Monday, 17 January 2011

Pendadaran di Yogaasrama

4. Pendadaran di Yogasarama

Di tengah suasana penuh gembira menyambut kehadiran putra raja,
yang baru tiba di Ayodya dari pertapaan pendeta negara Resi Wasista,
Datanglah di Ayodya Maharesi Wiswamitra didampingi Resi Wasista
Raja Dasarata pun menyambut kehadiran mereka dengan penuh suka cita
“Selamat datang di negeriku, wahai Maharesi Wiswamitra yang mulia
Adakah gerangan tujuan Paduka Maharesi berkenan datang di Ayodya,”
sabda Baginda Raja Dasarata setelah mempersilakan duduk tamunya.

“Wahai Raja Dasarata, engkau sungguh rendah hati dan berbudi mulia
Kedatanganku ke Ayodya hendak meminta bantuan menumpas angkara
Hutan tempat pertapaanku akhir-akhir ini diganggu oleh para raksasa
Mereka tak segan-segannya memporak-porandakan tempat puja brata
Para resi menjadi tidak tenang lagi melaksanakan berbagai upacara,
tentu bantuan dari negeri Kosala yang menjadi harapan para pertapa,”
tutur Maharesi Wismamitra menjawab pertanyaan Baginda Raja.

“Siapakah mereka berani membuat kekacauan di negeri bangsa Arya
Janganlah engkau merasa was-khawatir lagi Sang Maharesi Wiswamitra
Tentulah aku sebagai Raja Negeri Kosala melindungi setiap warganya
Sudah menjadi kewajiban raja untuk membantu pendeta dan pertapa,”
sabda Baginda Raja Dasarata dengan suara lantang penuh membara.

Maharesi Wiswamitra segera menjawab sabda Baginda Raja Dasarata:
“Mereka adalah Subahu dan kawan-kawan raksasa suruhan Rahwana
Dengan kekuatan gaibnya mereka berupaya memperdaya para pertapa
Oleh karenanya kami memohon bantuan Ananda Rama dan Laksmana
Agar berkenan menjadi pelindung dengan mengusir para raksasa.”

Baginda Raja Dasarata terkejut mendengar permintaan Wiswamitra
Rama dan Laksmana adalah kedua putranya masih sangat muda belia
Tentu belum berpengalaman di medan laga melawan para raksasa
Merasa ragu Baginda Raja Dasarata akan kemampuan kedua putranya

Keraguan Baginda Raja Dasarata tampaknya diketahui juga oleh Wasista
Dengan kerendahan hati Guru para ksatria itu memohon dikabulkannya
Percayalah bahwa Rama dan Laksmana mampu melindungi para pertapa
Meski berat hati, Raja Dasarata akhirnya meluluskan permintaan mereka

Hari itu juga Rama dan Laksmana kembali meninggalkan istana Ayodya
Maharesi Wiswamitra kembali ke pertapaan diiringi Rama dan Laksmana
Kedua ksatria itu kini menjadi murid utama Sang Maharesi Wiswamitra
Mengemban tugas mengusir para raksasa yang mengganggu para pertapa

Pertapaan Sang Maharesi Wiswamitra berada di tengah hutan Dandaka
Hutan lebat, belantara penuh mara bahaya, siapa pun berani melewatinya
taruhannya nyawa, binatang buas, jin, setan, dan raksasa siap memangsa
Rama dan Laksmana mengikuti pendadaran Sang Maharesi Wiswamitra.

Kedua ksatria diberi tambahan ilmu sebelum mengemban tugas mulia
Maharesi Wiswamitra berkenan menurunkan “Sanjiwani” kepada Rama
Kepada Laksmana, Wiswamitra berkenan memberi ilmu “Rajah Kalacakra”
Gabungan ilmu keduanya mampu menakhlukan segala angkara di dunia
Selain itu, Rama juga mendapatkan pusaka panah sakti Guwa Wijaya

Suatu malam telah larut, tiba-tiba datang raksasa Tadaka ke asrama
Secara beringas raksasa Tadaka memporak-porandakan altar gita puja
Rama dan Laksmana dengan cekatan segera berusaha mencegahnya
Melihat kehadiran dua ksatria itu Tadaka semakin membabi buta

Di malam yang gelap gulita terjadilah peperangan di antara mereka
Rama dan Laksamana dengan lincahnya melayani tingkah-polah raksasa
Namun, tiba-tiba datang raksasa lain yang sungguh banyak jumlahnya
Rama dan Laksamana segera mengambil busur dan anak panahnya
Satu per satu raksasa yang datang mengerubutnya itu tewas seketika
Anak panah sakti kedua kasatria itu mampu menyudahi riwayat mereka
Setelah menyelesaikan tugasnya, Rama dan Laksmana kembali ke asrama
Maharesi Wiswamitra merasa bangga menyambut kedua ksatria utama
Sejak saat itu pertapaan Yogaasrama tempat tinggal Wiswamitra
Kembali aman, tentram, dan tidak ada lagi gangguan dari para raksasa

Kedua ksatria digembleng mental dan kepribadiannya setangguh baja
Pendadaran di pertapaan Yogaasrama ini bagaikan kawah candradimuka
Dari bangun pagi hingga larut malam terus berlatih raga, pikir, dan rasa
Akhirnya, Rama dan Laksmana pun tumbuh menjadi ksatria purusatama.

