SELAMAT DATANG

Saudaraku, selamat datang di blog GITA PUJA. Saudaraku, berbagi ilmu pengetahuan, wawasan, dan apa pun yang kita miliki merupakan ibadah. Senyampang masih dapat kita lakukan, mengapa tidak segera kita lakukan? Ayo segera berbagilah kepada kami dan kawan-kawan lainnya dengan cara memberi masukan, komentar, kritik, saran, catatan, dan apa pun tentang blog ini demi kebaikan kita bersama membangun peradaban bangsa dan negara di dunia. Selamat membaca, selamat menikmati sajian dalam blog ini, dan selamat berapresiasi. Salam takzim kami. Beres! Sehat! Sukses! Yes!

Kamis, 29 Juli 2010

Teladan Ibu R. Soepandji

FEATURES
Senin, 22 Desember 2008 , 16:27:00
Ny Roesmiati Soepandji, Ibu Hebat yang Punya Anak-Anak Sukses

Foto : Rildwan/JAWA POS

Ini adalah cerita Ny Roesmiati, seorang ibu yang punya anak-anak sukses. Ada yang menjadi Jaksa Agung, Dirjen di Departemen Pertahanan dan petinggi TNI AD. Di hari Ibu ini, Ny Roesmiati berbagi pengalaman.

Laporan Ridlwan, Magelang




SALAH satu ibu hebat itu adalah Ny Roesmiati, ibunda Jaksa Agung Hendarman Soepandji. Dari rahim wanita 84 tahun itu, lahir enam anak yang semua membanggakan.

Enam anak itu hasil dari pernikahannya dengan almarhum Brigjen (pur) dr Soepandji. Anak pertama, Hendarto, kini menjadi dokter, sekaligus pensiunan dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang. Kedua, Hendarman Soepandji yang kini dipercaya menjadi jaksa agung.

Ketiga, Hendarti, satu-satunya perempuan, yang berprofesi sebagai psikolog. Keempat, Mayjen Hendarji Soepandji, mantan komandan Pusat Militer TNI-AD yang kini menjabat asisten pengamanan kepala staf Angkatan Darat. Mayjen Hendarji itulah yang berhasil mengungkap kasus penimbunan puluhan senjata api di rumah almarhum Brigjen Koesmayadi dua tahun silam.

Kelima, Prof Dr Ir Budi Soesilo Soepandji, Dirjen Potensi Pertahanan dan Keamanan di Departemen Pertahanan dan pernah menjadi dekan Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Yang bungsu, Ir Bambang Trisasongko MSc, adalah insinyur teknik mesin yang sekarang menjadi pengusaha.

Tentu saja, melihat anak-anaknya sudah menjadi ''orang'', bahkan bukan ''orang sembarangan'', Ny Roesmiati merasa tenang. ''Sebagai orang tua, saya hanya mendoakan mereka,'' kata wanita kelahiran Purwokerto 25 September 1924 itu kepada Jawa Pos yang berkunjung ke rumahnya di Jl A. Yani, Magelang, Jawa Tengah, Kamis petang lalu (18/12).

Sepeninggal suaminya yang puput usia sepuluh tahun lalu, Bu Pandji -panggilan akrab Ny Roesmiati- menetap di rumah itu. Setelah pensiun dari dinas militer, dr Soepandji sempat mengajar di Fakultas Kedokteran UGM (Universitas Gadjah Mada). Namun, dia tetap memilih tinggal di rumah yang tak jauh dari Akademi Militer itu.

Sehari-hari Bu Pandji ditemani Yati, pembantunya, dan seorang lagi pembantu laki-laki yang ikut menjaga keamanan rumah. Anak kecil yang membukakan pintu saat Jawa Pos mengetuk pintu rumah tersebut adalah Reza, anak Yati, yang duduk di taman kanak-kanak.

Meski tinggal jauh dari anak-anaknya (semua tinggal di Jakarta), Bu Pandji tak pernah merasa kesepian. ''Saya bersyukur karena anak-anak kalau sedang dinas ke sini selalu mampir. Apalagi, lingkup tugas mereka memang sering ada acara di Magelang,'' katanya. Komunikasi melalui telepon dengan anak, menantu, dan cucu juga tak pernah putus.

''Kalau Idul Fitri, saya yang diboyong ke Jakarta. Lebih praktis, hemat waktu, dan segalanya,'' cerita nenek 14 cucu dan enam buyut itu. Nada bicara Bu Pandji masih sangat tegas meski pengucapannya lembut. Semua putra-putri Bu Pandji memang berkarir di ibu kota.

Apa rahasianya bisa sukses membesarkan dan mendidik semua anak-anaknya? Ditanya seperti itu, ibu yang masih aktif menjadi anggota Dewan Pembina Senam Sehat Indonesia itu malah tersenyum. ''Wah, sebenarnya saya ini juga tidak punya resep khusus. Apa ya wangun (pantas) saya diwawancarai,'' ujarnya merendah.

Sejak masa-masa perang kemerdekaan, Bu Pandji aktif mendampingi suami bergerilya. Dalam situasi penuh keprihatinan, dia membesarkan anak-anaknya. ''Hendarman itu pernah hilang saat usianya dua tahun di Cawas, Klaten,'' ceritanya, mengingat-ingat peristiwa puluhan tahun silam. Ketika itu, lanjut dia, Hendarman hilang persis saat hari ulang tahunnya, 6 Januari 1947.

Saat itu Bu Pandji sedang bertugas di garis belakang dan merawat anak-anak tentara yang kehilangan orang tua. Ada 17 anak tentara yang harus diopeni (dirawat). ''Karena tidak punya uang, celana Pak Pandji saya tukar dengan 100 kilogram beras. Beras itu saya bagi untuk 17 anak, masing-masing kebagian satu lepek (piring kecil),'' tuturnya. Hari itu kebetulan adalah hari kelahiran Hendarman. Bu Pandji berusaha menyisihkan sebagian beras itu untuk membuat kue untuk acara anak keduanya itu.

Tapi, hari itu juga bertepatan dengan serangan bom bertubi-tubi dari tentara Belanda. Penduduk harus berlindung, mengungsi, dan berpindah-pindah tempat. Betapa kagetnya ketika sore dia disusul kurir dan mengabarkan posisi suaminya. ''Dalam surat itu, Bapak bilang dalam kondisi sehat dan baik. Tapi, Hendarman tidak disebut,'' katanya. Saat itulah, baru disadari bahwa Hendarman hilang.

Sebagai ibu, tentu saja Bu Pandji sangat panik saat itu. Beruntung, setelah beberapa hari baru diketahui bahwa Hendarman diselamatkan salah seorang pejuang. ''Rasanya lega sekali,'' katanya.

Di masa-masa setelah perang kemerdekaan, Bu Pandji tetap menjalani hidup prihatin.Apalagi sebagai dokter tentara, suaminya sering berpindah-pindah tempat tugas.

Sebagai istri prajurit, Bu Pandji pernah merasakan hidup di berbagai medan. Di antaranya, berada di situasi perang dalam menghadapi pemberontakan PRRI, DI/TII di Sulawesi Selatan, dan operasi pembebasan Irian Barat. Itulah yang membuatnya terlatih menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan.

''Saya puasa untuk tiap anak saya. Semua bagi saya istimewa dan membanggakan,'' katanya. Bu Pandji berpuasa tiga hari setiap pasaran hari lahir anaknya dalam perhitungan kalender Jawa. Misalnya, hari pasaran anaknya jatuh pada Senin Wage. Maka, mulai Minggu Pon, dia sudah berpuasa hingga sehari setelahnya, yakni Selasa Kliwon.

''Saya juga puasa untuk hari lahir saya dan hari lahir suami. Jadi, total seharusnya 24 hari sebulan. Tapi, karena ada anak yang sama hari lahirnya, tinggal 18 hari dalam sebulan. Jadi, dalam sebulan, saya berpuasa 18 hari,'' katanya.

Itu dilakukan Bu Pandji hingga semua anaknya kuliah. ''Sekarang mereka dan menantu-menantu saya yang melakukannya. Saya sendiri sudah tidak puasa karena pertimbangan kesehatan,'' katanya.

Meski demikian, jika ada anak-anaknya yang sedang menjalani ujian berat dalam kehidupan, Bu Pandji masih sering puasa untuk anak-anaknya. ''Tapi, ingat, jangan pamrih. Kalau pamrih, justru tidak benar. Misalnya, ah saya mau puasa agar anak saya jadi jaksa agung. Nah, itu yang salah. Puasa itu mohon pertolongan Tuhan agar anak-anak diberi yang paling baik. Semua pinaringan Gusti (pemberian Tuhan, Red) itu pasti baik,'' paparnya.

Bu Pandji tak pernah memaksa anak-anak memilih jalur hidup tertentu. Misalnya, memaksa agar menjadi tentara, dokter, dan sebagainya. ''Mereka memilih sendiri,'' katanya. Dia mencontohkan, Hendarman setelah lulus SMA 1 Magelang ingin masuk menjadi anggota KKO/Marinir (TNI-AL).

''Waktu itu dia sakit, harus operasi. Tapi, dipanggil untuk tes, ya nekat. Saat disuruh push up sebelas kali langsung semaput. Setelah sadar, dia minta diulang. Eh, tiga kali semaput. Ya sudah, dia pulang,'' ceritanya, lalu tersenyum.

Setelah itu, Hendarman yang lulusan jurusan ilmu pasti itu masuk ke Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang, dan berkarir menjadi jaksa hingga sekarang.

Selain puasa, Bu Pandji menekankan pentingnya menjaga sikap saat mengandung. ''Biasakan dengan sifat rilo (rela), nrimo (menerima, ikhlas), jujur, sabar, dan budi luhur. Insya Allah, itu juga akan membawa kebaikan untuk anak-anak yang akan dilahirkan,'' katanya.

Masih Aktif di Organisasi

Peringatan Hari Ibu bagi Ny Roesmiati atau Bu Pandji selalu menjadi saat istimewa. Itu disebabkan, dia pernah memimpin gabungan organisasi wanita (GOW) di Magelang selama enam periode (1969-1992). ''Peringatan Hari Ibu di Indonesia itu kan beda dengan Eropa. Di sana Mother's Day tiap Maret dan pada hari itu wanita benar-benar tidak bekerja. Sedangkan kita kan mengenang kongres perempuan pertama 1928 di Jogja,'' kata ibunda Jaksa Agung Hendarman Soepandji tersebut.

