GITA PUJA

Senantiasa berbakti kepada Tuhan yang Mahakuasa penuh dengan kesadaran, keimanan bulat, dan ketakwaan yang teguh melaksanakan semua perintah dan menjauhi semua larangan-Nya.

Sunday, 18 September 2016

Pertunjukan Wayang Orang Bekasi Ki Sukarlana

at September 18, 2016 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

Wayang Orang Betawi - Ki Sukarlana (Jakarta 2012)

at September 18, 2016 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

Ramayana Betawi "RAMA JADI RAJA" - Rekontruksi dari Wayang Orang Betawi

at September 18, 2016 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Newer Posts Older Posts Home
Subscribe to: Posts (Atom)

Pertemuan 15 Teori Sastra Tempatan

  • Gegaraning Wong Akrami (Pegangan Hidup Berumah Tangga)
    GEGARANE WONG AKRAMI Renungan: Puji Santosa         Tembung “gegarane” iku asale saka tembung “garan”, tegese ‘kayu kang dianggo cekel...
  • BUKU SAKU PANEMBAH DAN PANGESTI
    BUKU SAKU PANEMBAH DAN PENGESTI Puji Santosa, Bakasi 1. Pengantar Kongres ke XVII Paguyuban Ngesti Tunggal yang akan diadak...
  • Pertemuan 15 Teori Sastra Tempatan

SELAMAT DATANG

Saudaraku, selamat datang di blog GITA PUJA. Saudaraku, berbagi ilmu pengetahuan, wawasan, dan apa pun yang kita miliki merupakan ibadah. Senyampang masih dapat kita lakukan, mengapa tidak segera kita lakukan? Ayo segera berbagilah kepada kami dan kawan-kawan lainnya dengan cara memberi masukan, komentar, kritik, saran, catatan, dan apa pun tentang blog ini demi kebaikan kita bersama membangun peradaban bangsa dan negara di dunia. Selamat membaca, selamat menikmati sajian dalam blog ini, dan selamat berapresiasi. Salam takzim kami. Beres! Sehat! Sukses! Yes!

Search This Blog

  • Home

About Me

My photo
OBOR SEJATI
Puji Santosa adalah peneliti utama bidang kritik sastra pada Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Juga seorang kritikus sastra, penulis sastra kreatif, penulis buku, dosen bahasa dan sastra Indonesia, motivator menulis, juri beberapa lomba sastra dan buku unggulan, penyunting buku, dan mitra bestari beberapa jurnal ilmiah bahasa dan sastra. Dilahirkan di kota Madiun, Jawa Timur, pada 11 Juni 1961. Pendidikan dasar dan sekolah menengahnya diselesaikan di kota kelahirannya, Madiun, hingga tamat tahun 1981. Kemudian dia melanjutkan studinya ke Jurusan Sastra Indonesia dan Filsafat pada Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Sebelas Maret Surakarta, dan berhasil meraih kesarjanaannya tahun 1986 dengan mempertahankan skripsi berjudul “Tabiat Tanda-Menanda dan Tafsir Amanat Sajak ‘Rakyat Adalah Sumber Ilmu’ Karya W.S. Rendra: Sebuah Pendekatan Semiotika”. Selanjutnya, Dia pun juga berhasil meraih gelar Magister Humaniora (S-2) dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia, tahun 2002, dengan mempertahan tesisnya bertajuk “Makna Kehadiran Nuh dalam Puisi Indonesia Modern”.
View my complete profile

Blog Archive

  • ►  2021 (15)
    • ►  April (15)
  • ►  2020 (8)
    • ►  August (3)
    • ►  January (5)
  • ►  2019 (6)
    • ►  December (1)
    • ►  April (2)
    • ►  February (3)
  • ►  2018 (6)
    • ►  December (1)
    • ►  May (5)
  • ►  2017 (13)
    • ►  September (1)
    • ►  June (3)
    • ►  March (1)
    • ►  January (8)
  • ▼  2016 (12)
    • ►  November (2)
    • ▼  September (3)
      • Pertunjukan Wayang Orang Bekasi Ki Sukarlana
      • Wayang Orang Betawi - Ki Sukarlana (Jakarta 2012)
      • Ramayana Betawi "RAMA JADI RAJA" - Rekontruksi dar...
    • ►  July (3)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (2)
  • ►  2015 (50)
    • ►  September (4)
    • ►  August (3)
    • ►  July (6)
    • ►  June (9)
    • ►  March (1)
    • ►  February (16)
    • ►  January (11)
  • ►  2014 (41)
    • ►  December (3)
    • ►  November (6)
    • ►  October (3)
    • ►  September (1)
    • ►  July (3)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (5)
    • ►  February (12)
    • ►  January (4)
  • ►  2013 (56)
    • ►  December (5)
    • ►  November (5)
    • ►  October (6)
    • ►  September (5)
    • ►  August (8)
    • ►  July (4)
    • ►  June (8)
    • ►  May (8)
    • ►  April (4)
    • ►  January (3)
  • ►  2012 (39)
    • ►  December (3)
    • ►  November (2)
    • ►  October (7)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (2)
    • ►  June (5)
    • ►  May (2)
    • ►  March (1)
    • ►  February (10)
    • ►  January (5)
  • ►  2011 (25)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (2)
    • ►  May (1)
    • ►  April (2)
    • ►  March (10)
    • ►  January (6)
  • ►  2010 (60)
    • ►  December (4)
    • ►  November (6)
    • ►  October (11)
    • ►  September (27)
    • ►  August (6)
    • ►  July (6)