Sunday, 16 January 2011

Rama Bersaudara

3. Rama Bersaudara



Beberapa waktu setelah diadakan upacara aswameda,
Ketiga permaisuri jelita itu kemudian mengandung anak raja
Wajah cerah tampak berseri-seri menghiasi roman muka mereka
Baginda Raja Dasarata pun bersyukur dan merasa bahagia.

Setelah menunggu dengan gembira sembilan bulan lamanya
Permaisuri Kosala melahirkan seorang putra yang perwira
Anak itu sungguh tampan, gagah, dan diberi nama Rama,
dengan harapan kelak tumbuh menjadi ksatria pengemban darma.

Permaisuri Kekayi juga melahirkan seorang putra
Anak itu tampak gagah pemberani dan rupawan jua
Raja Dasarata memberi nama anak keduanya Bharata,
dengan harapan kelak menjadi ksatria masyhur di seluruh dunia.

Sementara itu, permaisuri raja yang ketiga, Sumitra
Dua anak lelaki kembar dilahirkan dari gua-garbanya
Laksmana, anak yang senantiasa patuh, tabah, dan jaya
Satruguna, ksatria pemberani dan pantang putus asa.

Keempat putra raja Dasarata keturunan Raghuwangsa
Menyatu dalam ikatan kasih sayang bersaudara
Rama dan Laksmana tumbuh sebagai ksatria utama
Bharata dan Sutruguna selalu patuh setia kepada saudara tua.

Untuk mengasah keterampilan mereka sebagai seorang ksatria
Raja Dasarata mempercayakan hal itu kepada Resi Wasista
Untuk mendidik, melatih, dan mengajarinya akan ilmu utama
Oleh karenanya mereka harus meninggalkan istana Ayodya.

Di tengah hutan belantara tempat pertapaan Resi Wasista
Bersama istri tercinta, Arundati, Sang Resi mendidik putra raja
Wasista mengajari mereka disiplin hidup, kerja keras, dan puja brata
Arundati mendampinginya dengan melatih kepekaan akan rasa,
menumbuhkan harga diri, semangat hidup, mencintai alam semesta,
berolah seni, dan menghaluskan budi pekerti yang luhur dan mulia.

Mereka berdua mendidik dengan mamadukan olah raga, pikir, dan rasa
Olah raga mengembangkan kekuatan jasmani agar gagah perkasa
Olah pikir membentuk ketajaman nalar secara cerdas bijaksana
Olah rasa menumbuhkan kepekaan supra-sosial kasih yang nyata
Cara pendidikan ini jikalau berhasil masuk ke dalam nurani siswa,
mereka akan menjadi ksatria yang berkepribadian utuh dan mulia.

Sudah bertahun-tahun lamanya mereka menjadi siswa Resi Wasista
Sang Resi telah mengajarkan segala ilmu yang dimilikinya
Arundati pun senantiasa mengamati kemajuan keempat putra raja
Suatu hari ibu asrama ini menghadap Sang Resi seraya berkata:
“Wahai Suamiku, sudah saatnyalah mereka kembali ke Ayodya
Segala ilmu yang kita miliki telah kita berikan kepada mereka
Kini, keempat putra raja itu tumbuh menjadi ksatria purusatama,
yakni sakti tak tertandingi, rendah hati, berpekerti luhur dan mulia.
Sudah saatnyalah mereka menghadap ayah-bunda di istana Ayodya.”

Suatu hari di musim semi angin menebarkan bau semerbak mewangi
Keempat putra raja Dasarata menghadap Guru hendak memohon diri
Dirasa telah cukup mereka menimba berbagai ilmu dari Sang Maharesi
Wasista dan Arundati pun melepas mereka pergi walaupun berat di hati.

Sesampainya di istana Ayodya, mereka segera menghadap Baginda Raja
Mewakili adik-adiknya, Rama menghaturkan sembah seraya berkata:
“Sembah bakti sujud Ananda semua sekiranya Ayah-Bunda terima
Kami telah menyelesaikan segala kewajiban sebagai siswa Resi Wasista
Segenap ilmu raga dan batin telah hamba pelajari dengan sempurna
Kini saatnya, kami semua siap sedia mengemban tugas mulia negara.”