Saat memimpin organisasi wanita di Magelang, Bu Pandji mewakili berbagai organisasi. Di antaranya Persatuan Istri Prajurit (Persit), Ikatan Istri Dokter Indonesia, dan Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia. Sekarang Bu Pandji juga masih aktif sebagai pembina Senam Sehat Indonesia. ''Saya ini pelatih utama nasional lho. Jadi, saya juga masih sering turun ke lapangan,'' katanya.

Ibu yang menguasai bahasa Belanda dan Inggris'itu adalah putra dr Roestamadji, ahli penyakit kulit di Purwokerto, Jawa Tengah. Pada masa penjajahan Belanda, hanya pribumi yang orang tuanya dokter atau bupati bisa belajar di sekolah Belanda. Karena itu, dia memulai pendidikannya dari lagere school, lalu MULO (setingkat SMP), kemudian AMS (setingkat SMA). Di antara 80 siswa lagere school-nya, hanya 30 orang yang bisa masuk MULO bagian B, termasuk dia.

Bu Pandji juga pernah menjadi juara berhitung di sekolah menengah di Jawa Timur, juga di Karesidenan Banyumas, Jawa Tengah. Kegemarannya berolahraga mengantarkan dia menjadi juara bulu tangkis se-Karesidenan Banyumas pada 1937 dan 1942 dia menjadi juara bulu tangkis sekolah setingkat SMA se-Jawa Timur.

Kini di hari tuanya, Bu Pandji aktif memberi ceramah ke berbagai tempat. ''Tahun ini saya mengisi di Papua dan Sulawesi, yang datang memang terutama wanita,'' katanya. Dia juga aktif di Paguyuban Ngesti Tunggal (Pangestu), sebuah organisasi olah jiwa yang berdiri pada 20 Mei 1949 di Surakarta. Sekarang anggotanya sudah 200 ribu orang. ''Ya, memang lebih sedikit jika dibandingkan jumlah jamaah haji tiap tahun,'''ujarnya.

Anak-anak Bu Pandji juga menjadi pengurus Pangestu. Prof Dr Budi Susilo Soepandji, anak kelimanya, menjadi ketua III Pangestu. Hendarman dan Hendarji menjadi anggota Dewan Pertimbangan Pangestu. ''Itu olah jiwa agar lebih dekat kepada Tuhan,'' katanya.

Di berbagai kota, Bu Pandji sering memberi materi tentang peran wanita dalam rumah tangga. ''Ada empat, yakni wanita itu pendamping dan kekasih suami, wanita sebagai penerus keturunan, wanita sebagai pendidik pertama dan utama bagi putra-putrinya, dan wanita sebagai abdi masyarakat,'' jelasnya. Berkarir di bidang apa pun tidak menjadi masalah sepanjang berpedoman pada prinsip itu.

''Mendampingi suami itu bukan berarti ngintil ke mana-mana, tapi bisa juga dengan doa,'' ujarnya. Bu Pandji juga mengingatkan para istri agar selalu berpikir positif pada suami.(kum)

(Dipetik dari Jawa Pos Online)

Minggu, 11 Juli 2010

Gegaraning Wong Akrami (Pegangan Hidup Berumah Tangga)


GEGARANE WONG AKRAMI

Renungan: Puji Santosa

        Tembung “gegarane” iku asale saka tembung “garan”, tegese ‘kayu kang dianggo cekelan’, umpamane ‘garan pacul’, ‘garan arit’, utawa ‘garan peso’. Sabanjure, tembung “garan” iku mau dadi tembung andhahan dwipurwa (reduplikasi) “gegaran“ lan oleh panambang “-e” dadi “gegarane”, kang anduweni teges ‘sarana’ utawa ‘piranti kang dianggo gondhelan’. Dadi, tembung “gegarane wong akrami” iku tegese ‘kang minangka cekel-cekelane anggone mbangun bale-omah utawa salaki-rabi supaya bale omahe tata tentrem kerta tur raharja sak lawase.
Apa ta kang dianggo cekelan minangka sarana mbangun bale-wisma iku? Ora ana liya amung ati pawitane, dudu rupa, lan apa maneh bandha. Awit ati kang becik bisa anggawa bebrayan bale omah tumeka urip mulya sak lawase, ora gawe sangsara sajrone mbangun omah-omah. Sajroning mbangun omah-omah kang dadi jalarane padudon, pasulayan, cecongkrahan, ora ana maneh kajaba bab bandha utawa kacanthol gebyaring wentis kuning, iya bab rupa.
        Gegarane wong akrami, salaki-rabi, jejodhoan, utawa omah-omah mono wus katerangake kanthi cetha kaya kasebut ing tembang asmaradana mangkene:
          Gegarane wong akrami
          dudu bandha dudu rupa
          amung ati pawitane
          luput pisan kena pisan
          yen gampang luwih gampang
          yen angel angel kalangkung
          tan kena tinumbas arta.
        Tembang asmaradana ing dhuwur kerep minangka ular-ular temanten kang isine maweh tuntunan marang temanten anyar bab mbangun bale-omah kang sakinah. Ora jeneng aneh manawa tembang asmaradana iku dadi kaloka ing saindengi nuswantara Jawa. Yen sinawang satleraman, surasane tembang asmaradana iku gampang dilakoni, ora angel. Nanging, sejati tembang iku maweh tuntunan kang luwih jero bab mbangun bale-omah supaya tetep lestari nganthi kaken-ninen.

Kasunyatan kang Ana
        Miturut kasunyatane dhawuhe Pakde Narto ing buku Perkawinan Bahagia, yaiku kang lumrahe dadi daya tarike para wanita utawa priya banjur omah-omah iku ana limang prakara kaya mangkene:
(1)    rupa kang narik kawigaten, yen milih priya mesti sing gagah prakosa, bagus pideksa, gantheng, sembada; dene yen milih wanita iku sing sulistya ing warna, ayu edi peni tur merak ati, kinyis-kinyis, kaya widodari ngejawantah ing bumi,
(2)    bandha donyo, sugih raja-brana, omahe gedhong magrong-magrong,
(3)    kawasisan, kapinteran, syukur kang wis dadi sarjana,
(4)   pangkat, drajad, kadudukane ing masyarakat, kayata dadi lurah, camat, bupati, direktur, dirjen, lan liya-liyane kang duwe panguwasa, lan
(5)   bebudhen kang luhur, watak utama, ati kang becik, budhi luhur utawa berbudhi bawa laksana.
        Mestine sing dadi pilihan salaras karo tembang asmaradana ing dhuwur, yaiku angka lima, bebudhen kang luhur, manungsa kang anduweni watak utama, solah-bawane nyenengake lan bisa gawe tentreme ati. Iya amung bebudhen kang becik iku kang bisa ngajak lumaku ing dalan bener tumuju ing pulo kabahagian. Syukur yen kang dipilih iku anduweni watak limang prakara kasebut, iya bandha, iya rupa, iya wasis, iya pangkat, lan iya bebudhen kang luhur. Nanging, kang akeh-akeh iku padha milih angka siji utawa loro. Sabanjure, akeh wong kang omah-omah dadi kuciwa, getun kedhuwung, kliru pilihane. Sayang, kuciwa utawa roso getun iku tansah telat tekane, tibane ing tembe mburi. Walah dalah banjur tangise nguru-ara.

Wajibe Wong Jejodhoan
        Pakde Narto ing buku Perkawinan Bahagia dhawuh ngandika manawa wajibe wong jejodhoan iku tansah rukun. Jalaran karukunan bakal tetep gawe kasantosan. Dene yen crah, cecongkrahan, bakal gawe bubrahe bale-omah. Yen wong jejodhoan iku wus kaiket sarana taline katresnan, ing tembe ora bakal gampang rusak dening sarupaning sabab kang maneka-warna. Ing kene kena tinembungake sarana saloka: “katresnan kang ora bisa luntur dening tibane udan lan ora bisa gapuk dening panase srengege”. Katresnan iku bisa urip subur ing palemahan apa bae sauger lelorone padha dene ngerti wajibe wong omah-omah.
         Kasumurupana manawa sakabehing manungsa iku, gedhe-cilik, tuwa-anom, sajrone urip ana ing alam donyo iki mesthi kadunungan rasa kasenengan lan kasusahan. Yen pinuju lagi nampa kabungahan, oleh kanugrahan, oleh kamulyan, adhakane manungsa iku banjur seneng-seneng, gemuyu latah-latah atine. Nanging, suwalike yen pinuju oleh pacoban, godha-rencana, kayata lara, kesrakat, kasripahan, lan liya-liyane, adhakane manungsa iku banjur susah, sambate nguru-ara, isine amung nguthuh, tangise ora leren-leren nganti eluhe mbanyu mili kaya segara anakan. Samono ugo ing sajroning jejodhoan, iya ora luput saka kabungahan lan kasusahan kang tekane gilir gumanti, kaya iline banyu kali menyang segara parane lan sumribiting angin wengi.
        Mahanani bab kang kaya mangkono iku, mula bungah susah, mulya papa, kudu padha ditampa bebarengan kanthi sabar lan rilane ati. Rasa panarima ing pandum kudu wus gumarit sajrone ati, abot entheng kudu dilakoni bebarengan. Karukunan kang sajati kanthi adhedhasar sih katresnan kang suci murni, bisa gawe swasana katentreman ing sajrone bale omah, satemah andayani rumeseping panggulawenthah kang prayoga tumrap para putra lan putri apa dene sanak kadhang kulawarga sakabehe.
        Kosokbaline, pasulayan lan cecongkrahan bisa nggempalake katresnan, kang banjur gawe petenge swasana, satemah andayani cabaring pendhidhikane para putra lan putri apa dene sanak kadhang kulawarga sakabehe. Tundhone sakabehe gegayuhan bakal sirna, mleset saka angen-angene, bebasane: matang tuna, numbak luput, kabenthus-benthus lakune. Grubyakan ngalor-ngidul ora kepeneran anggone lumaku. Mula kang kaya mangkono iku sabisa-bisa kudu disingkiri. Tumindhak kang kaya mangkono ora becik, dudu wajibe wong jejodhoan.

