SELAMAT DATANG

Saudaraku, selamat datang di blog GITA PUJA. Saudaraku, berbagi ilmu pengetahuan, wawasan, dan apa pun yang kita miliki merupakan ibadah. Senyampang masih dapat kita lakukan, mengapa tidak segera kita lakukan? Ayo segera berbagilah kepada kami dan kawan-kawan lainnya dengan cara memberi masukan, komentar, kritik, saran, catatan, dan apa pun tentang blog ini demi kebaikan kita bersama membangun peradaban bangsa dan negara di dunia. Selamat membaca, selamat menikmati sajian dalam blog ini, dan selamat berapresiasi. Salam takzim kami. Beres! Sehat! Sukses! Yes!

Saturday, 8 June 2013

Promosi Kepariwisataan Indonesia dalam Puisi Indonesia Modern

Judul Buku    : Puisi Promosi Kepariwisataan
Penulis          : Puji Santosa, Pardi, Djamari, Sri Sayekti, Erli Yetti
Penerbit        : Elmatera, Yogyakarta
Tahun            : 2013
Halaman       : ixx + 546
Ukuran Buku : 14 x 21 Cm

Pada dasarnya promosi kepariwisataan Indonesia itu tidak hanya dilakukan oleh mereka yang bekerja di bidang kepariwisataan, industri kreatif, dan biro periklanan, tetapi juga dilakukan oleh para penyair sastra Indonesia modern. Dua ratus empat belas penyair sastra Indonesia modern, antara lain, Amir Hamzah, Mansur Samin, Hamid Jabbar, Slamet Sukirnanto, Taufiq Ismail, Dimas Arika Miharja, Surasono Rashar, Sensu Alfajrie Hamin, Isbedy Stiawan ZS, Ajip Rosidi, Dodong Djiwapradja, Lilik Mulyadi, Isma Sawitri, Sugiyanta, Abdul Hadi W.M., M. Junaedi, Aliemha, Annisa Al Hadis, Rina Kusmiarsih, Verrianto Madjowa, Ras Agaffar, Anshar Maudin ST, Bambang Widiatmoko, W.S. Rendra, Didi Marsudi, Yoseph Arakei UBD, Zainal Abidin, Sanny Tomasoa, Said Agus Salim, dan Hasballah S.M. Saad, melalui 30 puisi dari 500 puisi bertema kepariwisataan Indonesia menyampaikan makna dan pesan utamanya agar masyarakat, terutama Indonesia, dapat “sadar berwisata”, gemar melakukan traveling, dan mencintai Indonesia sebagai bagian dari hidupnya. Dengan daya penuh pesona melalui 30 puisinya itu mereka menyampaikan pesan tentang wisata daerah yang penuh pesona atas keindahan alam, budaya, dan sejarah yang dapat dikembangkan sebagai industri kreatif.
Pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimanakah makna dan pesan utama puisi-puisi kepariwisataan Indonesia yang ditulis oleh 30 penyair sastra Indonesia modern di tengah laju industri, transportasi, dan komunikasi canggih dewasa ini menjadi bagian hidup yang tidak terpisahkan, terutama masalah wisata alam, wisata budaya, dan wisata sejarah, konteks sosial masyarakat 10 kota provinsi di Indonesia dengan masalah kepariwisataan dan industri kreatif, tingkat keberterimaan masyarakat 10 kota provinsi di Indonesia atas makna dan pesan utama 30 puisi promosi kepariwisataan Indonesia, serta bagaimana tanggapan, pesan, dan harapan masyarakat 10 kota provinsi di Indonesia tentang puisi dan kesadaran masyarakat akan gemar berwisata?

Tujuan penelitian ini adalah mengungkapkan dan mendeskripsikan makna dan pesan utama yang termuat dalam 30 puisi bertema kepariwisataan Indonesia, konteks sosial masyarakat pembaca 10 kota provinsi di Indonesia dengan masalah kepariwisataan dan industri kreatif, tingkat keberterimaan masyarakat 10 kota provinsi di Indonesia atas makna dan pesan utama 30 puisi kepariwisataan Indonesia, serta bagaimana tanggapan, pesan, dan harapan masyarakat 10 kota provinsi di Indonesia tentang puisi dan kesadaran masyarakat akan gemar berwisata. Dengan masalah dan tujuan ini, hasil yang diharapkan dari penelitian adalah agar masyarakat memiliki kesadaran untuk gemar berwisata dan mencintai Indonesia sepenuh hati.
Metode pencapaian kinerja hasil litbangyasa penelitian menggunakan metodologi pendekatan kualitatif, yaitu melalui analisis konten terhadap 30 puisi Indonesia modern untuk menemukan makna dan pesan utamanya, lalu menyebarluaskan makna dan pesan utama 30 puisi tersebut kepada masyarakat dengan teknik kuesioner yang dilengkapi dengan tanya jawab atau wawancara kepada 30 responden dalam uji coba di Jakarta dan 300 responden yang berada di 10 provinsi kota (Padang, Medan, Yogyakarta, Semarang, Banjarmasin, Palangkaraya, Denpasar, Mataram, Manado, dan Gorontalo). Metode penelitian yang digunakan dalam bagian kedua ini adalah menggunakan metode estetika resepsi atau resepsi sastra.


