Saturday, 4 February 2012

Siapa yang Masih...

 










Siapa yang masih tergoda
harta, tahta, dan asmara
serta berkilaunya maya pesona dunia,
yakni keadaan semesta raya seisinya,
masih belumlah suci dia.

Siapa yang masih ingin berprestasi,
sekalipun prestasi itu mulia dan tinggi,
apalagi berambisi ingin dipuji-puji,
menjadi bupati, gubernur, atau menteri,
sekalipun menjadi panglima tertinggi,
dia belumlah tenang yang sejati.

Siapa yang masih memiliki keinginan
memberantas segala tindak kejahatan
dan juga segala tindak keangkaramurkaan,
ternyata belumlah damai yang dia rasakan.

Siapa yang masih suka membenci
terhadap apa-apa yang tidak baik ini,
apalagi tamak, loba, dan dengki,
juga jengkel, pendendam, dan iri hati,
tentu belumlah dia dirahmati kasih Ilahi
sebab belum sayang kepada sesama insani.

Bekasi, 21 September 2010

Thursday, 2 February 2012

Ksatria Pinandhita Sinisihan Wahyu


    Siapakah yang dapat disebuat sebagai ksatria pinandhita sinisihan wahyu? Dalam mitologi Jawa terdapat kepercayaan adanya 7 ksatria piningit yang mampu membebaskan bangsa dan negara Indonesia dari kekuasaan zaman edan yang dahsyat mencekam. Dari mitos itu sudah terlihat jelas dipahami, yakni masih berada dalam pingitan atau tersilam dalam hiruk pikuk kekuasaan zaman edan. Seperti yang tersurat secara jelas dalam tembang Kalatidha karya R. Ng. Ranggawarsita, bait kelima: "Ujaring Panitisastra/ awawarah asung peling/ ing jaman keneng musibat/ wong ambeg jatmika kontit" (Menurut buku Panitisastra/ memberi ajaran dan peringatan/ di dalam zaman yang penuh bencana/ bahwa orang berjiwa baik dan bijaksana justru kalah berada di belakang). Orang yang berjiwa baik, bijaksana, mulia, dan luhur inilah justru kalah berada di belakang pada zaman edan. Mereka inilah sesungguhnya disebut sebagai ksatria piningit, orang-orang ambeg jatmika kontit. Demikian halnya Trihardana Somadiahardjo dalam tembang Waluyan mengungkapkan “Yen adharma saya ndadra/ jagat rusak Ingsun rawuh andandani/ dharmaning catur bangsa" (Jikalau kerusakan semakin merajalela/ dunia rusak, Aku datang memperbaikinya/ darma keempat bangsa tersebut.) Kata Ingsun “Aku” dan "wong ambeg jatmika kontit" (orang yang bijaksana, baik, luhur, dan berjiwa mulia, tersilam oleh hiruk-ikuk zaman). Jikalau demikian, lalu siapakah ksatria peningit yang ketujuh dengan sebutan "Ksatria Pinandhita Sinisihan Wahyu" ini?

Tentang masa depan negera dan bangsa Indonesia diyakini oleh para Penuntut ilmu kesuksmaan bahwa telah disabdakan oleh Sang Suksma Sejati, Guru Sejati ialah Nur Datullah melalui R. Soenarto Mertowardojo pada tahun 1932 sebagai berikut.


    "Dalam waktu yang tidak lama lagi negara Indonesia akan merdeka dengan dikawal oleh enam orang ksatria: Sasangka, Sardjono, Soedjono, Soedibjo, Widjaja, dan Soetedjo. Diibaratkan orang mendirikan rumah, berdirinya rumah 13 tahun sesudah Sabda ini, dan akan selesai pembangunannya 50 tahun setelah Sabda. Kemudian 90 tahun setelah Sabda, Indonesia akan sejajar dengan negara-negara lain di dunia, dan 150 tahun kemudian Indonesia akan menjadi pusat kebudayaan dunia."
(Dwija Wara, Maret 1976, No. 11 Tahun ke-19)


    Berdasarkan Sabda Sang Suksma Sejati tersebut keenam ksatria sebagai pengawal dan pengiring bangsa dan negara Republik Indonesia tersebut telah dijelaskan lebih lanjut oleh Prof. Dr. dr. Mayjen. Soemantri Hardjoprakoso, yang menggunakan nama samaran Soewondo--dalam dunia pewayangan nama Soewondo adalah seorang Mahapatih Negeri Maespati, Raden Soemantri--dalam bukunya Ulasan Kang Kelana (Cetakan pertama 1966, cetakan kelima 1990). Inti penjelasan Soemantri Hardjoprakoso tersebut adalah demikian.