Kuwajibane Wanita
        Wruhanira, manwa sawijine priya iku bakal rumangsa begja uripe manawa bisa mengku garwa sawijine wanita kang becik bebudhene, yaiku tansah setya tuhu lan bekti marang kakunge. Anggone setya tuhu lan bekti marang kakunge iku ora ngemungake yen lagi pinuju kasinungan kamulyan lan kasenengan bae. Sanadyan ing sajrone nandhang papa cintraka lan sengsara pisan, wanita tetap setya tuhu lan bekti marang guru lakine, ora owah gingsir babar pisan. Ing jaman semengko rasa setya tuhu lan bekti marang kakunge iku kena disalokaake kaya dene adege pondasi betonan dalan tol layang ing Jakarta kae. Ora bakal ambruk yen katabrak pesawat mabur kaya gedhung WTC ing Amerika. Ora rubuh yen kena lindu daharu kaya ing Jepang, ora ambruk yen kena gelombang tsunami, utawa ora obah yen katrajang banjir gedhe kaya ing jamane Nabi Nuh kae lho. Rasa setya tuhu lan bekti marang kakung mono sing tetep kukuh, madeg, manteb, lan jejeg mung mindheng sawiji marang kakunge.
        Wanita kang ambeg utama, becik bebudhene, iku yen bisa nelukake kakunge ora sarana “kekerasan“ nanging sarana bekti lan pangastuti ing hyang Widhi. Tembung “nelukake” ing kene ora tegus ngalahake, kang nduweni karep njajah, nanging ategese bisa gawe mbangunturute kakunge tumrap rembug utawa kekarepane kang tumuju marang kabecikan lan panggawe kang bener. Sarana mangkono iku tetep ana saluran komunikasi antarane wong loro ing sajrone mbangun omah-omah kang harmonis lan bahagia.
        Sarana pratikele kang pratitis, wanita utama bisa ngenthengake kasusahan lan majarake pepeteng kang lagi sinandhang dening kakunge. Wanita bisa gawe padhange bebrayan bale omah manawa tansah bisa nuju prana. Ora kaya lekase wanita kang tuna ing budi, yen kakunge lagi kataman ing pepeteng utawa kasedihan, ora dilelipur, malah-malah dipaido lan disalah-salahake. Mula kang kaya mangkono iku kudu disetitikake dening para kaum wanita utama kareben bisa dadi tuladhane bebrayan masyarakat agung.
        Dene tumrap kakunge, wanita kang utama iku ora mung ngemungake bisa tumindhak dadi garwa, nanging ugo bisa dadi mitra-darma, kadhang sinarahwadi, lan dadi bapa-biyunge tumrap kakunge. Suwalike, wanita kang cupet ing budi, cekak nalare, rupak budine, yen pinuju pasulayan karo kakunge banjur lunga tanpa pepoyah, ninggalake omah, purik, terus bali marang wong atuwane. Ana ing paran gelem nyatur alane lan mbukak wewadine kakunge karo wong liya apa dene sanak kadhange. Wanita kang kaya mangkono iku mretandani nelakake asoring bebudhene, kasare tumindhak, lan ora bisa dadi patuladhan kang becik.
        Kanggone wanita butaarepan (cemburon) marang kakunge iku lumrah lan iya wus samestine. Mangkono mau yen anggone butaarepan iku kasurung dening pangeman kang tuwuh saka rasa katresnan tumrap marang garwane. Ewa dene yen kebangeten anggone butaarepan iku ora prayoga. Amarga bisa ngrusakake katentremane bale omah, lan adakane banjur nuwuhake rasa ora pracaya-pinracaya, malah-malah bisa ngrusakake ati lan pikiran, umpamane saya gawe rasa panalangsane ati, nggrantas, lan liya-liyane. Dadi mumet, poyang-payingan ngono kae lho.

Musthikaning Wanita
        Sanadyan ana omah, ora megawe menyang kantoran, wanita iku wajib lan prayoga ngadi sarira, mematut dhiri, tumuju tumrap kakunge. Aja banjur kok geleme ngadi sarira lan ngadi busana mung yen arep menyang papan pasamuan bae, kang tegese kanggo wong liya. Kaya mangkono iku ora prayoga. Nanging, aja keliru tampa. Ngadi sarira lan ngadi busana ana omah ora perlu menganggo busana kang sarwa anyar, sandangan kang apik-apik lan larang-larang regane weton njaba nagara, impor saka Paris, apa dene menganggo rerenggan kang sarwa gumebyar, kayata emas, mutiara, berlian, utawa inten. Menganggo kang sarwa edi peni iku ora kaya mangkono. Iku dudu kang dikarepake ngadi sarira lan ngadi busana ana ing omah tumrape kakunge. Cukup sarana resiking sarira, badan wadag lan pikiran sehat, rikma karumat lan pinata kang prayoga, sandangan kang sarwa resik, ngresepake, pamasange tumata; prasaja nanging tetap pantes.
        Sarana memantes sarira, wanita banjur anduweni daya tarik tumrap kawigatene kakunge. Anane daya tarik kang kaya mangkono iku, kakunge banjur tansah rumangsa jenak lan krasan ana omah, kang dadi wewengkone. Ora perlu andhadhak jajan ana ing njaba omah yen ana ngomah wus pepak lan sarwa cumawis kabutuhane. Pamrayogaku wong lanang mono aja tansah digegubel lan dibanjiri pamothah sarta panjaluk kang maneka warna. Piwelingku, tumindhaka kang pratitis, bisa tansah nuju prana kanthi angon mangsa lan kahanan. Wanita kang lantip bisa nyumurupi marang apa kang dadi kabutuhane kakunge, lan ugo mangerti apa-apa kang ora disenengi dening kakunge. Mangkono iku kena diarani dadi “mustikhaning wanita”.
        Mangertenana, wis kalumprah manawa para priya iku anduweni watak ugungan (manja), seneng diela-ela dening garwane. Kena dipesthekake saben priya bakal luwih seneng, luwih rahap yen dhahar dhedhaharan kang diolah dening garwane dhewe. Rumangsa mbedhedheg panggalihe amarga diladeni lan digumateni dening garwane. Saumpama kakunge iku kaanggep Sri Nata, garwa iku minangka warangkane, iya Risang Nindya Mantri kang tanggung jawab ngasta pusaraning praja tumrap karaharjane nagara lan wewengkone. Garwa iku ana ing ngomah dadi sembarang mentri, ngrangkep jabatan, iya mentri pangan lan urusan rumah tangga, mentri kauangan, mentri pendhidhikan, lan liya-liyane.
        Sepisan maneh, kuwajibane wanita ing sajrone mbangun bale omah iku sabisa-bisa gawe swasana kang MAT (Marem, Ayem, Tentrem). Wanita kang prigel nyekel bale omah kanthi linambaran bebudhen kang utama iku bisa dadi musthikaning para wanita. Apa maneh yen tansah bekti marang Pangeran Kang Maha Agung, swasana sajroning omah tansah liniputan rasa kabahagian. Ora lali tansah nyenyuwun sih pangayoman lan kekuatan marang Gusti Kang Murbeng Dumadi ing sajroning nandhang prihatin lan ugo ora lali tansah ngunjukake rasa bekti lan syukur ing Pangeran sajrone kanugrahan kamulyan lan kabahagiaan.

Kuwajibane Priya
        Saiki banjur kepriye kuwajibane priya ing sajrone jejodhoan? Dene tumrape priya kang wus antuk jodho sawijine wanita utama kang dadi pilihane, sauger carane milih kaya wus katerangake ing nduwur, “wanita garwamu mau banjur reksanen sing ngati-ati kanthi tali katresnan kang sejati”. Ing serat Darmawasita, anggitane para leluhur kang wus kawuri, nyebutake: “Sadurunge kowe antuk jodho, elekna mripatmu sak amba-ambane, nanging sawuse kowe antuk jodho, saiki ganti mripatmu kudu kok eremake sing rapet, sak dipet-dipete”. Tegese, sawise antuk jodho kaum priya aja malang tumoleh maneh, aja ngeling-eling utawa migatekake wanita saliyane garwamu. Kaya katur ing tembang asmaradana ing ngarep: “luput pisan kena pisan”, iya garwamu iku dhewe. Mung sepisan iku bae, ora wola-wali rabi maneh, kagodha dening gebyaring wentis kuning banjur lali marang kuwajibane.
        Tumrape kaum priya, karukunan lan katentremane bale omha kudu tetep kajaga, aja nganti ana dredah utawa pasulayan, sanadyan saka sabab kang mung sepele lan remeh-remeh bae. Awit dredah utawa cecongkrahan iku bisa anjalari sudaning rasa katresnan, bisa gawe petenge swasana, lan ugo ngedohake tekane rejeki. Malahan yen dredahe mau sarana migunakake suara kang sero, kasar, lan saru, banjur ana “piring terbang”, bala-pecah kang ora salah melu dadi bubrah, dadi sasarane kanepson, sarta suara pating jlerit kang ora karuh-karuhan, iku mertandani asoring budi, lagi ketaman pepeteng, klebon setan, ngongas siyunge Betara Kala. Saliyane iku, pasulayan kang kaya mangkono iku nuladani ala tumrap para putra lan putrine. Para putra ugo melu ora jenak atine, ora krasan ana omah, metu ngomah gawe polah, malah salah-salah bisa kacanduan narkoba, gawe film “itenas” tiru-tiru wong kang ora genah, lan liya-liyane kang ora lumaku ing dalan bebener, gawe isin kulawarga.
        Manawa ana kekarepan utawa panemu kang benceng, rembug kang sulaya, lan suara kang ora kepenak, becik kudu padha dirembug kanthi sarana wicara kang alus, telaten, sabar, lan gemati supaya antuk dalan kompromi. Sarana kompromi iku nuduhake manawa dalan kang tinempuh ora ngrugekake salah sawijine pihak, “win win solusi”. Minangka pangemong lan angenaki atine garwamu, kaum priya kudu gelem ngalah tumrap laku satindhak, tembung sakecap. Ora mbrekunung, ngalap menange dhewe, dupeh nyekel panguwasa, banjur lali marang kuwajibane priya minangka saka gurune kulawarga.
        Priya aja tumindhak slingkuh, prayogane blak-blakan bae tumrap samubarang kang ana gegayutane karo harmonising bale omah. Pangrengkuhe kaum priya marang sanak kadang kang saka pihak garwa kudu ora kena beda karo pangrengkuhe marang sanak sedulure dhewe. Atine kaum priya kudu momot lan njejegake marang adil. Aja banjur emban cindhe emban siladan. Sabisa-bisa kaum priya aja pisan-pisan nindhakake bab-bab kang sakira bisa nuwuhake kanepson lan butaarepane garwane. Sing bisa nuju prana.

