SELAMAT DATANG

Saudaraku, selamat datang di blog GITA PUJA. Saudaraku, berbagi ilmu pengetahuan, wawasan, dan apa pun yang kita miliki merupakan ibadah. Senyampang masih dapat kita lakukan, mengapa tidak segera kita lakukan? Ayo segera berbagilah kepada kami dan kawan-kawan lainnya dengan cara memberi masukan, komentar, kritik, saran, catatan, dan apa pun tentang blog ini demi kebaikan kita bersama membangun peradaban bangsa dan negara di dunia. Selamat membaca, selamat menikmati sajian dalam blog ini, dan selamat berapresiasi. Salam takzim kami. Beres! Sehat! Sukses! Yes!

Monday, 17 January 2011

Pendadaran di Yogaasrama

4. Pendadaran di Yogasarama

Di tengah suasana penuh gembira menyambut kehadiran putra raja,
yang baru tiba di Ayodya dari pertapaan pendeta negara Resi Wasista,
Datanglah di Ayodya Maharesi Wiswamitra didampingi Resi Wasista
Raja Dasarata pun menyambut kehadiran mereka dengan penuh suka cita
“Selamat datang di negeriku, wahai Maharesi Wiswamitra yang mulia
Adakah gerangan tujuan Paduka Maharesi berkenan datang di Ayodya,”
sabda Baginda Raja Dasarata setelah mempersilakan duduk tamunya.

“Wahai Raja Dasarata, engkau sungguh rendah hati dan berbudi mulia
Kedatanganku ke Ayodya hendak meminta bantuan menumpas angkara
Hutan tempat pertapaanku akhir-akhir ini diganggu oleh para raksasa
Mereka tak segan-segannya memporak-porandakan tempat puja brata
Para resi menjadi tidak tenang lagi melaksanakan berbagai upacara,
tentu bantuan dari negeri Kosala yang menjadi harapan para pertapa,”
tutur Maharesi Wismamitra menjawab pertanyaan Baginda Raja.

“Siapakah mereka berani membuat kekacauan di negeri bangsa Arya
Janganlah engkau merasa was-khawatir lagi Sang Maharesi Wiswamitra
Tentulah aku sebagai Raja Negeri Kosala melindungi setiap warganya
Sudah menjadi kewajiban raja untuk membantu pendeta dan pertapa,”
sabda Baginda Raja Dasarata dengan suara lantang penuh membara.

Maharesi Wiswamitra segera menjawab sabda Baginda Raja Dasarata:
“Mereka adalah Subahu dan kawan-kawan raksasa suruhan Rahwana
Dengan kekuatan gaibnya mereka berupaya memperdaya para pertapa
Oleh karenanya kami memohon bantuan Ananda Rama dan Laksmana
Agar berkenan menjadi pelindung dengan mengusir para raksasa.”

Baginda Raja Dasarata terkejut mendengar permintaan Wiswamitra
Rama dan Laksmana adalah kedua putranya masih sangat muda belia
Tentu belum berpengalaman di medan laga melawan para raksasa
Merasa ragu Baginda Raja Dasarata akan kemampuan kedua putranya

Keraguan Baginda Raja Dasarata tampaknya diketahui juga oleh Wasista
Dengan kerendahan hati Guru para ksatria itu memohon dikabulkannya
Percayalah bahwa Rama dan Laksmana mampu melindungi para pertapa
Meski berat hati, Raja Dasarata akhirnya meluluskan permintaan mereka

Hari itu juga Rama dan Laksmana kembali meninggalkan istana Ayodya
Maharesi Wiswamitra kembali ke pertapaan diiringi Rama dan Laksmana
Kedua ksatria itu kini menjadi murid utama Sang Maharesi Wiswamitra
Mengemban tugas mengusir para raksasa yang mengganggu para pertapa

Pertapaan Sang Maharesi Wiswamitra berada di tengah hutan Dandaka
Hutan lebat, belantara penuh mara bahaya, siapa pun berani melewatinya
taruhannya nyawa, binatang buas, jin, setan, dan raksasa siap memangsa
Rama dan Laksmana mengikuti pendadaran Sang Maharesi Wiswamitra.

Kedua ksatria diberi tambahan ilmu sebelum mengemban tugas mulia
Maharesi Wiswamitra berkenan menurunkan “Sanjiwani” kepada Rama
Kepada Laksmana, Wiswamitra berkenan memberi ilmu “Rajah Kalacakra”
Gabungan ilmu keduanya mampu menakhlukan segala angkara di dunia
Selain itu, Rama juga mendapatkan pusaka panah sakti Guwa Wijaya

Suatu malam telah larut, tiba-tiba datang raksasa Tadaka ke asrama
Secara beringas raksasa Tadaka memporak-porandakan altar gita puja
Rama dan Laksmana dengan cekatan segera berusaha mencegahnya
Melihat kehadiran dua ksatria itu Tadaka semakin membabi buta

Di malam yang gelap gulita terjadilah peperangan di antara mereka
Rama dan Laksamana dengan lincahnya melayani tingkah-polah raksasa
Namun, tiba-tiba datang raksasa lain yang sungguh banyak jumlahnya
Rama dan Laksamana segera mengambil busur dan anak panahnya
Satu per satu raksasa yang datang mengerubutnya itu tewas seketika
Anak panah sakti kedua kasatria itu mampu menyudahi riwayat mereka
Setelah menyelesaikan tugasnya, Rama dan Laksmana kembali ke asrama
Maharesi Wiswamitra merasa bangga menyambut kedua ksatria utama
Sejak saat itu pertapaan Yogaasrama tempat tinggal Wiswamitra
Kembali aman, tentram, dan tidak ada lagi gangguan dari para raksasa

Kedua ksatria digembleng mental dan kepribadiannya setangguh baja
Pendadaran di pertapaan Yogaasrama ini bagaikan kawah candradimuka
Dari bangun pagi hingga larut malam terus berlatih raga, pikir, dan rasa
Akhirnya, Rama dan Laksmana pun tumbuh menjadi ksatria purusatama.

No comments:

Post a Comment