Sunday, 22 January 2012

KEPEMIMPINAN NARPATI CATUR MULYA

Apa makna Narpati Catur Mulyaadalah watak utama bagi penguasa
yang menjadi pegangan memimpin negara
melaksanakan amanah rakyat membangun bangsa.

Pertama, watak Jalma Wasis Sulaksanaseorang pemimpin negara hendaknya
menguasai berbagai ilmu pengetahuan yang ada
tidak terbatas ilmu lahiriah, ilmu batinpun juga
sehingga pemimpin menjadi bernas, cerdas, dan cendekia.

Kedua, watak Praja Welas Sulaksanaseorang pemimpin negara hendaknya
memiliki rasa belas kasih kepada sesama
tidak membedakan ras, golongan, dan agama
semua diberlakukan sama sesuai hukum negara.

Ketiga, watak Jalma Wirya Sulaksanaseorang pemimpin negara hendaknya
berani dan tegas bertindak secara nyata
memutuskan dengan bijak segala perkara
tutur kata dan bahasanya dapat dipercaya.

Keempatnya, watak Praja Wibawa Sulaksanaseorang pemimpin negara itu hendaknya
memiliki kewibawaan yang luar biasa
memancarkan pesona yang penuh aura
rakyat dan bangsa segan, hormat kepadanya
semua program dapat terlaksana secara nyata
membuat rakyat hidup sejahtera dan bahagia.

Bekasi, 22 Januari 2012

Friday, 20 January 2012

SEMBAH CIPTA DAN HATI

SEMBAH CIPTA DAN HATI

Bersembahnya cipta dan hati
ada tiga hal yang harus dijalani
setiap hari tiada henti
sebagai kesanggupan suci
hanya memuja kepada Ilahi:
(1) Sadar, senantiasa penuh berbakti,
disentosakan zikir dan sembahyang setiap hari;
(2) Iman, bulat hakulyakin sepenuh hati,
tiada tuhan selain Allah ya Robbi;
(3) Takwa, selalu taat dan menetapi
semua sabda wejangan perintah Ilahi,
larangan Tuhan juga haruslah disingkiri,
agar hidup kita bahagia selamanya nanti.

Istilah lain Takwa adalah Taat atau Mematuhi
mengandung kedalaman makna haruslah memiliki
kesediaan diri membersihakan tempat yang suci
pada setiap waktu di dalam pusat hati sanubari
untuk dapat menerima pencerahan dari Ilahi
serta berniat menyediakan kancah pepadang Ilahi
demikian itulah yang disebut dengan TAAT SEJATI.

Kemudian, sucikanlah cipta dan hati
melalui pelaksanaan tirta sari Pancasila
artinya cipta dan hati senantiasa bersih suci
penuh dengan kesusilaan atau susila anuraga
maknanya sucinya cipta dan hati
itu ada lima hal yang harus dilaksanakan
pertama: Rela terhadap Hukum Tuhan,
kedua: Menerima
apa pun yang sudah menjadi bagiannya,
ketiga: Jujur menepati janji dan kesanggupan,
keempat: Sabar menerima cobaan Tuhan,
dan kelimanya: Berbudi Luhur atau berakhlak al karimah.

Bekasi, 30 September 2010

Tuesday, 17 January 2012

KEPEMIMPINAN BERBUDI MULIA

Orang yang berbudi mulia
adalah orang yang bersahaja
tingkah laku dan perbuatannya
senantiasa menyenangkan mereka
membuat gembira ria penuh makna.

Orang yang berbudi mulia
adalah mereka yang sikapnya
senantiasa ramah kepada siapa saja
bersahabat dan tidak membuatnya beda
tindak tanduknya tertib dan susila anuraga.

Orang yang berbudi mulia
adalah mereka yang tutur katanya
sedikit, tetapi mengandung penuh makna
selalu jujur apa adanya kepada siapa saja
senantiasa menepati janji yang diucapkannya.

Orang yang berbudi mulia
adalah mereka yang sopan berbicara
santun setiap tindakan yang diperbuatnya
tangannya tidak bergapaian ke mana-mana
terang dan ramah memancar dari roman muka
tajam dan bersinar cemerlang memancar dari mata
siapa pun yang menatap timbul rasa segan berwibawa.

Orang yang berbudi mulia
adalah mereka yang cara hidupnya
berpakaian bersahaja atau sederhana
tidak berjubah mewah dengan bermahkota
tetap tertata rapi, bersih, dan sedap dipandang mata.
Orang yang berbudi mulia
adalah mereka yang paramarta
adil, merata, dan penuh bijaksana
belas kasih, sayang, dan cinta sesama
kesabarannya itu laksana samudera raya.