Gegayutan Bab Wayuh
        Pakde Narto dhawuh ngandhika ing buku Perkawinan Bahagia manwa sabisa-bisa kaum priya aja wayuh, rabi luwih saka siji (poligami), luput pisan kena pisan, kaya surasana tembang ing ngarep. Rabi wayuh iku abot sesanggane, lan akeh kang dadi syraat-syarate. Ora jeneng mancahi, apa dene ngowahi, bab pranataning agama Islam kang ana. Pranatane agama Islam iku kabeh becik, amarga iku kabeh mengku kawicaksanan. Manut pranatane agama Islam wong lanang kena duwe bojo luwih saka sawiji, akeh-akehe nganti papat. Sepisan maneh, mangkono iku manawa wong lanang bisa netepi syarat-syrarate wong wayuh. Pranatan kang mangkono iku ora kena tinampa lamba, nanging panampane kudu nganggo kamursidan (kawicaksanan). Jer sayektine pranatan kaya mangoko iku kanggo ana ing sajroning kahanan darurat, genting, kahanan kang ora normal.
        Kahanan kang dak sebut darurat iku contone ing mangsa sakbubare paperangan gedhe, perang donyo apa dene perang kang mung ana ing negarane dhewe. Kahanan kang kaya mangkono iku akeh priya kang gugur dadi bebantene perang, kongsi akeh wanita kang kelangan pangayomane utawa guru lakine. Para wanita iku mau banjur nandhang warna-warnane  kasangsaran kang tuwuh saka paprangan mau, cacahe para wanita luwih akeh karo cacahe kaum priya. Iya ing kahanan kang kaya mangkono iku kaum priya oleh kalonggaran rabi luwih saka siji utawa wayuh. Semono iku mau yen priya mau sembada, nyukupi sandang lan pangane, kabutuhane rumah tangga, lan liya-liyane apa kang dadi syarate wayuh. Dene syarat utamane iya tumindhak adil. Nanging, apa iya bisa tumindhak adil kaya kang dituladhani dening Kanjeng Nabi? Mula, anggone tumindhak wayuh iku mau ora mung kasurung saka kordaning hawa nafsu, nanging kasurung saka derenge kamanungsan, yaiku niyat tetulung lan ngeyomi kaslametaning para wanita kang wus kelangan guru lakine. Ngentasake para wanita saka kabeh panandhang.
        Dadi, kleru banget manawa pranatan kang jembar kanthi mengku karep kang luhur sarta ngemu kawicaksanan mau banjur disalahpigunakake dening para priya kang ora duwe rasa tanggung jawab, nguja marang hawa nafsu kahewanane. Manungsa kang kaya mangkono iku mung mikir marang kesenengane dhiri pribadi, ilang rasa tanggung jawabe. Priya kang wani nindhake wayuh kang kaya mangkono iku mesti oleh bebendhu saka Gusti Kang Maha Adil. Wujud bebendhu iku arupa pandhang kang maneka-warna kang ora gampang panolake. Tindhak wayuh bisa dadi sumbering pasulayan lan memungsuhan, malah tekan paten-pinatenan barang. Sabab kahanan ing sajroning bale omah dadi peteng ndhedhet lelimengan, kaebekan dening ubaling para angkara murka, para cidra, para padu, lan para cecengilan.
        Bibit katresnan kang maune gumolong suci murni ora mung gempal, sakala sirna rubuh kaglandang dening ubaling kanepson, kabrangas dening kobaring ati panas kang makantar-kantar, lan katiyub dening kelara-laraning ati kang ora gampang oleh tamba. Sanadyan priya kang lagi nampa bebendhuning Pangeran iku mau wong kang kasinungan drajat luhur, sugih bandha donya lan bala, umpamane Osama bin Laden, ewa dene rasane atine ora tentrem, diburu-buru dening mungsuhe, dikuyo-kuyo dening wong liya dadi jalaran pasiksaning batin. Iya kahanan kang kaya mangkono iku kena diarani ngrasakake urip ana ing naraka ndonya.

 

Resep Ces Pleng

        Sabanjure Pakde Narto dhawuh ngandhika: Mulane sabisa-bisa kaum priya padha nyingkirana tumindhak kang nalisir saka bebener kang kasebut mau, yaiku nindhakake wayuh kang mung sarana kasurung dening hardaning hawa nafsu khewani. Aja mung ngumbar syahwating saresmi bae sarana wayuh, rabi luwih saka siji. Manungsa mono pancen kasinungan hawa nafsu syahwat, nanging sabisa-bisa diatur kanthi pranatan kang ana, kanthi ambeg susila anoraga, murih anak turune dadi manungsa utama lan uripe mulya, dadi manungsa purusatama. Dene resep kang ces pleng, manjur kanggo ngobati larane kulawarga sakinah kaya mangkene.
1.    Manungsa katurunake Gusti Kang Murbeng Jagad ana ing alam donya iku mengku kuwajiban suci. Para priya padha kautus ing Pangeran minangka sarana mbabarake Karsa-ning Pangeran, yaiku minangka lantaran tumurune Roh Suci, jiwaning manungsa kang sejati. Dene para wanita ugo kautus ing Pangeran minangka lantaran nampa sarta anggarba tumurune Roh Suci iku mau. Mula ing sajrone mbangun bale omah kudu dhinasaran kanthi telung prakara, yaiku (1) katresnan kang sejati, (2) niat kang suci murni, lan (3) kasusilan kang ambeg utama.
2.    Palakrama kanthi palilahe (idine) wong tuwa (bapak-ibu) utawa waline, banjur kaesahake kanthi nikah dening kang wajib, kawin resmi menyang KUA apa dene Catetan Sipil, resmi miturut agama apa kang dadi kapercayaane lan ugo resmi miturut pranatane negara. Sepisan-pisan aja kawin bawah tangan, kawin siri lan liya-liyane, iku akeh resiko. Sawise nikah resmi kudu tinalenan kanthi “katresnan, kasucian, lan kasusilan” kang sejati.
3.    Taline katresnan iku mau kudu dijaga aja nganti surut salawase. Sabisa-bisa katresnan iku mau dirabuk saben dinane kareben urip subur ngrembaka. Dene rabuke ana limang prakara, yaiku (1) mong-kinemong, sing padha angon mangsa, (2) apura-ingapura, aja padha cecongkrahan, (3) ajen-ingajenan, sing padha ngewongake, (4) tansah nuju prana, murih padha gawe suka pirena, lan (5) tansah mengesthi lan mangastuti mring hyang Widhi supaya oleh sih anugrah kang kasinungan rasa MAT (Marem, Ayem, Tentrem),

(Karacik saka buku Perkawinan Bahagia, nasihat perkawinan Pakde Narto dalah Budhe Narto, pernah dimuat dalam majalah berbahasa Jawa, Jaya Baya Nomor 18—21, 30 Desember 2001 dan 6, 13, 20 Januari 2002, halaman 44)

Kasih

KASIH

Jika Tuhan adalah Kasih
kita tak pernah sendirian
tak pernah kesepian
tak pernah kekurangan akal
tak mudah putus asa
tak merasa disisihkan dalam pergaulan
atau tak kan tergilas arus zaman.

Kasih menghalau rasa takut yang mencekam
menghapus rasa sesal dan kecewa
menghilangkan duka lara
menyembuhkan luka dan bisa
meniadakan rasa dengki, dendam, dan curiga
menjauhkan rasa tamak, iri hati, loba, dan fitnah
murka dan aniaya,
tapi Kasih menghaluskan budi pekerti
pemaaf dan tulus ikhlas
penyabar dan penyayang
jujur dan percaya diri.

Kasih bersinggasana di lubuk hati
bersemayam dalam qalbu mukmin
terpancar pada belaian kasih ibu
anak-anak dengan segala kemurniannya
tetangga yang ramah
kawan yang setia
bahkan tatapan mata seorang asing pun
sebab mereka hidup dan dihidupi Kasih Tuhan
seperti halnya kita sendiri.

(Dipublikasikan pertama kali di Harian Berita Buana, Desember 1989, kemudian dimuat dalam buku Bahasa dan Sastra Indonesia Menuju Peran Transformasi Sosial Budaya Abad XXI. Editor Sujarwanto dan Jabrohim. (2002). Yogyakarta: Panitia PIBSI XXIII, Universitas Ahmad Dahlan, dan Gama Media, halaman 339) 

Ombak Pantai


OMBAK PANTAI
Cerpen: Puji Santosa
       Aku berjalan di pinggiran pantai menuju ke tengah laut. Lenggang jalan aku buat sesantai mungkin. Percikan-percikan ombak kadang memba­sah di wajah. Seakan-akan tiada takut mengahadap marabahaya yang sewaktu-waktu dapat memakan jiwa kami. Namun, ini merupakan tantangan hidup buat insan Tuhan: tabah, berani, dan senantiasa sadar kepadanya.
       Langkahku terhenti ketika Mas Hendra memegang pundaku. Sementara itu, aku masih tetap diam membisu. Sengaja dia kubiarkan larut dalam angan-angannya. Untuk mengambil ancang-ancang mengeluarkan kata-kata dalam hatiku, kucoba mengatur napas yang sejak tadi masih kelihatan ingah-ingih. Mas Hendra pun tampaknya mengambil napas dalam-dalam, lalu keluarlah kata-katanya.