Baginda Raja dan ketiga Permaisuri itu pun merasa bangga dan bahagia
“Wahai, anakku semua. Engkau kini telah tumbuh sebagai ksatria utama
Darma seorang ksatria utama memang harus mampu membela negara
Melindungi rakyat dari segala ancaman perbuatan jahat para angkara
Beristirahatlah terlebih dahulu engkau semua, tak perlu tergesa-gesa,”
sabda Baginda Raja kepada anak-anaknya yang baru tiba di Ayodya.

Kehadiran kembali putra-putra Raja Ayodya itu menyemarakkan suasana
Baginda bahagia melihat putra-putranya tumbuh sebagai ksatria utama
Apalagi mereka memiliki sifat-sifat yang sungguh berbudi pekerti mulia
Jujur, dapat dipercaya, sabar, adil, penuh kasih, santun, dan bijaksana.

Upacara Aswameda


Upacara Aswameda 

Kanda pertama Ramayana dinamai Balakanda
Kisah ini bermula dari negeri Ayodya
Prabu Dasarata memiliki tiga permaisuri jelita
Mereka adalah Kosala, Kekayi, dan Sumitra

Prabu Dasarata sedang bermuram durja
Sudah lama menikah tidak kunjung dikaruniai putra
Sehingga Raja Dasarata merasa dirinya hampa
Senantiasa gelisah, resah, kecewa, dan putus asa

Sutau hari, dalam keputusasaan Raja Dasarata
Datanglah guru negara mereka, Resi Wasista
Lalu, segeralah Sang Raja Dasarata bersabda:
“Wahai Guru yang mulia, satu-satunya permohonan hamba
Jangan biarkan matahari tenggelam bersama kematian hamba.”

Takzim hormat Raja diikuti juga ketiga permaisurinya
Raja Dasarata bersujud di hadapan Sang Resi Wasista
Sang Resi pun menerima sembah sujud mereka
Seraya berkata: “Baginda dan Tuanku Putri-Putri nan jelita
Janganlah engkau semua merana dan putus asa,
Tuhan tentu akan mengabulkan apa yang Tuan pinta
Namun, ada syarat yang harus dipenuhi jua
Upacara persembayangan memohon anugerah putra.”

“Jikalau hanya demikian yang menjadi persyaratannya,
Tentulah kami semua dapat melaksanakannya.
Untuk hal itu sekiranya tidak perlu ditunda-tunda,”
desak ketiga permaisuri raja dengan semangat membara.

“Tuanku Putri, mohon maaf beribu maaf sekiranya
Hamba bukanlah orang yang pantas memimpin upacara
Hanya mahaguru yang menguasai kitab Atharwa Weda
Berwenang memimpin upacara, yakni Maharesi Risyasringa.”

Atas saran bijakasana Resi Wasista itu selanjutnya
Raja Dasarata menghadap sendiri ke Maharesi Risyasringa
Sang Pertapa Mulia pun berkenan memimpin upacara aswameda,
yaitu upacara persembahan kuda untuk memohon anugerah putra.

Upacara aswameda dimulai dengan persembahan agnihotra
Pemujaan terhadap Brahma sebagai Hyang Widhi Sang Pencipta
Agnihotra dilaksanakan dengan melakukan sembahyang puja brata
Obor altar pemujaan menyala terang memancarkan sinar biru maya.

Kuda-kuda persembahan sebenarnya sebagai simbol nafsu manusia
Setiap saat, setiap waktu, nafsu-nafsu manusia harus dikendalikannya
Jangan sampai nafsu-nafsu manusia itu merajalela menjadi angkara
Mengatur sedemikian rupa nafsu hinga mampu melaksanakan tugas mulia

Kuda hitam sebagai nafsu Lauwamah berasal dari anasir tanah dunia
Dia berada di sekujur daging menjadi dasar kekuatan jasmani manusia
Lauwamah berwatak makan, minum, tidur, syahwat, tamak, iri, dan loba
Juga Lauwamah bersifat dengki, fitnah, munafik, aniaya, serta angkara
Apabila dapat dikendalikannya, Lauwamah itu dapat tahan menderita.

Kuda kuning berasal dari unsur air, ada di sumsum, nafsu Sufiah namanya
Kekuatan Sufiah dapat mendekatkan segala apa yang diinginkan manusia
Sufiah berwatak keinginan yang beraneka rupa yang terlintas di cipta
Apabila dapat dikendalikannya, Sufiah itu dapat menjadi cita-cita mulia.

Kuda merah berasal dari unsur api, ada di darah, nafsu Amarah namanya
Kekuatan Amarah sebagai motivator dapat menggerakkan kemauan manusia
Apabila Amarah kuat, manusia mempunyai kemauan yang tak kunjung reda
Amarah sewaktu-waktu dapat dilepasakan mendadak seketika itu juga
Apabila dapat dikendalikan, Amarah dapat menjadi sumber kekuatan kerja
yang tepat berdaya dan berhasil guna serta tak pernah mengenal putus asa.