Report Abuse

Kritik Hermeneutik Sastra Kenabian

Kritik Hermeneutik Sastra Kenabian
Kritik Hermeneutik Sastra Kenabian menyajikan hasil penelitian kritik hermeneutik genre sastra kenabiaan yang ditulis oleh 36 penyair sastrawan Indonesia, antara lain, Sunan Kalidjaga, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Subagio Sastrowardoyo, Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, Taufiq Ismail, Abdul Hadi W.M., Sutardji Calzom Bachri, Remy Sylado, Emha Ainun Nadjib, AD Donggo, Asep Sambodja, dan Dorothea Rosa Herliany dengan pendekatan hermeneutik, resepsi sastra, dan intertekstual. Hasil penelitian membuktikan bahwa makna kehadiran genre sastra kenabian memberi pembelajaran kepada umat manusia tentang: 1) keagungan atau kebesaran Tuhan yang tidak tertandingi oleh siapa pun yang ada di dunia ini atas karsa dan kuasanya, tiada tara menguasai jagad raya semesta alam seisinya; 2) kebijaksanaan Tuhan dalam menentukan kodrat dan iradatnya, segala sesuatunya selalu serba maha bijaksana dalam menentukan takdir hidupnya setiap makhluk ciptaan-Nya; 3) keadilan Tuhan yang sungguh-sungguh mahaadil sesuai dengan buah perbuatan setiap umat, selalu tepat mengenai rasa keadilan itu, yang adilnya tiada tara, seadil-adilnya; 4) kekuasaan Tuhan yang tidak terbatas, meliputi alam semesta seisinya; dan 5) juga menjadi pasemon firman Tuhan yang tidak terucapkan melalui lisan atau sastra yang tidak tertuliskan, disebut sebagai kalam ikhtibar atau kalam maujudiyah yang hanya dapat ditangkap dengan kecerdasan umat yang senantiasa berbakti, atau dengan indra umat yang senantiasa sadar, beriman, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Suatu analisis kritik sastra yang tajam dan mendalam serta mampu memberi banyak wawasan tentang nilai-nilai kenabian, meliputi (1) amar ma’ruf, menyuruh berbuat kebajikan atau disebut humanisasi ialah pemanusiaan manusia untuk mengembalikan pada fitrahnya sebagai makhluk sosial budaya; (2) nahi munkar, mencegah kemungkaran atau disebut liberasi ialah pembebasan diri dari segala jeratan yang membelenggu manusia dari sistem sosial budaya yang menindas dan memperbudaknya; dan (3) tu’minu nabillah, beriman kepada Allah atau disebut transendensi ialah keterlampauan dari realitas materi hingga membawanya ke dalam ruang keyakinan, keberimanan kepada Allah dengan haqulyakin. Ketiga hal ini bersifat integral, kesatuan, dan komprehensif, maka tidak dapat dipisah-pisahkan secara atomatis.

W.S. Rendra dalam Semiologi Komunikasi

W.S. Rendra dalam Semiologi Komunikasi
W.S. Rendra dalam Semiologi Komunikasi merupakan hasil kajian penelitian sastra atas puisi “Rakyat adalah Sumber Ilmu” karya W.S. Rendra dengan pendekatan semiologi komunikasi. Semiologi komunikasi merupakan aliran semiologi yang ditekuni oleh para peneliti yang mempelajari tanda sebagai bagian dari proses komunikasi, meliputi (1) komunikasi otonom: teks sastra sebagai variabel semiologi, (2) komunikasi ekspresif: pengarang sebagai variabel semiologi, (3) komunikasi pragmatik: pembaca sebagai variabel semiologi, dan (4) komunikasi mimetik: kenyataan dan karya sastra sebagai variabel semiologi. Dari empat variabel semiologi komunikasi itu kemudian dipumpunkan untuk memperoleh pesan atau amanat puisi “Rakyat adalah Sumber Ilmu” secara semiologi yang meliputi tafsir amanat berdasarkan sentuhan kebahasaan, sentuhan estetika, dan sentuhan humaniora. Hal ini berkenaan dengan fungsi sastra atas tesis dan antitesis Haratio, dulce et utile, menyenangkan dan berguna bagi pembaca sebagai khatarsis. Sebagai seorang budayawan yang cendekia, jelas bahwa Rendra mampu merajut kearifan budaya, khususnya budaya Jawa dengan pemikiran dunia global dalam jalinanan hidup harmoni budaya Barat dan Timur. Meski ada riak dan gelombang konflik batin menerpa dirinya, W.S. Rendra tampak tegar menghadapi dengan menerobos spirit tradisional dan menyelaraskan kedua hal tersebut. Hidup sekadar mengalir dan menjalankan amanah penuh dengan kejujuran, kesabaran, keberterimaan, kerelaan, dan akhirnya mencapai tataran ke budi pekerti luhur sebagai solusi membebaskan diri manusia dari belenggu yang mengepungnya.

Mahir Berbahasa Indonesia dengan Baik, Benar, dan Santun

Mahir Berbahasa Indonesia dengan Baik, Benar, dan Santun
Mahir Berbahasa Indonesia Baik, Benar, dan Santun merupakan buku ajar bagi mahasiswa di perguruan tinggi yang memumpunkan keterampilan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik, benar, dan santun. Oleh karena Bahasa Indonesia baru memiliki kaidah bahasa yang baik dan benar pada tataran kaidah tata bahasa, pedoman pembentukan istilah, dan pedoman ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan. Hal itu tentu belumlah cukup untuk membentuk kepribadian bangsa yang berbudaya, beradab, dan bermartabat. Berbahasa Indonesia dengan santun menjadi dambaan setiap orang agar seseorang mampu menjaga harkat, martabat, jati diri, dan menghormati orang lain sehingga menjadi bangsa yang berbudaya dan beradab. Seseorang yang senantiasa menjaga harkat, martabat, dan jati dirinya adalah substansi dari kesantunan, sementara menghormati orang lain adalah sifat beradab (berbudi halus dan berpekerti mulia). Oleh karena itu, mahasiswa di perguruan tinggi wajib belajar dan berusaha agar mahir berbahasa Indonesia dengan baik, benar, dan santun.