1. Ksatria Sasangka
    Arti harfiah kata “Sasangka” adalah rembulan atau bulan, dan bahasa Inggrisnya adalah moon. Sifat rembulan adalah memberi sinar terang atau pepadhang pada malam hari, menyinari kegelapan dunia dengan cahayanya. Sifat sinar terang rembulan itu adalah sejuk, tidak panas, dan dapat membuat ketentraman, ketenangan, dan kedamaian atau suasana romantis. Pengertian sinar rembulan ini adalah kiasan atau metafora, yang arti sebenarnya adalah Sinar Kebijaksanaan Tuhan Yang Maha Esa. Dengan hadirnya ksatria Sasangka ini kita diharapkan menjadi manusia religius atau manusia yang berketuhanan Yang Maha Esa. 


    Dengan kata lain, kita semua hendaknya menjadi manusia Sasangka yang taat (mituhu atau taqwa dari bahasa Arab: at-taqwá) patuh kepada segala perintah Allah dengan menjauhi semua larangannya, dan beriman (pracaya) kepada Tuhan, dan sadar (eling, zikir, doa, tafakur) kepada Tuhan dengan diwujudkan melaksanakan sembahyang, lalu kemudian disucikan watak lima perkara (rila = ridho, narima = tawakal, sabar, temen = jujur, dan budiluhur). Pada hakikatnya ksatria Sasangka telah memiliki semua watak hastha sila (trisila dan pancasila). Hastha Sila adalah watak delapan perkara yang meliputi: eling, pracaya, mituhu, rila, sabar, narima, temen, budi luhur. Kemudian, berjalan di Jalan Rahayu yang meliputi: ngrasuk sejatine sahadat, manembah, budi darma, ngunjara hawa nafsu, dan budi luhur; serta menjauhi Paliwara, larangan Tuhan yang ada lima perkara, yaitu (1) aja manembah marang saliyane Allah, (2) dingati-ati bab sahwat, (3) aja memangan panganan kang gawe rusaking raga lan pikiran, (4) aja nerak marang angger-angering praja lan pranatane, dan (5) aja padha cecongkrahan.


    Aplikasi tindakan ksatria Sasangka itu sesuai dengan Panca Marga, yaitu Marga Pertama, “Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa”, dan Sila Pertama dan Kedua dari Dasa Sila, “Berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa” dan “Berbakti kepada Utusan Tuhan”. Jadi, seperti tulis Soemantri Hardjoprakosa dalam Ulasan Kang Kelana (1990: 3) “Cita-citaku ialah supaya bangsaku sama berbakti dan sadar akan Tuntunan Tuhan Yang Maha Esa, agar negara menjadi bahagia, tentram, makmur, adil, dan sejahtera.”

2. Ksatria Sarjana
    Arti harfiah kata “Sarjana” adalah orang yang pandai, bijaksana, bijak bestari, pakar ilmu pengetahuan, atau kaya ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu pengetahuan dan kepandaian adalah pangkal kemajuan. Sekarang dengan perkembangan ilmu (sain, dari bahasa Inggris: science) pengetahuan (knowledge), dan tekologi komunikasi dan informasi canggih, seperti komputer, telepon seluler, dan internet, memacu kita semua untuk berlomba-lomba mengejar prestasi di bidang keilmuan teknologi informasi dan komunikasi canggih tersebut.


    Harapan kita bangsa Indonesia dalam mengejar pendidikan tidak hanya berhenti sampai tamat sekolah menengah saja (wajib belajar sembilan tahun), tetapi harus juga berusaha menjadi sarjana (S-1), dan kalau kemampuan serta dana masih sanggup, bangsa Indonesia pun harus berusaha dapat juga menjadi master (S-2) atau doktor (S-3) di sebuah bidang ilmu, ataupun menjadi sarjana-sarjana pakar ilmu pengetahuan lainnya di bidang masing-masing. Banyaknya perguruan tinggi dan sekolah-sekolah tinggi modern sejenis lainnya, baik yang berada di dalam negeri maupun di luar negeri, mampu menggembleng pemuda-pemuda Indonesia yang genius dan berlian. Hal ini tergantung kita-kita bagaimana mewujudkan Indonesia yang cerdas dan kompetitif di segala capaian tataran ilmu pengetahuan dan teknologi canggih lainnya.


