tiga
melambangkan angan-angan yang bersifat tiga
telah dapat “terselam dalam keheningan” dunia
Setelah angan-angan “terselam dalam keheningan” dunia,
barulah Bima dapat menerima Wahyu Tuhan Yang Maha Esa
yang terdengar “jelas dan nyaring di dalam ruasnya rasa”.


Ketahuilah olehmu, yang disebut Ilmu Sejati
adalah Petunjuk yang Nyata asal Ilahi,
yakni petunjuk yang menunjukkan Jalan Benar hakiki,
ialah Jalan yang sampai pada asal dan tujuan hidup ini.

Pokok ilmu yang tersimpan di dalam Ilmu Sejati
ialah “ilmu asal dan tujuan hidup” makhluk Ilahi
disebut juga dengan nama Hastha Sila,
yaitu Panembah Batin Delapan Perkara.
Hastha Sila itu terdiri atas dua perkara:
yakni Tri Sila dan Panca Sila.

Tri Sila itu Panembahnya Hati dan Cipta
tiga perkara kepada Tuhan Yang Mahakuasa.
Tri Sila wujud kesanggupan besar yang perlu juga
dilaksanakan semua umat di dalam setiap harinya,
yaitu manusia harus senantiasa
Sadar, Percaya, dan Takwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa
yang mengusai semesta alam seisinya.

Agar manusia dapat sempurna
melaksanakan kesanggupan besar trisila
manusia wajib hukumnya untuk berusaha
agar dapat memiliki juga lima watak utama
atau perbuatan kebajikan lima perkara,
apa yang disebut Panca Sila,
yaitu Rela, Jujur, Sabar, dan Narima
serta Budi Luhur atau Budi Mulia.

Sebagai tangga untuk dapat menuju
agar mencapai watak Hastha Sila itu
manusia haruslah berjalan di Jalan Rahayu
disebut juga dengan Panca Darma Bakti, yaitu:
1.   Meresapkan Paugeran Tuhan kepada hamba,
sebagai dasar keparcayaan yang benar-benar nyata.
2.   Melaksanakan Panembah kepada Tuhan Yang Maha Esa
sebagai tanda berbakti dan tali kasih kesadaran hamba.
3.   Melaksanakan Budi Darma,
upaya membabarkan rasa kasih sayang kepada sesama.
4.   Mengendalikan Hawa Nafsu manusia,
nafsu yang menuju ke perbuatan tercela.
5.   Berusaha untuk dapat menetapinya
derajat Budi Luhur atau Budi Mulia.

Selain dari itu, wahai semua umat manusia,
engkau wajib berikhtiar atau berusaha:
jangan menerjang Larangan Yang Mahakuasa,
yang disebut juga dengan istilah Paliwara,
yaitu ada lima perkara yang menjadi larangan-Nya:
1.   Janganlah engkau menyembah selain kepada Allah Ta’ala.
2.   Berhati-hatilah engkau terhadap hal syahwat manusia.
3.   Janganlah engkau makan atau mempergunakan makanan
yang dapat memudahkan cepat rusaknya
badan jasmani dan budi pekerti manusia.
4.   Patuhilah Undang-undang Negara dan peraturannya.
5.   Janganlah engkau berselisih atau bertengkar dengan sesama.

Demikianlah ringkasan apa yang disebut dengan Ilmu Sejati
ialah Ilmu yang menunjukkan asal mula dan tujuan hidup insani
dan akhirnya Bima pun bertunggal dengan Sang Guru Sejati.

Jakarta, 14 Februari 2011




No comments:

Post a Comment