Kuda putih berasal dari unsur suasana, berada di dalam napas manusia
Secara transenden, kuda putih melambangkan nafsu Mutmainah namanya
Kekuatan Mutmainah mampu menyusun kehidupan secara bersama-sama,
mendorong manusia mencapai persatuan dan kesatuan yang rukun sentosa,
rela berkorban, saling menghormati, dan kasih sayang terhadap sesama
serta bersatu kembali dengan Sang Pencipta yang didorong Mutmainah juga.

Makna upacara aswameda tiada lain mengatur kuda nafsu-nafsu manusia
Kombinasi Lauwamah, Amarah, dan Sufiah dapat menjadi kekuatan raga
Kombinasi demikian itu dapat berlebiham sehingga mendatangkan bencana
Sebaiknya dikombinasi antara Mutmainah, Amarah, dan Sufiah yang sentosa
agar dapat mendatangkan rasa aman, tentram, sejahtera, dan bahagia.

Saturday, 15 January 2011

Perkenalkan Aku











  1. Perkenalkan Aku

Perkenalkan wahai Saudara
Aku adalah Ramayana
Kisahku semula berasal dari India
Walmiki itu penulis awalnya

Dalam khazanah sastra Jawa
Aku digubah juga oleh mereka
Dikenal sebagai Kakawin Ramayana
Berbentuk bahasa Jawa Kuna

Selain itu, dalam bahasa Jawa
Ada juga Aku dinamai Serat Rama 
Ditulis oleh pujangga Surakarta
Raden Ngabehi Jasadipura namanya

Masih berada di tanah Jawa
Kisahku dipakai sebagai relief candi
Kadang dibuat lakon sentratari
Sering sebagai pedalangan wayang kulit purwa

Di tanah Melayu Aku juga ada
Mereka menamakan Hikayat Sri Rama
Kisahku juga kurang lebih sama
Perjalanan hidup Sang Sri Rama

Asal-muasal kisahku, Ramayana
Ditulis dalam bahasa Sansekerta
Terdiri atas tujuh bab atau kanda
Itulah sebabnya disebut Saptakanda

          Agar saudaraku semua mengetahuinya
          Baiklah kukisahkan Wiracarita Ramayana
          Dari kanda pertama hingga ketujuh kanda
          Baik-baik bacalah dengan rasa suka cita.

Thursday, 30 December 2010

Doa dan Harapan Akhir Tahun


DOA DAN HARAPAN AKHIR TAHUN

Saya berharap teman-teman semua sehat dan kuat
Sehingga setiap hari dapat merasakan hidup nikmat
Bahkan nyaman, tentram, sejahtera, bahagia, dan selamat

Saya berharap teman-teman semua penuh rasa cinta kepada sesama
Kasih sayang dan penuh kedamaian di dalam hati kita semua
Bersama-sama membangun peradaban dunia yang bahagia dan sejahtera

Saya berharap keindahan alam yang penuh daya pesona maya dunia
Dapat kita nikmati dan rasakan sebagai karunia Allah Ta’ala
Agar kita senantiasa bersyukur untuk meningkatkan iman dan takwa

Saya berharap kebijaksanaan memilih sebagai prioritas utama
Untuk hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup kita
Cahaya kebijaksanaan Tuhan senantiasa memancar ke seluruh dunia
 
Saya berharap kedermawanan teman-teman dapat membabarkan kasih
Bersama-sama mengentaskan penderitaan agar bencana segera menyisih
Semua hal baik, benar, mulia, dan luhur yang datang ke kita sungguh indah

Saya berharap sungguh: kesejahteraan, kententraman, dan kebahagiaan
Senantiasa dapat meliputi teman-teman sekalian di mana dan kapan pun
Oleh karena semata kasih, lindungan, tuntunan, dan pencerahan Tuhan

SELAMAT TAHUN BARU TEMAN!
Semoga Anda dan keluarga penuh kedamaian,
kesejahteraan, ketentraman, dan kebahagiaan.