Alur pemikirannya tentang ksatria utama ini adalah setelah menjadi manusia religius atau menjadi ksatria Sasangka, yakni seorang ksatria yang berke-Tuhan-an yang Maha Esa, kita juga memiliki kepandaian, kecerdasan, intelektual, atau otak yang berlian sebagai ksatria Sarjana. Aplikasi dalam kehidupan ini sesuai dengan marga kedua Panca Marga, “Pendidikan lahir-batin yang meliputi pendidikan pikiran/intelek, pendidikan rohani, dan pendidikan jasmani.”; atau sila ketujuh, kedelapan, dan kesembilan Dasa Sila, “Berbakti kepada Guru, Berbakti kepada pelajaran keutamaan, dan Kasih Sayang kepada sesama hidup”; ataupun UUD negara Republik Indonesia yang berbunyi “Melaksanakan pendidikan dan ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa”.


Kiranya seperti itulah gambaran cita-cita kastria Sarjana. Soemantri  Hardjoprakosa dalam Ulasan Kang Kelana (1990:3) menyatakan melalui ucapan kastria Sarjana: “Saya ingin melihat bangsaku kaya akan ilmu pengetahuan, karena ilmu pengetahuan dan kepandaian adalah pangkal kemajuan. Bangsa yang bodoh akan tetap berada di kegelapan dan kesengsaraan.” Jadi, setelah menjadi manusia religius, kastria Sasangka, kita harus memiliki kecerdasan otak, kaya ilmu pengetahuan dan teknologi canggih agar kita tidak ketinggalan dengan bangsa lain, artinya menjadi pula kastria Sarjana yang kaya ilmu pengetahuan dan teknologi canggih.


Selanjutnya Soemantri menyatakan: “Pepadang dari Sang Suksma Sejati itu tidak pilih umur. Dan sekolahnya hanya SR saja. Pepadang itu tidak diterima dengan otak, Dik Sarjana, tetapi di dalam hati yang suci. Pepadang tidak membebani otak, malahan sebaliknya, menambah jernih otak dan kemampuan otak. Manusia yang menerima pepadang dari Sang Suksma Sejati sekaligus menyadari dan mengerti sesuatu yang orang lain, sekalipun pandai sekali, tidak dapat menangkapnya. Jadi, tingkatannya melebihi si cerdas otak” (Ulasan Kang Kelana, 1990: 8)

3. Ksatria Sujana
Arti harfiah kata “Sujana” adalah waspada atau memiliki kemampuan dan kecermatan membaca tanda-tanda zaman. Waspada dalam arti yang seluas-luasnya adalah kita tidak boleh lengah, harus memiliki kehati-hatian, dalam bahasa Jawanya: wiweka. Jadi, setelah menjadi manusia religius, ksatria Sasangka, dan berilmu, menjadi ksatria Sarjana, kita juga harus memiliki kewaspadaan atau menjadi ksatria Sujana, sebagai sarana menanggulangi bahaya, ancaman, tantangan, dan gangguan disintegrasi bangsa. Istilah dalam mata-kuliah “Kewiraan” di berbagai perguruan tinggi adalah memiliki “wawasan nusantara”. Dengan kewaspadaan tinggi dan kuat, kita tidak akan menjadi bangsa terjajah oleh bangsa lain, tidak terbelenggu oleh modernisasi dunia, dan kita pun tidak akan terseret dalam arus globalisasi dan pasar bebas, karena kita punya pegangan yang teguh, kokoh, dan kuat, yakni Pancasila.


Aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan marga ketiga dari Panca Marga, yaitu “Pergaulan yang baik”. Kita boleh bergaul dengan berbagai-bagai bangsa yang ada di dunia ini, mencari kawan yang sebanyak-banyaknya, asalkan kita memiliki kewaspadaan atau berhati-hati. Hal ini juga sesuai dengan Dasa Sila, yaitu sila ketiga “Berbakti kepada kalifatullah (pembesar negara dan undang-undangnya)” dengan kebijaksanaan dan kemursidan, juga sesuai dengan sila kesembilan “Kasih sayang kepada sesama hidup” serta sila kesepuluh Dasa Sila, “Menghormati semua agama”. Semua dilakukan dengan penuh kebijaksanaan, kewaspadaan, dan kehati-hatian sehingga tetap diberi “wiweka”, eling lan waspada.