Orang yang berbudi mulia
adalah mereka yang tetap setia
kepada tanah air dan pembesar negara
taat pada peraturan dan undang-undangnya
menetapi kewajiban hidup dengan tata susila
menghormati dan meluhurkan semua agama
tidak membeda-bedakan derajat, golongan, dan bangsa
semua diperlakukan sama, tanpa mengabaikan tata krama
dan tidak meninggalkan cara hidup bermasyarakat yang ada.

Orang yang berbudi mulia
adalah mereka yang saling menjaga
harkat, martabat, harga diri, dan wibawa
tidak bergelar dan bahkan tidak berganti nama
tidak ingin di sanjung-sanjung ataupun dipuja-puja
tidak menyombongkan kemampuan dan kepandaiannya
tidak meninggalkan kewaspadaan kepada siapa dan apa saja.

Orang yang berbudi mulia
adalah mereka yang senantiasa
mendarmakan kemampuannya kepada dunia
dengan membuat sejahteranya dunia secara nyata
berdasarkan pada kasih sayang dan keadilan sempurna
serta pengorbanan yang nyata-nyata kepada sesama
memberi tuntunan, pencerahan, dan teladan utama
kepada semua umat agar hidup rukun, damai, dan sejahtera
sebagai perwujudan rasa berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Friday, 9 December 2011

GUBERNUR LEMHANAS REPUBLIK INDONESIA

Gubernur Lemhanas RI: Prof. Dr. Ir. Budi Susilo Soepandji, DEA.

 
"Buah akan mencerminkan pohonnya. Keberhasilan orangtua akan dinilai dari bagaimana mereka membesarkan dan mendidik putra-putrinya." Pepatah tersebut ditulis Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta,  Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, pada halaman pertama buku biografi Roesmiati Soepandji, The Long and Winding Road (Metropolit Media Promosindo, Surabaya, 2009)

Dalam buku The Long and Winding Road: Sebuah Biografi Roesmiati Soepandji dalam Memperoleh Kesejahteraan, Ketenteraman, dan Kebahagiaan Hidup yang Abadi terbitan 2009, Komaruddin menyatakan, dengan formula tersebut, Roesmiati Soepandji telah membesarkan putra-putrinya menjadi sarjana mandiri, berintegritas, terpandang dalam pergaulan nasional, dan sangat hormat kepada kedua orangtua.

”Hanya akar dan pohon yang sehat akan melahirkan dedaunan yang rimbun dan buah yang sehat sehingga memberi berkah bagi lingkungannya,” tulis Komaruddin.

Roesmiati dan suaminya, Brigadir Jenderal (Purn) dr Soepandji (alm), termasuk salah satu keluarga di negeri ini yang melahirkan anak-anak yang sukses. Tiga dari enam anak mereka menduduki jabatan tertinggi di beberapa lembaga, yakni Hendarman Soepandji, SH (64), mantan Jaksa Agung; Mayor Jenderal TNI Hendardji Soepandji (58), mantan Komandan Pusat Polisi Militer TNI dan mantan Asisten Pengamanan Kepala Staf Angkatan Darat; serta Prof Dr Ir Budi Susilo Soepandji, DEA (56) yang saat ini menjabat Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas).

Dua anaknya yang lain sukses berkarier dalam bidang pendidikan, yakni dr Hendarto (66), dosen di Universitas Diponegoro, Semarang; dan Dra Hendarti (60), dosen Universitas Yayasan Administrasi Indonesia, Jakarta. Adapun seorang putra lainnya, Ir Bambang Tri Sasongko (48), adalah pengusaha yang bergerak di berbagai bidang, antara lain batu bara dan pelabuhan.

Bagaimana pasangan Roesmiati dan Soepandji mendidik dan membentuk karakter putra mereka  hingga berhasil dalam studi dan karier? Saat ditemui, awal April 2011 di rumahnya di Magelang, Jawa Tengah, Roesmiati yang September mendatang genap berusia 87 tahun menuturkan, sejak kecil anak-anaknya dilatih disiplin oleh ayah mereka. ”Pukul 04.30 pagi anak-anak sudah dibangunkan dan diajari berenang oleh bapaknya,” ujarnya.