ADEDAMAR WAHYU: Pustaka Puisi Falsafah Budaya Jawa

ADEDAMAR WAHYU: Pustaka Puisi Falsafah Budaya Jawa
Sisi lain yang menarik di dalam antologi Adedamar Wahyu, penyair memasukkan kosa kata dan istilah-istilah dari bahasa Jawa ke dalam puisinya. Menikmati satu persatu puisi ini terasa bahasa Jawa pada puisi Indonesia tidak mengganggu dan terasa cair serta menyatu. Tidak ada kesan untuk dipaksakan supaya menjadi “lain” dan “unik”. Saya katakan tidak seperti dipaksakan munculkan kosa kata bahasa Jawa dalam puisi Puji Santosa ini karena ketika sudah memasuki buah pikiran yang disampaikan, kata-kata itu menjadi “mencair” untuk dinikmati dengan sejuk seperti air putih yang membersihkan. [Drs. Dhanu Priyo Brabowo, M.Hum. Penerima Hadiah Sastra Rancage 2014 Peneliti Utama Bidang Sastra Balai Bahasa Yogyakarta] Puji Santosa kiranya orang pertama yang menegaskan kelahiran puisi filsafat dan obsesif dalam sejarah sastra Indonesia. Sesuai dengan minat dan keahliannya, Puji Santosa mengawali kehidupan genre puisi filsafat dan obsesif dengan filsafat Jawa melalui dua antologi puisinya: Sang Paramartha dan Adedamar Wahyu. [Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum. Dosen dan Pakar Ilmu Kritik Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta] Sajak-sajak Puji Santosa yang terpumpun dalam antologi Adedamar Wahyu merupakan kumpulan sajak yang mengambil sumber dari kearifan ajaran moral dalam spiritualisme Jawa sebagaimana dijelaskan Yoseph Yapi Taum dan Dhanu Priyo Prabowo dalam tanggapan mereka untuk antologi ini. Sebagai pembaca non-Jawa, kesan pertama yang muncul setelah membaca antologi puisi Puji Santosa adalah sajak-sajak ini memiliki khalayak andaian (ostensible audience) dan khalayak sasaran (intended audience) pembaca Jawa yang memahami ajaran sinkretisme seperti Kejawen. Ajaran-ajaran Kejawen yang sangat kental menjadi isi sebagian besar sajak yang berjumlah sebanyak 110 sajak dalam antologi ini. [Dr. Sastri Sunarti Sweeney, M.Hum. Peneliti Sastra pada Badan Bahasa, Redaktur Horision Online]

STRATEGI PEMBELAJARAN SASTRA

STRATEGI PEMBELAJARAN SASTRA
Strategi pembelajaran sastra yang selama ini dilakukan masih dianggap sebagai strategi pembelajaran sastra secara tradisional. Siswa hanya menghafalkan nama pengarang, ringkasan isi cerita, konsep-konsep syair, pantun, balada, soneta, gurindam, dan aspek intrinsik sastra. Strategi yang demikian hendaklah perlu ditanggalkan untuk digantikan dengan strategi bimbingan kritik dan apresiasi sastra (BKAS). Strategi BKAS bertujuan melatih siswa agar memiliki daya kepekaan sosial, menghayati dan mengaplikasikan nilai-nilai keindahan yang terkandung dalam karya sastra sebagai pesan moral, memahami falsafah hidup, dan mampu merasakan keartistikan bahasa yang digunakan sebagai media ekspresi karya sastra. Bimbingan dilakukan tidak hanya sepihak, misalnya hanya sis¬wanya yang kreatif sedangkan gurunya tidak, hendaklah kegiatan apresiasi bersama-sama dilakukan dalam proses belajar-mengajar di kelas. Salah satu metode strategi BKAS yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan jalur 5-M, yaitu Menyimak, Membaca, Melisankan, Menulis, dan Menjawab semua persoalan. Pelaksanaan jalur 5-M ini memang pada permulaan yang aktif adalah guru, sedangkan tindakan selanjutnya adalah siswa yang harus aktif dan kreatif mengikuti pelajaran apresiasi sastra. Peranan guru dalam melaksanakan metode strategi BKAS dengan melalui jalur 5-M ini sesungguhnya hanya bertindak sebagai perangsang, pendorong, pembimbing, pemotivator, penginspirasi, dan pemfasilitator siswa dalam mencapai keberhasilan pembelajaran sastra. Sudah barang tentu untuk bertindak seperti itu diperlukan seorang guru sastra idaman, yakni seorang guru sastra yang menguasai materi pelajaran, bentindak adil dan bijaksana, berwawasan yang luas, berlaku sabar, dan penuh kasih sayang membimbing siswanya belajar mandiri sehingga betul-betul tercapai tujuan pembelajaran sastra di sekolah.