Terhadap cita-cita ksatria Sudjono, Soemantri Hardjoprakosa dalam buku Ulasan Kang Kelana (1990:3) menyatakan demikian: “Untukku, bangsaku harus waspada dalam menghadapi bangsa lain. Riwayat bangsa kita ini cukup menunjukkan bahwa kita tidak boleh lebih percaya kepada bangsa lain daripada bangsanya sendiri. Sekalipun bangsa kita ini terdiri dari beraneka suku, akan tetapi hubungan antara suku bangsa yang satu dengan yang lain adalah lebih dekat daripada dengan bangsa lain.”

4. Ksatria Sudibja
Arti harfiah kata “Sudibja” adalah kekuatan atau kekokohan yang penuh kesentosaan. Bangsa Indonesia ini memiliki ungkapan “Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah”, atau “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Persatuan dan kesatuan itu membuat bangsa Indonesia menjadi kuat, teguh, kokoh, sentosa yang bulat, bersatu padu mencapai cita-cita bangsa yang luhur, adil makmur hidup sejahtera lahir dan batin.


Untuk itu marilah kita semua mengggalang rasa bersatu, memperteguh persatuan dan kesatuan bangsa. Ikrar Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, tetap berlaku, adalah “Berbangsa Satu, Bernegara atau Bertanah Air Satu, dan Menjunjung bahasa Persatuan, ialah Bahasa Indonesia”. Indonesia yang bersatu, bersama kita bisa, bergotong royong dan berguyub rukun membangun negara dan bangsa. Pancasila dasar negara kita menyatakan “Persatuan Indonesia”. Hidup kita pun Satu, berasal dari Allah Tuhan Yang Maha Esa dan kembali pula kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa.


Soemantri Hardjoprakosa dalam Ulasan Kang Kelana menuliskannya: “Bagiku yang penting adalah kesentosaan. Kita harus berani menyusun suatu kekuatan yang bulat. Ah, kalau kekuatan sudah tercapai, mudah untuk mengejar cita-cita.”


Aplikasinya terhadap Panca Marga adalah termasuk marga keempat, yaitu memupuk “Hobby yang baik”. Membiasakan diri untuk senantiasa bersatu padu; “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Kalau derajad bangsa kita ini telah mencapai tingkatan Sudibjo, berarti pula kita sudah berada dalam tataran Pangaribawa, memiliki pengaruh yang kuat terhadap bangsa yang lain, segala perkataan dan tindakannya selalu diperhatikan oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Apakah ini bukan suatu kebanggaan bagi kita semua kalau hal itu suatu saat benar-benar tercapai?

5. Ksatria Wijaya
Makna yang terkandung dalam ksatria ini adalah kejayaan, kemenangan, keberhasilan dan kesuksesan. Indonesia akan ditakuti oleh negara-negara lain dan akan memberi ketenangan bagi penduduknya. Suatu saat negara-negara adidaya di dunia akan takhluk menghormati negeri kita Indonesia, segan terhadap negeri ini karena berhasil pembangunannya, baik fakta mental maupun fakta sosial. Bangsa yang telah berhasil mencapai kejayaan karena keadaan negerinya subur, makmur, sejahtera, tenang, dan damai, mencapai manusia Indonesia yang seutuhnya. Pada tataran ini kita telah mencapai kemenangan, kejayaan, kemakmuran, dan keadilan di semua sektor atau bidang, baik ekonomi, keamanan, sosial, politik, sosial, budaya, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya.


Soemantri Hardjoprakosa dalam Ulasan Kang Kelana menuliskannya: “Negara yang ditakuti oleh negara tetangganya dapat memberikan hidup yang tenang bagi penduduknya. Negara yang kuat dapat memimpin negara-negara lain untuk menyusun kebahagiaan hidup di seluruh dunia. Negara yang jaya menjadi pelindung bagi negara yang lemah. Itulah cita-citaku.”


Aplikasinya cita-cita ksatria Wijaya dalam Panca Marga adalah sesuai dengan marga kelima, yaitu “Cita-cita yang tinggi”, cita-cita yang mulia dan luhur. Kita sering mendengar ucapan Bung Karno: “Gantungkan cita-citamu setinggi langit”. Setiap ksatria hukumnya adalah wajib untuk bercita-cita tinggi setinggi langit sap tujuh. Seperti doa kita setiap hari dan setiap waktu dalam “Pangesti Kesejahteraan Negara”, yaitu “Duh, Tuhan, hamba mohon, semoga Tuan berkenan menurunkan sih anugerah kepada bangsa kami, agar bangsa kami menjadi bangsa yang luhur budinya, luhur derajatnya, dan mulia hidupnya.” 