Sementara Roesmiati punya cara tersendiri membesarkan anak-anaknya. Sejak anak-anaknya masih kecil, setiap malam, sebelum tidur, dia menceritakan dongeng-dongeng dengan berbagai pesan moral. Kisah yang didongengkan adalah cerita dari kumpulan dongeng Hans Christian Andersen yang diubah menjadi cerita rakyat dengan cara mengganti nama tokohnya dengan nama-nama Jawa.

”Dengan mengganti nama yang lebih akrab dengan telinga mereka, anak-anak dapat lebih cepat menangkap dan merekam pesan moral dari cerita yang saya sampaikan. Dari  dongeng itulah saya tanamkan kepada mereka agar kelak menjadi kusuma bangsa,” ujarnya seraya mengakui tidak begitu paham cerita rakyat karena sejak kecil mengenyam pendidikan ala Belanda.

Selain menanamkan nilai kesabaran, kasih sayang, dan kejujuran, sang ibu juga mendidik anak-anaknya takut akan Tuhan. ”Saya ingin anak-anak saya menjadi kekasih Tuhan,” ujarnya. Maka, sejak anak-anaknya lahir, doa Roesmiati selalu mengawal langkah anak- anaknya. Bahkan, demi kesuksesan anak- anaknya, sang ibu rela melakukan ritual puasa selama tiga hari, sebelum dan sesudah weton (hari kelahiran sesuai pasaran Jawa) tiap-tiap anak. Kebiasaan ini terus berlanjut hingga mereka menamatkan pendidikan sarjana. Sesuai dengan adat kebiasaan wanita Jawa, hal itu dilakukan sebagai upaya tirakat dan doa agar putra-putrinya dapat hidup sukses dan bahagia.

”Saya selalu pesan, jika jadi dokter sembuhkanlah banyak orang dan jangan cari uang, jadi guru jangan kejam, jadi tentara jangan untuk membunuh, dan jangan pernah korupsi dan memanipulasi dana pembangunan kalau jadi insinyur,” ujarnya.

Pendidikan anak-anak diarahkan
Saat anak-anak mereka lulus SMA, Roesmiati menegaskan, dia dan  suaminya memang mempersiapkan ke mana anak- anak itu harus melanjutkan studi. Kecuali Hendardji yang sejak kecil bercita-cita menjadi tentara, lima anak pasangan Roesmiati dan Soepandji diarahkan kuliah dengan disiplin ilmu berbeda-beda.

Putra sulung, dr Hendarto (Nto), mengikuti jejak sang ayah, menjadi dokter dan kini dosen di Fakultas Kedokteran Undip. Putra kedua, Hendarman Soepandji (Mamang), yang awalnya ngotot masuk jurusan teknik, akhirnya mau kuliah di Fakultas Hukum, sebagaimana keinginan orangtuanya. Hendarman tak hanya menjadi jaksa biasa, tetapi dalam kariernya dia mencapai jabatan tertinggi di Kejaksaan Agung.

Anak ketiga yang merupakan satu-satunya perempuan, Hendarti (Heni), diarahkan kuliah di bidang psikologi dan hingga kini menjadi dosen Psikologi di Kampus YAI Jakarta. Sementara putra keempat, Hendardji (Haji), yang sejak kecil menunjukkan minat dengan dunia tentara, sejak lulus SMA memantapkan diri masuk Akademi Militer Magelang. Tak hanya sukses berkarier militer, kini  Hendardji juga dipercaya menjabat Direktur Utama Pusat Pengelolaan Kompleks Kemayoran (PPKK) Jakarta.

Budi Susilo Soepandji (Usi) yang merupakan anak kelima pasangan Roesmiati dan Soepandji sejak kecil menunjukkan kemampuan berpikir secara bijaksana. Budi pun mengenyam pendidikan S-2 dan S-3 di Perancis. Sebelum dipercaya presiden menjabat Gubernur Lemhannas, Budi pernah menjabat Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Departemen Pertahanan dan Dekan Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Berbeda dengan kelima kakaknya, putra bungsu, Bambang Tri Sasongko (48), memilih berkecimpung di dunia usaha. Pendidikan karakter yang ditanamkan sejak kecil hingga kini dipegang anak-anak Roesmiati dan Soepandji. Bahkan, Hendardji dalam buku biografinya mengakui mendidik anak bukan hanya menjadikan seorang anak menjadi pintar, melainkan yang jauh lebih penting harus mempunyai karakter. ”Sehingga sekarang, saat usia kami sudah tua begini, dongeng itu masih membekas sehingga saya merasa inilah pendidikan yang paling efektif,” demikian pandangan Hendardji tentang sosok ibunya.

