SELAMAT DATANG

Saudaraku, selamat datang di blog GITA PUJA. Saudaraku, berbagi ilmu pengetahuan, wawasan, dan apa pun yang kita miliki merupakan ibadah. Senyampang masih dapat kita lakukan, mengapa tidak segera kita lakukan? Ayo segera berbagilah kepada kami dan kawan-kawan lainnya dengan cara memberi masukan, komentar, kritik, saran, catatan, dan apa pun tentang blog ini demi kebaikan kita bersama membangun peradaban bangsa dan negara di dunia. Selamat membaca, selamat menikmati sajian dalam blog ini, dan selamat berapresiasi. Salam takzim kami. Beres! Sehat! Sukses! Yes!

Tuesday, 30 June 2015

PAWUKON




PAWUKON

Pawukon hanya salah satu ilmu dalam kalender Jawa
berbicara tentang perhitungan hari, tanggal, bulan, juga
tahun, serta keberuntungan akan nasib hidupnya di dunia.

Pawukon berasal dari kata wuku, kurang lebih bermakna
bagian dari suatu siklus penanggalan orang Bali dan Jawa
berumur tujuh hari atau satu pekan dalam setiap wukunya.

Satu siklus wuku berumur 30 pekan atau 210 hari,
terhitung mulai hari Minggu hingga ke Sabtu lagi,
dan masing-masing wuku memiliki nama tersendiri.

Pawukon masih digunakan masyarakat Jawa dan Bali
terutama untuk menentukan "hari untung" dan "hari rugi"
serta terkait pula dengan weton seseorang di kemudian hari.

Ide dasar perhitungan menurut wuku adalah bertemunya
dua hari jadi satu dalam sistem pancawara dan saptawara.
Sistem pancawara atau pasaran terdiri atas lima hari saja,
Wage, Kliwon, Legi, Pahing, Pon, nama-nama harinya,
sedangkan sistem pekan, tujuh hari, itu disebut saptawara:
Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, namanya.

Nama-nama wuku yang ada tiga puluh didasarkan pada
kisah zaman purba tentang Prabu Watugunung namanya
berpermaisurikan Dewi Sinta dengan dikaruniai 28 putra,
sebagai penanda betapa kisah mitologis dan fenomenanya
setiap wuku ditandai dengan nama-nama semua tokoh cerita
mulai Sinta, Landep, Wukir, Kurantil, Tolu, Gumbgreg, pula
Warigalit, Warigagung, Julungwangi, Sungsang, Galungan, juga
Kuningan, Langkir, Mandasiya, Julungpujut, Pahang, dan pula
Kuruwelut, Marakeh, Tambir, Medangkungan, Maktal, dan juga
Wuye, Manahil, Prangbakat, Bala, Wugu, Wayang, Kulawu, serta
Dukut, dan (Prabu) Watugunung yang selalu ada Jumat Kliwonnya.

Setiap wuku disertai dengan nama seorang dewa sebagai penjaga
memiliki pohon simbolik, hewan simbolik, tipe rumah, dan candra
sebagai perlambang yang dinyatakan dalam suatu peribahasa Jawa,
ruwatannya juga ada dan berwujud sedekah sebagai penolak bala,
kala sial berupa sengkala bilahi, situasi yang membawa malapetaka,
dan juga dunung atau arah mata angin yang membawa sial nasibnya.

Pada zaman teknologi dan informasi global canggih dewasa ini
Apakah pawukon masih tetap dipercaya oleh orang Jawa dan Bali,
silahkan saja mau dipercayainya atau justru tidak dipercayai lagi
bergantung pada mereka yang menjalankan keyakinan yang dimiliki.

Bekasi, 30 Juni 2015



No comments:

Post a Comment