Kalau derajat bangsa kita sudah sampai pada tingkatan ksatria Wijaya, berarti kita sudah berada dalam tataran Prabawa, memiliki wibawa yang luar biasa terhadap negara lain di dunia. Derajat negara kita sudah tidak lagi tampak sunya-ruri, tidak lagi suwung atau kosong, dan sepi-sunyi. Bukan lagi dianggap dari belahan dunia ketiga yang remeh dan tak berarti, yang dimana orang Barat selalu memalingkan muka setiap bertemu dan dipandang hanya sebelah mata, melainkan akan ditatap dengan takjub, dipandang dengan segan, dan diikuti kebijak-kebijakan yang diputuskan. Baru ada lima ksatria saja derajat negara kita sudah berwibawa luar biasa, sudah penuh keteladanan, dan sudah mencapai kemakmuran dan kesejahteraan. Indonesia akan lebih menjadi negara yang bersinar, berbinar-binar, atau mercusuar bila dilengkapi dengan kehadiran ksatria keenam, yakni ksatria Sutedjo.

6. Ksatria Suteja
Makna yang terkandung dalam ksatria Suteja adalah cahaya yang berkilau-kilau atau mercusuar. Setelah Indonesia menjadi negara yang dihormati di seluruh dunia, negara lain segan, dan menjadi negara adidaya yang tidak tertandingi di dunia. Di sinilah kita mencapai tataran Kemayan, artinya mampu mempengaruhi negara-negara lain di dunia. Pada tataran ini kita mencapai “puncak kebudayaan dunia”, dan Sinar Ajaran Tuhan Yang Maha Esa dengan kekayaan kearifan lokal (local wisdom) bahkan kearifan budaya (cuktural wisdom)-nya memancar memenuhi dunia seisinya. Indonesia menjadi negara pengayom, pelindung, bagi negara-negara yang lemah.


Soemantri Hardjoprakosa dalam Ulasan Kang Kelana menuliskannya: “Impianku ialah supaya negaraku kelak dihormati di seluruh dunia, supaya bangsaku diterima sebagai sahabat kehormatan di segenap negara. Supaya setiap bangsa, bila mengucapkan nama negaraku, dihinggapi rasa hormat dan setia kawan. Semoga Tuhan Yang Maha Esa mewujudkan cita-citaku ini. Amin”.


Hal itu sesuai dengan doa kita setiap hari, yakni “Pangesti Kesejahteraan Negara”: “Duh, Tuhan, hamba mohon semoga Tuan berkenan melimpahkan berkah serta lindungan kepada negara kami Republik Indonesia, agar negara kami segera aman, tenteram, subur, makmur, sejahtera, jaya, dan masyhur di dunia.”


Demikianlah keberdaraan ksatria piningit yang akan hadir sebagai Ratu Adil, Mesias, atau Imam Mahdi sehingga mengembalikan derajat negara bangsa Indonesia menjadi negara dan bangsa yang berwiba, berderajat mulia, luhur budi pekertinya, dikagumi dan disegani kawan dan lawan, bangsa yang beradab, bermartabat, dan unggul dari negara dan bangsa lainnya di dunia. Pernyataan Soemantri Hardjoprakosa melalui tokoh Pemuda Kelana dalam bukunya Ulasan Kang Kelana (1990: 4) sebagai berikut.


"Itulah semua cita-cita yang luhur. Memang sudah seharusnya bahwa setiap ksatria menumbuhkan dan mengejar cita-cita yang setinggi langit....Ksatria itu harapan bangsa. Ksatria tanpa cita-cita luhur bagi negaranya adalah sampah bangsa. Setiap ksatria harus ingin menjadi kusuma bangsa. Untuk menjadi kusuma bangsa tidak cukup kita mempunyai cita-cita yang tinggi saja. Perlu ada cara pelaksanaan yang tertentu dalam mengejar cita-cita yang membikin manusia menjadi kusuma bangsa. Pelaksanaan yang tertentu itu ialah garis-garis yang telah disabdakan oleh Tuhan Yang Maha Esa melalui rasul-Nya”.


Jadi, ksatria pinandhita sinisihan wahyu adalah seorang pemimpin negara yang mengaplikasikan watak keutamaan enam ksatria purusatama, yakni ksatria Sasangka, Sarjana, Sujana, Sudibja, Wijaya, dan Suteja.