Sebagai perempuan, Roesmiati menyatakan, dia tidak hanya sekadar menjadi ibu yang melahirkan anak-anak, tetapi juga sebagai pendidik anak yang pertama dan utama dalam membentuk anak-anak yang berbudi pekerti luhur. Pertama, karena anak dikandung ibu dan utama karena ibulah yang setiap saat berada di sisi anak-anaknya.

Seperti ungkapan dalam sebuah buku, when you educate one man, you educate one person, but when you educate one women, you educate one generation. Ketika Anda mendidik satu orang, Anda mendidik satu orang, tetapi ketika Anda mendidik satu perempuan, Anda mendidik satu generasi.

Nama:  Budi Susilo Soepandji
Gelar :  Prof., Dr., Ir., DEA.
Departemen : Teknik Sipil
Fakultas : Teknik
NIP / NUP : 130888610
Jabatan Fungsional : Guru Besar
Jenis Kelamin : Pria
Tempat, Tanggal Lahir : Yogyakarta, 27 Oktober 1954
E Mail : budisus@eng.ui.ac.id,
budisoepandji@yahoo.com

Penelitian yang Telah Dilakukan (5 Tahun Terakhir):
  • Peneliti Utama Riset Unggulan Terpadu VIII (RUT/VIII) dengan judul “Uji Laboratorium dan Aplikasi Piranti Lunak untuk Kasus Geotextile sebagai Reinforcement pada Konstruksi Timbunan di atas Tanah Gambut” (2001/2003)
  • Peneliti Utama Riset Unggulan Kemitraan V (RUK/V) dengan judul “Sistem Pondasi dan Lapisan Pendukung Konstruksi Jalan di atas Tanah Gambut” (1999/2001)
Publikasi Karya Ilmiah; Buku, Artikel, Jurnal, Makalah, Presentasi, Paten/ Hak Cipta (5 Tahun Terakhir) :
  • T. Ilyas, C. F. Leung, Y.K. Chow, Soepandji Budi. Centrifuge Model Study of Laterally Loaded Plie Groups in Clay. Journal ASCE Geotecnical and Geoenvieonment Engineering, March 2004
  • Budi Soepandji, Rahayu W.A. Prakoso W, Peran Geoteknik Dalam Reklamasi Pantai, Seminar terbatas FT UI, 10 Desember 2003 • Budi Soepandji, Uji Timbunan Jalan (Trial Embankment) di atas Tanah Gambut Bereng Bengkel, Palangkaraya Menggunakan Bahan Material Ringan (Expanded Poly Styrene), Pertemuan Ilmiah Tahunan HATTI, Jakarta, Agustus 2003
  • Rahayu, W., Fleureau, J.M., Soepandji, B.S., (8--9 Oktober 2002). “Etude de la Tourbe : Comportemen, Mechanique de la Tourbe Indonesienne”, dipresentasikan dan dipublikasikan pada JNGG 2002, Nancy.
  • Trigunarsyah B, Soepandji, B.S., Abidin, I.A., (25027 September 2002). “Improving Building Mantainability using Constructability Approach : A Review of Indonesian Constructed Facilities”, dipresentasikan dan dipublikasikan pada the 3rd Asia Pasific Conference on System Integrity and Mantainance, Brisbane, Australia.
  • Soepandji, B.S., Samudra, H., (6--7 Agustus 2002). “Korelasi Pendekatan dengan Settlement dan Pore Pressure untuk Evaluasi Koefisien Konsolidasi Primer”, dipublikasikan pada The 2001 FTUI Seminar Quality in Research Proceeding (ISSN 1411.1284).
  • Soepandji B.S., Damoerin, D., D. Katili, I., Apriia, Asti W., (6--7 AGUSTUS 2002). “Penelitian Penurunan Konstruksi Trial Embankment dengan EPS di atas Tanah Gambut Menggunakan Metode Elemen Hingga –  Studi Kasus Bereng Bengkel, Kalimantan Tengah”, dipresentasikan dan dipublikasikan pada The 2002 FT UI Seminar Quality in Research (ISSN 1411.1284).
Keanggotaan Organisasi Ilmiah:
  • Anggota Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia (HATTI)
  • Anggota Himpunan Ahli Manajemen Konstruksi Indonesia (HAMKI)
  • Anggota Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI)
  • Anggota Conseille Internationale du Batiment (CIB)
  • Anggota Persatuan Insinyur Indonesia (PII)
  • Anggota Ikatan Ahli Manajemen Proyek Indonesia (IAMPI)