METODOLOGI PENELITIAN SASTRA

METODOLOGI PENELITIAN SASTRA
Metodologi penelitian adalah cara mencari kebenaran dan asas-asas gejala alam, sosial, kebudayaan, dan kemasyarakatan atau kemanusiaan, berdasarkan disiplin ilmu yang bersangkutan. Dalam mencari kebenaran ter¬sebut peneliti dapat memilih jenis-jenis metode penelitian dalam melak¬sanakan penelitiannya, antara lain, metode kualitatif, kuantitatif, deskriptif, historis komparatif, eksperimental, analisis konten, dan kajian budaya. Demikian halnya dalam bidang kesusastraan, metodologi penelitian sastra adalah cara mencari kebenaran dan asas-asas gejala kesusastraan, kebudayaan, dan kemasyarakatan, berdasarkan disiplin ilmu humaniora untuk kesejahteraan umat. Buku Metodologi Penelitian Sastra: Paradigma, Proposal, Pelaporan, dan Penerapan ini merupakan buku panduan bagi calon peneliti dan peneliti dalam melak¬sanakan penelitiannya, dari persoalan memahami paradigma penelitian, merancang penelitian, membuat urutan kerja penelitian, memilih sarana dan prasarana yang digunakan untuk mengumpulkan, mengolah, mengklasifikasikan, mengukur, menganalisis, dan menyajikan data, hingga melaporkan hasil penelitiannya. Agar buku panduan ini tidak terasa kering wawasan, dalam buku ini disajikan juga contoh penerapan beberapa metode penelitian sastra yang berkaitan dengan masalah promosi kepariwisataan Indonesia; persoalan pemeliharaan lingkungan hidup yang bersih dan sehat sebagai upaya kampanye sadar lingkungan; kearifan budaya dan fungsi kemasyarakatan sastra lisan sebagai upaya penyelamatan sastra hampir punah; pemahaman lintas-budaya serumpun dalam menghadapi benturan budaya; perbandingan diakronis karya sastra yang berbeda zaman dengan penelusuran kedudukan, fungsi, kesejajaran, genetika, generik, dan tematik teks sebagai upaya penyelamatan aset bangsa; analisis konten semiotik dengan penelusuran tanda-tanda bentuk dan bunyi, sintaksis semiotik, semantik semiotik, pragmatik semiotik, dan hubungan intertekstual sebagai upaya pemahaman gejala alam dan budaya bangsa; kritik mitos nusantara dengan penelusuran struktur, latar, ideologi, jenis, penampilan, dan manfaat mitos sebagai pemahaman kesadaran purba agar tidak tercerabut dari akar tradisi; serta historis komparatif cerita rakyat dengan penelusuran tipe, motif, dan historis komparatif sebagai upaya pengembangan strategi kebudayaan di Indonesia.

MENGUKUR KESESUAIAN SASTRA

MENGUKUR KESESUAIAN SASTRA
Mengukur Kesesuaian Sastra Pada Siswa Sekolah Menengah merupakan hasil penelitian sastra yang ditulis oleh Puji Santosa dan Djamari. Buku hasil penelitian ini mengungkapkan masalah bagaimana mengukur kesesuaian sastra pada siswa sekolah menengah (SMP). Penelitian ini mengambil sampel sebanyak 100 responden siswa SMP Negeri 2 Bantul, Yogyakarta. Karya sastra yang diapresiasi siswa sekolah menengah itu ditentukan berdasarkan: (1) topik/tema (tidak mengandung SARA), (2) tingkat kerumitan gramatika, (3) panjang pendek karya sastra, (4) kerumitan konflik/alur cerita, (5) kerumitan perwatakan (termasuk jumlah tokoh), dan (6) tingkat pemicu imajinasi. Berdasarkan kriteria ini dipilihlah puisi “Diponegoro” karya Chairil Anwar, puisi “Sawah” karya Sanusi Pane, puisi “Menyesal” karya Ali Hasjmy, cerita pendek “Kacamata” karya Rosidah, dan fragmen drama “Kuala” karya Mansur Samin. Ada lima teks sastra (3 genre puisi, 1 genre cerita pendek, dan 1 genre fragmen drama) terpilih yang diujicobakan kepada 100 siswa SMP Negeri 2 Bantul. Setiap teks sastra disertai kuesioner tertutup sebanyak 6 soal dengan masing-masing pertanyaan terdapat empat alternatif jawaban pilihan ganda. Terdapat 30 soal yang harus dijawab oleh siswa atas 5 teks sastra yang diapresiasinya. Tugas siswa sebagai responden adalah mimilih salah satu (a, b, c, atau d) jawaban yang dianggap paling benar atas alternatif jawaban masing-masing soal. Hasil jawaban siswa itulah untuk menentukan peringkat apresiasi sastra siswa sekolah menengah. Masyarakat Indonesia pantas membaca buku ini karena dapat membuka wawasan tentang kiat-kiat mengukur dan mengevaluasi tingkat apresiasi sastra siswa sekolah menengah dengan menggunakan skor peringkat kemampuan apresiasi sastra siswa, mulai peringkat Terbatas, Marginal, Semenjana, Madya, Unggul, Istimewa, dan Sangat Istimewa.

KRITIK SASTRA TEMPATAN

KRITIK SASTRA TEMPATAN
Buku Kritik Sastra Tempatan yang ditulis oleh Puji Santosa dan Djamari ini diterbitkan sebagai upaya memahamkan dan menerang-jelaskan ihwal kritik sastra tempatan yang digali dan dikaji dari khazanah sastra daerah (lokal), Melayu (negeri serumpun), dan nasional (Indonesia). Dalam penelitian sastra tempatan ini mereka berdua menggali pemahaman teori dan kritik sastra tempatan dari tiga pakar sastra dan budaya dari Jawa Timur, yaitu Prof. Dr. Setya Yuwana Sudikan, M.A. (Guru besar Universitas Negeri Surabaya), Prof. Dr. Henricus Supriyanto, M.Hum. (Guru besar Universitas PGRI Adi Buana Surabaya dan Begawan Sastra dari Padepokan Seni Sastra Tan Tular Malang), dan Dr. Sunu Catur Budiono, M.A. (pakar sastra dan sosial budaya Universitas PGRI Adi Buana Surabaya). Hal ini kami sadari bahwa selama abad XX hingga kini, terutama memasuki awal 1980-an, Indonesia diserbu arus global paradigma teori dan kritik sastra Barat yang datang secara beruntun. Hadirnya buku ini merupakan alternatif menuju teori dan kritik sastra produksi dalam negeri.