Bekasi, 30 Desember 2010

Tuesday, 28 December 2010

Monolog Interior Cerpen-Cerpen Sandi Firly

Monolog Interior dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai ekacakap dalaman, yakni percakapan panjang yang diucapkan oleh seorang tokoh dalam sebuah karya sastra, baik yang ditujukan kepada diri sendiri maupun kepada pembacanya. Biasanya dalam gaya monolog interior ini tokoh aku suka membayangkan peristiwa-peristiwa yang pernah dialaminya, yang sedang dialami, dan yang akan dialaminya. Dalam cerpen-cerpen karya Sandi Firly, penulis yang berasal dari Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, anak bangsa negeri ini, banyak berbicara tentang tokoh aku yang suka melamun, berbicara sendiri dalam mengingat masa silam, yang sedang dialami, dan yang akan dialaminya sehingga kadang terkesan omong kosong atau lamunan belaka yang tak tentu rimbanya. Akan tetapi, nilai dalam buku kumpulan cerpennya ini bukan pada keomongkosongan atau lamunan yang tak berarti. Apa yang diungkapkan oleh Sandi Firly semuanya berbicara tentang kehidupan, ya sekali lagi berbicara tentang kehidupan.
            Tujuh cerita pendek Sandi Firly dalam buku kumpulan cerpen bersama Harie Insani Putra, Perempuan yang Memburu Hujan, yaitu (1) “Bulan Belah Semangka”, (2) “Perempuan yang Memburu Hujan”, (3) “Jerit Ranjang di Kamar Nomor 9”, (4) “Kematian yang Terlalu Pagi”, (5) “Menunggu HP Berderit”, (6) “Senja Kuning Sungai Martapura”, dan (7) “Tubuh dan Kepala Mencari Rupa”, lebih banyak menggunakan teknik sudut pandang akuan terlibat. Artinya, tokoh aku dapat berperan ikut terlibat di dalam cerita yang disajikan. Pencerita ada di dalam kisah itu, bukan sebagai pengamat melainkan yang terlibat langsung dalam cerita tersebut.
            Cerita “Bulan Belah Semangka” berkisah tentang kota yang tidak pernah ada bulan sabit dan bulan purnamanya. Yang ada hanya bulan belah semangka. Bulan sabit melambangkan awal dari segala sesuatu, sementara bulan purnama melambangkan akhir dari sebuah perjalanan yang penuh kebahagian atau kesempurnaan total. Bulan sendiri melambangkan penerangan atau pencerahan. Jadi, cerita ini berkisah tentang renungan hidup tentang tiada diketahuinya awal kehidupan dan akhir kehidupan. Sementara, yang dapat kita ketahui dengan kasat mata adalah kehidupan yang sedang kita jalani ini saja.
            ”Perempuan yang Memburu Hujan” yang menjadi master beberapa cerpen di dalamnya berkisah tentang seseorang berjenis kelamin perempuan yang misterius, sukanya berhujan-hujan, bahkan karena terobsesinya akan hujan maka ia memburu hujan hingga lenyap atau lebur di dalamnya. Perempuan itu melebur menjadi satu dengan hujan hingga mencapai kesempurnaan total. Hidup ini terasa absurd. Kadang tanpa kita sadari bahwa perbuatan gila seperti itu muncul begitu saja dalam perilaku hidup manusia di dunia ini, aneh, absurd, dan bagi orang lain dianggapnya tidak sehat padahal itu adalah keniscayaan.
            Kita dihibur oleh Sandi dengan lelucon yang agak satir, yaitu dalam cerpennya ”Jerit Ranjang di Kamar Nomor 9”. Tokoh aku yang sedang mengadakan perjalanan ke daerah, ia singgah untuk menginap di sebuah losmen atau hotel kecil di kamar 10. Di kamar sebelah tempat tokoh aku menginap, yakni kamar nomor 9, dihuni oleh sepasang insan yang sedang memadu kasih. Cara sepasang kekasih dalam memadu cinta itu cukup aneh, terdengar sampai di luar ranjangnya berbunyi kreot-kreot. Sesuatu kadang membuat kita geli dengan lelucon seperti ini. Si tokoh Aku tidak tahan mendengar bunyi ranjang yang terus-menerus menjerit itu, dibukanya pintu nomor 9 yang tanpa dikunci, ternyata penghuninya hanya seorang wanita gemuk. Si lelaki yang menemaninya tidak dikelihatan, entah di mana. Lima hari kemudian setelah kembali dari daerah, tokoh aku kembali ke hotel yang sama. Ia terkejut dengan adanya garis polisi di kamar nomor 9, ternyata lima hari yang lalu di tempat itu terjadi pembunuhan. Tokoh aku pun dicurigai sebagai pembunuhnya.
            Kematian itu tidak menunggu umur. Ibarat buah kelapa, ada yang masih berwujud manggar (bunga) dapat terjadi keguguran. Demikian halnya yang terjadi pada diri manusia, ada yang masih bayi dalam kandungan, baru lahir, anak-anak, remaja, dewasa, hingga tua renta sekalipun dapat sewaktu-waktu meninggal dunia. Demikian salah satu isi pesan dalam cerpen ”Kematian yang Terlalu Pagi”. Tokoh aku yang sedang bercinta dengan kekasihnya, Samira, merasa kehilangan besar atas kematian kekasihnya itu. Ia merasa begitu cepat sang maut menjemput kekasihnya itu.
             Sekarang orang demam HP, telepon genggam produk luar negeri sebagai media komunikasi. Cerpen ”Menunggu HP Berderit” berkisah tentang tokoh aku yang gelisah menunggu HP-nya berderit, menunggu datangnya SMS atau panggilan. Ada sesuatu yang ditunggu. Karena tidak sabar, tokoh aku langsung membuang HP-nya ke dalam akuarium. Setelah HP itu di dalam akuarium, baru terdengar dering bel masuk. Apalacur sudah terlanjur, ibarat nasi telah menjadi bubur, mau diapakan lagi kalau sudah tercebur?
            Mitos tentang ”Senja Kuning Sungai Martapura” menggambarkan adanya kepercayaan masyarakat tentang hadirnya marabahaya yang ditandai oleh hadirnya semburat warna kuning di senja hari, yakni di seputar Sungai Martapura. Tanda alam seperti itu menurut kebiasaan masyarakat setempat akan terjadi kecelakaan, tragedi, dan kematian di sungai Martapura. Memang akhirnya menjadi kenyataan bahwa sungai Martapura memakan korban orang meninggal di sana.
            Cerita pendek terakhir yang mengambil latar di Kalimantan Tengah beberapa tahun yang lalu, yakni  cerpen ”Tubuh dan Kepala Mencari Rupa”. Sandi mengingatkan kepada kita betapa sedih dan dukanya apabila tubuh dan kepala tidak menjadi satu. Tubuh tanpa kepala akan menjadi robot, kepala tanpa tubuh akan menjadi hantu. Akibat peperangan, kerusahan, nilai kemanusiaan hilang begitu saja. Padahal kita semua adalah bangsa yang bermartabat, beradab, dan bermoral menjunjung nilai kemanusiaan.
            Apabila ketujuh cerpen karya Sandi Firly ini disatukan, akan menjadi sebuah monolog interior yang panjang tentang kehidupan. Tiap-tiap cerpen merupakan satu episode kehidupan, satu tarikan napas panjang yang mengungkap sisi kehidupan manusia dari sudut pandang seorang humanis. Sandi telah membuat dunia ini menjadi puitis dengan cerpen-cerpen bergaya monolog interiornya. Dengan keputisannya itu Sandi telah membuat setitik pencerahan, sepercik penerangan jiwa, dan telah terbangunnya kembali nilai-nilai kemanusiaan untuk menuju ke tengah peradaban maju yang lebih bermartabat dan beradab.