Sumber : ekstra.kompas.com

Wednesday, 23 November 2011

Manusia, Puisi, dan Kesadaran Lingkungan

Hasil Penelitian Program Insentif Peningkatan Kemampuan Peneliti dan Perekayasa (PKPP) Kementerian Negara Riset dan Teknologi Tahun 2011

Persoalan pemeliharaan lingkungan hidup yang bersih dan sehat menjadi masalah yang pelik setelah manusia mengenal perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih serta gaya hidup modern. Semakin berkembang atau bertambahnya manusia dan makhluk lain penghuni dunia, dari tahun ke tahun, bahkan dari abad ke abad, semakin menambah persoalan pemeliharaan lingkungan hidup yang bersih dan sehat bagi penghuni dunia, alam semesta seisinya, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, buku hasil penelitian ini berusaha menganalisis makna dan pesan utama 18 puisi Indonesia modern yang ditulis oleh 8 penyair sastra Indonesia modern (Eka Budianta, Slamet Sukirnanto, Sapardi Djoko Damono, Taufiq Ismail, Suryatati A. Manan, Dorothea Rosa Herliany, Iwan Nurdaya Djafar, dan Ataswarin Kamariah Moewardi Bambang Sarah) sebagai salah satu upaya untuk menyadarkan masyarakat agar senantiasa menjaga, memelihara, dan melestarikan lingkungan hidup yang bersih dan sehat.
Masalah penelitian ini adalah bagaimanakah makna dan pesan utama persoalan pemeliharaan lingkungan hidup yang bersih dan sehat dalam puisi Indonesia modern yang ditulis oleh delapan penyair sastra Indonesia modern di tengah masyarakat perkotaan yang padat penduduknya, terutama masalah pengelolaan sampah dan limbah, usaha pencegahan berbagai polusi udara, pemeliharaan aliran sungai dan drainase, pelestarian hutan demi keseimbangan ekosistem, konteks sosial masyarakat enam kota di Indonesia dengan masalah lingkungan hidup, tingkat keberterimaan masyarakat enam kota di Indonesia atas makna dan pesan utama 18 puisi lingkungan hidup, serta bagaimana tanggapan, pesan, dan harapan masyarakat enam kota di Indonesia tentang puisi dan kesadaran masyarakat akan lingkungan hidup?
Tujuan penelitian ini adalah mengungkapkan dan mendeskripsikan makna dan pesan utama yang termuat dalam 18 puisi bertema lingkungan hidup, konteks sosial masyarakat pembaca enam kota di Indonesia dengan masalah lingkungan hidup, tingkat keberterimaan masyarakat enam kota di Indonesia atas makna dan pesan utama 18 puisi lingkungan hidup, serta bagaimana tanggapan, pesan, dan harapan masyarakat enam kota di Indonesia tentang puisi dan kesadaran masyarakat akan lingkungan hidup. Dengan masalah dan tujuan ini, hasil yang diharapkan dari penelitian adalah agar masyarakat memiliki kesadaran untuk memelihara lingkungan hidupnya yang bersih dan sehat, bebas dari sampah dan limbah yang berserakan, sungai dan drainase airnya tetap jernih dan dapat lancar mengalir, berusaha mencegah terjadinya polusi udara, dan masyarakat gemar menanam dan memelihara pepohonan demi keseimbangan ekosistem.
Berdasarkan masalah dan tujuan tersebut penelitian ini menggunakan metodologi pendekatan kualitatif, yaitu melalui analisis konten terhadap 18 puisi Indonesia modern untuk menemukan makna dan pesan utamanya, lalu menyebarluaskan makna dan pesan utama 18 puisi tersebut kepada masyarakat dengan teknik kuesioner yang dilengkapi dengan tanya jawab atau wawancara kepada 180 responden yang berada di Jakarta, Pekanbaru, Tanjung Pinang, Pontianak, Mataram, dan Makassar.
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa makna dan pesan utama 18 puisi Indonesia modern yang bertema lingkungan hidup dan ditulis oleh delapan penyair sastra Indonesia modern adalah masyarakat diharapkan untuk senantiasa dapat: (1) mengelola sampah dan limbah agar tidak menimbulkan berbagai penyakit, terekspresikan dalam puisi “Sampah” karya Ataswarin, “Potret Tukang Sampah” karya Eka Budianta, dan “Air Selokan” karya Sapardi Djoko Damono, (2) mengusahakan pencegahan polusi udara agar dapat diperkecil ambang batas kotornya sehingga udara kembali menjadi bersih dan sehat, terekspresikan dalam puisi “Polusi Udara” karya Ataswarin, “Pohon di Tepi Jalan” karya Sapardi Djoko Damono, “Menengadah ke Atas, Merenungi Ozon yang Tak Tampak” karya Taufiq Ismail, “Membaca Tanda-Tanda” karya Taufiq Ismail, dan “Lingkungan Mati” karya Taufiq Ismail, (3) menjaga dan memelihara aliran sungai dan drainase secara baik agar air tetap jernih dan dapat mengalir lancar, terekspresikan dalam puisi “Perjalanan Sungai” karya Eka Budianta, “Sungai Ciliwung yang Miskin” karya Slamet Sukirnanto, “Sungai yang Mengalirkan Air Mata dan Hujan yang Meneteskan Pasir-Pasir” karya Dorothea Rosa Herliany, “Banjir” karya Suryatati A. Manan, dan “Banjir” karya Ataswarin, dan (4) berusaha melestarikan hutan dan tanaman untuk keseimbangan ekosistem, terekspresikan dalam puisi “Ada Belantara, Pohon di Mana” karya Slamet Sukirnanto, “Gergaji” karya Slamet Sukirnanto, “Hutan” karya Sapardi Djoko Damono, “Pokok Kayu” karya Sapardi Djoko Damono, dan “Cerita dari Hutan Bakau” karya Iwan Nurdaya Djafar.