APRESIASI SASTRA

APRESIASI SASTRA
Pembelajaran apresiasi sastra di sekolah dan di perguruan tinggi haruslah dapat menyenangkan, menghibur, menambah wawasan, kreatif, aktif, dan inovatif bagi siswa, mahasiswa, guru, dan juga pengajarnya sendiri. Pembelajaran apresiasi sastra yang dapat menyenangkan haruslah mengandung unsur hiburan dan tidak membosankan. Dengan adanya daya kreatif dan kreativitas itu siswa dan guru dapat melakukan kegiatan sehari-hari penuh vitalitas hidup, bersemangat, tidak mengenal kata putus asa, bahkan tampak lebih berseri, dan penuh rasa optimistis. Daya kreatif dan aktif siswa, mahasiswa, guru, dan pengajar apresiasi sastra dapat menimbulkan daya inovatif, yakni kemampuan untuk diberdayakan dengan cara selalu mencari hal-hal yang baru, berbeda dari yang sudah ada, terasa segar, dan cemerlang. Demikianlah kurang lebih konsep pembelajaran apresiasi sastra yang ditawarkan dalam buku ini. Apalagi dalam buku ini dilengkapi dengan contoh konkret bentuk apresiasi sastra terhadap delapan sastrawan terkemuka di Indonesia (Aoh K. Hadimadja, Aryanti, Dodong Djiwapradja, Hartojo Andangdjaja, Lukman Ali, M. Balfas, Rijono Pratikto, dan Sindhunata) menjadi materi pembelajaran apresiasi sastra ini. Model ulasan karya sastra dalam buku ini mengikuti gaya atau formula sorotan yang pernah dilakukan oleh kritikus sastra H.B. Jassin, yaitu mengulas karya sastra dari seorang sastrawan yang diikuti dengan kutipan atau nukilan teks sastra yang dibahasnya. Hal ini bertujuan agar pembaca, siswa atau mahasiswa, dapat mengikuti alur pembahasan karya sastra secara cermat dan memadai. Selain itu, pembahasan dalam bab-bab sebelumnya juga dilengkap dengan riwayat kepengarangan dan proses kreatif dari sepuluh sastrawan yang menjadi contoh apresiasi sastra. Memang tentang kesepuluh sastrawan yang menjadi contoh model apresiasi sastra ini pernah dimuat dalam Kakilangit, sisipan majalah sastra Horison, antara tahun 2000—2012, tentu hal ini tidak mengurangi semangat kreativitas pembelajaran apresiasi sastra di sekolah dan di perguruan tinggi.

SANG PARAMARTHA

SANG PARAMARTHA
Sebuah pustaka puisi karya Puji Santosa yang terdiri atas: (1) kitab "Mustika Dwipa" yang berisi 20 buah puisi; (2) kitab "Sang Pencerah" yang berisi 25 buah puisi; (3) kitab "Oh Dunia" yang berisi 30 buah puisi; dan (4) kitab "Sang Nabi" yang berisi 18 buah puisi. Pengantar pembaca oleh Drs. Dhanu Priyo Prabowo, M.Hum., Catatan Prolog oleh Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum, dan Kata Penutup oleh Dr. Sastri Sunanrti Sweeney, M.Hum., keseluruhan buku ada 256 halaman, dengan penerbit Azzagrafika Yogyakarta, cetakan pertama Maret 2014.

Sang Paramartha

Sang Paramartha
Sampul belakang Sang Paramartha dengan kutipan catatan prolog pembaca oleh Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum., dosen kritik sastra Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Ancangan Semiotika Edisi Revisi

Ancangan Semiotika Edisi Revisi
Cetakan pertama 1993 oleh penerbit Angkasa Bandung, Cetakan kedua edisi revisi tahun 2013, ditambah Glosarium dan Indeks.

Ancangan Semiotika

Ancangan Semiotika
Sampul Belakang, cetak ulang 2013, edisi revisi.

Peran Mimbar Indonesia

Peran Mimbar Indonesia
Struktur Tematik Puisi-Puisi Mimbar Indonesia merupakan hasill penelitian sastra yang ditulis oleh Puji Santosa dan Djamari. Buku hasil penelitian ini mengungkapkan masalah kedudukan, peran, dan fungsi majalah Mimbar Indonesia (1947—1967) sebagai media pengembangan sastra di Indonesia. Sebagai majalah mingguan umum Mimbar Indonesia mampu bertahan selama dua puluhan tahun, terbit pertama kali sejak 1947 si zaman agresi Belanda, dan bubar semasuki masa Orde Baru (1967) dengan redaktur sastranya H.B. Jassin. Selama 20 tahun Mimbar Indonesia telah ikut andil melahirkan dan mengorbitkan para sastrawan andal di bidangnya. Hal ini membuktikan kemampuan luar biasa pengelolanya, dan ikut juga menjadi barometer perkembangan sastra di Indonesia pada era tahun 1950-an. Buku ini dilengkapi contoh analisis struktur dan tema 16 puisi terpilih yang pernah dimuat majalah Mimbar Indonesia tersebut, yaitu puisi karya Mahatmanto, S. Wakidjan, Siti Nuraini, M. Hussyn, S. Samiati A., Kasim Mansur, Maseri Matali, Hariyadi S. Hartowardoyo, Chairil Anwar, Murya Artha, M.I. Usin, Sugiarti Sriwibowo, Achmad Nur, Slametmuljana, Dodong Djiwapradja, dan Trisno Sumardjo. Buku ini juga mampu membuka cakrawala betapa berat dan penuh liku-liku mengelola sebuah majalah umum yang ikut juga mengembangkan karya sastra di Indonesia. Berkat kegigihan dan semangat kerja keras pengelolanya, sebuah majalah umum yang juga mengembangkan karya sastra mampu bertahan hingga 20 tahun.