                                                                                                Palangkaraya, 7 Mei 2008

Sunday, 12 December 2010

Banyak Sinkron (Singkatan/Akronim) Dapat Pulas (Pusing lama sekali)

       Akhir-akhir ini, dalam bahasa kita banyak sekali bermunculan kata-kata singkatan dan akronim yang bagi kebanyakan orang betul-betul merupakan hal yang memusingkan kepala secara serius. Ada yang menguatirkan: jikalau hal ini dibiarkan saja tumbuh bak jamur di musim penghujan, pada akhirnya bahasa Indonesia sebagian besar kata-katanya akan terdiri atas singkatan dan akronim saja. Atas menjamurnya singkatan dan akronim itu ada yang menganggap “latahnya” orang-orang sekarang menciptakan kata singkatan dan akronim merupakan gejala penyakit schizophrenia (gangguan jiwa). Ada pula yang berpendapat bahwa gemarnya orang membuat kata singkatan dan akronim itu hanya karena kemalasan. Akan tetapi, ada juga yang membela mengatakan bahwa hal itu adalah untuk efisiensi pelancaran komunikasi, tampak kreativitasnya, dan ada perkembangan bahasa, tidak stagnasi (berjalan di tempat). Pendapat terakhir itu memang ada benarnya. Hanya yang menjadi soal adalah kenyataannya yang terjadi dalam masyarakat. Dalam banyak hal komunikasi seperti itu malahan menjadi macet. Hal inilah yang dirasakan masyarakat sekarang dengan bermunculannya singkatan dan akronim itu.

          Dari hari ke hari, bulan ke bulan, bahkan tahun ke tahun, terlihat bahwa produksi kata-kata singkatan dan akronim tidak pernah mundur. Selalu muncul yang baru-baru, yang “aneh-aneh”, musykil, hebat, sedap didengar, mampu membuat kening berkerut, bibir melengkung ke atas ke bawah, dan sebagaianya dan sebagainya. Terlebih itu ditulis di surat kabar, sms, fb, dan spandul-spanduk yang dipampang di jalan-jalan raya.