Pesan utama dari 18 puisi tentang lingkungan hidup itu adalah (1) masyarakat perlu mendapatkan informasi yang benar tentang penanganan sampah dan limbah sebab selama ini mereka tidak diberi solusi tentang penanganan sampah dan limbah secara benar. Oleh karena itu, perangilah sampah dan limbah walau dengan alat sederhana dan jangan biarkan sampah dan limbah berserakan di mana-mana sehingga menimbulkan berbagai penyakit; (2) udara di sebagian besar wilayah kita telah tercemar oleh sisa pembakaran kendaraan bermesin, sisa pembakaran pabrik-pabrik industri, dan asap pembakaran lahan dan hutan secara besar-besaran sehingga udara kotor dan tidak sehat. Oleh karena itu, usahakanlah pencegahan semakin berlarut-larutnya polusi udara dengan mengurangi pembakaran-pembakaran dan berusahalah menanam dan memelihara pohon sebanyak-banyaknya, agar udara kembali menjadi bersih dan nyaman kita hirup bernapas; (3) jaga dan peliharalah aliran sungai dan drainase agar air tetap jernih dan mengalir lancar serta tidak menimbulkan bencana banjir ketika musim penghujan datang. Oleh karena itu, jangan membuang sampah dan limbah di sungai dan selokan, jangan tinggal di bantaran sungai, dan berusahalah membersihkan aliran sungai dan drainase agar tidak menimbulkan berbagai bencana dan penyakit; dan (4) lestarikan hutan dan lahan sebagai paru-paru dunia, jagalah hutan dan lahan agar tidak dibalak dan dibakar oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, bangkitkan kembali gerakan penghijauan, dan fungsikan lahan dan hutan secara benar sehingga terdapat keseimbangan ekosistem.
Konteks sosial masyarakat pembaca enam kota di Indonesia dan tingkat keberterimaan masyarakat tersebut terhadap makna dan pesan utama 18 puisi adalah cukup besar, berkisar 50%--95%, responden tahu, mengerti, dan paham akan persoalan lingkungan hidup dan mereka pun tahu dan paham bagaimana cara mengatasinya, serta dapat menerima dengan baik dan tepat atas makna dan pesan utama kedelapan belas puisi tersebut. Masyarakat berharap agar sosialisasi atau kampanye “sadar lingkungan”, melalui penyuluhan ataupun dengan pembacaan puisi lingkungan hidup, tetap terus dilakukan secara berkesinambungan dan jangan hanya sporadis. Hal ini mengingat bahwa kesadaran masyarakat akan lingkungan hidup yang bersih dan sehat dapat bangkit dan diterapkan dalam perbuatan sehari-hari apabila sering diingatkan atau dipesankan melalui berbagai cara tersebut.
Buku Manusia, Puisi, dan Kesadaran Lingkungan ini merupakan hasil penelitian yang bertajuk ”Persoalan Pemeliharaan Lingkungan Hidup yang Bersih dan Sehat dalam Puisi Indonesia Modern” dari Program Insentif Peningkatan Kemampuan Peneliti dan Perekayasa (PKPP) Kementerian Negara Riset dan Teknologi Tahun 2011. Oleh karena itu, atas terbitnya buku hasil penelitian ini kami tidak lupa mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada: (1) Menteri Negara Riset dan Teknologi melalui Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang telah menyetujui penelitian ini dilaksanakan dengan dukungan dana riset insentif yang diberikannya; (2) Dr. Ir. Anny Sulaswatty, M.Eng., Kepala Biro Hukum dan Humas, beserta Dr. Wisnu dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi, atas monitoring dan pengarahannya dalam melaksanakan penelitian ini, (3) teman-teman dari jajaran Pusat Penelitian Kebijakan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, atas pengelolaan program insentif PKPP TA 2011, (4) Prof. Dr. Cece Sobarna selaku Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang telah mengusulkan dan menyetujui kegiatan penelitian ini dilakukan hingga selesai; (5) Dr. Mu’jizah selaku Kepala Bidang Pengkajian Bahasa dan Sastra, Badan Bahasa, dan sekaligus sebagai konsultan dan narasumber penelitian yang telah rela meluangkan waktu untuk membimbing dan mengarahkan penelitian ini hingga mencapai hasil yang sedemikian; dan (6) Drs. Dhanu Priyo Prabowo, M.Hum., yang berkenan meyunting hasil penelitian dan mengusahakan terbitan buku ini. Semoga amal baik beliau-beliau mendapatkan imbalan dari Tuhan Yang Maha Esa.
Harapan kami, buku hasil laporan penelitian yang sangat bersahaja ini dapat memberi sumbang sih bagi usaha pelestarian dan pemeliharaan lingkungan hidup yang bersih dan sehat kepada masyarakat di Indonesia, khususnya dalam usaha sosialisasi atau kampanye sadar lingkungan kepada masyarakat Indonesia, dan memberikan apresiasi puisi Indonesia modern yang bertema masalah lingkungan hidup. Buku ini hanya sebagai salah satu sarana untuk ikut serta mengingatkan masyarakat agar sadar lingkungan. Semoga. Amin.