Wednesday, 25 January 2012

Kerusakan Catur Bangsa



















   
Masih juga senada dengan R.Ng. Ranggawarsita tentang zaman edan, seorang ahli filosofi di Jawa abad XX, Raden Trihardono Soemodihardjo, secara eksplisit melalui dua buah bait tembang dhandhanggula yang ditulis pada tahun 1949 berjudul “Serat Waluyan” (Sabda Pratama, 1997:20--21), memberi tahu kepada kita tentang tanda-tanda yang nyata terjadinya zaman edan tersebut. Dalam tembangnya dhandanggula itu Soemodihardjo menggunakan tanda dan lambang masyarakat Hindu atau India kuno, yang terkenal dengan pembagian empat kasta atau catur bangsa. Agar lebih jelasnya, marilah kita perhatikan dua bait tembang berikut dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia.
 
Yen brahmana wus tindak ngapusi
laku dagang golek kauntungan
ngedol ngelmu kasektene
bangsa satria nguthuh
rebut melik asoring budi
bangsa waisya kuwasa
kadwi bangsa teluk
sujud marang si hartawan
kinen bantu genging bandhane wong sugih
srana nindhes wong sudra.

Bangsa sudra pan makaten ugi
rebut unggul nglawan bangsa waisya
wus sirna bangun miturute
minta mundhak blanja trus
wimbuh malih jaminan-neki
yen tan gelem nurutana
mogok buruhipun.
Yen adharma saya ndadra
jagat rusak Ingsun rawuh andandani
dharmaning catur bangsa.

(Terjemahan dalam bahasa Indonesia kurang lebih sebagai berikut.
    Apabila bangsa brahmana sudah berbuat menipu/berbohong,
    berlaku dagang mencari keuntungan,
    menjual ilmu yang menjadi andalannya.
    Bangsa ksatria berbuat tercela,
    berebut milik berbudi rendah.
    Bangsa waisyalah yang berkuasa.
    Kedua bangsa tadi takhluk
    bersujud kepada si hartawan
    disuruh membantu memperkaya harta si kaya
    dengan cara menindas bangsa sudra.

    Bangsa sudra pun berlaku demikian
    berebut unggul melawan bangsa waisya
    sudah hilang rasa patuhnya
    selalu menuntut kenaikan upah
    dan tambah berbagai jaminan
    apabila tidak dipenuhi
    mogok menjadi buruh.
    Jikalau kerusakan semakin merajalela,
    dunia rusak, Aku datang memperbaikinya
    darma keempat bangsa tersebut.)

    Petunjuk tentang tanda-tanda kekuasaan zaman edan yang diberikan oleh Soemodihardjo melalui dua bait tembang macapat dhandhanggula itu begitu jelasnya. Suatu zaman dikatakan edan apabila ditandai oleh perilaku edan, rusaknya, dari keempat bangsa yang sudah ke luar dari kewajiban (darma)-nya sebagai berikut.
  1. Bangsa brahmana sudah berani berbuat menipu terhadap umatnya, membohongi diri sendiri dan orang lain, terjadi pembohongan publik, tidak mengedepankan tindak kejujuran dan kemuliaan, kemudian berlaku dagang, mencari keuntungan, memperkaya diri sendiri, serta menjual ilmu agamanya. Brahmana yang demikian itu dapat disebut sebagai brahmana gadungan.
  2. Bangsa ksatria berbuat tercela, hina dina, saling berebut kekuasaan dan pengaruh, rebutan hak milik, serta berbudi pekerti rendah, sehingga bangsa ksatria ini takhluk dan bersujud kepada para konglomerat, para investor, atau kepada si hartawan yang kaya-raya. Ksatria yang demikian dapat disebut sebagai ksatria palsu.
  3. Bangsa waisya mampu menakhlukan kedua bangsa di atasnya, yaitu bangsa brahmana dan bangsa ksatria. Kedua bangsa ini ikut memperkaya harta bangsa waisya dengan cara menindas bangsa sudra, dan
  4. Bangsa sudra pun tidak mau kalah untuk berebut unggul melawan bangsa waisya. Bangsa sudra sudah hilang kepatuhannya sehingga mereka berani melakukan demonstrasi beramai-ramai menuntut kenaikan upah (UMR), meminta tambahan berbagai jaminan dan tunjangan, seperti THR, cuti haid, asuransi kesehatan, bonus bulanan, uang lembur, cuti melahirkan hingga 6 bulan, dan kalau PHK meminta pesangon lebih. Jika tuntutan itu tidak dikabulkan oleh majikannya, lalu mereka mogok kerja, bikin ulah dan teror, menjadi provokator, serta ada juga yang melakukan mogok makan hingga mati kelaparan.
    Tindakan keempat bangsa yang rusak seperti itulah yang diungkapkan dalam tembang Dhandanggula dua bait oleh Soemodihardjo. Sudah barang tentu perilaku rusak dari catur bangsa di atas mengarah pada perilaku destruktif, durhaka, pandir, dungu, maksiat, bengis, sadis, anarki, dan sudah melanggar dharma masing-masing, baik secara vertikal kepada Tuhan Yang Maha Pencipta, maupun secara horisontal kepada sesama umat. Keluarnya catur bangsa dari dharmanya itu mengakibatkan dunia seisinya rusak, kacau-balau, karut-marut, amburadul semua tatanan yang ada, dan akhirnya kutukan datang menimpa umat yang durhaka tersebut. Kerusakan catur bangsa demikian itulah yang disebut dengan zaman edan, kalatidha, kalabendu, dan jaman retu.