Sinergi koordinasi kelembagaan dan program dilakukan dengan cara kemitraan kerja antarkomponen peneliti di pusat dan daerah, juga dengan berbagai lembaga yang terkait, akan tumbuh menjadi wadah sinergi yang efisien, berkualitas, dan inovatif. Indikator keberhasilan sinergi koordinasi kelembagaan antarkomponen tersebut adalah adanya kepercayaan, komunikasi yang efektif, umpan balik yang cepat, dan kreativitas. hasil dan tindak lanjut kegiatan penelitian menunjukkan bahwa setiap daerah memiliki potensi yang luar biasa atas objek-objek wisata yang dapat diandalkan, meliputi objek wisata alam, wisata budaya, dan wisata sejarah. Namun, potensi yang luar biasa atas objek-objek wisata andalan daerah tersebut belum dikelola dan dikembangkan secara baik, apalagi belum dikenal secara luas oleh masyarakat umum. Penyair sastrawan Indonesia tergerak hatinya untuk ikut serta memublikasikan betapa memesonanya alam, budaya, dan sejarah yang pernah dikunjungi itu perlu untuk diinformasikan kepada khalayak. Hal ini terbukti ada 500 puisi kepariwisataan Indonesia yang ditulis oleh 214 penyair sastra Indonesia yang ikut serta memublikasikan karyanya bertema promosi kepariwisataan Indonesia. Dari 500 puisi kepariwisataan itu terdistribusi ke masing-masing daerah koridor ekonomi MP3E, yaitu Sumatera ada 80 puisi, Jawa ada 220 puisi, Kalimantan ada 45 puisi, Sulawesi ada 45 puisi, Bali dan Nusa Tenggara ada 92 puisi, serta Kepulauan Maluku dan Papua ada sebanyak 18 puisi.
Konteks sosial masyarakat pembaca sepuluh kota provinsi di Indonesia (Padang, Medan, Yogyakarta, Semarang, Banjarmasin, Palangkaraya, Denpasar, Mataram, Manado, dan Gorontalo) dan tingkat keberterimaan masyarakat tersebut terhadap makna dan pesan utama 30 puisi kepariwisataan adalah cukup besar, berkisar 65%--95%, responden tahu, mengerti, dan paham akan persoalan kepariwisataan Indonesia yang belum dikelola dan dikembangkan secara baik oleh pemangku kepentingan, apalagi dipromosikan kepada masyarakat calon wisatawan yang akan berkunjung ke daerah tersebut dan mereka pun tahu dan paham bagaimana cara mengatasi hal tersebut, serta dapat menerima dengan baik dan tepat atas makna dan pesan utama ketiga puluh puisi kepariwisataan tersebut. Masyarakat berharap agar sosialisasi atau kampanye “sadar berwisata”, melalui penyuluhan ataupun dengan pembacaan puisi-puisi kepariwisataan Indonesia, tetap terus dilakukan secara berencana dan berkesinambungan. Hal ini mengingat bahwa kesadaran masyarakat akan berwisata ria dapat bangkit dan tergugah niatnya apabila sering diingatkan atau dipesankan melalui berbagai cara tersebut.
Hasil penelitian bidang sastra yang demikian luar biasa itu sangat perlu dipublikasikan kepada khalayak pembaca di tanah air. Suatu kebanggaan dan kehormatan bagi pembaca yang telah membaca dengan saksama resensi buku hasil penelitian ini sehingga mampu memberi wawasan tentang kepariwisataan Indonesia, khususnya wisata budaya, wisata alam, dan wisata sejarah. Sebab hasil penelitian yang demikian itu dapat memberi banyak informasi masalah kepariwisataan Indonesia bagi masyarakat yang memerlukan informasi tentang kewisataan Indonesia. Semoga khalayak dapat memetik manfaat dari buku yang diterbitkan ini.


No comments:

Post a Comment