Sunday, 2 October 2011

Bang Adji Balon Gub DKI 2012--2017


Pemilik nama lengkap Mayjen TNI (Purn). Drs. H. Hendardji Soepandji, SH., ini lahir dan besar di Semarang. Sosok yang dikenal punya jiwa kepemimpinan (leadership), tegas, konsisten, jujur dan bersih, kompeten, serta berintegritas tinggi ini menyelesaikan pendidikan militernya di AKABRI Magelang pada 1974.

Beliau merupakan anak ke-4 dari 6 bersaudara dari pasangan almarhum Brigjen (Purn) dr. Soepandji dan Roesmiati (Magelang), serta cucu dari almarhum dr. Roestamadji (Semarang). Di militer, pria yang akrab disapa Bang Adji ini pernah dipercaya mengemban jabatan Komandan Pusat Polisi Militer Angkatan Darat (Dan Puspomad) pada 2006 dan Asisten Pengamanan (Aspam) KSAD pada tahun 2008.

Sukses Bang Adji dalam karir, juga dialami kelima saudara kandungnya. Kakak sulungnya, dr. Hendarto Soepandji, menjadi dosen di Universitas Diponegoro Semarang. Kakak keduanya, Hendarman Soepandji, adalah mantan Jaksa Agung RI. Lalu kakak ketiganya, Dr. (Cand) Hendarti Permono, adalah dosen di Universitas Yayasan Administrasi Indonesia Jakarta. Sementara adiknya Prof. Dr. Ir. Budi Susilo Soepandji saat ini menjabat Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas). Adapun adik bungsunya, Ir. Bambang Tri Sasongko, adalah pengusaha yang bergerak di berbagai bidang, antara lain batu bara dan pelabuhan.

Menikah dengan dr. Ratna Rosita, MPHM, saat ini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan, Bang Adji  dikaruniai dua putra, yaitu Adit dan Ica.

Bang Adji mencurahkan waktu, pikiran, dan energi untuk berikhtiar memajukan dan menyejahterakan bangsa, khususnya Kota Jakarta. Terkait itu, Bang Adji terbuka terhadap berbagai ide dan gagasan demi terwujudnya kemajuan dan kesejahteraan tersebut.

Pada akhir 1997 dan awal 1998, ketika krisis moneter terjadi, sembilan bahan pokok (sembako) hilang dari peredaran, Hendardji Soepandji yang saat itu sebagai Dan Pomdam Jaya dapat menyelesaikan masalah penimbun sembako.