Peran Horison

Peran Horison
Peran Horison Sebagai Majalah Sastra merupakan hasill penelitian sastra yang ditulis oleh Puji Santosa dan Djamari. Buku hasil penelitian ini mengungkapkan masalah kedudukan, peran, dan fungsi majalah sastra Horison sebagai media pengembangan sastra di Indonesia. Sebagai majalah sastra di Indonesia yang mampu bertahan puluhan tahun, terbit pertama kali sejak Juli 1966, Horison telah melahirkan dan mengorbitkan para sastrawan andal di bidangnya, membuktikan kemampuan yang luar biasa pengelolanya, dan menjadi barometer perkembangan sastra di Indonesia. Buku ini juga dilengkapi dengan contoh analisis empat sajak yang pernah dimuat majalah sastra Horison, yaitu sajak “Pembicaraan” Soebagio Sastrowardojo, “Sonet: X” Sapardi Djoko Damono, “Nyanyian Angsa” W.S. Rendra, dan “Madura” Abdul Hadi W.M. Selain itu, buku ini juga mampu membuka cakrawala betapa berat dan penuh liku-liku mengelola sebuah majalah tanpa didukung iklan. Berkat kegigihan dan semangat kerja keras pengelolanya, sebuah majalah sastra mampu bertahan hingga 47 tahun. Suatu prestasi luar biasa. Masyarakat Indonesia pantas membaca buku ini yang membuka wawasan tentang kiat-kiat pengelolaan sebuah majalah sastra yang mampu bertahan hingga puluhan tahun.

Dunia Kepenyairan Sapardi Djoko Damono

Dunia Kepenyairan Sapardi Djoko Damono
Dunia Kepenyairan Sapardi Djoko Damono merupakan hasill penelitian sastra yang ditulis oleh Puji Santosa dan Djamari. Buku hasil penelitian ini sungguh luar biasa karena banyak memberi inspirasi kepada masyarakat pembaca akan kearifan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), mitos, religius, kenabian, dan sosial kemasyarakatan yang disuarakan oleh penyair Sapardi Djoko Damono dalam buku kumpulan puisinya, seperti Duka-Mu Abadi (1968), Mata Pisau (1974), Akuarium (1974), Perahu Kertas (1983), Hujan Bulan Juni (1994), dan Ayat-Ayat Api (2000). Pembaca dapat memetik manfaat dari hasil penelitian atas kepenyairan Sapardi Djoko Damono sebagai penyair brilian, guru besar sastra, budayawan, dan keintelektualannya dalam menyikapi masalah kehidupan yang dihadapinya sehari-hari. Hal ini bertujuan agar masyarakat pembaca mampu membuka cakrawala pemikirannya atas kenyataan bahwa kearifan budaya, iptek, mitos, religius, kenabian, dan sosial kemasayarakatan itu diperlukan guna membangun masyarakat madani yang lebih beradab dan bermartabat.

Merajut Kearifan Budaya

Merajut Kearifan Budaya
Merajut Kearifan Budaya: Analisis Kepenyairan Darmanto Jatman merupakan hasill penelitian sastra yang ditulis oleh Puji Santosa dan Djamari. Buku hasil penelitian ini sungguh luar biasa karena banyak memberi inspirasi kepada masyarakat pembaca akan kearifan budaya Jawa yang dipadukan dalam keimanan Nasrani. Pembaca dapat memetik manfaat dari hasil penelitian atas kepenyairan Darmanto Jatman yang terungkap dalam buku kumpulan puisi Sang Darmanto (1976), Golf untuk Rakyat (1994), Isteri (1997), dan Sori Gusti (2002) dalam menyikapi masalah kehidupan yang dihadapinya sehari-hari. Hal ini bertujuan agar masyarakat pembaca mampu membuka cakrawala pemikirannya atas kenyataan bahwa kearifan budaya diperlukan guna membangun masyarakat madani yang lebih beradab dan bermartabat.

Manusia, Puisi, dan Sadar Wisata

Manusia, Puisi, dan Sadar Wisata
Puisi Promosi Kepariwisataan merupakan hasil penelitian dari Program Insentif Peningkatan Kemampuan Peneliti dan Perekayasa (PKPP) Kementerian Negara Riset dan Teknologi tahun 2012 yang dikerjakan oleh Puji Santosa, Pardi, Djamari, Sri Sayekti, dan Erli Yetti, dengan judul penelitian “Promosi Kepariwisataan Indonesia dalam Puisi Indonesia Modern”. Buku ini memberi gambaran betapa setiap daerah di Indonesia memiliki potensi yang luar biasa atas objek-objek wisata yang dapat diandalkan komuditas kepariwisataan Indonesia, meliputi objek wisata alam, wisata budaya, dan wisata sejarah. Namun, potensi yang luar biasa atas objek-objek wisata andalan daerah tersebut belum dikelola, belum dikembangkan secara baik, dan belum dipromosikan secara maksimal sehingga belum dikenal secara luas oleh masyarakat umum, baik masyarakat di Indonesia maupun masyrakat di luar negeri. Oleh karena itu, penyair sastrawan Indonesia tergerak hatinya untuk ikut serta mempublikasikan betapa mempesonanya alam, budaya, dan sejarah yang pernah dikunjungi itu sebagai aset bangsa yang perlu untuk diinformasikan kepada khalayak. Hal ini terbukti ada 500 puisi kepariwisataan Indonesia yang ditulis oleh 214 penyair sastra Indonesia yang ikut serta mempublikasikan karyanya bertema promosi kepariwisataan Indonesia. Dari 500 puisi kepariwisataan itu terdistribusi ke masing-masing daerah koridor ekonomi MP3E, yaitu Sumatera ada 80 puisi, Jawa ada 220 puisi, Kalimantan ada 45 puisi, Sulawesi ada 45 puisi, Bali dan Nusa Tenggara ada 92 puisi, serta Kepulauan Maluku dan Papua ada sebanyak 18 puisi. Upaya sadar wisata harus dilakukan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, termasuk oleh kalangan swasta. Jika semua pihak sudah memiliki kesadaran wisata yang baik, tentu semua daerah di Indonesia yang memiliki potensi wisata yang menarik akan banyak diminati dan akan menjadi banyak pilihan masyarakat.

