SELAMAT DATANG

Saudaraku, selamat datang di blog GITA PUJA. Saudaraku, berbagi ilmu pengetahuan, wawasan, dan apa pun yang kita miliki merupakan ibadah. Senyampang masih dapat kita lakukan, mengapa tidak segera kita lakukan? Ayo segera berbagilah kepada kami dan kawan-kawan lainnya dengan cara memberi masukan, komentar, kritik, saran, catatan, dan apa pun tentang blog ini demi kebaikan kita bersama membangun peradaban bangsa dan negara di dunia. Selamat membaca, selamat menikmati sajian dalam blog ini, dan selamat berapresiasi. Salam takzim kami. Beres! Sehat! Sukses! Yes!

Friday, 3 July 2015

SINAMUN ING SAMUDANA, SESADONE INGADU MANIS MANUHORA




SINAMUN ING SAMUDANA
SESADONE INGADU MANIS MANUHORA
 
Falsafah budaya Jawa: sinamun ing samudana,
sesadone ingadu manis manuhora, bermakna
dibungkus dengan pasemon, simbolik, metafora,
disampaikan secara manis penuh kata-kata mutiara
serta masalahnya dihadapi dengan wajah cerah ceria.

Begitulah, cara berpikir dan bersikap orang Jawa
pada umumnya tidak disampaikan secara terbuka
tetapi cenderung bersifat simbolis, penuh metafora,
bahkan selalu menunjukkan kearifan yang luar biasa
sehingga siapa saja yang mendengar atau membaca
akan selalu dituntut untuk mengerti dan memahaminya
apa saja yang ada dibalik sesuatu yang disampaikannya.

Bilamana seseorang menghadapi masalah kehidupan,
kendatipun masalahnya pelik, rumit untuk dipecahkan,
senantiasa berusaha menghadapi dengan senyuman
kepada siapa saja tidak akan ditunjukkan berlawanan
meskipun sesungguhnya merupakan musuh bebuyutan
tetapi, diusahakan tampaklah harmonis menyenangkan
hingga lawan takhluk, bertekuk lutut menyerah bongkokan.

Penolakan terhadap sesuatu masalah yang dihadapi
tidak harus dikatakan dengan kata “tidak”, akan tetapi
cukup dengan senyuman dan petuah untuk berhati-hati
agar dalam menentukan pilihan benar-benar dimengerti
perihal resiko pilihannya apakah untung ataukah merugi
bilamana sudah mantap akan pilihannya, harap diyakini
namun, bila hal itu tidak sesuai, ya hanya andum basuki.

Permintaan terhadap suatu hal yang dirasa amat suka
seseorang itu tidak menyampaikannya secara terbuka,
tetapi melalui kata-kata sindiran, kiasan, atau metafora
agar apa yang disampaikannya itu bukan semata-mata
tampak atas dorongan keinginan nafsu serakah belaka
atau sekadar memohon belas kasihan kepada mereka
melainkan sesuatu permintaan wajar atau baisa saja,
selain itu, apabila permintaannya ditolak oleh mereka
sudan barang tentu harus siap merasa tidak kecewa.

Jakarta, 3 Juli 2015






No comments:

Post a Comment