       “Lia, katakan! Kenapa kau mengajakku ke mari?”
       Pertanyaan Mas Hendra tidak aku jawab. Kubiarkan Mas Hendra memegang tanganku dan menuntun aku naik ke daratan. Seakan seperti orang buta yang tidak tahu arah, ke mana harus melang­kah? Dan aku dituntun ke mana saja yang Mas Hendra sukai. Sesampainya di bawah pohon flamboyan kami berhenti. Kemudian aku duduk di sebuah bangku kecil, sedang Mas Hendra tetap berdiri sambil memandang jauh ke cakrawala biru.
       Angin pantai bertiup semilir sejuk sampai batas hati. Kesegaran yang ditiupkan angin itu seakan baru kali ini kudapatkan, rasanya lain daripada yang lain. Tiba-tiba hatiku meratap. Merasa iba melihat nelayan kecil yang mencari ikan di tengah lautan. Ia bergelut dengan maut, melawan terjangan badai dan ombak. Dengan ketabahan dan keuletan penuh gairah menyongsong hari esok yang penuh keseder­hanaan. Namun, itu semua menandakan perilaku yang bertanggung jawab atas diri dan keluarganya.
       “Lia, tolong segera katakan! Apa sebenarnya yang kau kehendaki, Lia?” Ucap Mas Hendra membuyarkan lamunanku. Sambil tetap acuh tak acuh, aku mengubah posisi duduk menghadap ke pantai lepas. Namun, dalam hati tidak tega juga, terpaksa aku jawab.
       “Tentunya kau sudah mengesrti apa maksudku, Mas!”
       “Lia, mana mungkin aku tahu isi hatimu?” Mas Hendra membantah jawabanku. Sebenarnya aku ingin segera mengatakan apa yang terpendam di kal­buku selama ini. Namun, denyut jantungku semakin cepat berdetak, bergemuruh dengan gelombang goncangan dada yang menahan emosi. Aku tidak mau menunda lagi persoalan ini, senyampang ada kesempatan dan waktu, persoalanku harus diselesai­kan sekarang juga.
       “Mas...., kenapa kau akhir-akhir ini jauh dari sisiku?”
       Mas Hendra cuma diam membisu, seakan tidak mendengar kata-kata yang kuucapkan. “Mas, mungkinkah engkau telah menemukan gadis yang lebih top, lebih cakep dariku? Sekarang juga katakan! Katakanlah, Mas. Senyampang saya ada di sini. Aku akan menghadapinya dengan ketabahan dan penuh pengertian.”
       “Lia, kenapa kau sampai hati menuduhku demikian?!”
       Aku jengkel atas ucapan Mas Hendra yang demikian itu. Ia sepertinya masa bodoh terhadap masalah ini. Menganggap persoalan ini kecil, hanya sepele. Tak lagi menghiraukan aku. Ia tidak menyadari atas kesalahan yang telah diperbuat. Barangkali kura-kura dalam perahu, pura-pura saja tidak tahu. Dalam hati aku menjerit. Pandanganku sayu, dan air mata mulai membasahi pipiku. Keringat dingin pun mulai mengalir hingga sekujur tubuhku basah menggigil, menahan gelora dingin panasnya hati yang resah kecewa. Akhirnya, pandanganku kubuang jauh-jauh ke cakrawala, ke langit biru, ke gunung-gunung, dan ke lembah-lembah, serta ke deburan ombak, yang pagi ini barangkali sebagai saksi bisu atas peristiwa di sebuah pantai kecil yang kelabu.
       “Mas, aku tahu hubunganmu dengan Maryati,” suaraku serak.
       “Lia...., apa katamu Lia?” Mas Hendra tampaknya terkejut.
       “Bukankah engkau mencintai Maryati, Mas?” Tuduhku kepada Mas Hendra seketika itu juga. Aku senang, ternyata ada tanggapan. Mas Hendra sangat responsif atas tuduhanku itu.
       “Kau menuduhku, Lia?! Kenapa kau menuduhku demikian, Lia?!”
       “Apa Mas Hendra perlu buktinya? Data-data yang masuk telah banyak kuperoleh. Ada yang kulihat langsung, ada laporan pandangan mata dari orang lain, dan ada pula gambar-gambar hasil bidikan digital teman-teman. Ingat, waktu riset di lembah Gunung Slamet, siapa yang mandi berdua bersama Maryati itu? Pratikum histologi, siapa yang dibela­kang main ciuman? Malam kesenian menyambut dies natalis kampus kita, siapa tengah malam yang menghantarkan Maryati pulang? Puskesmas Suka­mandi, siapa yang masuk ke kamar berobat berdua itu?”
       “Kau cemburu?! Kau iri hati sama Maryati, Lia?!”
       “Busyet...! Setan belang kuntil jajal anak! Kenapa hal itu engkau tanyakan, Mas?!”
       Aku menjerit sejadi-jadinya. Tak terkontrol lagi kata-kata yang keluar dari mulutku. Air mata yang sejak tadi terbendung, kini mulai jatuh berlinang membasahi bumi persadaku. Rasa hatiku seperti disayat-sayat, sakit, sakit sekali, teriris pedih, dan sangat perih. Aku jengkel, heran, dan berbagai perasaan bingung, berkecamuk di hati dan angan-anganku. Tampaknya Mas Hendra betul-betul tidak mau tahu perasaanku.
       Aku sangat mencintai Mas Hendra luar dan dalam. Sudah barang tentu setiap gadis yang mencintai pria idaman, tidak mau disisihkan oleh gadis yang lain di sisi pria idaman itu. Lebih-lebih, gadis itu adalah kawanku sendiri, satu kampus, tentu betapa sakitnya hati ini. Aku percaya, betapa kuatnya iman gadis itu, kalau mengalami cobaan seperti aku ini, tentu tidak mau disisihkan dari sang kekasih tercinta. Mas Hendra yang telah menjadi bagian dari hidupku, sebab aku telah berbacaran dengan Mas Hendra selama lima tahun sejak mahasiswa tingkat pertama.
       “Lia, kau salah paham!”
       “Aku tidak buta, Mas. Mataku belum lamur!”
       “Kau harus sabar, Lia. Jangan emosi!” Mas Hendra tampak kebingungan. Aku diam mematung.
       Peristiwa demi peristiwa selalu aku catat dalam ingatanku. Akhir-akhir ini Mas Hendra tak pernah kunjung ke rumah. Lebih-lebih musimnya KKN, ia tidak pernah apel atau mengajaku kencan. Biasanya malam Minggu mengajakku nonton di Metropole Theater atau di TIM, tapi sekarang berjalan-jalan ke mall pun tidak pernah. Bagaimana rasa cinta itu dapat hidup subur jika tanpa pernah dipupuk dan disiraminya?
       Selidik demi selidik ternyata Mas Hendra sudah bergandengan dengan Maryati. Ditinjau dari segi fisiknya, memang aku sedikit kalah. Penampilan Maryati di depan mahasiswa memang cukup meya­kinkan. Kuakui bahwa setiap manusia itu memiliki gaya tarik tersendiri. Apa yang ada padaku tidak dimiliki orang lain. Demikian juga sebaliknya, apa yang dimiliki Maryati aku juga tidak punya. Setiap manusia itu ada kekhasan tersendiri.
       Kesedihan yang kusandang segera diketahui oleh kedua orang tuaku. Aku satu-satunya anak manja dan paling diperhatikan. Kalau aku cukup bangga dapat dibilang bahwa papaku adalah seorang dokter yang merangkap dosen Fakultas Kedokteran Univer­sitas Indonesia, masih muda sudah bergelar profesor doktor spesialis. Lagi pula ia bertindak sebagai Pena­sihat Akademis dan sekaligus pembimbing skripsi Mas Hendra. Tak heranlah bila aku sering bertemu, selain di kampus juga di rumah.
       Kusampaikan apa saja yang terjadi terhadap diriku kepada kedua orang tuaku. Papa dan mama cukup bijak bestari. Aku diberi berbagai nasihat, karena mamaku adalag seorang psikiater, atau petuah yang sangat berharga bagi bekal hidupku. Mama memberi saran dan jalan pemecahan. Papa ikut mendukung saran mama. Akhirnya, terlaksana­lah aku mengajak Mas Hendra di tepi pantai ini.
       “Lia, percayalah padaku. Aku sangat mencintai­mu. Sungguh, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Maryati.” Kata-kata Mas Hendra membuyar­kan lamunanku.
       “Mas, jangan sekali-kali engkau membohongi aku dan dirimu sendiri. Aku rela engkau menjadi milik Maryati.Milikilah dia, Mas. Jangan sekali-kali engkau merasa iba padaku. Hati kecilku telah memandang jauh ke depan. Kan kulupakan segala yang terjadi. Aku rela engkau menjadi miliki orang lain, terlebih itu Maryati. Bukankah dia cantik, Mas? Lincah dan penuh gairah. Aku percaya, sebentar lagi darahmu mengalir di rahimnya. Dengan subur pula­lah orok itu akan tumbuh. Engkau dapat menikmati kepuasan hatimu. Silahkan, Mas. Sekali lagi, aku rela engkau menjadi milik Maryati, Mas”. Kata-kataku yang kesal dan penuh keputusasaan, serta pasrah akan nasib, meluncur begitu saja tanpa terkendali.
       “Jangan berkata demikian, Lia. Maafkanlah aku. Sebenarnya aku cuma menguji kesetiaan dan cinta­mu padaku. Ternyata kau agung, mulia, dan tabah menghadapi cobaan yang tidak sembarangan ini. Aku bukan lelaki buaya darat. Kuucapkan terima kasih atas kesetiaan dan kemuliaan hatimu, Lia”. Tutur Mas Hendra sambil membelai rambutku. Dengan kelembutannya Mas Hendra memelukku dan menci­umnya. Pada titik kulminasi inilah kami berdua saling menumpahkan rasa rindu, kasih, dan cintanya yang tulus dan mulia.