Monday, 23 January 2012

KEPEMIMPINAN PRAJA PANCA WICAKSANA


PRAJA PANCA WICAKSANA

Apa makna Praja Panca Wicaksana
adalah lima tindakan yang bijaksana
dilakukan oleh seorang pemimpin negara
agar bangsa dan negara memilki perbawa
baik di mata rakyat maupun bangsa di dunia.

Pertama, watak Samad Wicaksana
adalah tindakan bijaksana pemimpin negara
memberi anugerah bagi rakyat yang berjasa
memberi penghargaan bagi semua anak bangsa
yang berprestasi mengukir sejarah peradaban dunia.

Kedua, watak Waspada Wicaksana
adalah tindakan bijaksana pemimpin negara
senantiasa mengutamakan kewaspadaan dan siap siaga
menghadapi berbagai tantangan dan segala bencana
maju tak gentar membela yang benar demi nusa bangsa dan negara.

Ketiga, watak Tera Wicaksana
adalah tindakan bijaksana pemimpin negara
memberi perlakuan yang sama adil terhadap rakyatnya
timbang, tidak berat sebelah atau condong kepada siapa saja
hingga terciptanya disiplin masyarakat mematuhi hukum negara.

Keempat, watak Dana Wicaksana
adalah tindakan bijaksana pemimpin negara
mengutamakan tercukupinya papan, makan, dan busana
bagi rakyat beguna sekali untuk mengangkat papa sengsara
sehingga kehidupan rakyat menjadi sejahtera dan bahagia.

Kelimanya, watak Denda Wicaksana
adalah tindakan bijaksana pemimpin negara
menghukum mereka yang berbuat angkara murka
karena mereka jelas-jelas melanggar hukum negara
sehingga negara terpelihara keamanan dan kedamaiannya
terjaga kewibawaannya hingga dunia pun menghormatinya.

Bekasi, 23 Januari 2012

Sunday, 22 January 2012

KEPEMIMPINAN NARPATI CATUR MULYA

Apa makna Narpati Catur Mulyaadalah watak utama bagi penguasa
yang menjadi pegangan memimpin negara
melaksanakan amanah rakyat membangun bangsa.

Pertama, watak Jalma Wasis Sulaksanaseorang pemimpin negara hendaknya
menguasai berbagai ilmu pengetahuan yang ada
tidak terbatas ilmu lahiriah, ilmu batinpun juga
sehingga pemimpin menjadi bernas, cerdas, dan cendekia.

Kedua, watak Praja Welas Sulaksanaseorang pemimpin negara hendaknya
memiliki rasa belas kasih kepada sesama
tidak membedakan ras, golongan, dan agama
semua diberlakukan sama sesuai hukum negara.

Ketiga, watak Jalma Wirya Sulaksanaseorang pemimpin negara hendaknya
berani dan tegas bertindak secara nyata
memutuskan dengan bijak segala perkara
tutur kata dan bahasanya dapat dipercaya.

Keempatnya, watak Praja Wibawa Sulaksanaseorang pemimpin negara itu hendaknya
memiliki kewibawaan yang luar biasa
memancarkan pesona yang penuh aura
rakyat dan bangsa segan, hormat kepadanya
semua program dapat terlaksana secara nyata
membuat rakyat hidup sejahtera dan bahagia.