Pada 10 November 1998, ketika bentrok fisik antara PAM Swakarsa dan masyarakat setempat di tugu proklamasi, Hendardji berdiri di antara dua kelompok massa yang terlibat bentrok untuk melerai dan mengevakuasi salah satu kelompok keluar dari Tugu Proklamasi.

Pada 22 November 1998, Hendardji menyelamatkan dan mengevakuasi 300 orang kelompok suku Ambon dari Basement Gajah Mada Plaza ketika terjadi amuk massa di jalan Ketapang, Jakarta.

Sebagai Dirut PPKK, Hendardji akan menjadikan Kemayoran sebagai kawasan Green International Business District (GIBD) seluas 454 ha dengan RTH 30% dan akan membangun gedung Grand Kemayoran yang mampu menampung 25.000 penonton untuk berbagai even, baik olahraga, kesenian & budaya, maupun berbagai acara lainnya. Kemayoran (Jakarta ke depan) juga akan dikembangkan sebagai Cyber City. Hendardji Soepandji juga merencanakan untuk membangun transportasi sampai ke Kawasan kelurahan.

Saat ini Bang Adji mempersiapkan diri untuk maju menjadi bakal Calon Gubernur DKI Jakarta 2012-2017.
(Sumber: http://bangadjicenter.com/page.php?p=biografi)

Friday, 5 August 2011

Wahyu Agung Pembebas Jagat

Sastra Jendra Hayuningrat

Werdining Sastra Jendra Puniki

Sastra Ngelmu Jendra Gung Bawana

Ya Ngelmu Sangkan Parane

Ngelmu Sajati Tuhu

Pituduh Nyata Guru Jati

Lakune Hastha Sila

Ngambah Dalan Hayu

Nyingkiri Kabeh Paliwara

Dadia Hayune Bawana Sayekti

nTuk Nugrahaning Suksma



Lakune Hastha Sila Puniki

Tarlen Saking Netepi Trisila

Kapindho Pancasilane

Trisila Tegesipun

Panembahing Cipta Lan Ati

Tri Prakara Binagya:

Pracaya Mituhu

Eling Kang Mangka Purwanya

Marang Gusti Pangeran Kang Maha Suci

Sinebut Tripurusa



Kang Aran Pancasila puniki

Susilayu Silastuteng Driya

Sucining Kalbu Tegese

Limang Prakara Iku

Dihin Rila Mring Kukum Widdhi

Kapindho Anarima

Ing Sakadar Pandum

Katri Temen Barang Karya

Ping Pat Sabar Nampa Cobaning Hyang Widdhi

Lima Luhur Budinya



(Terjemahan dalam Bahasa Indonesia kurang lebih sebagai berikut.
Rahasia makna Sastra Jendra Hayuningrat ialah
Sastra = Ilmu, Jendra = Agung, Hayuningrat = Wahyu Pembebas Jagat,
Yakni Ilmu Asal dan Tujuan Hidup,
Ilmu Sejati yang sesungguh-sungguhnya,
Petunjuk Nyata Guru Sejati,
Lakunya (dengan watak) Hasta Sila,
Menempuh Jalan Rahayu (Jalan Keselamatan), dan
Menyingkiri semua Paliwara (Lima Larangan Tuhan),
Jadilah Keselamatan, Kesejahteraan, dan Ketentraman Dunia
Mendapatkan Anugerah Tuhan.

Laku (dengan watak) Hasta Sila ialah
Tiada lain hanya dari menetapi Trisila,
dan yang kedua Pancasila.
Trisila maknanya:
Panembahnya Cipta dan Hati,
Terdiri atas Tiga Hal:
Percaya (Iman), Taat (Takwa), dan
Sadar (Zikir, Sembahyang, dan berbakti) untuk yang utamanya
Kepada Tuhan Yang Maha Esa ialah Tuhan Yang Maha Suci
Disebut Tripurusa.

Yang disebut dengan Pancasila ialah
Hati yang bersih penuh dengan kesusilaan
Maknanya Sucinya Hati
Itu ada lima hal:
Yang pertama: Rela terhadap Hukum Tuhan,
Yang kedua: Menerima
apa pun yang sudah menjadi bagiannya,
Yang ketiga: Jujur menepati janji dan kesanggupan,
Yang keempat: Sabar menerima cobaan Tuhan,
Yang kelimanya: Berbudi Luhur.)


Pertemuan 15 Teori Sastra Tempatan