       (Kado ulang tahun buat Kristina Maria, 25 Desember 1969–-25 Desember 1991)

       (Dikutip dari Puji Santosa. 1991. “Ombak Pantai”. Harian Terbit, Minggu, 12 Januari 1992, dalam Rubrik Seni dan Budaya)

Jumat, 09 Juli 2010

Daftar Karya Tulis Puji Santosa

1. Karya Tulis Ilmiah yang Diujikan
  1. “Rakyat Adalah Sumber Ilmu Karya W.S. Rendra: Sebuah Pendekatan Dikotomis”. (1984). Praskripsi Sarjana Muda, Jurusan Sastra Indonesia. Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Surakarta. Ketua Penguji: Prof. Dr. Soediro Satoto, dengan predikat kelulusan: cumlaude.
  2. “Tabiat Tanda-Menanda dan Tafsir Amanat dalam Puisi ‘Rakyat Adalah Sumber Ilmu’ Karya Rendra: Sebuah Pendekatan Semiotika”. (1986). Skripsi Sarjana S-1, Jurusan Sastra Indonesia dan Filsafat, Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Surakarta. Ketua Tim Penguji: Dr. Soejatno Kartodirdjo, dengan predikat kelulusan: cumlaude.
  3. “Makna Kehadiran Nuh dalam Puisi Indonesia Modern”. (2002). Tesis Sarjana S-2, Magister Humaniora, Program Studi Ilmu Susastera, Bidang Ilmu Pengetahuan Budaya, Program Pascasarjana, Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Konsultan: Prof. Dr. Okke K.S. Zaimar, dan Ketua Tim Penguji: Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, dengan predikat kelulusan: sangat memuaskan.
2. Buku Terbit Ditulis Sendiri
  1. Teori Sastra (IKIP PGRI Madiun, 1986). Modul kuliah S-1.
  2. Ancangan Semiotika dan Pengkajian Susastra (Bandung: Angkasa, 1993)
  3. Kisah Syeh Mardan (Jakarta: Departemen Pendidikan Kebudayaan, 1995)
  4. Pengetahuan dan Apresiasi Kesusastraan dalam Tanya-Jawab (Ende-Flores: Nusa Indah, 1996)
  5. Bahtera Kandas di Bukit: Kajian Semiotika Sajak-sajak Nuh (Surakarta: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2003)
  6. Pandangan Dunia Darmanto Jatman (Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 2006)
  7. Menggapai Singgasana (Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 2007)
  8. Kekuasaan Zaman Edan: Derajat Negara Tampak Sunya-ruri. (Yogyakarta: Pararaton, 2010)
3. Buku Terbit Ditulis Bersama/Tim
  1. Panduan Belajar Bahasa Indonesia untuk SMP GBPP 1987 (Serial 6 Jilid) Ditulis bersama Drs. M.Dj. Nasution dan Dra. Erlis Nur Mujiningsih. (Jakarta: Yudhistira, 1990)
  2. Citra Manusia dalam Drama Indonesia Modern 1920–1960. Ditulis bersama Dr. Sumardi, M.Sc. dan Drs. Abdul Rozak Zaidan, M.A. (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1993)
  3. Analisis Sajak-Sajak J.E. Tatengkeng. Ditulis bersama Drs. Djamari. (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1995)
  4. Soneta Indonesia: Analisis Struktur dan Tematik. Ditulis bersama Drs. Djamari (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996)
  5. Citra Manusia dalam Drama Indonesia Modern 1960–1980. Ditulis bersama Drs. S.R.H. Sitanggang, M.A. dan Drs. Zaenal Hakim (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997)
  6. Struktur Sajak-Sajak Abdul Hadi W.M. Ditulis bersama Dra. Anita K. Rustapa, M.A. dan Drs. Zaenal Hakim (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1998)
  7. Unsur Erotisme dalam Cerita Pendek Taghun 1950-an. Ditulis bersama Drs. Abdul Rozak Zaidan, M.A. dan Dra. Erlis Nur Mujiningsih (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1998)
  8. Terampil Berbahasa Indonesia untuk SMP. Ditulis bersama Dr. Sumardi M.Sc. dan kawan-kawan. (Yogyakarta: Mitragama, 2000)
  9. Drama Indonesia Modern dalam Majalah Indonesia, Siasat, dan Zaman Baru (1945–1965): Analisis Tema dan Amanat Disertai Ringkasan dan Ulasan. Ditulis bersama Agus Sri Danardana dan Zaenal Hakim (Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 2003)
  10. Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Dasar. Ditulis bersama Dra. Hj. Yusi Rosdiana, M.Pd., dan kawan-kawan (Jakarta: Universitas Terbuka Pusat, 2003)
  11. Puisi-Puisi Kenabian dalam Perekembangan Sastra Indonesia. Ditulis bersama Suryami dan Mardiyanto (Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 2006)
  12. Menulis 2. Ditulis bersama Encep Kusumah dan Yeti Mulyati. (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007)
  13. Pandangan Dunia Motinggo Busye. Ditulis bersama Agus Sri Danardana. (Bandarlampung: Kantor Bahasa Provinsi Lampung, 2008)
  14. Kritik Sastra: Teori, Metodologi, dan Aplikasi. Ditulis bersama Dr. Suroso dan Drs. Pardi Suratno, M.Hum. (Yogyakarta: Elmatera Publhising, 2009)
  15. Estetika: Sastra, Sastrawan, dan Negara. Ditulis bersama Dr. Suroso (Yogyakarta: Pararaton, 2009)
  16. Struktur dan Nilai Mitologi Melayu dalam Puisi Indonesia Modern. Ditulis bersama Imam Budi Utomo (Yogyakarta: Elmatera Publhising, 2010)
  17. Sastra dan Mitologi: Telaah Dunia Wayang dalam Sastra Indonesia. Ditulis bersama Maini Trisna Jayawati. (Yogyakarta: Elmatera Publhising, 2010)
  18. Dunia Kesastraan Nasjah Djamin dalam Novel Malam Kuala Lumpur. Ditulis bersama Maini Trisna Jayawati. (Yogyakarta: Elmatera Publhising, 2011)
  19. Manusia, Puisi, dan Kesadaran Lingkungan. Ditulis bersama Sri Sayekti dan Djamari. (Yogyakarta: Elmatera Publhising, 2011)
4. Beberapa Artikel, Esai, Kritik Sastra yang Terbit dalam Majalah/Jurnal
  1. “Berbagai Isu Tentang Pengajaran Sastra di Sekolah Menengah” (Bahasa dan Sastra Nomor 3 Tahun IX, 1992, hlm. 61–77).
  2. “Mitos Nabi Nuh di Mata Tiga Penyair Indonesia” (Bahasa dan Sastra Nomor 1 Tahun X, 1993, hlm. 55–66).
  3. “Nilai Budaya dalam Cerita Perpatih Nan Sebatang” (Bahasa dan Sastra Nomor 2 Tahun X, 1993, hlm. 38–50).
  4. “Aliran, Upacara, dan Pikiran Utama dalam Lakon Sandyakala Ning Majapahit” (Bahasa dan Sastra Nomor 3 Tahun XI, 1993, hlm. 37–54).
  5. “Refleksi Kekuasaan dan Ideologi dalam Kesusastraan” (Bahasa dan Sastra Nomor 2 Tahun XIV, 1996, hlm. 27–44).
  6. “Hakikat dan Fungsi Studi Sastra” (Bahasa dan Sastra Nomor 5 Tahun XIV, 1996, hlm. 41–59).
  7. “Citra Tokoh Wanita dalam Drama Indonesia Modern Periode Awal 1926–1945" (Bahasa dan Sastra Nomor 2 Tahun XVI, 1998, hlm. 49–72).
  8. “Kajian Asmaradana dalam Sastra Bandingan” (Bahasa dan Sastra Nomor 3 Tahun XVII, 1999, hlm. 30–50).
  9. “Analisis Stilistika Cerpen ‘Armageddon’ Karya Danarto” (Bahasa dan Sastra Nomor 4 Tahun XVIII, 2000, hlm. 17–37).
  10. “Analisis Stilistika Sajak ‘Pada Suatu Hari’ Karya Agus R. Sardjono” (Bahasa dan Sastra Nomor 4 Tahun XIX, 2001, hlm. 17–37).
  11. “Sastra Marginal dalam Peta Sejarah Kesusastraan di Indonesia” (Pangsura Bilangan 3/Jilid 2, Julai–Desember 1996, hlm. 50–57).
  12. “Iptek Itu Bermula dari Mitos: Mengenal Sajak-Sajak Sapardi Djoko Damono” (Pangsura Bilangan 4/Jilid 3, Januari–Juni 1997, hlm. 49–62).
  13. “Analisis Struktur Sajak ‘Pembicaraan’ Karya Subagio Sastrowardojo” (Pangsura Bilangan 6/Jilid 4, Januari–Juni 1998, hlm. 3–15).
  14. “Perkembangan Soneta di Indonesia dan Jatidiri Bangsa” (Pangsura Bilangan 9/Jilid 5, Julai–Desember 1999, hlm. 92–106).
  15. “Tuhan Kita Begitu Dekat” Karya Abdul Hadi W.M. Dalam Kajian Semiotika Riffaterre” (Pangsura Bilangan 13/Jilid 7, Julai–Desember 2001, hlm. 126–137).
  16. “Hanya Satu Karya Amir Hamzah dalam Analisis Semiotika Todorov” (Pangsura Bilangan 16/Jilid 9, Januari-Juni 2003, hlm. 46–70).
  17. “Cerita Pendek ‘Blencong’ Karya Dorothea Rosa Herliany: Sebuah Analisis Struktural” (MIBAS, Nomor 21/Tahun XI/1999, hlm. 29–50).
  18. “Reformasi Ideologi dan Kekuasaan dalam Kesusastraan” (Cakrawala Nomor 017 Tahun V, Desember 1999, hlm. 21–28).
  19. “Sumbangan Sastra Jawa dalam Menghadapi Zaman Edan” (Fenomena Nomor 2 Tahun 9, Agustus 2001, hlm. 212–234).
  20. “Dimensi Ketuhanan dalam Drama ‘Iblis’ dan ‘Kebinasaan Negeri Senja’” (Atavisme Nomor 1 Tahun 1, 1998, hlm. 1–15).
  21. “Refleksi Kekuasaan dan Ideologi dalam Kesusastraan” (Bahana Bilangan 215/Jilid 33, November 1998, hlm. 21–28).
  22. “Revitalisasi Sastra Marginal” (Kebudayaan Nomor 16 Tahun VIII, Maret 1999, hlm. 3–12).
  23. “Reformasi Ideologi dan Kekuasaan dalam Kesusastraan” (Kebudayaan Nomor 17 Tahun IX, Oktober 1999, hlm. 4–15).
  24. “Promosi Dunia Wisata dalam Puisi Indonesia” (Kebudayaan Nomor 18 Tahun IX, Maret 2000, hlm. 65–74).
  25. “Kedudukan dan Fungsi Bahasa Daerah dalam Jalan Menikung Karya Umar Kayam” (Kajian Linguistik dan Sastra Volume XII/ Nomor 22, Tahun 2000, hlm. 11–19).