Manusia, Puisi, dan Kesadaran Lingkungan

Manusia, Puisi, dan Kesadaran Lingkungan
Buku Manusia, Puisi, dan Kesadaran Lingkungan ini merupakan hasil penelitian yang bertajuk ”Persoalan Pemeliharaan Lingkungan Hidup yang Bersih dan Sehat dalam Puisi Indonesia Modern” Program Insentif Peningkatan Kemampuan Peneliti dan Perekayasa (PKPP) Kementerian Negara Riset dan Teknologi Tahun 2011. Buku hasil penelitian ditulis oleh Puji Santosa, Sri Sayekti, dan Djamari, ini berusaha menganalisis makna dan pesan utama 18 puisi Indonesia modern yang ditulis oleh 8 penyair sastra Indonesia modern (Eka Budianta, Slamet Sukirnanto, Sapardi Djoko Damono, Taufiq Ismail, Suryatati A. Manan, Dorothea Rosa Herliany, Iwan Nurdaya Djafar, dan Ataswarin Kamariah Moewardi Bambang Sarah), konteks sosial masyarakat pembaca enam kota di Indonesia (Jakarta, Pekanbaru, Tanjung Pinang, Pontianak, Mataram, dan Makassar) dengan masalah lingkungan hidup, tingkat keberterimaan masyarakat enam kota di Indonesia atas makna dan pesan utama 18 puisi lingkungan hidup yang diwakili oleh 180 responden, serta bagaimanakah harapan masyarakat atas lingkungan hidup yang diwawancarai 30 responden di enam kota, sebagai salah satu upaya untuk menyadarkan masyarakat agar senantiasa menjaga, memelihara, dan melestarikan lingkungan hidup yang bersih dan sehat. Dengan kehadiran buku ini kami berharap agar masyarakat memiliki kesadaran untuk memelihara lingkungan hidupnya yang bersih dan sehat, bebas dari sampah dan limbah yang berserakan, sungai dan drainase airnya tetap jernih dan dapat lancar mengalir, berusaha mencegah terjadinya polusi udara, dan masyarakat gemar menanam dan memelihara pepohonan demi keseimbangan ekosistem. Melalui 18 puisi yang bertema lingkungan hidup itu kita semua disadarkan agar: “Selamatkan Lingkungan Hidup Demi Masa Depan Anak Cucu Kita”. Kerusakan lingkungan hidup tidak dapat kita biarkan begitu saja bilamana kita semua masih menginginkan hidup sehat walafiat, segar bugar, tenang, tenteram, damai, sejahtera, dan bahagia.

Sastra dan Mitologis

Sastra dan Mitologis
Buku Sastra dan Mitologis: Telaah Dunia Wayang dalam Sastra Indonesia ini ditulis oleh Puji Santosa dan Maini Trisna Jayawati yang mengupas tuntas dua novel Anak Bajang Menggiring Angin karya Sindhunata dan Kitab Omong Kosong karya Seno Gumira Ajidarma dalam kaitannya dengan mitologi wayang.

Dunia Kesastraan Nasjah Djamin

Dunia Kesastraan Nasjah Djamin
Buku Dunia Kesastraan Nasjah Djamin dalam Novel Malam Kuala Lumpur ditulis oleh Puji Santosa dan Maini Trisna Jayawati. Buku ini merupakan hasil kajian tentang peran kepengarangan Nasjah Djamin dalam sastra Indonesia yang tersirat dalam novel Malam Kuala Lumpur yang menggambarkan hubungan antara Indonesia dan Malaysia ketika terjadi politik konfrontasi "Ganyang Malaysia" tahun 1960-an.

Mitologi Melayu

Mitologi Melayu
Buku telaah terhadap 18 puisi Indonesia modern yang ditulis oleh Puji Santosa dan Imam Budi Utomo ini bermuatan unsur mitologi Melayu dalam puisi Indonesia modern.

Kekusaan Zaman Edan

Kekusaan Zaman Edan
Buku telaah sastra dalam hubungannya dengan kekuasaan di zaman edan ini ditulis oleh Puji Santosa, terdiri atas 14 bab, 395 halaman yang merupakan kajian atas situasi dan kondiri bangsa selama terjadi zaman edan.

Kekuasaan Zaman Edan

Kekuasaan Zaman Edan
Sebuah buku tentang Kekuasaan Zaman Edan yang ditulis oleh Puji Santosa ini penuh dengan kutukan sehingga mengakibatkan derajat negara tampak sunya-ruri, suwung, sepi, dan suram atau tidak memiliki wibawa lagi. Ada 10 tanda-tanda zaman edan dan ada 10 pula kiat mengatasi zaman edan. Setiap terjadi kerusakan, huru-hara, karut-marut dunia, Tuhan datang mengutus utusannya yang menyelamatkan dan mengembalikan kejayaan negara. Mereka adalah ksatria pembela negara yang akan membawa puncak kejayaan negara sejajar dengan negara-negara lain di dunia: Sasangka, Sarjana, Sujana, Sudibya, Wijaya, dan Suteja. Baca dan temukan jawabannya dalam buku ini.

ESTETIKA: Sastra, Sastrawan, dan Negara

ESTETIKA: Sastra, Sastrawan, dan Negara
Buku yang mengungkapkan berbagai estetika dalam khazanah sastra di Indonesia ini ditulis oleh Puji Santosa dan Suroso. Buku ini memuat kajian tentang bermacam-macam estetika dalam sastra Indonesia, ada estetika kasunyatan, esetika bangesgresem, estetika mitis, estetika sufistis, dan estetika berbangsa dan bernegara.

