SELAMAT DATANG

Saudaraku, selamat datang di blog GITA PUJA. Saudaraku, berbagi ilmu pengetahuan, wawasan, dan apa pun yang kita miliki merupakan ibadah. Senyampang masih dapat kita lakukan, mengapa tidak segera kita lakukan? Ayo segera berbagilah kepada kami dan kawan-kawan lainnya dengan cara memberi masukan, komentar, kritik, saran, catatan, dan apa pun tentang blog ini demi kebaikan kita bersama membangun peradaban bangsa dan negara di dunia. Selamat membaca, selamat menikmati sajian dalam blog ini, dan selamat berapresiasi. Salam takzim kami. Beres! Sehat! Sukses! Yes!

Wednesday, 19 September 2012

Arjuna dan Pasopati


Begawan Mintaraga, demikian nama Arjuna ketika melakukan tapa brata di Gunung Indrakila. Arjuna bertapa dengan sepenuh jiwa, mesu budi. Minta berarti memisah, raga berarti wadak atau badan jasmani yang kasar. Jadi pada masa itu Arjuna menjernihkan pikirannya, angan-angan, perasaan, dan nafsu-nafsunya supaya terpisah dari badan wadak yang kasar. Kehendak Arjuna bertapa di gunung Indrakila itu supaya jaya nantinya pada perang Baratayuda. Arjuna sudah tidak memperhatikan raganya lagi, seolah olah antara jiwa dan raga telah terpisah dialam yang berbeda. Oleh karena itu, Arjuna juga dikenal dengan nama Begawan Ciptaning (Angan-angan, Perasaan, dan Nafsu-nafsunya tersilam dalam keheningan), dan  karena Arjuna selalu mengheningkan cipta, rasa, dan karsa secara terus menerus yang terujukan hanya semata kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Ketika melihat akan keteguhan Arjuna bertapa brata, Batara Indra mencoba menggodanya. Untuk itu maka dikirimnya tujuh bidadari yang cantik jelita na molek mempesona untuk menggoda Arjuna. Adapun bidadari yang diutus untuk menggoda Arjuna yang sedang bertapa itu adalah: 1. Dewi Warsiki, 2. Dewi Irimrin , 3. Dewi Tunjungbiru, 4. Dewi Wilutama, 5. Dewi Supraba, 6. Dewi Gagarmayang dan 7. Dewi Lengleng Mulat.
    
   

Dalam melaksanakan tapa bratanya itu Arjuna sama sekali tidak tergoda akan kemolekan tujuh bidadari tersebut. Kemudian, datang lagi bidadari-bidari yang menyamar menjadi istri istri Arjuna, seperti Dewi Wara Sembadra, Dewi Wara Srikandi. Niken Larasati, Niken Sulastri, dan tidak lupa Abimanyu yang masih kecil. Memang keteguhan hati Arjuna di dalam bertapa brata tidak ada satupun yang dapat menyamainya. Batara Indra pun kini percaya kalau keteguhan hati Arjuna tidak tergoyahkan. Akhirnya, Batara Indra pun tidak mengirimkan bidadarinya lagi untuk mengganggu dan menggoda Arjuna.

Tidak lama kemudian, datang seekor babi hutan mendengus-dengus dan menyerang Arjuna. Berkali kali Arjuna diserudug oleh hewan itu. Arjuna merasa terganggu dengan serangan hewan tersebut. Arjuna segera mengejar hewan itu dan memanahnya. Dua buah anak panah dari arah berlainan mengenai hewan itu secara bersamaan. Ketika Arjuna mendekati buruannya. Tiba tiba datang juga seorang ksatria yang bernama Kiratarupa. Kiratarupa mengakui kalau hewan itu buruannya, terbukti anak panahnya menancap di badan hewan itu. Arjuna pun beralasan demikian. Oleh karena itu, terjadilah perkelahian diantara mereka. Tiba tiba Kiratarupa beralih rupa menjadi Batara Guru, sedangkan hewan buruannya, si Celeng berubah menjadi Batara Narada.
Batara Guru menyampaikan maksud dan tujuannya mendatangi Arjuna, adalah mau meminta Arjuna menjadi jago para dewata di kahyangan. Karena kahyangan sedang diserang oleh Prabu Niwatakawaca dari negara Imanimantaka. Prabu Niwatakawaca menyerang ke kahyangan karena keinginannya untuk melamar seorang bidadari yang bernama Dewi Supraba, tetapi para Dewa menolaknya. Apabila Arjuna dapat mengalahkan Prabu Niwatakawaca, maka akan mendapatkan Dewi Supraba sebagai jatukrama Arjuna, dan juga mendapat kesempatan menjadi Raja Bidadari di Kahyangan Jonggirisaloka. Arjuna pun tidak menyia-nyiakan kesempatan baik ini. Akhirnya, Arjuna pun menyanggupinya. Batara Guru memberikan pusaka Pasopati kepada Arjuna, untuk menjadi kekuatan dalam melawan Prabu Niwatakawaca.

Panah ini pusaka Posopati milik Arjuna ini merupakan pemberian dari Dewa Syiwa atau Batara Guru, dan berasal dari taring Batara Kala yang dicabut oleh Batara Guru sewaktu Batara Kala berlutut memint
a diakui sebagai puteranya. Di tangan Arjuna senjata pamungkas panah pusaka Pasopati ini menewaskan Prabu Niwatakawaca, Jayadrata, Adipati Karna, dan Aswatama ketika perang Baratayuda telah berakhir sewaktu Aswatama nglandak. Waktu itu Aswatama mencoba membunuh Parikesit selagi masih bayi dan Pasopati diletakkan dekat sang bayi sebagai penjaga. Panah ditendang oleh Parikesit dan mengenai badan Aswatama hingga tewas.

Dengan demikian, Arjuna mendapat pusaka Pasopati seusai lakon Arjuna Wiwaha adalah karena bertapa brata yang sempurna di gunung Indrakila. Ketika itu Arjuna memuja Syiwa Batara dan menjadi Begawan Cipta Hening. yang pada waktu itu Arjuna digoda oleh bidadari dan bermacam-macam hal lainya dan dia lolos. Atas kesempurnaan Arjuna bertapa brata itulah yang membuat batara Siwa sang mahadewa turun untuk bertemu Arjuna dan memberikan pasopati. Tidak cukup itu saja Arjuna juga diangkat ke khayangan dan didaupkan dengan para bidadari, karena arjuna telah berjasa membunuh raksasa Niwatakaca yang hendak menyerang khayangan dengan senjata Pasopati yang berasal dari tapa yang sempurna.Korban atas keganasan senjata Pasopati berikutnya adalah Jayadrata, Adipati Karna, dan Aswatama. Luar biasa Pasopati.
 

No comments:

Post a Comment