  26. “Tuhan Kita Begitu Dekat” Karya Abdul Hadi W.M. Dalam Kajian Semiotika Riffaterre” (Kajian Linguistik dan Sastra Volume XIII/ Nomor 24, Tahun 2000, hlm. 122–131).
  27. “Empat Sajak Tentang Nabi Nuh: Sebuah Kajian Muatan Unsur Agama dalam Puisi Indonesia” (Horison Nomor 1 Tahun XXXI, Januari 1997, hlm. 13–20).
  28. “Riwayat Hidup Sapardi Djoko Damono: Perjalanan Seorang Penyair dan Intelektual” (Kakilangit Nomor 37, Februari 2000, hlm. 12–13).
  29. “Proses Kreatif Sapardi Djoko Damono: Bermain Kata Membentuk Dunia” (Kakilangit Nomor 37, Februari 2000, hlm. 14–15).
  30. “Riwayat Hidup Goenawan Mohamad: Penyair Cendekia yang Piawai Membikin Pasemon” (Kakilangit Nomor 39, April 2000, hlm. 12–14).
  31. “Proses Kreatif Goenawan Mohamad: Estetika Puisi Sebagai Pasemon” (Kakilangit Nomor 39, April 2000, hlm. 15–17).
  32. “Anekdot: Jam Malam Kawin” (Kakilangit Nomor 40, Mei 2000, hlm. 28).
  33.  “Ulasan Novel Toha Mohtar: Kembali ke Akar Kembali ke Asal” (Kakilangit Nomor 41, Juni 2000, hlm. 7–9).
  34.  “Riwayat Hidup Toha Mohtar (1926–1992): Sastrawan Bersahaja yang Piawai Melukiskan Suasana” (Kakilangit Nomor 41, Juni 2000, hlm. 10–11).
  35.  “Proses Kreatif Toha Mohtar: Memadukan Realitas dengan Imajinasi” (Kakilangit Nomor 41, Juni 2000, hlm. 12–14).
  36.  “Ulasan Novel Achdiat K. Mihardja: Benturan Dua Dunia” (Kakilangit Nomor 45, Oktober 2000, hlm. 8–10).
  37.  “Proses Kreatif Achdiat K. Mihardja: Peran Orang Tua, Pendidikan, dan Karier” (Kakilangit Nomor 45, Oktober 2000, hlm. 11–13).
  38.  “Riwayat Hidup Pengarang Achdiat K. Mihardja: Perjalanan Seorang Intelektual” (Kakilangit Nomor 45, Oktober 2000, hlm. 14–16).
  39.  “Pengetahuan Sastra: Soneta Masa Pra-Pujangga Baru” (Kakilangit Nomor 46, Februari 2000, hlm. 25–27).
  40.  “Ulasan Drama Trisno Sumardja: Peran Kaum Terpelajar di Awal Kemerdekaan” (Kakilangit Nomor 53, Juni 2001, hlm. 8–10).
  41.  “Proses Kreatif Trisno Sumardjo: Kesenian Bukan Alat Mengejar Materi” (Kakilangit Nomor 53, Juni 2001, hlm. 11–13).
  42. “Riwayat Hidup Pengarang Trisno Sumardjo (1916–1969): Pejuang Kesenian yang Tekun” (Kakilangit Nomor 53, Juni 2001, hlm. 14–16).
  43. “Ulasan Puisi Darmanto Jatman: Sori Gusti: Keberagaman Tujuh Banjaran” (Kakilangit Nomor 75, Maret 2003, hlm. 8–10).
  44. “Proses Kreatif Darmanto Jatman: Pada Mulanya Adalah Suara” (Kakilangit Nomor 75, Maret 2003, hlm. 11–12).
  45. “Riwayat Hidup Pengarang Darmanto Jatman (1942– ): Penyair dengan Segudang Puisi dan Prestasi” (Kakilangit Nomor 75, Maret 2003, hlm. 13–14).
  46. “Hanya Satu” Karya Amir Hamzah dalam Analisis Semiotika Todorov” (Jurnal Internasional Pangsura, Brunei-Darussalam, Januari-Juni 2003, Bilangan 16/Jilid 9, hlm. 46—70)
  47. Proses Kreatif: “Memburu Misteri Lewat Cerita” (Kakilangit Nomor 99, Maret 2005, hlm. 8–9).
  48. Riwayat Hidup Pengarang Rijono Pratikto (1932—): “Nasib Tragis Seorang Cerpenis” (Kakilangit Nomor 99, Maret 2005, hlm. 10–11).
  49. “Tolok Ukur dalam Kritik Sastra” (Sawo Manila Nomor 1 Tahun 1, 2006. hlm. 40—46).
  50. “Estetika Resepsi, Metode, dan Penerapannya: Studi Kasus Resepsi Produktif Soneta Indonesia” (Suar Betang volume II, Nomor 1, Juni 2007, hlm. 1—18).
  51. “Maut dalam Tiga Buku Kumpulan Sajak Subagio Sastrowardojo” (Suar Betang volume II, Nomor 2, Desember 2007, hlm. 166—187).
  52. “Pembelajaran Sastra yang Menyenangkan dan Inivatif” (Suar Betang volume III, Nomor 1, Juni 2008, hlm. 73—88).
  53. “Mitologi Melayu Nusantara dalam Konteks Keindonesiaan” (Suar Betang volume III, Nomor 2, Desember 2008, hlm. 14—27).
  54. “Sapi Rela Disembelih di Negeri Tiada Cinta: Semangat Kebangsaan dalam Karya Sastra M. Balfas” (LOA Volume 6 Nomor 6, September 2008, hlm. 25—35).
  55. “Dasar-Dasar Apresiasi Sastra: Menyenangkan, Kreatif, dan Inovatif” (LOA Volume 7 Nomor 7, Juli 2009, hlm. 29—47).
  56. “Perlawanan Bangsa Terjajah Atas Harkat dan Martabat Bangsa: Telaah Postkolonial Atas Tiga Sajak Indonesia Modern” (Atavisme: Jurnal Ilmiah Kajian Sastra. Volume 12 Nomor 2, Desember 2009, hlm. 147—156)
  57. Ulasan Puisi: “Teladan Keutamaan bagi Wira Tamtama” (Kakilangit Nomor 157, Januari 2010, hlm. 5–-7).
  58. Proses Kreatif: “Sastra Sebagai Pendidikan Jiwa” (Kakilangit Nomor 157, Januari 2010, hlm. 8–-10).
  59. Riwayat Hidup Pengarang Sri Mangkunegara IV: “Sastrawan Pujangga dan Negarawan Bijak” (Kakilangit Nomor 157, Januari 2010, hlm. 11–-12).
  60. Ulasan Novel: “Benturan Dua Dunia” (Kakilangit Nomor 160, April 2010, hlm. 7–-8).
  61. Proses Kreatif Achdiat K. Mihardja: “Peran Orang Tua, Pendidikan, dan Karier” (Kakilangit Nomor 160, April 2010, hlm. 9–-10).
  62. Riwayat Hidup Pengarang Achdiat K. Mihardja (1911--...?): “Perjalanan Seorang Intelektual” (Kakilangit Nomor 160, April 2010, hlm. 11–-12).
  63. Ulasan Puisi: “Zaman Edan, Zaman Penuh Kutukan” (Kakilangit Nomor 161, Mei 2010, hlm. 6–-8).
  64. Proses Kreatif: “Belajar dari Lingkungan dan Pengalaman Hidup” (Kakilangit Nomor 161, Mei 2010, hlm. 9–-10).
  65. Riwayat Hidup Pengarang Ronggowarsito (1802—1873): “Pujangga Pamungkas Sastra Jawa Klasik” (Kakilangit Nomor 161, Mei 2010, hlm. 11–-13).
  66. Ulasan Cerpen: “Ketabahan Seorang Anak Ketika Ditinggal Mati Ibunya” (Kakilangit Nomor 163, Juli 2010, hlm. 6–-8).
  67. Proses Kreatif: “Pengalaman Hidup Sebagai Sumber Cerita” (Kakilangit Nomor 163, Juli 2010, hlm. 9–-10).
  68. Riwayat Hidup Pengarang Lukman Ali (1931—2000): “Guru yang Pakar Bahasa dan Sastra” (Kakilangit Nomor 163, Juli 2010, hlm. 11–-2).
  69. “Zaman Edan: Derajat Negara Suram” (Prosiding Workshop Forum Peneliti Dilingkungan Kemendiknas, Yogyakarta, 3—5 Maret 2010. Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementrian Pendidikan Nasional, 2010, hlm. 563—578)
  70. “Dua Kidung dalam Perbandingan”. Pangsura: Jurnal Pengkajian dan Penelitian Sastera Asia Tenggara. Januari—Juni 2009, Bilangan 28, jilid 15, halaman 39—55.
  71. “Telaah Intertekstual terhadap Sajak-sajak tentang Nabi Ayub”. ATAVISME. Jurnal Ilmiah Kajian Sastra. Nomor 1 Volume 14, Sidoarjo, Juni 2011, halaman 15--27. 
  72. “Representasi Kisah Nabi Ibrahim dalam Delapan Sajak Indonesia Modern”. METASASTRA. Jurnal Penelitian Sastra. Volume 4. Nomor 1. Bandung. Juni 2011. halaman 68—81.
  73. Rapsodi Mahogani dalam Pemahaman Lintas-Budaya Serumpun”. Widyaparwa. Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan. Volume 39, Nomor 1, Juni 2011, halaman 37--46.
  74. "Kajian Estetika Resepsi Produktif Kkafilahan Nabi Adam dalam Puisi Indonesia Modern" SAWERIGADING. Jurnal Bahasa dan Sastra Volume 17, Nomor 3, Desember 2011. halaman 321--334.
  75. “Perlawan Bangsa Terjajah Atas Harkat dan Martabat Bangsa: Telaah Postkolonial Atas Tiga Sajak Indonesia Modern”. ATAVISME. Jurnal Ilmiah Kajian Sastra. Nomor 2 Volume 12, Jakarta, Desember 2009, halaman 147--156.
  76. “Pandangan Maut Motinggo Busye”. SEMIOTIKA. Nomor 10 (1), Januari—Juni 2009, halaman 37--51.
  77. “Ciliwung Merana Sepanjang Masa: Telaah Objektif Sajak-Sajak ‘Ciliwung’ Slamet Sukirnanto”. LOA. Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan. Nomor 9, Volume IX, Samarindra, Juli 2010, halaman 1--8.
  78. “Analisis Semiotik Sajak “Asmaradana” Goenawan Mohamad”. Suar Betang. Jurnal Kebahasaan, Kesastraan, dan Pengajarannya. Volume V Nomor 2, Desember 2010, halaman 1—20.       
5. Laporan Penelitian/Modul yang Tidak/Belum Terbit
  1. “Pengantar Teori dan Studi Kesusastraan” (Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 1989/1990)
  2. “Analisis Sajak-Sajak Sapardi Djoko Damono” (Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 1990/1991)
  3. “Biografi Pengarang Mahatmanto dan Karyanya” (Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 1993/1994)
  4. “Analisis Struktur dan Tematik Sajak-sajak Mahatmanto” (Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 1994/1995)
  5. “Analisis Sajak-sajak dalam Majalah Mimbar Indonesia 1950–1954" (Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 1995/1996)
  6. “Analisis Sajak-sajak dalam Majalah Horison 1966–1970" (Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 1996/1997)
  7. “Pandangan dan Karya Sastrawan Motinggo Busye” (Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 2002)