Kritik Sastra: Teori, Metodologi, dan Aplikasi

Kritik Sastra: Teori, Metodologi, dan Aplikasi
Buku yang mengupas tentang teori sastra, metodologi, dan aplikasi kritik sastra ini ditulis oleh Puji Santosa, Suroso, dan Pardi Suratno. Pembaca dapat memahami letak posisi kritik sastra dalam studi kesastraan, hakikat kritik sastra, sejarah kritik sastra, tujuan kritik sastra, jenis-jenis kritik sastra, langkah kerja kritik sastra, metode kritik sastra, ukuran atau kriteria kritik sastra, dan contoh-contoh aplikasi kritik sastra.

BAHTERA KANDAS DI BUKIT: Kajian Semiotika Sajak-sajak Nuh

BAHTERA KANDAS DI BUKIT: Kajian Semiotika Sajak-sajak Nuh
Buku kritik puisi yang membahas 10 puisi tentang Nabi Nuh yang ditulis oleh 8 penyair brilian sastra Indonesia: Amir Hamzah, Subagio Sastrowardojo, Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, Taufiq Ismail, Goenawan Mohamad, Dorothea Rosa Herliany, dan A.D. Donggo ini ditulis oleh Puji Santosa yang merupakan hasil tesis s-2 Magister Humaniora, Program Pascasarjana, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

Menulis 2

Menulis 2
Buku modul kuliah S-1 Program Reguler Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Terbuka ini ditulis oleh Puji Santosa, Encep Kusumah, dan Yeti Mulyati merupakan mata kuliah Menulis lanjut bagian kedua, 9 modul, diantaranya tentang menulis cerita fiksi, karya ilmiah, dan menulis wacana hiburan.

Ancangan Semiotika dan Pengkajian Susastra

Ancangan Semiotika dan Pengkajian Susastra
Buku yang berbicara tentang ancangan semiotika dan pengkajian susastra ini ditulis oleh Puji Santosa yang merupakan fragmen skripsi S-1 dari Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Sebelas Maret tahun 1986, konsep diperbaharui hingga tahun 1993.

Pengetahuan dan Apresiasi Sastra dalam Tanya-Jawab

Pengetahuan dan Apresiasi Sastra dalam Tanya-Jawab
Buku yang berisi pengetahuan dan apresiasi sastra ini ditulis oleh Puji Santisa dalam bentuk tanya-jawab, ada 411 pertanyaan dan jawaban yang terbagi menjadi 6 bab, yaitu pengethuan dasar kesusastraan, teori-kritik-sejarah sastra, apresiasi cerita fiksi, apresiasi puisi, apresiasi drama, dan gaya bahasa.

Sastra Keagamaan

Sastra Keagamaan
Buku telaah sastra dalam hubungannya dengan keagamaan ini ditulis oleh Puji Santosa dan kawan-kawan.

Citra Manusia 1960--1980 dalam Drama Indonesia modern

Citra Manusia 1960--1980 dalam Drama Indonesia modern
Buku telaah drama Indonesia modern yang terbit antara tahun 1960--1980 dengan pendekatan antroposentris ini ditulis oleh Puji Santosa dan kawan-kawan.

Drama Indonesia Modern

Drama Indonesia Modern
Buku yang mengupas tentang drama Indonesia modern yang dimuat dalam majalah Indonesia, Siasat, dan Zaman Baru periode 1945--1965: Analisis tema, amanat, dan disertai ringkasan dan ulasan.

Puisi-Puisi Kenabian dalam Perkembangan Sastra Indonesia Modern

Puisi-Puisi Kenabian dalam Perkembangan Sastra Indonesia Modern
Sebuah buku yang berisi telaah tentang puisi-puisi kenabian dalam perkembangan sastra Indonesia ini ditulis oleh Puji Santosa dan kawan-kawan.

Pandangan Dunia Darmanto

Pandangan Dunia Darmanto
Sebuah buku telaah puisi tentang pandangan dunia Darmanto Jatman ini ditulis oleh Puji Santosa, yang berisi tentang pandangan maut, tragedi, kekuasaan, cinta, loyalitas, harapan, makna dan tujuan hidup, serta hal-hal yang transendental dalam kehidupan manusia.

Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD

Materi dan Pembelajaran Bahasa  Indonesia SD
Buku modul kuliah PGSD Universitas Terbuka yang dipakai sejak tahun 2003 ini ditulis oleh Puji Santosa dan kawan-kawan, 9 modul, diantaranya berisi strategi dan pembelajaran sastra Indonesia di SD .

Menggapai Singgasana

Menggapai Singgasana
Buku cerita anak yang berkisah tentang perjuangan seorang anak manusia dari pelosok desa menuju ke istana kerajaan ini ditulis oleh Puji Santosa sebagai bentuk sumbang sih terhadap pembentukan karakter bangsa yang dimualai dari pendidikan jiwa dan budipekerti anak.

Kisah Syeh Mardan

Kisah Syeh Mardan
Sebuah buku cerita anak-anak yang disadur dari hikayat Syeh Mardan ini ditulis oleh Puji Santosa yang enak dibaca dan berisi pendidikan keutaman meraih cita-cita luhur dan mulia.

Unsur Erotisme dalam Cerita Pendek 1950-an

Unsur Erotisme dalam Cerita Pendek 1950-an
Buku ini berbicara tentang unsur erotisme dalam cerita pendek tahun 1950-an yang termuat dalam majalah, ditulis oleh Puji Santosa bersama Abdul Rozak Zaidan dan Erlis Nur Mujiningsih.

Struktur Sajak Penyair Abdul Hadi W.M.

Struktur Sajak Penyair Abdul Hadi W.M.
Sebuah buku telaah sajak-sajak karya Abdul Hadi W.M., sampai tahun 1980-an, dalam kajian struktural ini ditulis oleh Puji Santosa bersama Anita K. Rustapa dan Zaenal Hakim.

Followers

Picture Window theme. Powered by Blogger.