Bekasi, 22 Januari 2012

Friday, 20 January 2012

SEMBAH CIPTA DAN HATI

SEMBAH CIPTA DAN HATI

Bersembahnya cipta dan hati
ada tiga hal yang harus dijalani
setiap hari tiada henti
sebagai kesanggupan suci
hanya memuja kepada Ilahi:
(1) Sadar, senantiasa penuh berbakti,
disentosakan zikir dan sembahyang setiap hari;
(2) Iman, bulat hakulyakin sepenuh hati,
tiada tuhan selain Allah ya Robbi;
(3) Takwa, selalu taat dan menetapi
semua sabda wejangan perintah Ilahi,
larangan Tuhan juga haruslah disingkiri,
agar hidup kita bahagia selamanya nanti.

Istilah lain Takwa adalah Taat atau Mematuhi
mengandung kedalaman makna haruslah memiliki
kesediaan diri membersihakan tempat yang suci
pada setiap waktu di dalam pusat hati sanubari
untuk dapat menerima pencerahan dari Ilahi
serta berniat menyediakan kancah pepadang Ilahi
demikian itulah yang disebut dengan TAAT SEJATI.

Kemudian, sucikanlah cipta dan hati
melalui pelaksanaan tirta sari Pancasila
artinya cipta dan hati senantiasa bersih suci
penuh dengan kesusilaan atau susila anuraga
maknanya sucinya cipta dan hati
itu ada lima hal yang harus dilaksanakan
pertama: Rela terhadap Hukum Tuhan,
kedua: Menerima
apa pun yang sudah menjadi bagiannya,
ketiga: Jujur menepati janji dan kesanggupan,
keempat: Sabar menerima cobaan Tuhan,
dan kelimanya: Berbudi Luhur atau berakhlak al karimah.

Bekasi, 30 September 2010

Tuesday, 17 January 2012

KEPEMIMPINAN BERBUDI MULIA

Orang yang berbudi mulia
adalah orang yang bersahaja
tingkah laku dan perbuatannya
senantiasa menyenangkan mereka
membuat gembira ria penuh makna.

Orang yang berbudi mulia
adalah mereka yang sikapnya
senantiasa ramah kepada siapa saja
bersahabat dan tidak membuatnya beda
tindak tanduknya tertib dan susila anuraga.

Orang yang berbudi mulia
adalah mereka yang tutur katanya
sedikit, tetapi mengandung penuh makna
selalu jujur apa adanya kepada siapa saja
senantiasa menepati janji yang diucapkannya.

Orang yang berbudi mulia
adalah mereka yang sopan berbicara
santun setiap tindakan yang diperbuatnya
tangannya tidak bergapaian ke mana-mana
terang dan ramah memancar dari roman muka
tajam dan bersinar cemerlang memancar dari mata
siapa pun yang menatap timbul rasa segan berwibawa.

Orang yang berbudi mulia
adalah mereka yang cara hidupnya
berpakaian bersahaja atau sederhana
tidak berjubah mewah dengan bermahkota
tetap tertata rapi, bersih, dan sedap dipandang mata.
Orang yang berbudi mulia
adalah mereka yang paramarta
adil, merata, dan penuh bijaksana
belas kasih, sayang, dan cinta sesama
kesabarannya itu laksana samudera raya.

Orang yang berbudi mulia
adalah mereka yang tetap setia
kepada tanah air dan pembesar negara
taat pada peraturan dan undang-undangnya
menetapi kewajiban hidup dengan tata susila
menghormati dan meluhurkan semua agama
tidak membeda-bedakan derajat, golongan, dan bangsa
semua diperlakukan sama, tanpa mengabaikan tata krama
dan tidak meninggalkan cara hidup bermasyarakat yang ada.

Orang yang berbudi mulia
adalah mereka yang saling menjaga
harkat, martabat, harga diri, dan wibawa
tidak bergelar dan bahkan tidak berganti nama
tidak ingin di sanjung-sanjung ataupun dipuja-puja
tidak menyombongkan kemampuan dan kepandaiannya
tidak meninggalkan kewaspadaan kepada siapa dan apa saja.

Orang yang berbudi mulia
adalah mereka yang senantiasa
mendarmakan kemampuannya kepada dunia
dengan membuat sejahteranya dunia secara nyata
berdasarkan pada kasih sayang dan keadilan sempurna
serta pengorbanan yang nyata-nyata kepada sesama
memberi tuntunan, pencerahan, dan teladan utama
kepada semua umat agar hidup rukun, damai, dan sejahtera
sebagai perwujudan rasa berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pertemuan 15 Teori Sastra Tempatan