  8. “Sastra Keagamaan dan Perkembangan Sastra Indonesia Modern: Puisi 1945–1965.” (Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 2003)
  9. “Mitologi Melayu dalam Puisi Indonesia Modern” (Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 2004)
  10. Modul Kuliah “Kritik Sastra” (Fakultas Sastra Universitas Nasional, Jakarta, 2005)
  11. Modul Kuliah: “Berbahasa Indonesia dengan Santun, Benar, dan Baik” (Sekolah Tinggi Ilmu Pemerintahan Abdi Negara, Jakarta, 2009)
6. Makalah Disampaikan dalam Berbagai Pertemuan
  1.  “Kritik Sastra Pada Puisi-Puisi Kontemporer” (Makalah disampaikan dalam Sarasehan Hari Sastra, Himpunan Mahasiswa Sastra, Fakultas Sastra, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 28 April 1984).
  2. “Puisi-puisi Indonesia 1980-an dan Kecenderungannya” (Makalah disampaikan dalam Dialog Penyair Jakarta, Dewan Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, 7–8 No-vember 1989).
  3. “Penelitian Sastra dengan Menggunakan Angket” (Makalah disampaikan dalam Seminar Sehari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Jakarta, 8 Juni 1991).
  4. “Berbagai Isu Tentang Pengajaran sastra di Sekolah” (Makalah disampaikan dalam Pertemuan Ilmiah Nasional (PILNAS) IV Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia, HISKI, Bandung-Lembang, 12–15 Desember 1991).
  5. “Pengajaran Apresiasi Puisi di SMP Kurikulum 1984" (Makalah disampaikan dalam Pertemuan Ilmiah Nasional (PILNAS) V Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia, HISKI dan Universitas Pakuan, Bogor, 15–17 Desember 1992).
  6. “Analisis Masalah Upacara, Aliran, dan Pikiran Utama dalam Lakon Sandyakala Ning Majapahit Karya Sanusi Pane” (Makalah disampaikan dalam Seminar Sehari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Jakarta, 10 Juli 1993).
  7. “Hakikat dan Fungsi Studi Sastra” (Makalah disampaikan dalam Pertemuan Ilmiah Nasional (PILNAS) VI Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia, HISKI Komda Yogyakarta, Kaliurang-Yogyakarta, 12–16 Desember 1993).
  8. “Refleksi Kekuasaan dan Ideologi dalam Kesusastraan” (Makalah disampaikan dalam Seminar Sehari Bahasa, Sastra, dan Ideologi, HISKI Komda Jakarta dan Universitas Nasional, Jakarta, 18 Mei 1996).
  9. “Sastra Marginal dalam Peta Sejarah Kesusastraan di Indonesia” (Makalah disampaikan dalam Pertemuan Ilmiah Nasional (PILNAS) VII Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia, HISKI Pusat, Parung-Bogor, 3–5 September 1996).
  10. “IPTEK Itu Bermula dari Mitos: Mengenal Sajak-Sajak Sapardi Djoko Damono” (Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia VI, Himpunan Pembina Bahasa Indonesia, HPBI Pusat, Bandung, 12–15 Desember 1996).
  11. “Si Elok Selandang Dunia Sabai Nan Aluih: Citra Tokoh Wanita dalam Drama Sabai Nan Aluih Karya Tulis Sutan Sati” (Makalah disampaikan dalam Pertemuan Ilmiah Nasional (PILNAS) VIII Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia, HISKI Komda Padang, Padang, 12–14 Desember 1997).
  12. “Promosi Kepariwisataan Indonesia dalam Puisi” (Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia VIII, Himpunan Pembina Bahasa Indonesia, HPBI Pusat dan Unes, Semarang, 21–23 Juli 1998).
  13. “Asmaradana: Matra Puisi Jawa Klasik dan Pengaruhnya Terhadap Puisi Nasional” (Makalah disampaikan dalam Pertemuan Ilmiah Nasional (PILNAS) IX Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia, HISKI Komda Semarang, Bandungan, 22–24 Oktober 1998).
  14. “Kedudukan dan Fungsi Bahasa Daerah dalam Sastra Indonesia” (Makalah disampai-kan dalam Kongres Linguistik Nasional IX, MLI Pusat, Padepokan Pencak Silat, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, 28–31 Juli 1999).
  15. “Pengajaran Sastra di Sekolah dan Tantangan Abad yang Akan Datang” (Makalah disampaikan dalam Pertemuan Ilmiah Nasional (PILNAS) X Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia, HISKI Pusat dan Pusat Bahasa, Jakarta, 18–20 Oktober 1999).
  16. “Pelanggaran HAM dan Penyalahgunaan Kekuasaan” (Makalah disampaikan dalam Seminar Sehari Sastra dan HAM, HISKI Komda Jakarta dan Universitas Indonesia, Depok, 29 April 2000).
  17. “Pegajaran Sastra dalam Era Globalisasi” (Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia X, Himpunan Pembina Bahasa Indonesia, HPBI Pusat dan Pusat Bahasa, Jakarta, 27–29 September 2000).
  18. “Kekuasaan, Ideologi, dan Politik dalam Dunia Kesusastraan” (Makalah disampaikan dalam Pertemuan Ilmiah Nasional (PILNAS) XI Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia, HISKI Komda Surakarta, 2–3 Oktober 2000).
  19. “Sumbangan Sastra Jawa dalam Menghadapi Zaman Edan” (Makalah disampaikan dalam Kongres Bahasa Jawa III. Pemda DIY, Yogyakarta, 15–21 Juli 2001).
  20. “Kabar Yang Bertolak dari Realitas: Politik dan Gerakan Mahasiswa dalam Sajak-Sajak Taufiq Ismail” (Makalah disampaikan dalam Pertemuan Ilmiah Bahasa dan Sastra Indonesia XXIII, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, 9–10 Oktober 2001).
  21. “Sastra Indonesia dalam Pluralisme Budaya” (Makalah disampaikan dalam Pertemuan Ilmiah Nasional (PILNAS) XII Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia, HISKI Komda Sumatera Utara, Medan, 5–7 November 2001).
  22. “Wacana Desentralisasi dalam Sastra: Wacana Tinggallah Wacana” (Makalah disampaikan dalam Pertemuan Ilmiah Daerah (PILDA) dan Musyawarah Daerah (MUSDA) HISKI Komda DKI, Universitas Nasional, Jakarta, 3 Agustus 2002).
  23. “Wacana Desentralisasi dalam Sastra: Persoalan Politis atau Persoalan Sastra” (Ma-kalah disampaikan dalam Pertemuan Ilmiah Nasional (PILNAS) XIII Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia, HISKI Yogyakarta dan Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, 8–10 September 2002).
  24. “Pluralisme Budaya dalam Sastra Indonesia Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa Indonesia” (Makalah disampaikan dalam Pertemuan Ilmiah Bahasa dan Sastra Indonesia XXIV, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Tawangmangu-Solo, 15–16 Oktober 2002).
  25. “Estetika Kasunyatan dalam “Serat Warisan Langgeng” Karya R. Soenarto Merto-wardojo” (Makalah disampaikan dalam Simposium Internasional Pernaskahan Nusan-tara VII, Manassa dan Fakultas Sastra Universitas Udayana, Denpasar, Bali, 28–30 Juli 2003).
  26. “Pengembangan Teori Sastra Bangesgresem: Sebuah Alternatif Teori Sastra Lokal Genius” (Makalah disampaikan dalam Pertemuan Ilmiah Nasional (PILNAS) XIV Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia, HISKI Pusat dan Fakultas Sastra Univer-sitas Airlangga, Hotel Santika, Surabaya, 26–28 Agustus 2003).
  27. “Multikulturalisme Sastra Indonesia Modern Memantapkan Peran Sastra Indonesia Modern dalam Mengahadapi Budaya Global” (Makalah dalam Kongres Bahasa Indonesia VIII, Jakarta, 14–17 Oktober 2003, Kelompok B, Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 2003: 1–20)
  28. “Pembelajaran Apresiasi Sastra Berbasis Kompetensi” (Makalah disampaikan dalam “Seminar Nasional Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) di Aula Universitas Nasional, Jakarta, 19–20 Maret 2004).
7. Artikel dan Esai dalam Buku Antologi
  1. Dendy Sugono dan Suladi (editor). 2000. Kiprah HPBI 2000: Bahasa Indonesia, Negara, dan Era Globalisasi (Jakarta: HPBI-Pusat).
  2. Soediro Satoto dan Zainuddin Fanani (editor). 2000. Sastra: Ideologi, Politik, dan Kekuasaan (Surakarta: Muhammadiyah University Press).
  3. Sujarwanto dan Jabrohim (editor). 2002. Bahasa dan Sastra Indonesia Menuju Peran Transformasi Sosial Budaya Abad XXI. Yogyakarta: Panitia PIBSI XXIII, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta dan Gama Media.
  4. B. Trisman et al (editor). 2003. Antologi Esai Sastra Bandingan dalam Sastra Indonesia Modern. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  5. T.Cristomy dan Untung Yuwono (penyunting). 2004. Semiotika Budaya. Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Indonesia.
  6. Ibnu Wahyudi (editor). 2004. Menyoal Sastra Marginal. Jakarta: Wedatana Widya Sastra dan Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia Pusat.
  7. “Wedhatama, Wirawiyata, dan Tripama: Ekspresi Ilmu Keutamaan Seorang Raja Jawa” dalam Abdul Hadi W.M. dkk. (editor). Kakawin dan Hikayat: Refleksi Sastra Nusantara 3. Jakarta: Pusat Bahasa, Kementerian Pendidikan Nasional, halaman 139—186.