          Sebagaimana diketahui kata singkatan dan akronim terdapat tidak hanya dalam bahasa Indonesia, tetapi juga dalam bahasa asing. Contoh yang mudah dalam bahasa Inggris adalah kata radar yang merupakan singkatan dari radio detection and ranging, berarti suatu alat dengan gelombang radio yang dapat menempuh jarak, letaknya jurusan atau sesuatu objek seperti kapal, pesawat terbang atau yang lainnya. Kata ini telah menjadi istilah dalam lapangan teknologi dan sudah termasuk dalam kamus bahasa Inggris.

          Dalam bahasa daerah pun terdapat pula singkatan. Nama makanan misro dan combroamis di jero dan oncom di jero) dalam bahasa Sunda sudah tidak dirasakan lagi sebagai kata singkatan atau akronim. (

          Apabila kita perhatikan secara saksama, ternyata ada berbagai cara yang dipakai seseorang dalam menyingkat kata-kata, antara lain:

1. Huruf-huruf awal kata-kata yang disingkat dideretkan, misalnya:
DPR (Dewan Perwakilan Rakyat)
DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah)
PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia)
     Cara ini tampak sederhana karena ada polannya yang jelas.

2. Suku-suku kata pertama setiap kata yang disingkat digabungkan, misalnya:
Parindra (Partai Indonesia Raya)
Pramuka (Praja Muda Karana)
Hanura (Hati Nurani Rakyat)
Golkar (Golongan Karya)
     Cara ini juga jelas aturannya.

3. Campuran cara pertama dan kedua, contohnya:
Parmusi (Partai Muslimin Indonesia)
Batara (Bank Tabungan Negara; atau Barito Utara)
Dipmu (Direktorat Pendidikan Menengah Umum)

4. Sama dengan cara-cara 2 tetapi salah satu suku kata diambil kurang lengkap atau kadang-kadang juga menyeret huruf pertama suku selanjutnya, contoh:
Pelita (Pembangunan Lima Tahun)
Dirjen (Direktur Jendral)
     Kenapa bukan Pemlita? Karena kurang sedap terdengar, sedangkan pada Pelita ada unsur “enak bunyinya” (eophony). Dapat pula dihubungkan dengan kata pelita sendiri (bukan singkatan) yang berarti lampu. Jadi, Pelita adalah lampu pembangunan (asal jangan kelap-kelip saja cahayanya).

5. Yang diambil bukan suku-suku kata yang pertama saja tetapi campuran, jadi bisa suku-suku pertama, kedua dan sebagainya dari tiap-tiap kata yang akan disingkat, seperti:
Batara (Barito Utara)
Batara (Bank Tabungan Negara)
     Ini terjadi dari suku kedua kata pertama dan suku kedua kata kedua.
Dalam contoh :
Danmen (Komandan Resimen)
Danton (Komandan Pleton)
     Suku ketiga kata pertama digabung dengan suku ketiga kata kedua.
     Kalau kita perhatikan pemilihan suku yang hendak dijadikan kata singkatan kita lihat dasarnya adalah suku-suku kata yamg mendapat tekanan dalam pengucapannya.

6. Suku-suku kata tak lengkap banyak pula dipakai, umpamanya: Hankam (Pertahanan Keamanan)
     Perhatikanlah penyingkatan yang “luar biasa” ini: Kata pertama diambil dari suku ketiganya dan kata kedua diambil huruf pertamanya k (jadi tak lengkap) dan suku keduanya a tetapi dengan menyerert m dari suku selanjutnya. Kenapa tidak hankeam atau hanam? Ya, karena tak sedap bunyinya.

7. Kemudian adalah cara gado-gado: PudekMinku (Pembantu Dekan bidang Administrasi dan Keuangan) Todsada Laksus Komkamtibda (Tim Oditur/Jaksa Daerah Pelaksana Khusus Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban Daerah ).
     Mau tahu patokannya? Silakan pembaca sendri menentukannya.

    Deskripsi di atas tentulah belum mencakup semua cara dalam pembentukan kata singkatan yang kita temukan. Dapat ditambah atau diperinci lagi. Yang jelas dari cara-cara di atas bahwa pada dasarnya ada dua jenis cara penyingkatan itu, yaitu cara yang ada aturannya dan yang tidak ada aturannya atau semaunya.

    Yang ada aturannya ialah singkatan yang memperhatikan huruf-huruf seperti MPRS, jadi bersifat otografis dan yang memperhatikan dasar pengucapannya, bersifat fonis seperti Pelita. Hal ini pernah dikemukakan oleh Soewondo, M.A. dalam simposium ejaan di Makasar tahun 1969. Pembicara ini malah berpendapat bahwa pembentukan kata singkatan sebaiknya secara fonis karena lebih ekonomis dan representatrif daripada singktan ortografis.

    Cara ini dijelaskan dengan contoh kata PGRI yang dalam tulisan mungkin lebih ekonomis daripada Peguri (kalau ditulis tanpa titik), tetapi dalam ucapan PGRI adalah pe-ge-er-i  yang terdiri atas 4 suku kata, sedangkan Peguri hanya 3 suku kata. Di sini suku kata-kata kedua gu malah merupakan bunyi pertama atau suku pertama kata guru. Dengan demikian lebih menunjukkan asalnya. Bukankah orang mengatakan guru, tidak geru ? Di samping itu memang ada pula terlihat ada kecenderungan bahwa kata singkatan ortografis diucapkan secara fonis seperti KAMI tidak diucapkan  ka-a-em-i, melainkan kami. Dapat kita tambahkan contohnya; mahasiswa-mahasiwa di Jakarta (mungkin juga ditempat lain) lebih suka menyebut pe-em-kri dari pada pe-em-ka-er-i untuk PMKRI. Untuk hal ini selanjutnya prasaran Soewondo di atas dalam buku Simposium Ejaan Baru Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Fakultas Sastra Universitas Hassanudin Makassar, 1969 hal. 45—49 (stensilan).

     Untuk penyingkatan kata secara fonis ini pada dasarnya beralasan juga.Tetapi yang penting dipikirkan pula ialah bagaimana halnya kata-kata singkatan yang sudah terlanjur dipakai secara luas. Perlukah diganti? Tidakkah penggantian dengan yang baru akan menimbulkan “kekacauan baru” pula? Menurut penulis biarkanlah dua cara itu (ortogarfis dan fonis) dipakai sejalan saja. Yang penting bagi penulis ialah yang kedua yaitu cara penyingkatan yang tidak ada aturannya sama sekali. Secara luas jenis ini telah “membanjiri” perbendaharaan kata sehari-hari. Langkah pertama untuk mengatasinya adalah kita harus menekan produksinya. Kita sarankan kepada masyarakt luas agar pembentukan kata-kata singkatan itu hendaknya dikurangi. Batasi pada hal-hal yang sangat perlu saja dan dalam bidang tertentu saja (bidang militer umpamanya demi security atau sandi). Instansi atau perorangan yang betul-betul memerlukan berhubunganlah dengan ahli-ahli bahasa. Jangan asal bikin saja sesuai dengan arus “kelatahan” dewasa ini. Dan buatlah daftarnya serta umumkan sekurang-kurangnya dalam instansi atau departemen yang bersangkutan. Bukanlah rahasia lagi sekarang bahwa banyak sekali pegawai-pegawai dalam suatu instansi yang tidak mengenal maksud singkatan-singkatan hasil-hasil produksi instansi yang bersangkuatan itu sendiri. Untuk publikasi umpamanya sertakanlah kepanjangan kata-kata singkatan itu terutama untuk kata-kata yang baru muncul. Dengan demikian barangkali kesukaran pembaca dapat dikurangi.

     Ada pula yang berpendapat (barangkali karena sudah terlalu jengkel), biarkan sajalah kata-kata singkatan itu membanjiri negeri ini, toh nanti akan lenyap sendiri kecuali yang benar-benar diperlukan. Memang benar pula bahwa banyak kata-kata singkatan itu umurnya tidak lama. Ia lenyap bersama lewatnya situasi yang menumbuhkannya (walaupun pada suatu waktu mungkin akan muncul kembali). Kata singkatan kabir (kapitalis birokrat) kontrevtavip (tahun vivere pericoloso), dan sejumlah lainnya dewasa ini tak muncul lagi. Instansi-instansi yang sering mengalami perubahan struktur organisasi dengan sendirirnya terpaksa “mengubur” kata-kata singkatan yang berhubungan dengan struktur organisasi tersebut yang tidak “berperan” lagi dan sekaligus tentunya diciptakan pula yang baru, yang pada gilirannya ikut pula menambah kepusingan pembaca atau pendengarnya. (kontra revolusi),

     Oleh sebab itu sekali lagi penulis ulangi agar kita betul-betul dapat membatasi diri dalam menciptkan kata-kata singkatan. Entah kalau kita memang berkeinginan untuk ikut ‘melariskan obat sakit kepala’ maka bolehlah kita menulis seperti berikut “Sus Gati Bun Sos angkatan I ditutup di Pusdik Susad Bandung oleh Danjen Kopangdiklat Mayjen P. Sobiran”. (Antara, 13 Mei 1971, melalui Kompas). Atau: Raker Diprasarlub dihadiri oleh Kabin-KabinBinkab-Binkab, Kadin-Kadin dan juga Kadit-Kadit lainnya seperti dari Dipmu, DitkesDitjora.” dan serta wakil dari

(Disampaikan dalam diskusi FBMM di Kalteng Pos, Palangkaraya, 16 Februari 2008)

Pertemuan 15 Teori Sastra Tempatan